Maret 08, 2006

Jenguki Sahabat dari Rusia

Hari Selasa lalu (070306) aku menjenguk Aya, salah seorang relawan KKS Melati, di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan. Ia baru saja selesai menjalani operasi usus buntunya pada pagi hari sebelumnya. Ia masih tampak pucat namun sudah banyak tersenyum.

Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan adalah Rumah Sakit Kelas B berada di Wilayah Jakarta Timur. Sesampainya di rumah sakit itu, aku merasakan suasana rumah sakit yang berbeda dengan suasana rumah sakit pada umumnya. "Tempat ini seperti sel tahanan", komentarku pada Liz dan Dessy yang turut menjenguk Aya, segera setelah memasuki gedung rumah sakit. Persis seperti gedung tua pada umumnya, bangunan rumah sakit ini dilengkapi dengan elevator yang sudah pasti sangat keren pada jamannya yang membuatku teringat pada film-film James Bond di negeri Rusia sana. Dinding tinggi dengan ventilasi udara, sedangkan jendelanya sederhana saja.

Tidak jauh dari pintu masuk, aku melihat sebuah prasasti tertempel di dinding rumah sakit itu. ternyata RSUP Persahabatan adalah rumah sakit perwujudan persahabatan Indonesia dan Uni Sovyet.  Rumah sakit ini merupakan sumbangan dari Pemerintah Uni Soviet (Rusia) kepada Pemerintah Republik Indonesia.  Gedungnya mulai dibangun tahun 1961 dengan luas tanah sekitar 15 ha, saat ini konon luasnya tinggal 13,5 ha.  Rumah sakit ini diserahkan resmi kepada Pemerintah Indonesia pada tanggal 7 November 1963.  Sejak itu, secara Administratif RSUP Persahabatan merupakan Rumah Sakit Vertikal dibawah Depkes RI Cq. Dit. Jend. Pelayanan Medik, Operasionalnya merupakan satelit RSUPN CM berlangsung sampai tahun 1975. Dari tahun 1975 RSUP Persahabatan berubah menjadi RS Mandiri langsung dibawah Depkes RI menjadi RS Rujukan Nasional untuk Penyakit Paru.

Tidak banyak sisa persahabatan Indonesia dan Uni Sovyet yang tertinggal di kota Jakarta ini. Salah satu bangunan lainnya adalah Patung Pahlawan.

Patung Pahlawan atau yang biasa kita kenal dengan Tugu Tani, letaknya di segitiga Menteng, Jakarta Pusat. Patung ini dibuat oleh dua orang bangsa Rusia, yaitu Matvei Manizer dan Otto Manizer, yang diberikan sebagai hadiah kepada Pemerintah Republik Indonesia.  Baik Matvei maupun Otto belum pernah ke Indonesia sebelumnya dan mereka mengadakan survey ke beberapa daerah di Indonesia sekedar untuk mencari inspirasi tentang bentuk patung yang memiliki sentuhan Indonesia. Pada sebuah desa di Jawa Barat, keduanya menemukan sebuah dongeng rakyat mengenai seorang ibu yang mengantarkan anak laki-lakinya berangkat ke medan perang. Untuk mendorong keberanian sang anak serta tekad memenangkan perjuangan, maka sang ibu memberikan bekal nasi kepada anaknya. Ide inilah yang kemudian diambil oleh Manizer bersaudara.

Patung Pahlawan yang terbuat dari bahan perunggu ini dibuat untuk menggambarkan perjuangan Bangsa Indonesia. Pada saat itu Bung Karno ingin merayakan perjuangan Bangsa Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari belenggu penjajahan Belanda.  Patung ini digambarkan dalam dua bentuk orang, yakni pria dan wanita. Sang Pria digambarkan sebagai tipe seorang petani menyandang bedil, sedangkan sang wanitanya digambarkan berupa tipe seorang ibu yang sedang memberikan bekal kepada sang pria. Bung Karno meresmikannya pada tahun 1963 dengan menempelkan plakat yang berbunyi, "Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah Bangsa yang besar".

Sayangnya tidak banyak orang yang peduli dengan kehadiran bukti-bukti peninggalan sejarah semacam ini. Tidak banyak pula penduduk Jakarta yang tahu siapa pembuat patung-patung yang bertebaran di Jakarta ini. Mungkin pula karena letak patungnya di tengah-tengah taman sehingga tidak memungkinkan siapapun mendekati patung tersebut, sekedar untuk melihat tulisan pada tugu patung tersebut. Apalagi untuk menemukan apakah nama sang pematung memang ada tertulis di kaki patung itu? Aku pernah menemani seorang tamu asing berkeliling Indonesia. Ia mengagumi patung-patung di Jakarta dan begitu antusiasnya ia membandingkan patung-patung di negaranya dengan yang ada di Jakarta. Tapi ia kecewa karena aku tidak banyak tahu soal para pematungnya. Di negaranya, pada setiap kaki patung ditulisi nama pematungnya, karena mereka begitu menghargai karya seni para pematung. Berbeda dengan di Indonesia, apalagi di Jakarta. Siapa yang mau peduli? [RN,080306].

Sumber data tentang Patung Pahlawan : Anonim. Monumen dan Patung di Jakarta. Dinas Museum dan Pemugaran Propinsi DKI Jakarta. 1999/2000.

 

Posted by rini1557 at 12:12:43 | Permanent Link | Comments (0) |