Axel, Inspirasiku
“Daun…Daun…” celotehnya suatu pagi. Sempat aku bertanya-tanya mengapa sepagi ini ia sudah mengucapkan kata “Daun”, padahal kami tak juga berada di kebun belakang rumahku. Rupanya Axel, Sang keponakanku, tengah menghafalkan kata baru yang semalam didengarnya dari pembicaraanku dengan Adik Iparku.
Bukan hanya kata daun, tapi ia juga menyebutkan “dadung” untuk Jagung, “obat” salah satu kata yang diingatnya karena ia tidak suka minum obat, “papa-mama” dengan sangat jelas, “De” yang ini panggilan untukku, “kua” untuk keluar. Kata yang terakhir itu adalah kata favoritnya, karena ia seringkali menarik telunjuk siapapun untuk mengantarnya pergi keluar rumah.
Usianya baru 14 bulan, tapi tingginya sudah lebih dari lututku. Kegemarannya lari, bukan berjalan, mengingatkanku pada Forest Gump, Sang Pelari. Cerdasnya luar biasa, aku tidak punya banyak pengetahuan tentang perkembangan otak seorang anak balita, tapi menurut logic thinkingku, nalarnya berjalan cukup cepat. Kalau ia ingin keluar, ditariknya tangan telunjukku dan ia mengarahkan kami ke pintu sambil berkata “kua…kua…” lalu biasanya aku tipu ia dengan mengatakan “De nggak punya sendal”. Ajaib juga rasanya ketika ia lantas menunjuk sendalku yang ada di bawah kursi, bahkan mengambilkannya untukku dan meletakkannya tepat satu pasang kiri dan kanan. Lalu diambilnya jilbabku dan diberikan kepadaku. Ditungguinya aku mengenakan jilbab, lalu ia tarik telunjukku dan mengajakku keluar. Belum puas mengerjainya, aku katakan padanya kalau pintu ruang tamuku dikunci dan kuncinya dibawa oleh Ida, pembantu rumahku. Lalu, tebak apa yang dilakukannya? Didatanginya Ida di dapur, ditariknya telunjuk tangannya, diajaknya pergi ke arah pintu. Tentu maksudnya ia meminta Ida untuk membukakan kunci pintu ruang tamu, karena ia ingin pergi keluar. Luar biasa.
Mengamati perkembangan seorang anak balita rasanya begitu menakjubkan. Memperhatikannya belajar dari waktu ke waktu sungguh merupakan kesenangan tersendiri. Membuatku bersyukur terhadap hidupku saat ini. Betapa besar yang sudah diberikan Allah kepadaku, yang tidak bisa kuhitung banyaknya. Sebagian besar malahan aku sudah lupa rasanya. Aku lupa rasanya menghirup udara pertama kalinya di dunia ini, lupa rasanya mendengar yang pertama kali. Apakah saat itu aku takut? atau aku bahagia? Akupun lupa bagaimana dulu aku belajar berjalan, bagaimana pertama kali kakiku menopang tubuhku dan bagaimana pertama kali kuayunkan langkahku. Aku lupa bagaimana rasanya belajar membaca, belajar naik sepeda, belajar berenang, atau belajar yang lainnya. Saat ini pun aku lupa apa yang sudah aku alami beberapa detik yang lalu. Apa rasanya dan bagaimana efeknya terhadap diriku. Banyak hal yang berlalu begitu cepat dan tidak aku nikmati barang sesaatpun. Padahal entah dikeseluruhan detik itu Allah selalu menjagaku, melindungiku, menyayangiku, membimbingku, dan entah mengapa aku tidak selalu bisa merasakannya.
Wahai jiwa,
Engkau ada di dalam diri ini,
Engkaulah kaca,
Engkaulah tempatku kembali bertanya
Ajari aku mengenalmu,
Ajari aku kembali.
[Rini, 27/1/05]