Teras Nyaman di Kota Jakarta
Kali ini aku mendapat kesempatan untuk makan siang di sebuah restoran di Selatan Jakarta. Nama restorannya adalah Courtyard Terrace : Simply Chinese. Letaknya di Plaza Senayan, tidak jauh dari kantor klienku. Hari itu, beberapa klienku mengajak aku dan rekan kerjaku untuk sebuah lunch meeting, sebuah pertemuan sambil makan siang.
Dari tampak luar, restoran ini tidak terlalu menarik pengunjung untuk datang, tetapi ketika pertama kali aku melangkahkan kakiku didalamnya, suasana nyaman dan menyenangkan segera terasa. Restoran berkonsep resto masakan Cina modern minimalis dengan dominasi warna hitam, emas dan marun, yang menciptakan atmosfer yang elegan namun santai. Pelayan-pelayan restoran ini dengan sigap dan penuh senyum mengembang mencarikan kami tempat duduk.
Sambil mengobrol, aku begitu menikmati suasana di restoran ini. Hey, di pelataran Plaza Senayan ada musical fountain! Aku pasti sudah lama sekali tidak berkunjung ke Plaza Senayan ini bahkan mungkin terakhir kali sewaktu aku dan teman-teman berpartisipasi di acara futsal yang digelar oleh CWS beberapa waktu lalu. Waktu itu musical fountainnya belum ada. Pintar sekali desainer air mancur menari ini, pikirku, karena tidak diperlukan kolam besar dan desainnya begitu sederhana dan minimalis. Cocok sekali keberadaan restoran yang minimalis ini dengan pemandangan seperti ini melalui kaca-kacanya yang lebar.
"Bapak pasti sering makan disini, ya?" ujarku membuka pembicaraan. "Apa menu favorit Bapak disini?"
"Wah disini banyak sekali makanan yang enak dan pasti halalnya, karena mereka tidak menyediakan daging babi. Kalau makan siang disini pasti penuh sekali," jawabnya. "Cobalah tumis buncis muda tabur daging, itu kesukaan istri saya, lalu udang goreng tabur wijen saus mayonaise yang ini lezat sekali," katanya lagi seraya menunjuk beberapa gambar di buku menu.
Jadilah kami memesan tumis buncis muda tabur daging, udang goreng tabur wijen saus mayonaise, ikan malas saus sze zuan, ayam goreng hainan, dan ifu mie. Untuk minumannya aku pilih jus strawberry yang kelihatannya begitu menggoda air liurku. Belum lama kami berbincang-bincang, pesananpun datang.

"Ifu mienya boleh minta tolong dibagi lima langsung, Mbak," kata seorang klienku. Wow, pikirku. Aku belum pernah punya pikiran seperti itu tatkala makan di sebuah restoran. Alih-alih menolak, sang pelayan malahan dengan sigap menyiapkan sebuah meja untuk membagi ifu mie kami menjadi lima porsi lalu dituangnya ke dalam lima buah mangkok kecil. Bukan hanya itu saja, karena kami akhirnya juga meminta ikan malas pesanan kami untuk juga dibagi lima, demi kesopanan menyantap hidangan dan juga (mungkin) demi mencegah kami saling berebut makanan. Kadangkala, makan bersama klien memang tidak sespontan cara makanku bersama teman-teman ataupun bersama keluarga. Setiap kelompok makan pasti punya aturannya tersendiri.
Tidak lama kemudian nasipun datang. Kebetulan aku sedang tidak makan nasi di siang hari, sehingga tiga mangkuk nasi yang sudah dipesan lalu dibagikan bukan untukku. Dua orang klienku lantas membagi nasi di sebuah mangkok menjadi dua bagian. Kata mereka, makan siang tidak boleh terlalu banyak karbohidrat, dan itu berarti tidak boleh terlalu banyak makan nasi. Tetapi pada saat menyendok nasinya, seorang klienku menemukan selembar rambut diantara nasinya.
"Minta tukar saja," kataku.
Semangkok nasi baru segera datang disertai ucapan maaf dari sang pelayan. Kami tidak terlalu mempermasalahkan sang nasi dan rambutnya lagi, karena terlalu lapar dan toh kami sudah mendapatkan semangkok nasi yang baru.
Makanan di restoran ini benar-benar lezat dan diramu dengan begitu professional. Chefnya didatangkan khusus dari Kuangtung, Cina. Master Chef Yim Ying Tat, namanya, menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang Chinese culinary di Hongkong. No wonder kalau rasa masakannya begitu berbeda.
Begitu kami selesai makan, seorang pelayan datang. "Mbak, karena tadi nasinya ada rambutnya, kami akan memberikan hidangan penutup sebagai complimentary." ujarnya. Aku pun bertambah bingung karena segera setelah itu beberapa pelayan membersihkan meja kami dan meletakkan lima piring kecil lengkap dengan garpu untuk menyantap hidangan penutup, yaitu sebuah pancake isi kacang merah tabur wijen hangat berukuran sedang yang baru saja matang. Hidangan ini terlihat yummy sekali dan benar saja, rasanya begitu lezat. Kalau aku tidak sedang diet dan bukan sedang makan siang bersama klienku, mungkin saja aku sudah kalap dan menyantap sebanyak-banyaknya.
Tidak biasanya sebuah restoran di Jakarta atau juga di Indonesia memberikan pelayanan yang begitu prima. Restoran ini tidak begitu mahal dan sungguh sangat terjangkau, tetapi pelayanan di restoran ini patut diacungi jempol. Bos PT Panen Boga Lestari yang juga pengelola jaringan restoran Courtyard, Chatter Box, Spice Garden, dan Sogo Bakery, Anthony Cottan patut tersenyum bangga kepada para pelayannya. [RN,080606]

Komentar terakhir
saya Tharie dari majalah CHIC. Kebetu
Pendekatan Top-Down, Centr