Berbagi Kasih di Bulan Ramadhan
Jakarta, kota yang tidak pernah tidur, dengan segala kesibukan dan rutinitas gemerlapnya, ternyata ketika malam tiba masih banyak orang-orang yang tinggal dijalan menggantungkan seluruh hidupnya pada jalanan dan kerasnya ibukota. Orang-orang yang tidur beratapkan bintang-bintang dipinggir jalan, membesarkan anak-anak dijalanan tanpa pendidikan yang baik, menyimpan apa yang dimiliki dalam sebuah gerobak yang menemani sepanjang hari, mencari rezeki dari sampah orang lain, dan semua ini dilakukan hanya untuk sekedar bertahan hidup.
Disadari ataupun tidak, kesibukan kerja yang kita miliki setiap hari kadang membuat kita tidak menyadari bahwa orang-orang yang berada dalam taraf kemiskinan ada disekitar kita, saudara-saudara yang tidak kita kenal, keluarga yang tidak pernah kita jumpa dan teman-teman yang tidak pernah kita tahu. Kita semua dihadang oleh sebuah kenyataan, disadari atau tidak kita juga bagian dari mereka, dan belum banyak yang kita lakukan buat mereka.
Kepada merekalah, sejak lima tahun lalu, aku selalu melibatkan diri dalam kegiatan "Berbagi Kasih di Bulan Ramadhan", suatu kegiatan yang dilakukan bersama berbagai kelompok sosial seperti KKS Melati [www.kks-melati.org] dan Komunitas Independen.
Dengan format kegiatan yang selalu berbeda setiap tahunnya, aku dan teman-teman menyempatkan diri menyapa, berkenalan, berbagi dengan orang-orang yang tertinggal ini. Kami hadir, mengasah batin dan kepekaan untuk peduli kepada mereka. Aku teringat tiga tahun lalu, menyapa seorang ibu penyapu jalan, yang masih giat menyapu jalan raya pada pukul 2 pagi, sementara orang-orang lain seperti aku, justru sibuk bergelung selimut tebal di kamar berAC. Aku ingat pula bertemu dengan seorang ibu yang tidur di pelataran sebuah restoran dan ketika aku memegang keningnya, terasa panas karena ia sedang sakit dan tidak punya biaya untuk berobat. Pengalaman-pengalaman berbeda selalu aku temui setiap tahun, begitu menagihnya bagaikan morfin untuk terus memacu diri bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan padaku.
Tahun ini, tidak seperti kebiasaan, kami tidak lagi berbagi di jalan raya. Kami mengubah format acara dengan tidak mengurangi kadar kebersamaan. Mengapa demikian?
Sejak dua tahun ini, Jakarta selalu kebanjiran para keluarga yang merasa dapat menangguk rejeki dari warga kota Jakarta yang selalu berlomba-lomba berbagi di bulan Ramadhan ini. Jalan-jalan yang biasanya sepi dan bersih dari kaum gelandangan, pengemis, dan pemulung, dalam bulan ini biasanya berubah menjadi ramai. Bagi warga Jakarta yang memang setiap hari jalan-jalan malam di seputaran Jakarta, pasti mengetahui dimana saja kantong-kantong kemiskinan di Jakarta. Taruhlah misalnya, lingkungan seputaran Pedongkelan, Kramat Tunggak, Penjaringan, dan lain-lainnya. Hampir tidak mungkin di sepanjang jalan Gatot Subroto ada keluarga pemulung yang tinggal atau tidur di jalanan. Memang ada komunitas keluarga pemulung di Jakarta, tetapi mereka jarang ada yang tidur di pinggir jalan. Pun kalau mereka tidur didalam gerobaknya di tepi jalan, pasti mereka memilih untuk tidak tidur di jalan utama kota Jakarta, seperti Thamrin, Sudirman, atau Gatot Subroto. Carilah di seputaran Senen di belakang gedung Era atau di kolong jembatan sebelah Indomobil jalan MT Haryono, atau di perempatan TPU Karet Bivak, masih banyak keluarga pemulung disana.
Mendadak Jakarta menampakan wajah kemiskinan warganya. Begitu banyak keluarga yang tega mengolongkan keluarganya sebagai keluarga miskin, bahkan sengaja datang ke Jakarta dari luar kota berbondong-bondong dengan truk, untuk sekedar meminta belas kasihan warga Jakarta? Mengapa di bulan Ramadhan ini semakin banyak orang-orang atau keluarga yang tega menunggu berjam-jam hanya untuk menerima paket-paket lebaran dari warga Jakarta yang ingin berbagi amal? Kesempatan?
Mendadak berbagi menjadi tidak terlalu nikmat dan memabukkan lagi. Istilah bahasa jawanya 'mbelenger' melihat ulah tingkah saudaraku yang memanfaatkan momen bulan baik ini untuk sekedar mendapatkan sesuatu. Seorang teman yang kebetulan menyempatkan diri berdiskusi dengan salah satu keluarga yang membawa gerobaknya ke pinggir jalan selama bulan Ramadhan ini, mengaku bahwa gerobak yang dipakainya disewa dari keluarga pemulung [betulan] seharga lima puluh ribu. Harapannya memang menangguk rejeki yang datang dari warga Jakarta yang rela berkonvoi-konvoi memberikan jatah sahur atau paket-paket hadiah untuk mereka. Kemarin aku lihat seluruh pemilik gerobak yang parkir di pinggir jalan Gatot Subroto itu duduk diatas tikar yang mereka siapkan dari rumah, atau duduk beralaskan kain karena (mungkin) merasa takut kotor untuk duduk langsung di trotoar. Aku bayangkan, gelandangan yang sesungguhnya bahkan tidak punya alas untuk duduk. Mereka duduk seadanya, dan memanfaatkan apa saja di sekitarnya untuk menghangatkan badan.
Jika anda kebetulan salah satu dari warga Jakarta yang juga ingin berbagi di bulan Ramadhan, silahkan teliti betul-betul target kegiatan anda, apakah mereka memang orang miskin atau dhuafa yang berkekurangan ataukah hanya oknum yang sengaja memanfaatkan bulan ramadhan untuk kepentingan mereka pribadi?
Semuanya pilihan anda.
[RN, 281005]


Komentar terakhir
saya Tharie dari majalah CHIC. Kebetu
Pendekatan Top-Down, Centr