Belajar dari anak-anak
Aku punya seorang keponakan. Namanya Axel. Nama Axel diambil dari seorang gitaris bernama Axel Rose. Entah kenapa nama itu dipilih. Mungkin, ayahnya memang gandrung dengan sang gitaris itu.
Axel saat ini umurnya setahun. Mungkin karena dia keponakanku dan aku jarang ketemu dia, jadilah pada setiap kesempatan aku berusaha lebih banyak memperhatikan dia. Bagaimana caranya belajar berjalan, betapa ia berjuang untuk bisa melangkah, caranya tertawa dan caranya menikmati hidup ini, wahai... sungguh suatu keindahan dan ketakjuban sendiri untukku.

Suatu hari ayahnya Axel, yang juga adikku itu, menginap di sebuah Hotel di Jakarta Barat. Seperti layaknya hotel berbintang empat lainnya, kamar hotel itu dilengkapi dengan karpet tebal, kamar mandi dan bath tub. Axel sangat menikmati pengalaman pertamanya menginap di hotel. jika dia menginap dirumahku, ia selalu ragu-ragu melangkahkan kakinya di lantai. Mungkin pikirnya, jika ia jatuh, pasti sakit rasanya. Di Hotel, Ia justru berani melangkah lebih dari 3 langkah. bukan hanya sekedar melangkah, tetapi sudah setengah lari. Bahkah lebih lucu lagi, jika ia melangkah sampai ke kamar mandi, lalu ia belok ke arah kamar mandi. entah kenapa, pasti lantas ia berjongkok, lalu berjalan mundur, mendahulukan kaki ketimbang badannya. Untuk orang desawa seperti aku, pasti aneh sekali mengamatinya. Mengapa ia tidak langsung saja melangkahkan kaki ke sana? Mengapa harus mundur? Mungkin cara begitu lebih aman untuknya, ia bisa tahu kondisi lantai disebelah sana. Jika lantainya lebih rendah, pasti ia lebih aman. Di kamar mandi, ia bereksplorasi. Dijelajahinya setiap sudut kamar mandi seperti layaknya seorang detektif. Gulungan tissue ditariknya hingga habis, sekedar ingin tahu ada apa di ujung sebelah sana. Bath tub pun dijelajahinya. Jika sang ibu mengisinya dengan penuh, hati-hati sekali dimasukkannya tangannya ke bath tub itu, lalu bermain air dengan asyiknya.

Axel bagiku adalah keajaiban tersendiri. Bagaimana tidak ajaib? Ia tidak pernah melemparkan badannya ke lantai, tapi jika aku meletakkannya di atas kasur, pasti ia langsung jungkir balik tidak karuan dan melemparkan badannya ke atas kasur, seolah tahu bahwa kasur itu tidak akan melukainya dan ia menikmati sensasi terpental-pental diatas kasurnya yang lembut itu. Kok bisa, gitu lho.... Entah apa yang ada dipikirkannya saat itu.
Anak-anak dimanapun juga selalu penuh dengan kejutan-kejutan yang mungkin saja membingungkan bagi orang dewasa. Tapi begitu banyak yang bisa dipelajari dari mereka. Kepolosannya, keingintahuannya untuk belajar hal-hal yang baru. aku sendiri tidak ingat, kapan aku belajar sesuatu yang baru? Setahun lalu kah? Tadi pagikah? Atau aku kini tidak sadar waktu melakukannya? Anak-anak biasanya tidak banyak berpikir, mereka merasakan sesuatu, mengambil tindakan dari hati, bukan dengan pikirannya. Berbeda dengan orang dewasa (aku juga tentunya) terbiasa melakukan segala sesuatu dengan pikiran. Bahkan mengambil keputusan tidak dari hati, tapi dengan pikiran. Pikiran yang lalu mengotori jiwa dengan segala pikiran-pikiran yang tidak baik, negatif dan bahkan begitu meracuni hingga jiwa ini ikut terkontaminasi. Sudah lama rasanya aku tidak membersihkan jiwaku, berpikir sesuai dengan apa yang kurasa, bukan dengan apa yang aku pikirkan.
(RN, 15/12/04)


Komentar terakhir
saya Tharie dari majalah CHIC. Kebetu
Pendekatan Top-Down, Centr