Menjadi Orang Baik di Jakarta
Tidak mudah ternyata menjadi orang baik. Begitulah baris pertama kata pengantar buku Oase Jiwa : Truly, Deeply, Sincerely (Eramuslim Global Media, Maret 2005). Saya tergelitik dengan kalimat pembuka tersebut karena saya percaya, sebuah buku yang baik, dimulai dengan kalimat pertama dalam kata pengantarnya yang cukup menggoda sang pembaca ke lembar-lembar berikutnya.
Menjadi orang baik di Jakarta ini mungkin memang BENAR tidak mudah. Bahkan terkadang lebih banyak orang yang mencelanya daripada menghargai usaha seseorang untuk menjadi orang baik. Taruhlah di perempatan jalan ketika kita berniat memberikan sedekah kepada pengamen atau pengemis, seorang teman mencelanya dengan mengatakan bahwa percuma memberi mereka uang karena akan membuat mereka menjadi pemalas. Tapi lantas ia sendiri tidak punya cukup tindakan untuk membantu mencegah si pengamen atau pengemis untuk menjadi tidak malas. Contoh sederhana lain misalnya, ketika kita memberikan senyum terindah kepada seseorang yang kita temui di halte bis. Tidak salah lagi, pasti semua orang di halte tersebut akan mengira kita gila. Padahal, seulas senyum mungkin tidak berarti apa-apa dan tidak berdampak apa-apa, tetapi bagi seseorang itu adalah satu cara untuk meningkatkan semangat dalam dirinya dan memberikan aura positif bagi orang-orang disekitarnya.
Curiga dan Su’udzon. Dua hal ini yang lebih parah lagi. Kira-kira tiga tahun lalu saya membeli sebuah rumah di Selatan Jakarta. Rumah kecil tapi inlah rumah pertama yang saya beli dari upah bayaran saya bekerja di kantor. Saya suka dengan lingkungan rumahnya dan bangga dengan komunitas sekitar rumah saya yang luar biasa hebatnya. Mereka membuat mailing list dan berkomunikasi melalui e-mail. Saat itu, ada banyak sekali rumah yang tertunda penyelesaiannya karena masih bermasalah dengan sang Developer. Pada suatu hari saya menyempatkan membaca sebuah e-mail yang dikirim melalui mailing list, sebuah e-mail tentang keluhan pelanggan kepada Developernya. Saat itu, karena saya kebetulan kenal dengan Direktur Developer tersebut, saya berpikir bahwa tidak ada salahnya mengirimkan e-mail tersebut, toh bukan rahasia dan dan tidak ada ketentuan dari administrator mailing list tersebut yang menyatakan bahwa semua anggota mailing list tidak diperbolehkan meneruskan email sembarangan atau tanpa ijin. Saat itu saya benar-benar tidak punya tujuan lain, selain membantu orang yang rumahnya masih belum selesai itu, apalagi saya kenal baik dengan sang Direkturnya. Siapa tahu, kawan baik saya itu mau membantu menyelesaikan masalah dan mereka semua mendapatkan solusinya. Tapi tidak disangka, para administrator mailing list itu marah, menghakimi saya, bahkan tidak mau terima apapun penjelasan saya. Memang benar saya meneruskan email, tapi saya yakin, saya tidak sembarangan mengirimkan email dan ada tujuannya. Mereka menuduh saya mata-mata sang Developer dan tidak ada yang berniat menyelesaikan masalah itu dengan saya. Saat itu saya benar-benar kecewa dan tidak ingin berbuat baik lagi untuk mereka. Bahkan sampai saat ini status e-mail saya di ban dan saya sama sekali tidak bisa masuk ke komunitas tetangga saya itu.
Dimanfaatkan. Ya, terkadang, jika kita melakukan kebaikan di Jakarta ini, banyak sekali orang yang memanfaatkan peluang tersebut. Alih-alih berbuat baik, yang ada kita terjebak dan tidak bisa keluar sama sekali.
Lantas, apa kita akan berhenti melakukan kebaikan?
Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa berbuat kebaikan itu laksana menggarami lautan. Sangat sedikit dampak yang terasa meskipun peluh bercucuran dari kening kita. Tapi saya percaya ada manfaatnya kita ikut menggarami lautan. Paling tidak rasa laut menjadi asin dan sebagian kecil adalah jerih payah kita. Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang selalu bermain di sebuah pantai. Setiap hari ia melemparkan kerangnya ke lautan. Setiap hari. tanpa putus asa. Padahal setiap kali ia melemparkan kembali sebuah kerang ke laut, setiap kali pula, laut membawa ratusan kerang ke pantai itu. Tapi sang anak kecil tidak juga putus asa, katanya, “Aku bayangkan kerang yang aku lempar kali ini mendarat di sebuah pantai yang lain. Ia mempercantik pantai itu. Aku tahu hanya sedikit yang aku lakukan, tapi paling tidak aku punya bagian mempercantiknya.”
Biarlah kebaikan tetap saya lakukan, meskipun sedikit sekali artinya.
Biarlah hanya Allah SWT yang menilai usaha yang kita lakukan.
Rini [18/4/05]