Terminal Idaman
Entah mengapa hari itu aku tiba lebih dulu. Biasanya, setiap kali janjian dengan temanku yang satu ini, pasti aku terlambat 10 menit dari jadual yang dijanjikan. Karena tiba 30 menit lebih awal, aku putuskan untuk berjalan-jalan disekeliling terminal Blok M Mall.
Sudah tahunan rasanya sejak terakhir kali aku berjalan-jalan disini. Ketika kutelusuri alley demi alley, barulah aku ingat mengapa aku tidak suka tempat itu. Aku merasa tingkat pengamanan dua lantai di bawah permukaan tanah itu selalu tidak nyaman dan tidak aman. salah satunya, aku melihat springkler di sana yang sudah berdebu, bersarang laba-labanya dan aku yakin springkler itu tidak pernah diujicobakan atau dibersihkan. Aku tidak ingin berada disana pada saat ada kebakaran, karena aku tahu, selain pengap, disana juga tidak tersedia cukup alat pengaman (safety device) untuk keadaan darurat. Aku juga tidak menemukan letak hose selang pemadam kebakaran. Mungkin tertutup para pedagang disana atau menang tidak ada. Aku tidak mau terlalu memikirkannya pada saat aku secara fisik berada disana.
Pagi itu, aku merasa takjub karena outlet-outlet di sepanjang alley Terminal Blok M Mall berpendingin ruangan. Hawanya cukup sejuk , meskipun udara yang dihembuskan dari mesin pendingin ruangan itu sudah pasti tidak pernah diperiksa kebersihannya. Seorang teman kantorku dari negeri kangguru pernah masuk ke rumah sakit selama dua minggu dan dokter di RS itu tidak dapat menemukan penyakitnya. Setelah sekian lama, barulah diketahui bahwa mesin pendingin ruangan di apartemen tempatnya tinggal tidak menghembuskan udara bersih, alias sudah kotor penyaringnya. Itu penyebab ia sakit. Aku tidak tahu apakah pernah ada korban dengan penyakit yang sama akibat adanya pendingin ruangan di lokasi itu.
Meskipun tidak terlalu ramai, Terminal Blok M Mall ini cukup membingungkan dan makin membuatku tidak nyaman karena terlalu banyak tangga naik dan turun. Dengan kondisi back injury , terkadang agak merepotkan juga berjalan melalui begitu banyak tangga. Berhubung khawatir tersesat dan tidak tiba di tempat yang dijanjikan pada waktu yang ditentukan, aku langsung saja mencari akses keluar dari lokasi itu.
Aku janjian dengan seorang teman di sekitar area pembelian tiket masuk TransJakarta. Alih-alih menemukan alley yang langsung menuju kesana, seperti biasa, aku tersesat dan tahu-tahu aku menemukan diriku keluar di pintu Barat sebelah pasar Blok M. Aku langsung saja kembali ke pintu masuk Terminal Blok M yang aku tahu, supaya tidak tersesat lagi.
………..Sesampainya disana tepat pada jam yang dijanjikan, temanku ternyata belum tiba juga………….
Karena bosan dan tidak tahu harus melakukan apa, ditambah tidak terlalu suka berjalan-jalan tanpa tujuan, akhirnya kuputuskan untuk mencari tempat duduk untuk menunggu.
Ternyata sulit sekali mencari tempat untuk duduk. Terminal Blok M Mall tampaknya memang tidak tersedia tempat menunggu yang nyaman. Tidak pula ada semacam public area untuk menunggu. Karena tidak kuat lagi berdiri terlalu lama, akhirnya kuputuskan untuk duduk disebuah warung kue tak jauh dari situ. Kebetulan warung kue itu memiliki banyak tempat duduk.
Sambil makan kue, aku melayangkan pandanganku ke sekitar terminal itu. Memang tidak terlalu banyak orang lalu lalang disana karena masih pagi. Kalaupun ada orang yang sedang menunggu temannya seperti aku, mereka rela menghabiskan waktunya untuk sekedar berjalan-jalan diseputar tempat itu. No wonder ada banyak ruang untuk berjualan dan cukup padat pula rasanya, sehingga menambah sesak lokasi itu. Aku lihat, tidak banyak orang yang menunggu temannya di tempat itu. Ada beberapa orang yang aku lihat sedang menunggu, mereka juga duduk-duduk, makan kue dan minum, tetapi tidak terlalu lama. Biasanya setelah itu, mereka berdiri menunggu di tempat dimana mereka janjian. Ada pula yang terlihat memaksakan diri untuk terus berdiri sampai kaki-kakinya pegal linu. Aku pikir, ini sebabnya mengapa pemerintah atau pengelola tempat itu tidak memandang perlu menyediakan lokasi untuk menunggu. Alasan lain, mungkin, jika disediakan tempat menunggu akan digunakan dengan tidak sepatutnya. Aku tak tahu.
…...Temanku SMS, ternyata ia mengalami gangguan pada perutnya dan baru saja berangkat dari rumahnya. Paling cepat ia sampai ditempat aku berada sekitar 30 menit……
Sambil makan kue sosis soloku yang pertama, aku membayangkan sedikit space ditempat ini, lengkap dengan sofa yang nyaman dan bersih untuk menunggu, lalu ada setumpuk buku-buku ringan, dan majalah, pasti waktu menunggu yang aku habiskan paling tidak dapat terobati. Tapi mungkinkah di Terminal Blok M Mall ini ada tempat semacam ini? Tanpa bermaksud su’udzon, aku merasa semuanya akan sia-sia, karena di Jakarta ini tidak banyak orang-orang yang menghargai buku sebagai sumber informasi dan sumber ilmu. Alih-alih tempat itu digunakan untuk menunggu, jangan-jangan malahan digunakan untuk pertemuan bandar narkoba. Hiiiiiiiiiii……
…...Temanku ternyata membutuhkan waktu 90 menit untuk sampai di tempat yang dijanjikan. Aku yang terlalu lama menunggu akhirnya menghabiskan waktu menontoni para pengguna TransJakarta yang sibuk mengantri membeli karcis. Sebuah tontonan tersendiri……..
[RN,231105]