Wiken di Kota Tua Jakarta
Wiken lalu aku ikutan sama temen-temen yang hunting foto ke Kawasan Kota Tua Jakarta yang dulu disebut “Jewel of the East”, Permata dari Timur seperti julukan para pelaut Eropa yang lego jangkar pada abad ke-17 dan 18. Nggak ada target tertentu untuk foto-foto kali ini, aku juga yang gak punya kamera, tapi tetep ikutan aja buat jalan-jalan. Itung-itung Fat Burning. Ada 9 orang semuanya yang ikutan jalan-jalan hari itu. Perjalanan dimulai dari halte TransJakarta di sebrang stasiun Kota. Tema foto-fotonya kali ini adalah tentang Fosil. Makanya nggak heran kalo Kota Tua Jakarta yang jadi pilihannya.
Dari depan halte kami menyebrang ke arah samping Museum Bank Mandiri. Gedung Museum ini dulunya adalah gedung pusat Bank Indonesia. Gaya arsitekturnya khas seperti umumnya bangunan BI di kota-kota di Indonesia, yaitu Neo-Classic, terlihat indah dengan ornamennya dan berwarna putih. Bangunan BI ini dibangun pada awal tahun 1990-an. Sayangnya nggak terawat dan kotor sekali.
Bau menyengat langsung tercium begitu sampai di pinggir Kali Besar (The Groote Kanaal) yang merupakan bagian hilir Kali Ciliwung. Dulu sekitar tahun 1800 air kali ini bisa diminum, untuk mandi dan mencuci. Kali ini sekarang begitu hitam dan banyak sekali sampah.”Ketauan kan betapa joroknya orang Jakarta sampe kali aja jadi item begini”, kata Liz ketika sampai disana.
Di jalan Kali Besar Timur ada sebuah rumah tua yang sudah tidak terurus. Dulu rumah itu adalah rumah C.Bahre dan G.Kinder, yang dijadikan perusahaan trading, shipping dan insurance agents.

Disisi jembatan kali yang dulu juga menjadi saksi bisu kekejaman Pemerintah Belanda dalam peristiwa Chineezenmoord atau pembantaian orang-orang Cina ini ada tulisan yang cukup menyolok, mengumumkan bahwa kali ini tengah “digarap” lewat program Kali Besar Bersih sebagai bagian dari Revitalisasi Kota Tua oleh Jakarta Old Town-Kotaku, yang dimotori Miranda Goeltom, Deputi Senior Bank Indonesia yang juga Ketua Dewan Pengurus Jakarta Old Town-Kotaku, bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Suku Dinas PU Tata Air Jakarta Barat, Bank HSBC, dan Bank Indonesia.

[wah nggak terlalu keliatan ya... ini foto Kali Besar jaman dulu, masih ada perahu layar dimana-mana dan kali itu masih digunakan untuk transportasi dari luar negeri ke Batavia]

Di tepi Kali Besar saat ini ditanami pohon-pohon palem raja dan diberi bangku-bangku dengan jarak tertentu. Tempatnya sesungguhnya jadi lebih lega, luas dan nyaman untuk wisata jalan kaki disana. Di Jalan Kali Besar Barat dan Kali Besar Timur, berjajar bangunan-bangunan dari abad 18, beberapa dari awal abad 20. Kawasan ini merupakan pusat dari benteng Kota Batavia, yang mengalami masa jayanya pada abad 17 dan 18. yang dibangun antara 1634 hingga 1645. Batavia adalah hasil rancangan Gubernur Jenderal Coen, yang berniat membangun Amsterdam versi Timur dan menjadi pusat administrasi dan militer Hindia Belanda. Beberapa bangunan unik khas Eropa di kawasan ini adalah bangunan Asuransi Lloyd (ada tulisannya Assurantie Kantoor), Standard Chartered Bank, PT Samudra Indonesia, PT. Bhanda, Graha Raksa, dan Toko Merah.
Toko Merah adalah sebuah rumah yang dibangun tahun 1730. Gedung yang dibuat dari batu bata warna merah sehingga disebut Toko Merah itu didesain bergaya Tiongkok itu adalah kediaman Gubernur Jenderal VOC Baton Van Imhoff. Dulu pemisahan wilayah Jogja dan Solo lewat Perjanjian Giyanti konon dilakukan di Toko Merah ini. Tiga belas tahun kemudian, bangunan ini menjadi Akademi Angkatan Laut hingga 1755. Setelah itu pemiliknya berganti-ganti, lalu sempat ditempati sebagai kantor PT Dharmaniaga. Ternyata bangunan ini baru saja di segel polisi karena digunakan untuk tempat berjudi.
Setelah foto-foto di depan Toko Merah, kami menuju Jembatan Kota Intan. Jembatan tua peninggalan Belanda ini dibangun tahun 1628, menghubungkan sisi Timur dan Barat Kota Intan di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Utara. Jembatan ini dilengkapi dengan semacam pengungkit untuk menaikkan sisi bawah jembatan. Penjaga dengan sigap akan menarik tali pengungkit jika ada kapal yang akan melewati jembatan menuju Kota. Namun, jembatan yang hampir semuanya terbuat dari kayu itu makin lama makin lapuk dan kini tidak lagi difungsikan alias ditutup.
Jembatan ini pernah 5 kali berganti nama. Seusai dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda, jembatan dinamai Jembatan Inggris (Engeise Brug), karena tidak jauh dari lokasi itu yaitu di dekat Kafe Galangan, dahulu dibangun benteng pertahanan milik Inggris. Nama itu lalu diubah menjadi Jembatan Pusat, disinyalir karena pengelolaannya dipegang pemerintah pusat Hindia Belanda. Pada tahun 1900-an di sisi jembatan ada pasar ayam yang ramai sekali, nama jembatan berganti lagi menjadi Jembatan Pasar Ayam. Pada tahun 1938 di masa pemerintahan Ratu Juliana, jembatan direnovasi dan namanya diubah menjadi Jembatan Ratu Juliana (Ophaalsburg Juliana). Nama akhirnya berubah menjadi Jembatan Kota Intan karena di kawasan tersebut terdapat kastil Batavia bernama “Diamond“. (IVV) Nama itu yang sampai sekarang akhirnya dipakai. Sayangnya di masa Orde Baru jembatan ini dipugar dan dibuat permanen dan tidak bisa lagi dijungkitkan. Alasannya bisa jadi karena sekarang tak ada lagi kapal besar yang bisa berlabuh.
Dari jembatan kota intan, kami singgah sebentar di mesjid untuk sholat, lalu perjalanan dilanjutkan melewati jalan tongkol, dekat SAJA, menuju ke restoran sari kuring dan Galangan VOC.
Kamipun tiba di lokasi bekas bengkel kapal VOC atau dikenal juga dengan VOC Shipyard. Di sini, pada masa lalu, kapal-kapal yang rusak diperbaiki. Saat ini, bangunan memanjang dengan jendela-jendela segi tiga di atapnya tersebut direvitalisasi sebagai restoran dengan tetap mempertahankan arsitektur aslinya.
Dari Galangan VOC, kami menyebrang ke Menara Syahbandar. Pada tahun 1839 di lokasi ini didirikan Menara Syahbandar yang berfungsi sebagai kantor pabean, atau pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan. Lokasi menara ini menempati salah satu bastion (sudut benteng) yang tersisa. Sayangnya bentuk bentengnya sudah tidak bisa dikenali lagi.
Dari Menara Syahbandar, kami langsung menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa.
Pelabuhan Sunda Kelapa kini merupakan pelabuhan bongkar muat barang, utamanya kayu dari Pulau Kalimantan. Di sepanjang pelabuhan berjajar kapal-kapal phinisi atau Bugis Schooner dengan bentuk khas, meruncing pada salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal. Setiap hari tampak pemandangan para pekerja yang sibuk naik turun kapal untuk bongkar muat.
Selain sebagai wujud muka
Batavia yang berhubungan langsung dengan dunia luar, Sunda Kelapa juga adalah pelabuhan tertua di Indonesia. Pelabuhan ini sudah beroperasi sejak Abad XV. Dan pelabuhan ini menjadi pintu gerbang yang sangat penting bagi Kerajaan Padjajaran yang berkuasa di Tanah Pasundan (sekarang Jawa Barat).
Pelabuhan Sunda Kelapa sebetulnya telah terdengar sejak abad ke-12. Kala itu pelabuhan ini sudah dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk milik kerajaan Hindu terakhir di Jawa Barat, Pajajaran, terletak dekat Kota Bogor sekarang. Kapal-kapal asing yang berasal dari Cina, Jepang, India Selatan, dan Arab sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi kekayaan tanah air saat itu.
Bangsa Eropa pertama asal Portugis tiba pertama kali di Sunda Kelapa tahun 1512 untuk mencari peluang perdagangan rempah-rempah dengan dunia barat. Keberadaan mereka ternyata tidak berlangsung lama, setelah gabungan kekuatan Muslim Banten dan Demak, dipimpin Sunan Gunungjati (Fatahillah), menguasai Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta (“kemenangan yang nyata”) tanggal 22 Juni 1527.
Seiring pergeseran zaman, Pelabuhan Sunda Kelapa tidak seramai pada 1522 yang mengukuhkan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan terbesar dan paling ramai di Asia Tenggara. Fungsi Sunda Kelapa sebagai pelabuhan mulai terkikis setelah Belanda membangun Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara pada 1885. Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa sekadar tempat berlabuh kapal tradisional antarpulau yang mengangkut kayu seperti dari Sumatra dan Kalimantan.

Di Pelabuhan Sunda Kelapa kami naik perahu (Kata Dessy yang saat itu sedang belanja di mangga dua, kalau kecil, namanya perahu, kalau besar, baru namanya kapal). Satu perahu 5 orang. Bau solar yang mencemari laut begitu kental. “Mikir-mikir deh snorkling disini, ” kata Liz sambil terus foto-foto. Beberapa kapal-kapal yang sedang sandar itu sedang dibersihkan dan tampak beberapa pekerja dengan peralatan snorkel ala kadarnya membersihkan badan kapalnya.
Hampir sunset di Pelabuhan Sunda Kelapa, tapi perjalanan masih panjang. Kami memutuskan untuk kembali ke Museum Sejarah, untuk ketemu Dessy.
Museum Sejarah (Stadhuis) dibangun tahun 1620 hingga 1707 atas inisiatif Gubernur Jenderal Coen dan awalnya digunakan sebagai bangunan balai kota semasa VOC berkuasa. Taman Fatahillah yang terletak di depannya menyimpan banyak sejarah, salah satunya pembantaian 5.000 keturunan etnis Cina pada tahun 1740. Tambah sore, ternyata cahaya di Museum Sejarah tambah eksotis saja.
Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein”. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC ”’Johannes Rach”‘ yang berasal dari ”’Denmark”‘, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungakan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Sayangnya sekarang air mancurnya sudah tidak berfungsi lagi dan bau pipis yang sangat menyengat.
Di Taman Fatahillah kami berpisah, untuk ketemu lagi lain waktu.
Artikel diatas banyak copy and paste dari internet, bukan tulisanku semua lho… terus foto batavia lama bisa dibaca di buku Batavia in Nineteenth Century Photographs by Scott Merrillees. Kalo mau minta ijin ditaruh di blogku kemana ya? Terima kasih buat Aya dan Vie yang udah bikin foto-foto perjalanan. Foto Aya lainnya dapat dinikmati secara lengkap di http://ceritaaya.multiply.com/photos
[RN 010805]
Dear Rini,
Bahasan mengenai BATAVIA sangat menarik dan akurat sekali.
Ngomong2, punya koleksi foto-foto ‘Batavia Tempo Doeloe’ ngak?
Kalau ya, bagaimana kalau kita tukar-menukar foto-foto tsb.
Kebetulan salah satu kegemaranku mengoleksi foto lama Batavia(dalam format digital) dan sudah terkumpul sebanyak 200-an file.
Wass,
Andy
081310449367
thank ya tulisan ini mbantu aku buat presentasi freier vortrag.
informasinya sangat bagus, saya berniat untuk memuatnya
di kotatua.com Bolehkah
Candrian, silahkan saja jika ingin memuatnya di kotatua.com
wah….
senang nya ….. jln2 menyusuri kota tua di jakarta…
setelah melihata liputannya di O-Chanel…..
aq tuh pengen BGT ikt b’partisipasi…..
BTW aq mo tanya caranya iktan acara itu gimana????
plis…. ksh tau by my email….. thanx… B..4….
wah .. boleh juga datanya nih .. saya sedang cari informasi tentang kota tua ..
gw anak broadcast ui gw mau nyari tempat2 bersejarah mengenai jakarta buat tugas karya akhir kelompok gw,gw butuh situs-situs mengenai jakarta mau email in gw ga???thanx bgt yah!!!
Rini, tulisan tentang wiken di kotatua sudah saya muat di
http://www.kotatua.com. Silahkan kunjungi web tsb. Terimakasih ya.
Ceritanya bagus Mbak, saya Tour guide mungkin kapan2x kt bisa tuker cerita.
Buat temen-temen yang berminat jalan-jalan ke kota tua ada temen-temen Sahabat Museum yang bikin acara PTD - Plesiran Tempo Dulu. bisa browsing ke groupnya di sabahatmuseum@yahoogroups.com
makasih ya…..
karena rtikel ini aku bisa ngerjain tugas di sekolahku…
kalau bisa.. tempat-tempat bersejarah lainya juga dibahas ya,,,:) makasih….
sy jg paling hobi hunting foto di kawasan kota tua, paling sering ya di museum fatahilah dan alun2nya, pgn ke pelabuan sunda kelapa masih tertunda juga
asik loh jalan - jalan di kawasan kota tua
good
tulisan ini menyenangkan sekali. saya yang tinggal di Makassar serasa hijrah ke masa itu.
kebetulan saya kerja di pelabuhan indonesia 4, jadi selalu rindu berita tentang ’sesuatu yang dekat dekat dengan laut, pantai, pelabuhan, bandar, dll’.
trims ya.
Waaaaaahhhhh, Gw interst banget yang namanya kota tua. aku kepengen donk kalo ada lg kegiatan yg kaya gitu, aku pengen ikutan donk, kasi info yach kalo ada seperti itu lagi………..!!!!!!!!!!!!!!
Kl gue lain, gw seh punya angan angan kl daerah kali besar barat dan sekitarnya benar2 dibuat daerah pariwisata dengan ditutupnya jln kl besar barat and dijalannya di buat daerah pedestarian ( pejalan kaki ) ky di boat ato clarke quaynya singapore, cuma pemdanya kurang ada support makanya daerahnya terbengkalai, padahal sekarang aja suka ada turis yg seliweran di daerah situ, itukan bisa menjadi daya tarik and mendatangkan devisa, tlg dong pak walikota direalisasikan…
pengen bange tneh dapet gambar kota kota tua.pengen aku bingkai untuk hiasan perpus mini di tempat ku……………da yg bisa bantu??????????
Saya mau tahu jadwal PTD diadakan dong…
keren habis..
andai kota jakarta kembali katahun 50an kebawah, dimana tidak ada kemacetan, polusi udara dan tata kota tidak semrawut …
makani cinta ama jakarta tempat kelahiran, dan tempat buat tinggal yang nyaman …
siapa yang bisa bantu kawanku .. yang bener2 cinta bagnet ama kota jakarta…
karena kecintaannya ama kota jakarta dia buat rumah makan bernuansa jakarta, namnaya ondel2 daerah arteri permata hijau sampiang carrefour..
untuk melengkapi rumah makannya mau dipasang foto2 kota jakarta tempo dulu, biar anak muda sekarang tahu bagaimana jakarta tempo dulu, dan makin cinta ama kotanya …
ada yang bisa bantu ….?
Daus, kalo ada yang mau tau jadual PTD bisa cek di sahabatmuseum@yahoogroups.com
cerita tentang jakarta tempo doeloe bagus bgt, kalau boleh tau pgn dunk ikutan acaranya. jalan2 & kumpul baraeng ma’ temen2 di jakrta tempo dulu
hello, batavia mania, gw cinta bgt ama yg namanya bangunan belanda krn gw dulu tinggal di tempat yg namanya Gg.Kenanga, yg skrg jd Atrium Plaza, gw besar di rumah dgn gaya chinesse, rumah dgn ukuran yg besar n bener2 ngk spt rmh2 skrg yg ngk ada uniknya gt, kapan yah ada acara bareng2 nya neh?
Artikelnya bagus sekali. Kebetulan saya sedang hunting berita- berita dan foto- foto mengenai Jakarta Tempo Doeloe dan Kebudayaan Betawi untuk pribadi. Kira- kira mau hunting foto batavia jaman jebot di mana yah…???
Permisi kawan, Ku numpang lewat.
(Cuplikan dari syair lagu indonesia lama yang terasa indah).
kalau bisa dibentuk club plesiran kota tua dijakarta, dari anak muda/ortu
KEREN BANGEET
SAYA TERTARIK BANGET BWT TUGAS SKRIPSI SAYA
Saya berminat sekali untuk ikut tour jalan-jalan ke kota tua dengan temen-temen di sahabat museum…mungkin temen2 bisa kasih informasi bagaimana caranya bisa ikutan.. berikut jadwal tournya… Terima Kasih.
Hai.. saya baru pertama nih.. boleh ga gabung?
menarik juga ya cerita ttg kota lama jakarta.. kebetulan saya butuh data sejarah jakarta khususnya permukiman sepanjang kali, apa punya selain di daerah hilir? misalnya di kawasan manggarai, jatinegara, dll..
dan di jalur sistem drainasi kali ciliwung yg di buat belanda dulu.. seperti pintu-pintu air lainnya..
thanks berat ya… it’s really mean to me..for my research..
jini
085885849480
ok banget tulisannya, ngebantu aku buat film documenter, btw boleh ga minta foto2 jakarta jaman dulu? boleh tidak ? balas lewat E-mail ya….
thank’s a lot
Kami suka spiritnya untuk “mewujudkan Jakarta yang lebih baik dengan apa yang bisa saya kerjakan dengan sepenuh hati saya.” Jakarta butuh warga yg berspirit seperti ini.
Untuk teman-teman semua penggemar kota tua tempo dulu Saya punya lukisan dokumenter ttg kota tua, bagus, jelas dan asli obyeknya di sekitar Jalan Kali Besar Barat, memuat gedung2 disebelah timur dan barat kali besar, sangat indah dan artistik sekali. Karya pelukis Belanda Mr.Hombers, dibuat Th. 1923. ukuran L : 30 cm x P : 55 cm. bahan kertas dengan tinta china. tapi di jual dengan harga Rp 5 juta nego. Kalau repronya cuma Rp 250.000, kalau mau pesan repronya silahkan pesan nanti barangnya saya kirimkan, uangnya menyusul tidak apa-apa. Pesan ke Ade,(Jogja) alamat email: salf_77@yahoo.com
Juga menjual sekitar 30 buah photo repro Kota Tua Jogjakarta, sudah di bingkai bagus. harga Rp 500.000,- per buah. Trims
Dear Rini,
aku punya referensi salah satu buku untuk lebih mengenal Jakarta tempo dulu beserta informasi awal VOC datang ke Jakarta dan membentuk suatu pemerintahan di Batavia. Di buku ini lengkap sekali terdapat informasi tentang pemimpin VOC, capiten China, capiten Bugis, capiten Moor, capiten Melayu yang salah satunya menjadi Bupati Kota Batavia adalah Ayah dari Muh Husni Thamrin di tahun 1900-an. disini juga terdapat informasi tentang pembantaian rakyat china sekitar tahun 1740-an. kalau kamu berminat bisa contact ke aku ya….
thx
sherly
Wah…keren sekali review ini.
Trims mba
Bagaimana supaya bisa dapat emailnya mbak Sherly? Poetri Soehendro di ptrsoehendro@yahoo.com.
gw mahasiswa jur planologi. gw mw buat skripsi dngan tema strategi pengembangan wisata kawasan kota tua.ada yang bisa bantu?
email gw : blake_motorbreath@yahoo.com.
thx
saya prihatin tentang kota jakarta yang kian hari tambah sumpek macet. dll. saya pencinta jakarta tempo dulu, mengingatkam saya kenangan kenagan tempo dulu jakarta yang indah, asri.subur, sejuk dll, dll
Waah artikelnya bagus, kalo ada waktu mungkin mas bisa posting artikelnya ke http://www.situskotatua.com atau kalau diberi ijin boleh saya republish di http://www.situskotatua.com dengan sumber dan ijin dari mas tentunya… Thanks
untuk sherly, bs mnt email/apa gt untuk bs d hub..
apa judul buku ny? thx
wah makasi ya kilasannya hehe,ngasi gambaran aku buat jadi pengen berkunjung kesana trus hunting voto deh
Gw lagi ngumpulin foto2 jakarta jadul, hobi baru sih. gue tertarik sama to jakarta yang jadul gara-gara datang ke resepsi pernikahan teman gue di raja kuring (Gedung VOC) disitu dipajang foto2 jadul. gile gue ampe bengong. ampir aja iler gue ngeces. gue terseppona dengan foto foto jakarta toempoe doeloe. ternyata kota gue tercinta begitu exotis dulunya. memandang foto2 itu serada idup di jaman belanda.pasti udaranya segar. ngga kaya sekarang.
so temen2 yang punya foto2 jadul jakarta kiranya bersudi hati untuk berbagi sama gue. thankz
untuk jakarta tercinta, we love U.
email me at michael.van.java@gmail.com