Balada Sebuah Voucher
Beberapa waktu lalu ketika aku dan dua orang temanku menghadiri sebuah event yang diadakan oleh satu media di Jakarta, kami mendapatkan masing-masing sebuah voucher makan di sebuah restoran baru di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Alhamdulillah.......... Sebagai seorang petualang kuliner, tentu saja ini adalah sebuah petualangan baru yang mungkin bisa kurekomendasikan kepada teman-teman clubberku. Resto-cafe ini masih baru dibuka bulan Mei 2005, dua bulan yang lalu dan saat ini sedang dalam taraf promosi. Lebih dari seratus voucher dengan nilai yang sama disebarkan untuk kebutuhan promosi.
Bergaya comforting dan lifestyle, resto-cafe yang bergaya garden atmosphere ini sepi dari pengunjung. Hanya aku dan dua orang sahabat baikku yang berkunjung ke sana. Padahal hari itu hari Kamis, sudah hampir jam 21.00. Bukankah waktu yang tepat untuk memulai hari, kata para clubbers di Jakarta? Lantas, mengapa resto-cafe yang satu ini begitu sepi pengunjung?
Meja-meja yang mengkilat, kertas makan teratur rapi, buku menu berbaris menghadap ke depan, seakan menanti pengunjung untuk melepas lapar dan dahaganya di meja-meja disana. Masuk ke dalam resto ini, aku disuguhi oleh keramahtamahan pelayannya. Sungguh luar biasa dan terlalu ramah malahan untuk taraf sebuah resto standard. Senyumnya mengembang tatkala kami bertatapan. Hmmm... namanya Leo, pasti lahir di bulan Agustus dan bintangnya Leo, gumamku.
"Masing-masing dari kami punya voucher senilai Rp.50,000, apa masih bisa digunakan disini," kata sahabatku sambil menunjukkan voucher yang ia bawa. Leo menganggukkan kepalanya, lantas memandu kami ke sebuah meja di pinggir tengah ruangan. Paduan warna merah-oranye-hitam di dinding sebelah kami duduk begitu bersih. "Ini memang resto-cafe baru", pikirku.
Seorang Mierna tiba-tiba muncul di hadapan kami. Entah apa posisi pekerjaannya malam itu, tapi ia terlihat cantik dan menarik. "Maaf mbak, vouchernya bisa digunakan tapi hanya satu saja, tidak bisa bertiga dalam satu meja", katanya menjelaskan. Aneh. Sudah berkali-kali aku menggunakan voucher sebagai satu kesempatan untuk mencoba hidangan di sebuah resto baru, tidak pernah sekalipun ada aturan yang seperti ini, bahkan dalam tulisan di undanganku hanya tertera sebagai berikut :
Inviting voucher to taste some of our specialties which include Champion US Short Rib that was awarded as Best Barbeque Rib in 1999.We are also have many more specialties that guarantee to satisfy your taste bud.This voucher is valued at Rp.50,000 and can be used as payment to your bill only when you come with us on <ditulis tempatnya deh> It would be an honor to us if you could spare your time to dine with us.
"Mbak, kita nggak masalah kok duduk di meja yang berlainan, atau kita pesan saja satu orang satu bill," kataku, karena tidak menemukan informasi aneh seperti yang disampaikan Mierna sebelumnya. Mierna masuk kembali dan berdiskusi dengan temannya, kasir malam itu. "Oke deh mbak nggak pa-pa tapi kalau bisa nilai makannya dilebihkan dari Rp.50,000" tambah Mierna setelah kembali. Aku sedikit berdebat dengannya, karena informasi itupun tidak ada di voucher yang aku terima. Aku bisa saja makan lebih dari Rp.50,000 toh dengan voucher yang hanya Rp.50,000 ini aku hanya tinggal menambah sedikit saja. Tapi pikirku, untuk apa harus menghabiskan voucher sebegitu besar nilainya kalau aku tidak sanggup menghabiskannya. "Mbak Mierna, kayaknya di voucher ini nggak ditulis deh, coba tanya lagi ke bosnya, bisa nggak makan kurang dari Rp.50,000", kataku. Susah sekali makan disini ternyata, gumamku.
Mierna lalu sibuk menelepon seseorang dan kembali dengan senyumnya yang indah, mengijinkan kami memesan makanan yang kami pilih sesuka hati dan tidak memberi batasan nilai. Leo dengan senyumnya yang khas lalu membantu kami memilihkan dan mencatat menu.
Makanlah kami sampai kenyang. Bertiga kami saling mencoba makanan yang tersedia. Untung saja kami jadi duduk satu meja. Bayangkan jika ada tiga orang duduk di tiga meja dan setiap orang saling berkunjung ke meja lainnya, saling mencoba masakan yang ada di meja lainnya, seperti apa kiranya? Tak apalah, memang hanya kami bertiga pengunjung resto-cafe ini dan memang terlihat berlebihan karena kami merepotkan satu team tukang masak di tempat itu hanya untuk memasakkan makanan yang berlainan untuk kami bertiga. Aku percaya mereka memasak dengan riang gembira karena diberi kesempatan untuk unjuk kerja hari itu, daripada tidak memasak sama sekali. Aku lihat mereka memasakdan menyiapkannya dengan senyum.
Penyajian makanannya sangat luar biasa. Rasanya aku seperti para juri di lomba masak Allez Cuisine di Indosiar. Makanan yang disajikan benar-benar perfect! Ujung sedotan menghadapku, garpu-pisau pada tempatnya, piring diputar sampai bagian terindah menghadapku. Manner dan grooming Leo juga luar biasa. WOW!!! Cuma itu kata yang ada di kepalaku.
Usai makan dan dessert yang mengenyangkan perut, tibalah bill-bill itu di hadapan kami. Kembali Mierna membawa pengumuman, seperti seorang ibu guru yang memanggil muridnya di depan kelas. "Rini, yang mana ya?" katanya dan menanyakan pula nama kedua sabahatku. Untung kami tidak sedang bermain peran dan menukar identitas kami bertiga. Dengan jujur, aku menjawabnya. "Bisa nggak ditambah lagi makannya, bisa take away atau makan lagi disini. Ini billnya cuma lebih sedikit," kata Mierna menjelaskan dan begitu juga yang dialami kedua temanku.
Ini jebakan, pikirku, karena kami sudah menyelesaikan makanan yang begitu enak di mulut dan perut, tapi sekarang dihadapkan dengan masalah yang aneh seperti ini. dalam voucher jelas-jelas tertulis dine in, seharusnya siapapun yang bekerja di resto itu mengerti bahwa dine-in artinya makan ditempat, tidak boleh dibawa pulang.
Lalu datang lagi sang kasir ke hadapan kami. Ini sungguh memalukan, pikirku, karena benar-benar rasanya seperti orang kampung yang baru saja makan di resto keren dan modern. Rasanya seperti tertangkap basah tidak punya uang untuk membayar bill yang diberikan. Tapi aku tidak mau kalah dengan sang ego yang ingin merasa benar. Aku jelaskan pada sang kasir bahwa aku sudah makan lebih dari Rp.50,000 sesuai dengan permintaan mereka semula. Memang hanya lebih sedikit dari Rp.50,000 tapi itu memang sudah lebih dan diawal pun tidak ada keharusan bahwa kami harus menambah minimal Rp.20,000. Tidak seharusnya mereka memintaku untuk belanja/makan lebih banyak lagi. For what reasons? Tidak ada.
Akal-akalan kah? Apakah mereka tidak tahu aturan / kebijakan restorannya bila pengujungnya menggunakan voucher? Dalam berbagai kesempatan menggunakan voucher, seringkali justru sang pelayan dari restoran itu yang mengajari kami menggunakan voucher, harus jeli melihat jam dan tanggal yang tertera di voucher, misalnya atau hal-hal kecil lainnya. Berbeda dengan lainnya, resto-cafe yang satu ini benar-benar memusingkan dan mengajakku banyak berpikir.
Sungguh sayang, disaat nilai tinggi sudah kuberikan atas pelayanan dan atmosphere yang luar biasa, harus dinodai dengan intrik-intrik penyelesaian bill yang serba tak jelas ini.
Mungkin mereka menganggap remeh urusan voucher - voucheran dan merasa benar mengakali pelanggannya. Mungkin saja pelanggannya kali ini memang baru sekali itu berkunjung ke sebuah resto-cafe modern. Mungkin saja pelanggannya kali lain adalah orang yang lebih kaya yang sanggup membayar sendiri dan melupakan voucher yang pernah mereka terima. Tapi bukankah setiap orang adalah sama dan berhak mendapatkan pelayanan yang sama?
Aku jadi teringat pengalaman temanku tatkala mengikuti sebuah training pengembangan diri. Beliau seorang Direktur di kantornya, selalu arogan dan merasa lebih tinggi kedudukannya dibandingkan orang lain di kelas training itu. Suatu ketika sang Guru mengajak muridnya bermain peran yang kebalikan dari apa adanya mereka saat itu. Temanku itu memilih sebagai pengemis. Beliau merobeki kaos dalamnya, dibedakinya dengan tanah dan debu, dicoreng-morenginya mukanya dan aktingnya memang benar seperti pengemis sungguhan.
Lalu Beliau mampir ke sebuah restoran tempatnya biasa mangkal. Belum sempat menginjakkan kaki ke dalam restoran itu, sang doorman mengusirnya. Tapi ia tetap keukeuh sumeukeuh untuk masuk ke dalamnya dan berkata bahwa ia punya uang untuk membayar makanan yang akan dimakannya. Namun siapa yang akan percaya?
Ada banyak hal dalam dunia ini yang bisa diterima dengan begitu sederhana, tetapi manusia membuatnya menjadi complicated.
Banyak hal yang aku pelajari malam itu. [RN 220705]


Komentar terakhir
saya Tharie dari majalah CHIC. Kebetu
Pendekatan Top-Down, Centr