Friday, October 6, 2006

Bercocok Tanam, Mengenal Tanaman

“Eh, ini namanya apa?” kata seorang ibu dua anak yang tinggal di Jakarta, tatkala kami sedang mengikuti acara Tour de Kampong yang diselenggarakan oleh sebuah hotel di kawasan Anyer.

“Itu namanya jantung pisang,” kataku, sambil menunjukkan bagian-bagian jantung pisang tersebut. “Jantung pisang biasanya dipotong-potong dan dijadikan sayur. Disetiap helainya terdapat calon pisang satu sisir. Secara keseluruhan, jantung pisang ini bisa berkembang dan menjadi satu tandan pisang,” jelasku.

“Wah, bagus sekali yaaa…. boleh nggak saya bawa pulang? Kebetulan anak-anakku belum pernah melihat jantung pisang seperti ini”, katanya.

Belum pernah? Kataku dalam hati. Aku mengenal tanaman pisang (Musa indica sp) sejak aku dapat membedakan nama-nama tanaman. Beruntungnya aku karena adik ibuku mengoleksi beraneka ragam tanaman pisang di kebun samping rumahnya. Saat itu aku begitu mengagumi tanteku karena beliau sanggup membedakan spesies tanaman pisang yang satu dengan spesies tanaman pisang yang lain.

Aku memang cukup beruntung. Tatkala aku kecil, ayah mengajari aku dan adik-adikku cara menanam berbagai tanaman di halaman rumah.  Kami sering bepergian ke kios Pertani untuk sekedar membeli bibit tanaman dan menanamnya di pot atau langsung di halaman. Ide awalnya adalah untuk memperkenalkan aku dengan berbagai bibit dan tanaman. Jadilah aku dan adik-adikku menanam aneka tanaman apotik hidup, tomat, cabe, terung, pare, dan lain-lain.  Para tetangga di sekitar rumah kamipun banyak menanam tanaman, seperti singkong, ubi jalar, dan tanaman buah lainnya seperti pepaya, jambu, jeruk, sawo, mangga, dan lainnya.  Aku menikmati saat-saat memetik langsung tomat, pepaya atau cabe langsung dari tanamannya.

Saat ini di Jakarta sudah tidak banyak anak-anak muda yang mengenal tanaman pekarangan. Mungkin karena di halaman rumah mereka tidak ada tanah tersisa untuk ditanami, atau malahan tidak memiliki pekarangan sama sekali. Halaman rumahku sendiri tidak begitu luas tetapi banyak sekali tanaman ditanam disana. Tanaman buah-buahan seperti jambu dan belimbing; tanaman obat seperti lengkuas, jahe, salam, dan kunyit; belum lagi tanaman taman seperti anthurium sp, adenia sp, lili paris, tricolor sp dan lainnya. Malah ada banyak sekali tanaman yang aku juga belum tahu namanya. Suatu hari nanti aku bertekad untuk memberi label pada semua tanaman yang ada di rumahku.

Sulitnya menanam tanaman pekarangan karena tidak memiliki halaman untuk menanam, saat ini dapat disiasati dengan menanam tanaman dalam pot. Beberapa tetanggaku saat ini sedang asyik menanam tanaman dalam pot. Entah mereka berburu dari mana tanamannya, tetapi aku begitu menikmati hijaunya pemandangan yang ada disana, meskipun seluruhnya terdiri dari tanaman pot.

Kebiasaan menanam itu ternyata juga menulari Ida, pembantuku. Setiap kali aku sibuk menternakkan Anthurium, ia melihatku dan banyak sekali bertanya tentang proses menanam, kenapa perlu dirabuki, dan berapa kali harus disiram. Aku mengajarinya menanam beberapa bibit tanaman dan mengajaknya melihat bibit yang ditebarkannya di tanah. Sampai suatu hari …

“Mbak, ini bijinya bisa ditanam, nggak?” katanya suatu pagi tatkala ia sibuk menyiangi pare yang masih muda. Aku menyempatkan diri menengok keadaan biji-biji pare yang dikumpulkannya.

“Ini yang putih nggak bisa ditanam, Da”

“Kenapa?”

“Biji yang masih muda belum bisa dijadikan bibit untuk ditanam. Kamu harus memilih pare yang kuning dan sudah tua. Bijinya bisa diambil lalu ditanam”, kataku lagi, menjelaskan, sambil mencari kalau-kalau ada bibit yang sudah coklat dan bisa dijadikan percobaan bagi Ida untuk menanam. Tapi ternyata tidak banyak biji yang cukup tua untuk ditanam. Rasanya besok aku akan pergi ke Pertani untuk mencari bibit pare, agar Ida punya pengalaman menanam pare.

Di Jakarta ini ada banyak sekali Ida-Ida yang lain yang juga tidak memiliki pengalaman untuk menanam. Entah karena tidak tertarik, ataukah karena ada kesulitan untuk mendapatkan tanaman, media tanam, dan tempat untuk menanamnya. Aku teringat pada seseorang yang lahir di desa. Ia begitu beruntung mengenal berbagai macam tanaman dan tahu dengan pasti bagaimana memperlakukan tanaman. Ia pula tempatku belajar tentang tanaman. Paling tidak, aku punya keinginan untuk belajar dan melestarikan tanaman semampuku. Aku tidak bisa membayangkan apabila suatu hari anakku terkesima melihat pohon pisang di sebuah buku, hanya karena saat itu ia tidak pernah melihatnya lagi  tumbuh di lingkungan sekitar rumahnya. Mari kita biasakan menanam tanaman di pekarangan rumah kita sebagai media pembelajaran bagi anak-anak kita. [RN, 061006]

 

 

Posted by rini1557 at 05:07:16
Comments

8 Responses to “Bercocok Tanam, Mengenal Tanaman”

  1. Tolong jelaskan bagaimana cara menanam pohon coklat yang baik dan cara pemeliharaannya… dan jelaskan juga tahapan - tahapan dalam perawatannya…
    Trimakasih….

  2. Rini says:

    Julius Manurung, ini ada informasi tentang coklat, klik di http://warintek.progressio.or.id/perkebunan/coklat.htm atau kamu bisa beli buku terbitan kanisius karangan Hatta Sunanto, BSc., Ir., MS. 1992. Cokelat: Budidaya, Pengolahan Hasil dan Aspek Ekonomisnya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Semoga bisa membantu. Thanks

  3. dipa says:

    ada artikel cara pemula untuk bercocok tanam ga…untuk sekedar menghiasi rumah dan pekarangannya..baik untuk sayur mayur, buah2an, ataupun bunga…basicnya aja…thx

  4. Anonymous says:

    kalo cara nanem tomat di pot gimana yah?

  5. Rini says:

    dipa, cara memulai bercocok tanam sudah banyak ditulis dibuku. beli saja buku terbitan kanisius atau agromedia. tapi sebenarnya sangat sederhana bercocok tanam. nggak terlalu rumit.

  6. Anonymous says:

    Terima kasih atas blognya. Saya pikir saat ini kita memang harus menggalakkan kembali bercocok tanam mandiri bagi para penduduk di jakarta untuk dapat meningkatkan penghematan masyarakat dalam berkonsumsi.
    Saat ini yang kita butuhkan ialah masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dengan memanfaatkan lahan yang dimiliki semaksimal mungkin. Dengan demikian masyarakat Indonesia tidak tergantung dengan produksi negara cina misalnya dan juga akan menghemat devisa negara…
    Mohon untuk terus diterbitkan tulisan seperti ini. Terima kasih…

  7. niken_praw says:

    apakah sekarang masih ada kios pertani yang menjual bibit tanaman sayuran? saya sangat tertarik… Dimana alamatnya?

  8. Anonymous says:

    Niken, kiosnya ada di PT Pertani (Persero) di Jl. Pertani 1-7 , Duren Tiga, Jaksel

Leave a Reply