Oktober 26, 2004

Syukurku panjatkan

Rumahnya sederhana. Sebuah kontrakan sederhana tanpa perabotan yang luasnya dua kali empat meter. Tidak luas, bahkan sangat sempit. Setiap sore didepan rumahnya aku sedikit mengintip isinya. Disanalah, didalam ruangan yang sempit itu ia memarkir gerobak kue ranginya. Ruangan sempit itu tinggal sepertiga lagi setelah habis spacenya untuk menyimpan gerobaknya. Dengan jongkok di tempat yang tinggal sedikit lagi itu, masih saja ia sibuk memarut kelapa sekaligus menjaga panci berisi rebusan gula merah untuk kue rangi baru  yang akan dijualnya esok hari. Malam sudah beranjak larut ketika akhirnya ia selesai mempersiapkan bahan-bahan untuk berjualan esok pagi.  Lelap ia malam itu sambil berharap peruntungan yang lebih baik esok hari.

Namanya Pak Agus. ia tinggal sendiri saja di Jakarta, membanting tulang untuk keluarganya yang tinggal di kampung. Pagi-pagi benar ia meninggalkan rumah kontrakannya berjualan kue rangi keluar masuk kampung.

Aku cukup beruntung. Kerja di kantoran berlantai 15, dingin, dan jarang sekali terkena terpaan panasnya sinar matahari terik di siang hari.  Dibandingkan dirinya, aku sungguh malu. Aku yang jika pulang kantor lalu sibuk menyalakan tivi atau sibuk mengintip menu makan malam buatan ibuku yang diletakkan di atas meja makan. Saat yang sama Pak Agus masih bekerja keras, bahkan sepulangnya ia dari perjalanannya hari itu. Berjualan kue rangi keluar masuk kampung pasti juga membutuhkan tenaga. Dibandingkan denganku, pastilah aku masih punya banyak tenaga ekstra untuk melakukan hal yang lain selain menonton TV.

Banyak lagi kehidupan yang lain yang kutahu lebih berat dijalani.  Tetanggaku yang lain adalah para pedagang kaki lima di Pasar Jatinegara.  Mereka tinggal bersama dalam satu kamar kontrakan dengan sewa Rp. 150,000 sebulan yang dibayar dengan berpatungan 3-5 orang.  Kamar sempir berukuran 3 X 3 m itu mereka isi dengan 3-5 orang. Semakin banyak penghuninya, maka semakin murah mereka harus sharing untuk membayar biaya sewa.  Tidur hanya beralaskan alas lantai seadanya.  Jika malam tiba, dinginnya lantai juga merayapi tubuhnya.  Mungkin mereka tidur hanya dengan bertemankan sarung. Itupun jika ada. Mereka menghabiskan hari-hari dan malam-malam panjang bersama-sama.  Rindu dengan keluarga di kampung halaman pasti sesekali membeludak.  Tak tahu aku bagaimana mereka mengatasinya.  Jarang kulihat anak dan istri mereka datang dari kampung untuk sekedar menjenguk.  Mungkin terlalu mahal biayanya untuk sekali kunjungan. Seingatku, hanya dua kali setahun mereka pulang kampung : pada Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.  Dibandingkan mereka, kehidupanku jauh-jauh lebih beruntung.

Terkadang sulit mengukur Nikmat yang Allah SWT berikan untuk kita manusia. Bukannya mensyukuri Nikmat, malahan mencari-cari sesuatu yang tidak ada dalam kehidupan kita. Padahal bayangkan betapa besarnya Nikmat Allah SWT itu.  Mulai pagi hari aku bangun, kureguk kesegaran pagi hari. Embun pagi membasahi dedaunan membawa kesejukan di hati. Angin sepoi pagi hari semilirnya ringan, menyemangatiku setiap pagi.  Baru saja kubuka mataku, ibu sudah menyediakan segelas teh hangat untuk kuminum. 

Ya Allah,

Aku percaya aku tidak banyak bisa mensyukuri kelezatan hidup yang Engkau pilihkan untukku.

Ajari aku untuk bersyukur.

Ajari aku bisa merasakan Nikmatmu setiap detik dalam hidupku.

Berterima kasih atas hidup yang maha indah yang Engkau berikan untukku.

Buatlah aku selalu mensyukuri Nikmatmu.

[RN, 22/11/04}

 

 

Posted by rini1557 at 08:19:31 | Permanent Link | Comments (0) |

Oktober 08, 2004

Cantik

Cantik. Apakah itu cantik? Sebenarnya siapa sih yang pertama kali mendefinisikan "cantik" itu? Aku .... atau kamu.... atau siapa....? Lalu dari sudut pandang apa? Cantik itu seperti apa sih? Kenapa sesuatu itu disebut cantik dan sesuatu yang lain disebut tidak cantik atau kurang cantik.  Bagiku sejujurnya, hal itu adalah bagaimana orang menamakannya, bukan arti yang sesungguhnya. Tidak ada seseorangpun yang tahu wujud kecantikan yang sesungguhnya.  Mungkin karena seseorang menyebut orang yang lain sebagai "cantik", maka begitulah ia. Jadilah ia sosok yang cantik.  Orang yang lain juga mungkin akan menyebut sesuatu yang lain itu cantik, dan orang yang lainnya lagi mungkin tidak menyebutnya demikian. 
 
   
 
Bagaimana kalau cantik itu sesungguhnya nggak ada? Sehingga setiap manusia itu sama.  Seperti juga Allah memandang setiap manusia itu sama. Lantas jika tidak ada kata cantik, pastilah tidak ada lagi seseorang yang menjadi cemburu dengan perempuan lain, atau tidak ada lagi laki-laki yang bermain mata dengan wanita lain, atau tidak ada lagi seseorang yang merasa minder karena ia kurang cantik dibandingkan temannya. Semuanya hanya karena ia tidak mengenal kata cantik.
 
Bagaimana jika setiap manusia ini memang cantik? Karena Allah SWT membuatnya dengan sempurna.  Sempurna dengan kecantikannya.  Unik. Spesial. Bagaimana kamu akan memandang setiap orang yang kamu temui? Mereka semua cantik dengan caranya masing-masing, tanpa perlu ada definisi terhadap segala sesuatu... 

Aku cantik. Sama cantiknya aku dengan hidupku.  Hidup ini hanya ada karena Allah SWT. Dia yang menghidupkanku, Dia yang menyediakan kehidupanku, Dia yang Maha Besar. Dia yang mengadakanku.

Dulu aku selalu membandingkan diriku dengan orang lain, merasa diri tidak menarik, merasa diri tidak cantik.  aku belajar, aku belajar, aku belajar. Dan dari segala sisi kehidupan ini aku belajar. Dan aku percaya bahwa Allah sudah menciptakanku dengan sedemikian sempurnanya. Mestikah aku tidak percaya kepada Nya? Jika Allah telah menjadikanku cantik, bagaimana mungkin aku tidak mau mempercayainya.

Seperti lyric lagunya B.Preston/Fisher berikut ini :

YOU ARE SO BEAUTIFUL TO ME
YOU ARE SO BEAUTIFUL TO ME
CAN'T YOU SEE
YOU'RE EVERYTHING I HOPED FOR
YOU'RE EVERYTHING I NEED
YOU ARE SO BEAUTIFUL TO ME

SUCH JOY AND HAPPINESS YOU BRING
SUCH JOY AND HAPPINESS YOU BRING
LIKE A DREAM
A GUIDING LIGHT THAT SHINES IN THE NIGHT
HEAVENS GIFT TO ME
YOU ARE SO BEAUTIFUL TO ME

Aku menemukan diriku.

Akhirnya.

Alhamdulillah.

 

Posted by rini1557 at 11:18:10 | Permanent Link | Comments (6) |