Bukan Kebetulan
|
Jika anda penggemar James Redfield, pasti sudah membaca buku legendarisnya yang berjudul “Celestine Prophecy”. yang paling aku ingat dari buku ini di halaman-halaman depan adalah pernyataan Charlene, teman sang tokoh utama yang mengatakan, “apabila suatu peristiwa terjadi, semuanya bukan karena kebetulan, tetapi sudah ditentukan sebelumnya dan bahwa hidup kita ini dibimbing oleh suatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan. Suatu pengalaman yang menumbuhkan perasaan akan misteri dan kegembiraan dan dengan cara demikian kita merasa lebih hidup”. Kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam hidup kita sesungguhnya sudah diatur oleh sang Maha Pemilik Alam Semesta. Kita sebagai manusia sudah selayaknya belajar memahami tanda-tanda yang diberikan Allah untuk membantu kita. Tapi terkadang, segala hal yang telah kita lalui, seringkali kebetulan dikatakan hanya sebagai ”kebetulan”. Begitu juga tatkala kami menyiapkan acara Cari Tahu Yuk!, sebuah kegiatan outing untuk anak jalanan tanggal 26 Juni 2005 lalu. Kebetulan yang pertama adalah sewaktu Virgina, salah seorang relawan KKS Melati menunjukkan sebuah majalah berjudul “Tamasya”. Didalamnya terdapat sebuah artikel tentang sebuah lokasi menarik di Selatan Jakarta, namanya Hutan Kali Pesanggrahan. Disana aku bertemu Pak Haji Chaerudin, salah satu petani dari Kelompok Tani Sangga Buana. Ia ingin anak dan cucunya masih merasakan keasrian dan ketenangan kota Jakarta. How come? Bagaimana bisa, padahal hawa Jakarta seperti yang kita lihat sendiri saat ini sudah tidak begitu bersahabat. Pagi hari sudah penuh dengan asap timbal. Coba lihat pepohonan yang ditanam sepanjang jalan, batangnya hitam legam dan sepertinya mereka berteriak-teriak dan megap-megap karena pori-porinya tertutup timbal. Merasakan hawa segar pepohonan, suara burung bernyanyi dan bercanda diatas pepohonan, gesekan rumpun bambu, atau suara gemericik air kali, memang hanya ada di Kali Pesanggrahan. Malu juga rasanya melihat seorang petani punya pikiran seperti itu. Lebih malu lagi karena ia bukan hanya berkata-kata tetapi ia mengambil tindakan. Ia melakukan penanaman pohon dan mengubah areal bekas tumpukan sampah menjadi hijau dengan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan aku? yah.. masih begini-begini saja, tidak ada tindakan nyata yang aku lakukan untuk membantu mewujudkan keasrian kota Jakarta. Tapi andaikan aku tidak secara kebetulan pergi ke Hutan Kali Pesanggrahan, aku tidak pernah belajar tentang alam atau memahami alam ini. Di hutan ini pula aku bertemu dengan seorang sahabat lama. Ia dulu adalah relawan Kebun Binatang Ragunan, sama sepertiku. Sudah lima tahunan kami tidak bertemu dan ternyata Hutan Kali Pesangrahan yang mempertemukan kami. Mungkin karena minat kami yang kebetulan sama, atau memang hanya kebetulan saja kami bertemu disana, aku tidak tahu. Kebetulan lainnya adalah pada saat kami melakukan pengumpulan dana untuk kegiatan outing tersebut. Selagi sibuk dan repotnya mencari jaringan yang memungkinkan untuk membantu kami, tiba-tiba Koen, salah satu relawan Melati, memberikan kontak kami pada seseorang yang ternyata punya jaringan yang lebih luas lagi. Karena kebetulan yang kebanyakan ini, rasanya kami semakin semangat saja menyiapkan acara outing ini. Mungkin juga karena kami begitu merindukan kebetulan-kebetulan lainnya yang mungkin akan kami temui. Kebetulan-kebetulan dalam hidup ini sesungguhnya bukan hanya kebetulan. Sesungguhnya Allah-lah pemilik segala rencana. Allah pula yang telah mengatur adanya pertemuan dan perpisahan dengan maknanya masing-masing. Setiap pertemuan kita dengan orang lain, sesungguhnya ada makna besar dibaliknya. Mungkin kita diminta untuk berbagi dengan orang lain itu, atau mungkin seseorang itu adalah media belajar empati, atau malahan orang lain itu adalah mirror, orang yang sama sifat dengan kita dan pertemuan dengannya adalah pelajaran refleksi yang diberikan Allah kepada kita. Pertemuan dengan seseorang diyakini selalu membawa pesan yang mungkin akan memudahkan kita dalam menempuh perjalanan hidup ini. Sayangnya tidak setiap orang mau berbagi dan mencari pesan terselubung yang dibawa seseorang itu. Jadilah ia hanya pemanis pemandangan saja. Dilihat, tetapi tidak disapa. Dilihat tetapi sesungguhnya ia tidak ada. Ada saat dimana terkadang aku tidak ingin bertemu dengan seseorang, hanya karena aku terlalu melindungi egoku. Aku bertemu dengan seseorang tetapi aku tidak menegurnya, bahkan menghindarinya untuk suatu alasan yang aku yakin aku karang sendiri. Aku benar-benar tidak melihat kehadirannya meskipun ia sesungguhnya ada. Jika apa yang ada di dalam “Celestine Prophecy” itu benar, maka mungkin saja sesungguhnya ia membawa pesan yang akan memudahkan hidupku. Bukankah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukan kebetulan? Lantas mengapa aku tidak juga membuka diriku untuk menerima dan memaafkannya? Tiada sempurna cinta manusia Tiada sempurna cinta manusia (Anugerah Yang Terindah. Album : Anugerah Yang Terindah. Munsyid : Gradasi http://liriknasyid.com) Semoga tulisan ini menyadarkanku untuk dapat membuka mata hati untuk melihat kebetulan-kebetulan yang diberikan Allah dan mengubahnya menjadi rasa syukur. [RN , 050705] |
