Introvert = Munafik ?
Dalam suatu kesempatan, aku menonton secara live sebuah Reality Show "Penghuni Terakhir 2" yang digelar ANTV setiap hari Minggu malam. bersama 12 orang kawan-kawan KKS Melati, kami berbondong-bondong datang ke salah satu studio ANTV. Letaknya di Pengadegan, Jaksel, tidak jauh dari LIA.
Pertunjukan kali ini dimulai dengan menampilkan para penghuni satu per satu ke depan podium, seperti biasanya. Pertanyaan demi pertanyaan digelar Juri dan para penghuni diminta menjawab. Entah karena desain pertunjukan ini mengutamakan konflik atau entah karena para penghuni tidak sadar dengan cara penyutradaraan pertunjukkan ini, aku melihatnya sebagai suatu pertunjukkan sirkus yang menarik untuk dipelajari. Terutama karakter masing-masing tokoh dalam acara tersebut. Yang menarik malam ini adalah pernyataan Ivan, salah satu penghuni.
Ivan, misalnya, yang dengan lantang menyebutkan "Saya tidak suka orang yang introvert. Mereka itu munafik". Apa yang otomatis ada dalam pikiran anda dengan pernyataan ini? Apalagi setelah anda mendengar Ivan mengatakan "Orang baik itu munafik". Apa yang anda pikirkan?
Peryataan Ivan bisa jadi mewakili pernyataan puluhan, mungkin ratusan orang yang tinggal di Jakarta, atau bahkan di Indonesia sekalipun. Mengapa kita sebagai manusia bisa dengan mudah men-judge seseorang dengan label yang kita berikan kepada orang itu? Yang aku tahu, setiap orang dapat dengan mudah mencari kekurangan orang lain dan membandingkan orang lain dengan dirinya sendiri. Semua eksplorasi tentang diri orang lain akan dengan mudah dibandingkan dengan keberadaan dirinya. Banyak orang pula yang menyatakan rasa tidak sukanya terhadap orang lain, yang sebenarnya adalah ungkapan hatinya akan hal-hal yang tidak bisa diterimanya tentang dirinya sendiri. Contoh gamblangnya seperti ini : misalnya, aku tidak suka dengan orang yang tidak mandiri, mereka itu cenderung mengandalkan orang lain, manja, tidak mau mencoba sendiri, takut gagal dan seterusnya. Ketidaksukaanku itu bisa jadi adalah cerminan dari hal-hal atau pandangan yang tidak aku sukai tentang diriku sendiri. Aku seperti bercermin dengan orang lain. Mungkin aku ingin orang lain juga mandiri sama seperti diriku, dan ingin sekali mereka bisa menjadi mandiri seperti diriku. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa mengubah semua orang menjadi sama seperti aku. Dan mungkin saja, hal yang sama, juga yang dialami Ivan.
Ekstrovert ataupun introvert, keduanya adalah pilihan seseorang. Seseorang bisa saja menjadi ekstrovert dan introvert sekaligus, tetapi ada juga mereka yang memilih hanya salah satu diantaranya. Biasanya jika berbenturan dengan hal yang paling pribadi, seseorang akan menjadi seorang yang introvert. begitu pula sebaliknya. Menjadi Ekstrovert ataupun introvert, bukankah pilihan yang diambil adalah keberagaman yang menjadikan dunia ini sebagai suatu keindahan? Bayangkan jika seluruh dunia ini terdiri dari orang yang ekstrovert. Mereka terbuka tanpa tedeng aling-aling, mudah bergaul, mudah menerima kehadiran orang lain, dan seterusnya. Kamus di internet menyatakan bahwa orang yang ekstrovert adalah talkative, open
show emotions, act before thinking, like to be with people. Bagaimana dengan introvert? Introvert adalah kebalikannya. Mereka quiet, thoughtful, keep emotions private, think before acting, like to spend time alone.
Lantas, mengapa Ivan menyatakan bahwa Introvert = munafik?
Orang munafik di dalam Al-qur'an adalah orang yang "mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak ada di dalam hati mereka" (3:167). Mereka adalah pendusta. "Mereka mengambil sumpah-sumpah mereka sebagai selimut, kemudian mereka menghalangi daripada jalan Allah. Sesungguhnya mereka, adalah jahat apa yang mereka buat" (63:2)
Introvert = munafik? Aku tidak mengerti korelasinya. Menurutku, baik orang ekstrovert maupun introvert keduanya bisa saja menjadi orang yang munafik, jika mereka mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani mereka sendiri. Tidak ada satu orangpun yang dapat mengukur dan mengetahui apakah seseorang itu munafik ataukah tidak, kecuali ia telah masuk ke dalam jantung hati orang itu untuk melihat apakah apa yang dikatakannya sama dengan apa yang ada dalam hatinya. Tentu Allah SWT jauh lebih tahu tentang hal ini.
Ayo kita bahas pernyataan Ivan yang kedua. "Orang baik itu munafik". Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan yang disampaikannya, tetapi ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Sudah seberapa sedikitnyakah orang yang benar-benar baik di Jakarta ini? Benar-benar baik, maksudku adalah orang yang berbuat kebaikan hanya karena mereka ingin berbuat baik, tanpa tendensi apapun. Sudah seberapa banyak orang yang melakukan kebaikan tanpa tendensi maksud apa-apa? Mengapa ada orang yang mempertanyakan kebaikan hati seseorang? Apakah jujur dan tulus? Rasanya capek sekali kepala ini jika terus mempertanyakan hal tersebut kepada setiap orang. Meragukan kebaikan hati seseorang dan mempertanyakan apakah ini tulus ataukah tidak. Seseorang yang memberikan seulas senyum dikatakan orang gila, karena tanpa maksud apa-apa kok ia memberikan senyum? HAHA... Bagaimana Jakarta akan menjadi lebih baik jika penghuninya sibuk mempertanyakan kenapa seseorang yang tadi aku temui di halte bis memberikanku seulas senyum? Apakah sulit menerima fakta sebagai fakta? Fakta bahwa senyum itu mungkin saja hadiah terindahnya hari itu untuk orang lain, tanpa sebab apa-apa.
Wahai... hati-hatilah jika berbicara. Bisa jadi anda sedang meremehkan diri anda sendiri.
RN, 28/02/05


Komentar terakhir
saya Tharie dari majalah CHIC. Kebetu
Pendekatan Top-Down, Centr