Arti Kartini Bagiku
Dari kegelapan menuju cahaya. siapapun yang membaca tulisan Kartini dibukunya pasti mengerti bahwa bukan Emansipasi yang dicari Kartini. Ia mencari cahaya. Jika dulu kaum perempuan ingin dimajukannya, mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki, tapi tujuan Kartini adalah supaya perempuan dapat menjadi seorang ibu yang pintar dan mampu mendidik anak-anaknya. "Bagaimana seorang ibu dapat mendidik anaknya jika membaca saja ia tidak bisa?" keluh Kartini suatu hari.

Keinginan Ibu Kartini sesungguhnya adalah sesuatu yang mulia. Pendidikan pertama dan pembentukan akhlaq seorang anak adalah dari keluarga, terutama dari sang ibu. Bayangkan jika membaca saja sang ibu tidak dapat, bagaimana ia akan memberikan bekal pengetahuan kepada sang anak? Keinginan Ibu Kartini untuk mendatangkan cahaya bagi kaum perempuan sungguhlah sangat mulia. Apapun cara telah ia tempuh agar kaum perempuan mendapatkan cahaya untuk menerangi keluarga.
Tapi tengoklah apa yang terjadi hari ini. Banyak perempuan bersekolah, tapi bersekolah asal-asalan. Sudah itu tetap saja masih banyak saja perempuan yang melecehkan dirinya sendiri alias tidak menghargai keberadaan dirinya. Sudah bagus bekerja di kantor, tetapi banyak yang bekerja tidak dengan hatinya. Tengok lagi bagaimana Indonesia merayakan hari Kartini. Di TK-TK dekat rumahku, semua anak TK diwajibkan mengenakan pakaian tradisional. Entah siapa pelopornya, tapi menurutku Ibu Kartini akan sangat bersedih hati karena hari lahirnya diperingati dengan sebatas penggunaan pakaian adat setiap kali peringatan hari Kartini datang. Tapi tidak seorangpun (seingatku) yang merefleksikan keinginan Ibu Kartini dalam kehidupan sehari-hari.
Yang terparah menurutku adalah mengaku mengerti mengenai Emansipasi, kesetaraan gender, dan menganggap bahwa perempuan layak setara dengan laki-laki dalam banyak hal. Mengaku penganut faham feminisme dan pengagum Ibu Kartini, tetapi pada saat ada pekerjaan fisik, selalu meminta kaum laki-laki untuk melakukannya hanya dengan alasan ia seorang perempuan.
Ibu Kartini pada jamannya tidak menghendaki perempuan bekerja di kantor. Ia pun tidak mengungkapkan mengenai Emansipasi. (itu siapa ya pencetusnya pertama kali?). Dengan semua keterbatasan yang dimilikinya, beliau hanya menginginkan dibukakannya cahaya bagi perempuan, agar perempuan dapat menjadi panutan, agar perempuan mendapatkan bekal untuk mendidik anak-anaknya dengan baik.
Sebuah niat luhur, janganlah dikotori.
Dari kegelapan menuju cahaya.
Ibu kita Kartini, putri sejati
Putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita Kartini, pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia
Ibu kita Kartini, Putri jauhari
Putri yang berjasa, se-Indonesia
Ibu kita Kartini, Putri yang suci
Putri Yang merdeka, cita-citanya
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia
Ibu kita Kartini, pendekar putri.
Pendekar kaum ibu, se-indonesia.
Ibu kita Kartini, penyuluh budi,
Penyuluh Bangsanya, kar 'na cintanya.
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia
Ibu Kita Kartini Ciptaan: W.R. Supratman (RN, 210405)


Komentar terakhir
saya Tharie dari majalah CHIC. Kebetu
Pendekatan Top-Down, Centr