Februari 28, 2005

Introvert = Munafik ?

Dalam suatu kesempatan, aku menonton secara live sebuah Reality Show "Penghuni Terakhir 2" yang digelar ANTV setiap hari Minggu malam. bersama 12 orang kawan-kawan KKS Melati, kami berbondong-bondong datang ke salah satu studio ANTV.  Letaknya di Pengadegan, Jaksel, tidak jauh dari LIA.

Pertunjukan kali ini dimulai dengan menampilkan para penghuni satu per satu ke depan podium, seperti biasanya.  Pertanyaan demi pertanyaan digelar Juri dan para penghuni diminta menjawab.  Entah karena desain pertunjukan ini mengutamakan konflik atau entah karena para penghuni tidak sadar dengan cara penyutradaraan pertunjukkan ini, aku melihatnya sebagai suatu pertunjukkan sirkus yang menarik untuk dipelajari. Terutama karakter masing-masing tokoh dalam acara tersebut. Yang menarik malam ini adalah pernyataan Ivan, salah satu penghuni.

Ivan, misalnya, yang dengan lantang menyebutkan "Saya tidak suka orang yang introvert. Mereka itu munafik".  Apa yang otomatis ada dalam pikiran anda dengan pernyataan ini?  Apalagi setelah anda mendengar Ivan mengatakan "Orang baik itu munafik".  Apa yang anda pikirkan?

Peryataan Ivan bisa jadi mewakili pernyataan puluhan, mungkin ratusan orang yang tinggal di Jakarta, atau bahkan di Indonesia sekalipun. Mengapa kita sebagai manusia bisa dengan mudah men-judge seseorang dengan label yang kita berikan kepada orang itu? Yang aku tahu, setiap orang dapat dengan mudah mencari kekurangan orang lain dan membandingkan orang lain dengan dirinya sendiri.  Semua eksplorasi tentang diri orang lain akan dengan mudah dibandingkan dengan keberadaan dirinya.  Banyak orang pula yang menyatakan rasa tidak sukanya terhadap orang lain, yang sebenarnya adalah ungkapan hatinya akan hal-hal yang tidak bisa diterimanya tentang dirinya sendiri. Contoh gamblangnya seperti ini  : misalnya, aku tidak suka dengan orang yang tidak mandiri, mereka itu cenderung mengandalkan orang lain, manja, tidak mau mencoba sendiri, takut gagal dan seterusnya.  Ketidaksukaanku itu bisa jadi adalah cerminan dari hal-hal atau pandangan yang tidak aku sukai tentang diriku sendiri.  Aku seperti bercermin dengan orang lain. Mungkin aku ingin orang lain juga mandiri sama seperti diriku, dan ingin sekali mereka bisa menjadi mandiri seperti diriku. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa mengubah semua orang menjadi sama seperti aku. Dan mungkin saja, hal yang sama, juga yang dialami Ivan.

Ekstrovert ataupun introvert, keduanya adalah pilihan seseorang.  Seseorang bisa saja menjadi ekstrovert dan introvert sekaligus, tetapi ada juga mereka yang memilih hanya salah satu diantaranya.  Biasanya jika berbenturan dengan hal yang paling pribadi, seseorang akan menjadi seorang yang introvert. begitu pula sebaliknya. Menjadi Ekstrovert ataupun introvert, bukankah pilihan yang diambil adalah keberagaman yang menjadikan dunia ini sebagai suatu keindahan?  Bayangkan jika seluruh dunia ini terdiri dari orang yang ekstrovert. Mereka terbuka tanpa tedeng aling-aling, mudah bergaul, mudah menerima kehadiran orang lain, dan seterusnya. Kamus di internet menyatakan bahwa orang yang ekstrovert adalah talkative, open
show emotions, act before thinking, like to be with people.  Bagaimana dengan introvert? Introvert adalah kebalikannya.  Mereka quiet, thoughtful, keep emotions private, think before acting, like to spend time alone.

  Lantas, mengapa Ivan menyatakan bahwa Introvert = munafik?

Orang munafik di dalam Al-qur'an adalah orang yang "mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak ada di dalam hati mereka" (3:167).  Mereka adalah pendusta. "Mereka mengambil sumpah-sumpah mereka sebagai selimut, kemudian mereka menghalangi daripada jalan Allah. Sesungguhnya mereka, adalah jahat apa yang mereka buat" (63:2)

Introvert = munafik?  Aku tidak mengerti korelasinya.  Menurutku, baik orang ekstrovert maupun introvert keduanya bisa saja menjadi orang yang munafik, jika mereka mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani mereka sendiri. Tidak ada satu orangpun yang dapat mengukur dan mengetahui apakah seseorang itu munafik ataukah tidak, kecuali ia telah masuk ke dalam jantung hati orang itu untuk melihat apakah apa yang dikatakannya sama dengan apa yang ada dalam hatinya. Tentu Allah SWT jauh lebih tahu tentang hal ini.

Ayo kita bahas pernyataan Ivan yang kedua. "Orang baik itu munafik".  Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan yang disampaikannya, tetapi ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Sudah seberapa sedikitnyakah orang yang benar-benar baik di Jakarta ini? Benar-benar baik, maksudku adalah orang yang berbuat kebaikan hanya karena mereka ingin berbuat baik, tanpa tendensi apapun. Sudah seberapa banyak orang yang melakukan kebaikan tanpa tendensi maksud apa-apa? Mengapa ada orang yang mempertanyakan kebaikan hati seseorang?  Apakah jujur dan tulus? Rasanya capek sekali kepala ini jika terus mempertanyakan hal tersebut kepada setiap orang. Meragukan kebaikan hati seseorang dan mempertanyakan apakah ini tulus ataukah tidak.  Seseorang yang memberikan seulas senyum dikatakan orang gila, karena tanpa maksud apa-apa kok ia memberikan senyum? HAHA... Bagaimana Jakarta akan menjadi lebih baik jika penghuninya sibuk mempertanyakan kenapa seseorang yang tadi aku temui di halte bis memberikanku seulas senyum? Apakah sulit menerima fakta sebagai fakta? Fakta bahwa senyum itu mungkin saja hadiah terindahnya hari itu untuk orang lain, tanpa sebab apa-apa.

Wahai... hati-hatilah jika berbicara.  Bisa jadi anda sedang meremehkan diri anda sendiri.

RN, 28/02/05

Posted by rini1557 at 04:53:29 | Permanent Link | Comments (4) |

Februari 11, 2005

Oleh-oleh nonton Konser Acappella - INSPi

Tadi malam, disaat beberapa relawan Melati sibuk membantu pementasan teater anak-anak jalanan Dilts Foundation yang pada hari yang sama mengadakan pentas teater berjudul "Ande-Ande Lumutan" di Graha Bakti Budaya Tim, aku menyempatkan diri menghadiri undangan Mbak Diana dari Japan Foundation, menonton Konser acapela – INSPi di Teater kecil TIM.  O ya, bintang tamunya grup acapela dari Indonesia – Jamaica Cafe – yang juga sangat menghibur.  

Kelompok musik mulut (acappella) yang awalnya bernama "INSPiritual Voices" dibentuk tahun 1997 dengan album pertama "INSPiritual Voices". Konser live pertama tahun 1998, menjadi sejarah perubahan nama baru kelompok "INSPi". INSPi meraih sukses dalam konser tur keliling Jepang yang menjadi momen terbaik untuk dikenal masyarakat luas. Setelah album "Va Li Ha Li Ha" mereka merilis album "INSPi Roman" September 2004. 

Kali ini mereka pentas di Makassar, Jakarta dan Jogja.  Teater kecil yang memang kecil itu tadi malam penuh sesak.  Begitu datang, di dalam ruangan sudah disediakan teh, kopi dan kue-kue yang menggitu menggoda.  Wah... pertunjukan musik dengan kue-kue seperti ini pasti menarik sekali ya? Benar saja, pertunjukkannya pun tak kalah menarik.  Meskipun hampir seluruh lagu acapela dibawakan dalam bahasa Jepang, tapi bentuk kesenian yang ditampilkan benar-benar bagus.  Malam itu aku sedikit tahu tentang lagu-lagu permainan anak-anak jepang, yang dibawakan dengan sangat fun.  Takafumi WATANABE  sang Vokalis  yang membawakan Perkusi dengan mulutnya, tampak paling sibuk dan repot sekali menjaga ritme dan suara yang dihasilkannya. Maklum, dia ini penentu seluruh alat musik yang dimainkan, berdua dengan Akira TSUKATA sang Vokalis Bass.  Akira suaranya beraaaat sekali... padahal badannya kerempeng dan sangat tidak cocok dengan suaranya.  Aku jadi ingat sebuah pembicaraan dengan teman-temanku dulu, bahwa tidak ada korelasi antara suara seseorang dengan bentuk tubuhnya. Bisa saja seseorang itu bertubuh besar, tetapi suaranya kecil.  Dulupun aku pernah tertarik dengan suara seseorang yang sangat sexy, tapi ternyata setelah bertemu, ia tampak biasa-biasa saja. 

Balik ke INSPi. Lagu-lagu yang dibawakannya beragam, dengan gaya yang lucu-lucu. Yang paling menakjubkan adalah pada saat grup ini bertemu dan berkolaborasi dengan Jamaica Cafe.  Jamaica cafe malam itu membawakan lagu-lagunya dengan nakal, kalau tidak bisa dibilang urakan, dan jelas sangat berbeda dengan gaya grup INSPi. Ditengah kesibukan masing-masing, mereka sempat menciptakan sebuah lagu untuk dinyanyikan bersama.  Bayangkan dua buah kelompok acapela dengan teknik dan gaya musik yang berbeda dipadu padankan menjadi satu. Jamaica cafe dengan 2 orang Vocalis dan 4 orang pesuara alat musik dan INSPi dengan 4 orang vocalis dan 2 orang pesuara alat musik membuat teater kcil begitu riuh rendah.  Sungguh sebuah pertemuan seni yang indah.  Jadilah lagu Kokorono nekko (Akar Hati) didendangkan. Penyanyi Indonesia menyanyikannya dengan bahasa Jepang, penyanyi jepangnya menyanyikan dengan bahasa indonesia.  Karuan semua penonton bertepuk tangan dan memberikan semangat yang luar biasa.  INSPi terlihat sangat senang dengan sambutan yang diberikan. Sumringah tampak diwajah mereka yang berkeringat.  Akar hati, kira-kira isinya, meskipun kita berbeda, namun tetap sama, tetap memiliki akar hati yang sama. Seperti itulah.   

Lagu penutup dari serangkaian lagu-lagu yang didendangkan juga sangat menarik.  Lagu inipun didendangkan bersama antara INSPi dengan Jamaica Cafe.  Uniknya lagu ini diperkenalkan oleh pembawa acara sebagai lagu lama yang sangat terkenal di negeri Jepang.  Judulnya semula tak dapat kutebak, tapi begitu kata pertama dinyanyikan entah oleh Takehiko KITA (Vokalis),  atau Shinji OKUMURA (Vokalis), atau Tomoyuki OKURA (Vokalis), atau Atsushi SUGITA (Vokalis), pokoknya salah satu diantara mereka deh.  Dan mulailah lagu Bengawan Solo terdengar aneh ditelinga orang Indonesia karena dinyanyikan dengan cara Jepang (tidak ada huruf 'el'-nya) lalu jamaica Cafe menyambung lagu Bengawan Solo dengan musik keroncong, lalu disambung lagi oleh INSPi menyanyikan lagu Bengawan Solo dengan bahasa Jepang. Kebayang kan? Pasti asyik sekali.  Rasanya 2 jam waktu yang sangat pendek untuk menikmati musik seperti ini. 

Anda anda semua ada disana tadi malam. 

Yang menarik dari itu semua adalah bahwa setiap perbedaan adalah rahmat dan saling mewarnai dunia ini 

Bagi anda yang masih ingin nonton, jadualnya hari ini :

JADWAL PERTUNJUKAN INSPi:
Di JAKARTA
bintang tamu JAMAICA CAFE'

Jumat, 11 Februari 2005 (Umum)
Pukul 20.00 WIB
Tempat pertunjukan di Teater Kescil TIM (Teater Studio)
Jl. Cikini Raya 73
Telp. 021-314 4191

Semoga masih kebagian tiket. 

Selamat menonton.

Posted by rini1557 at 07:04:55 | Permanent Link | Comments (1) |