Kebetulan, atau sudah ditentukan?
Seorang perempuan muda membuang kulit pisangnya sembarangan. Tidak jauh dari tempat ia membuang kulit pisangnya, ia terpeleset oleh sebuah kulit pisang, tasnya terlempar darinya dan hinggap di sebuah skate board yang begitu saja muncul. Ia lantas mengejarnya dan akhirnya bertemu dengan seorang laki-laki yang disukainya.
***
Betul. Cerita diatas adalah sebuah klip iklan deodorant di televisi. Bukan iklannya yang akan saya bahas kali ini, tetapi, dari cerita ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nasib kita memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Nasib, takdir, dan kata-kata sejenisnya yang artinya kurang lebih sama, adalah suratan garis yang telah ada dari sejak kita dilahirkan di dunia ini. Suratan yang sama yang kita pilih sepanjang hidup kita. Pilihan yang sudah ditentukan.
Berlawanan dengan hal itu, kita tentu mendengar sebuah kata lain yang bisa jadi adalah kebalikan dari kata nasib, suratan, atau takdir itu. Nama katanya adalah "Kebetulan". Kebetulan dipercaya oleh banyak orang sebagai hal yang tidak ada kaitannya dengan nasib. Tidak untukku, kebetulan tetap saja bagiku merupakan bagian dari nasib, meskipun terkadang kata ini menjadi sebuah bonus yang menyenangkan.
Berkaitan dengan kata kebetulan, banyak sekali hal kebetulan yang pernah aku alami.
Di suatu hari yang panas terik, aku bepergian dengan beberapa orang teman untuk mengunjungi seorang kawan dalam rangka bersilaturahmi usai hari raya Idul Fitri. Di terminal Depok yang penuh sesak dengan manusia, aku harus berjuang untuk dapat keluar dari terminal tersebut. Pada saat berdesakan itulah, aku berkata kepada teman di depanku, "wah, kalo desek-desekan gini paling enak dengerin kasetnya Opick yang judulnya astagfirullah, biar orang-orang nggak saling dorong mendorong", kataku. Tiba-tiba saja, toko kaset di depanku memutar lagu Opick dan "kebetulan" lagu yang diputarnya adalah lagu Opick dengan judul yang kuinginkan. "Nah, lo", kata temanku sambil tertawa,"Makanya hati-hati ngomong, Bu!" ujarnya. Aku lantas terdiam sambil berpikir apa makna dari keanehan ini.
Pada episode lain di kehidupanku, lagi-lagi sang "Kebetulan" berbenturan lagi denganku. Ceritanya, aku sedang fotokopi beberapa lembar dokumen di sebuah tempat fotokopi di depan kantorku. Ketika akan membayar, aku bingung akan mengeluarkan uang pas atau uang pecahan besar agar mendapat kembalian. Aku memilih yang kedua. Aku keluarkan uangku Rp.50,000, dan lantas mendapatkan kembalian sebesar Rp. 22,000. Uang itu aku pegang dan entah kenapa aku tidak mengembalikannya ke dalam dompetku. Dari tempat fotokopi, aku melewati tukang martabak yang sedang menggoreng dengan bau yang sungguh menggoda lidah dan air liurku. Segera saja aku mampir dan membeli satu buah martabak spesial dengan telur bebek 4 buah. Tatkala aku melihat daftar harganya, aku tertawa. Betapa tidak, harga martabak itu sama persis dengan jumlah uang yang sejak tadi aku genggam. Rp. 22,000!
Terkadang, sepulangnya aku dari kantor, tukang bakso dan tukang bubur yang mangkal di depan kantorku seringkali menyapaku. Mereka memintaku mampir dan membeli dagangannya. Suatu kali, entah mengapa aku ingin sekali membeli bubur sukabumi. Aku ingin saja membelinya tanpa tahu kenapa aku ingin membelinya. Lantas aku beli satu porsi untuk aku bawa pulang. Sesampainya di rumah, aku serahkan bungkusan bubur itu kepada ibuku. Beliau segera saja membukanya dan tertawa, "Aku tadi hampir telepon kamu, mau minta dibelikan bubur ini." katanya. Kebetulankah?
Kebetulan-kebetulan yang aku alami, aku percayai sebagai suatu hal yang bukan hanya kebetulan, tetapi memang sudah ditentukan. Kadangkala, ditengah kepenatan kita menjalani aktivitas sehari-hari, kita terlupa untuk mendengarkan diri kita, mendengarkan hati kita sendiri. Karena sesungguhnya segala kebetulan yang kita alami itu adalah suatu cara untuk membangunkan diri kita untuk terus mendengarkan kata hati kita. [RN,100706].


Komentar terakhir
saya Tharie dari majalah CHIC. Kebetu
Pendekatan Top-Down, Centr