Syukurku panjatkan
Rumahnya sederhana. Sebuah kontrakan sederhana tanpa perabotan yang luasnya dua kali empat meter. Tidak luas, bahkan sangat sempit. Setiap sore didepan rumahnya aku sedikit mengintip isinya. Disanalah, didalam ruangan yang sempit itu ia memarkir gerobak kue ranginya. Ruangan sempit itu tinggal sepertiga lagi setelah habis spacenya untuk menyimpan gerobaknya. Dengan jongkok di tempat yang tinggal sedikit lagi itu, masih saja ia sibuk memarut kelapa sekaligus menjaga panci berisi rebusan gula merah untuk kue rangi baru yang akan dijualnya esok hari. Malam sudah beranjak larut ketika akhirnya ia selesai mempersiapkan bahan-bahan untuk berjualan esok pagi. Lelap ia malam itu sambil berharap peruntungan yang lebih baik esok hari.
Namanya Pak Agus. ia tinggal sendiri saja di Jakarta, membanting tulang untuk keluarganya yang tinggal di kampung. Pagi-pagi benar ia meninggalkan rumah kontrakannya berjualan kue rangi keluar masuk kampung.
Aku cukup beruntung. Kerja di kantoran berlantai 15, dingin, dan jarang sekali terkena terpaan panasnya sinar matahari terik di siang hari. Dibandingkan dirinya, aku sungguh malu. Aku yang jika pulang kantor lalu sibuk menyalakan tivi atau sibuk mengintip menu makan malam buatan ibuku yang diletakkan di atas meja makan. Saat yang sama Pak Agus masih bekerja keras, bahkan sepulangnya ia dari perjalanannya hari itu. Berjualan kue rangi keluar masuk kampung pasti juga membutuhkan tenaga. Dibandingkan denganku, pastilah aku masih punya banyak tenaga ekstra untuk melakukan hal yang lain selain menonton TV.
Banyak lagi kehidupan yang lain yang kutahu lebih berat dijalani. Tetanggaku yang lain adalah para pedagang kaki lima di Pasar Jatinegara. Mereka tinggal bersama dalam satu kamar kontrakan dengan sewa Rp. 150,000 sebulan yang dibayar dengan berpatungan 3-5 orang. Kamar sempir berukuran 3 X 3 m itu mereka isi dengan 3-5 orang. Semakin banyak penghuninya, maka semakin murah mereka harus sharing untuk membayar biaya sewa. Tidur hanya beralaskan alas lantai seadanya. Jika malam tiba, dinginnya lantai juga merayapi tubuhnya. Mungkin mereka tidur hanya dengan bertemankan sarung. Itupun jika ada. Mereka menghabiskan hari-hari dan malam-malam panjang bersama-sama. Rindu dengan keluarga di kampung halaman pasti sesekali membeludak. Tak tahu aku bagaimana mereka mengatasinya. Jarang kulihat anak dan istri mereka datang dari kampung untuk sekedar menjenguk. Mungkin terlalu mahal biayanya untuk sekali kunjungan. Seingatku, hanya dua kali setahun mereka pulang kampung : pada Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Dibandingkan mereka, kehidupanku jauh-jauh lebih beruntung.

Terkadang sulit mengukur Nikmat yang Allah SWT berikan untuk kita manusia. Bukannya mensyukuri Nikmat, malahan mencari-cari sesuatu yang tidak ada dalam kehidupan kita. Padahal bayangkan betapa besarnya Nikmat Allah SWT itu. Mulai pagi hari aku bangun, kureguk kesegaran pagi hari. Embun pagi membasahi dedaunan membawa kesejukan di hati. Angin sepoi pagi hari semilirnya ringan, menyemangatiku setiap pagi. Baru saja kubuka mataku, ibu sudah menyediakan segelas teh hangat untuk kuminum.
Ya Allah,
Aku percaya aku tidak banyak bisa mensyukuri kelezatan hidup yang Engkau pilihkan untukku.
Ajari aku untuk bersyukur.
Ajari aku bisa merasakan Nikmatmu setiap detik dalam hidupku.
Berterima kasih atas hidup yang maha indah yang Engkau berikan untukku.
Buatlah aku selalu mensyukuri Nikmatmu.
[RN, 22/11/04}



Komentar terakhir
saya Tharie dari majalah CHIC. Kebetu
Pendekatan Top-Down, Centr