Siapakah yang pertama kali mendefinisikan kata miskin atau kemiskinan? Sejak kecil, aku mengkonotasikan kata miskin dengan kondisi seseorang yang sama sekali tidak punya uang atau hanya memiliki sedikit uang untuk membiayai hidupnya. Setelah aku dewasa, di koran-koran atau televisi, banyak pihak yang menggandengkan kemiskinan dengan pendapatan dibawah UMP - Upah Minimum Propinsi, atau bahkan mengatakan bahwa seseorang itu miskin jika tidak bisa memenuhi konsumsi dasar dan tidak mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Orang lain tentu punya pendapat lain tentang kemiskinan. Mungkin ada memberikan pengertian yang lebih luas dengan memasukkan dimensi-dimensi sosial dan moral, misalnya bahwa kemiskinan terkait dengan sikap, budaya hidup, dan lingkungan tertentu dalam suatu masyarakat. Tetapi umumnya ketika seseorang berbicara mengenai kemiskinan maka yang dimaksud adalah kemiskinan dari segi material. Dengan pengertian ini seseorang dikategorikan miskin apabila tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan pokoknya agar dapat hidup secara layak.

Tahun lalu, pada sebuah kesempatan, aku ikut dalam rombongan Komunitas Independen mengunjungi 16 keluarga yang tinggal di pinggir kali Ciliwung, di kolong jembatan Jl. MT Haryono Jakarta Selatan. Ada yang memilih tinggal disana karena keluarganya menolak menerima mereka, ada yang merasa tidak punya pilihan lain selain tinggal disana, dan tidak jarang alasan mereka adalah karena mereka merasa nyaman tinggal disana?
Nyaman?
Tinggal di kolong jembatan?
Kenyamanan macam apa yang mereka rasakan?

Pastilah mereka jauh dari kebersihan, kesehatan, atau bahkan hidup sehat. mungkin dalam kamus kehidupan, mereka bahkan tidak memilikinya, atau tidak berani berharap untuk mengerti mengenai hal tersebut.
Minggu lalu, masih bersama Komunitas Independen, saya mengunjungi kolong jembatan lain tidak jauh dari Pemakaman Karet, Jakarta Barat. Kira-kira 20 keluarga tinggal di kolong jembatan itu. Seorang ibu bernama Rasmi, menikah pada usia 12 tahun dan sudah 14 kali melahirkan dikolong jembatan itu. Salah satu dari 14 anaknya kini sedang hamil 8 bulan, juga tinggal bersamanya di kolong jembatan itu. Sempat terlintas dalam pikiranku, mengapa ia beranak pinak disana? Apakah yang membuatnya nyaman dan betah tinggal di kolong jembatan? Tidak adakah kesempatan baginya untuk menata hidup lebih baik lagi? Tidak ada? atau ….. Tidak mau?

Dalam kesempatan berdialog bersama mereka, diperoleh informasi bahwa dalam satu keluarga bisa jadi berpenghasilan sehari Rp.80,000. Cukup besar pendapatan yang diperolehnya, meskipun bukan sang Ayah saja yang mengusahakan uang tersebut. Sang Ayah bekerja ala kadarnya sebagai pemulung atau kadang sebagai buruh kasar, memperoleh penghasilan Rp.20,000 per hari, Sang Ibu memperoleh Rp.30,000 dari hasil menjadi pengemis jalanan… dan tidak ketinggalan Sang Anak yang juga berprofesi sebagai pengemis, kurang lebih mendapatkan Rp.30,000 setiap harinya. Penghasilan Rp.80,000 per hari, cukupkah untuk sebuah keluarga tinggal di kolong jembatan? Menurutku iya, Jika definisi garis kemiskinan yang dipakai adalah pendapatan 2 dollar per hari, maka pendapatan mereka sudah diatas garis kemiskinan yang ditetapkan, sehingga seharusnya uang sebesar itu cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Menurutku iya, karena dibandingkan dengan penghasilan adikku yang bekerja di sebuah perusahaan asing di Bintaro atau dibandingkan dengan sekretaris di kantorku, pendapatan mereka sebulan jauh lebih besar. Menurutku iya, karena mereka toh tidak perlu membayar langganan biaya listrik, air, dan telepon, lagipula merekapun pasti tidak punya banyak kebutuhan hidup untuk pergi ke cafe, dugem dengan teman-teman, atau sekedar menonton film di bioskop21. Pasti mereka hidup sederhana, makan seadanya, dan yang pasti menunya bukan menu restoran atau menu 4 sehat 5 sempurna seperti yang alhamdulillah selalu ada di meja makan rumahku. Lantas bagaimana mereka bisa menghabiskan uang sebanyak itu tetapi tetap tidak memiliki apa-apa dirumahnya?

Ibu Supriyanti mengutarakan bahwa ia memiliki 5 orang anak, 4 diantaranya tinggal di kampung di Tegal, Jawa Tengah dan hanya 1 orang anaknya yang terkecil yang diajaknya tinggal di kolong jembatan. Bersama suaminya, ia memilih tinggal disana, mencukupi kebutuhannya dengan seadanya. Rumah atau bisa dibilang petak kecil di kolong jembatan itu hanya diisi seadanya. Tidak banyak barang-barang yang dimilikinya, hanya satu buah kompor minyak tanah dengan perabotan seadanya dan baju yang jumlahnyapun tidak banyak. Ibu Supri tampak cerdas mengobrol bersama kami, ia mengumpulkan uang setiap hari untuk biaya sekolah anak-anaknya di kampung. Ketika ditanya pengunaan uang yang diterimanya untuk apa saja, ia mengatakan bahwa ia bekerja di Jakarta sekedar untuk mengumpulkan uang untuk pulang kampung, bertemu dengan anak-anaknya dan mengumpulka biaya untuk sekolah anak-anaknya. Jawaban yang nyaris sama juga dilontarkan oleh nenek Rami, seorang pengemis asal Semarang yang baru saja kembali dari perjalanan pulang kampungnya. Nenek Rami tinggal sendirian di Jakarta, tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya fasih berbicara kromo inggil (bahasa Jawa paling halus). Dengan suara lirih ia mengatakan bahwa ia mengumpulkan uang untuk bisa sekedar pulang kampung mengunjungi sanak saudara, kemudian kembali lagi ke Jakarta, tinggal di kolong jembatan dan mengemis.
Keluarga lain yang tinggal di tempat yang sama, tampaknya hanya senang jika mereka memiliki uang. Seorang bujangan yang sempat ngobrol dengan seorang temanku, mengatakan bahwa orang kaya itu punya banyak uang dan ia ingin seperti mereka yang memiliki uang banyak. Bagi mereka, memiliki uang sama artinya dengan memiliki harga diri. Bagiku, mungkin ini adalah dampak dari apa yang terjadi di masyarakat di kota dimana aku tinggal. Seringkali, kami memandang rendah kepada mereka yang memiliki sedikit uang, lantas timbul kecurigaan bahwa mereka akan melakukan kejahatan karena faktor iri dan dengki. Jadi uang ternyata bisa danggap pula sebagai pengganti harga diri. Bukankah ini sebuah fenomena yang cukup aneh? Bukankah mereka bisa bekerja yang lain dan mendapatkan penghasilan, kemudian bercita-cita memiliki rumah yang lebih nyaman, atau paling tidak kontrakan dengan ventilasi udara yang lebih baik, atau sekedar punya keinginan mengumpulkan uang untuk kursus sehingga kehidupannya jauh lebih baik? Atau itu hanya pikiranku saja, karena dengan definisi kehidupan yang aku punya dan aku jalani, aku selalu mengira bahwa kehidupan ini selalu berjalan seperti itu, selesai sekolah kemudian mencari pekerjaan, kemudian menikah, kemudian memiliki rumah, punya anak, membesarkan anak, menyekolahkan anak…. dst…dst… Jadi, apakah jika seseorang tidak menjalani kehidupan seperti dalam kamus kehidupanku, lantas aku menganggapnya keluar dari pakem?
Dalam kesempatan lain dimana aku bergabung menjadi relawan di KKS Melati, kami pergi mengunjungi sebuah sekolah anak jalanan (SAJA) di bawah jembatan tol Gedong Panjang, Jakarta Utara. Sekolah ini terletak ditengah-tengah pemukiman sekitar 200 rumah keluarga yang tinggal di kolong jembatan yang sama. Dengan KKS Melati, aku mengajak anak-anak jalanan itu bermain, menggambar, dan mengenalkan mereka dengan buku cerita dan dongeng. Anak-anak jalanan itu tinggal dengan keluarga mereka di lokasi yang sama. Saat aku berkeliling mengunjungi rumah-rumah yang mereka tinggali, ternyata keluarga mereka menyewa tempat tinggal mereka Rp.60,000 - Rp.150,000 tergantung luasan rumah yang mereka tinggali. Di dalam rumah mereka, penuh dengan barang-barang yang cukup mewah dibandingkan dengan kondisi kehidupan mereka. Tak jarang aku melihat pesawat televisi, VCD player, dispenser air mineral, tempat tidur spring bed, dan bahkan lantai dari keramik. Anehnya, banyak diantara mereka yang makan hanya 1 kali dalam sehari dan banyak diantara anak-anak mereka yang tidak bersekolah.

Fenomena apa lagi ini? Mengapa mereka lebih memilih memiliki televisi dibandingkan makan 3 kali sehari? Mengapa mereka lebih memilih membeli dispenser dibandingkan menyekolahkan anak-anaknya? Apakah mereka juga mengira bahwa memiliki televisi artinya mereka dapat dianggap sebagai keluarga bahagia? Atau … seperti apakah hidup dimana yang diinginkan adalah sama atau menyerupai keluarga lain yang hidup mewah di rumah gedongan, memiliki pesawat televisi, dan minum dari dispenser?
Kemiskinan ternyata tidak hanya terkait dengan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan material dasar, tetapi kemiskinan juga terkait erat dengan berbagai dimensi lain kehidupan manusia, misalnya kesehatan, pendidikan, jaminan masa depan, dan peranan sosial. Oleh sebab itu, kemiskinan hanya dapat dipahami secara utuh apabila dimensi-dimensi lain dari kehidupan manusia juga diperhitungkan. Kita mungkin tidak bisa begitu saja mengatakan mereka miskin, tapi apakah mereka sendiri punya keinginan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik? Kita bisa saja membuatkan mereka berbagai program untuk mengentaskan kemiskinan dengan berbagai latar belakang alasan kemiskinan yang telah mereka jalani, tetapi bila mereka yang menjadi target program ini tidak ingin melakukan sesuatu untuk berubah, perlukah kita bersusah payah untuk mereka? Mungkin memang diperlukan banyak pihak yang terpanggil untuk berpartisipasi membantu mereka, bukan sekedar membantu memberikan uang, tetapi bersama-sama dengan si target, yaitu masyarakat yang tinggal di kolong jembatan, bersama-sama menyadari dan mengevaluasi kehidupan mereka dan bersama-sama mengentaskan kemiskinan yang mereka alami dengan suatu program pemberdayaan diri, bagi diri mereka sendiri.
World Bank, Japan Social Development Fund, Komnas Perempuan dan PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) kalau tidak salah di pertengahan tahun 2004 ini sudah memulai program yang kurang lebih sama, yaitu sebuah program pemberdayaan diri, khususnya memberdayakan kaum perempuan yang tidak punya suami atau ditinggal suami. Mereka bekerja sendiri menjadi ayah sekaligus ibu untuk anak-anak mereka. Kalau sebelumnya mereka terpuruk dalam kemiskinan, maka sekarang dengan mengikuti program yang diberikan, mereka bisa memberdayakan diri mereka sendiri, bekerja untuk kehidupan yang lebih baik. Semoga ada pula pihak-pihak yang mau melakukan hal yang sama untuk masyarakat yang tinggal di kolong jembatan ini supaya mereka dapat memberdayakan diri mereka sendiri dan dapat mengembangkan diri menuju kehidupan yang jauh lebih baik.
[RN, 20/12/04]