Tuesday, February 13, 2007

Ayo Selamatkan Jakartaku!

Akhir-akhir ini Jakarta tak sudah dibalut kesedihan dan persoalan. Belum tuntas masalah pembuatan jalur bus way dan pemotongan pohon di sepanjang jalurnya, masalah penanganan pembuangan sampah, masalah banjir yang sudah mencapai 50% wilayah Ibukota dan telah merendam 1499 sekolah, 15 stasiun kereta api, memutus aliran listrik bagi 750,000 pelanggan, dan mengganggu 83,302 satuan sambungan telepon (BI,110207), belum adanya penanganan bencana secara makro, atau masih banyak yang lainnya lagi.  Media massa pun tak kalah sigap menjadi mediator sekaligus membumbui mereka yang menuding ketidakbecusan Pemerintah menangani persoalan dan juga sekaligus mediator bagi Pemerintah yang kerap menuding masyarakat yang tidak ingin membantu kerja Pemerintah. Berkali-kali daerah resapan air yang mulai berkurang di Jakarta kini dituding sebagai salah satu penyebab bencana banjir. Masyarakat dan DPR menuding bahwa Pemerintah tak punya tata ruang yang jelas dan seringkali mengubah kawasan tempat serapan air menjadi daerah residential atau komersial.

Kita yang berada di tengah perang tulisan tersebut, lebih baik langsung mengambil sikap. Daripada hanya membaca atau menonton berita, lalu mengomel tak jelas juntrungannya dan tidak ada dampak apapun untuk membantu kota ini, lebih baik kita bercermin pada diri sendiri dan melakukan beberapa hal sederhana bersama-sama. Lantas apa yang bisa kita lakukan? 

Mana yang lebih tepat "Bersihkan sampah di got & pinggir kali" atau di tulisan itu?

Mari kita mulai dari hal yang paling sederhana.  Mungkin kita lupa bahwa pameo “buanglah sampah pada tempatnya” kini bukan lagi jargon yang ampuh.  Dimana-mana masih banyak masyarakat yang dengan ringan tangan membuang sampahnya ke jalan. Sebutlah pengendara mobil, angkutan dan bis kota, belum lagi masyarakat pejalan kaki yang turut berkontribusi terhadap persoalan sampah ini.  Semakin jarang aku mendapati orang-orang yang membuang sampah pada tempatnya. Seorang ibu yang aku temui pagi ini, mengajari anaknya untuk membuang sampahnya ke selokan. Ia memelototiku karena menegurnya. Tetangga sebelah rumahku kerapkali kulihat membuang beberapa sampahnya ke halaman rumahku.  Mulai dari kulit telor, bungkus permen atau biskuit, kaleng minuman soda atau kapas penyeka wajahnya.  “Ah ini kan hanya sebatang puntung rokok”… kata seorang teman kantorku yang kulihat mematikan puntung rokoknya di pot tanaman di ruang tunggu kantorku.  Sampah kecil, memang. Tetapi yang menjadi perhatianku adalah hilangnya kesadaran anak muda di Jakarta untuk membuang sampah pada tempatnya. Ada apa? 

Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan itu bisa menjadi berakar dan bisa jadi bergulir ke sampah yang lebih besar kubikasinya.

Jika demikian, penanganannya sudah pasti sangat sederhana. Mari biasakan membuang sampah pada tempatnya. Biasakan membawa kantong sampah di tas dan membuang sampah kita di dalam kantong tersebut sampai kita menemukan tong sampah terdekat. Sangat sederhana.

Minggu lalu, aku belajar lagi tentang resapan air. Menurut Emil Salim dalam tulisannya di KOMPAS, pada tahun 1970-an sekitar 60% air hujan diserap tanah. Kini, yang terserap hanya 10% saja. Jumlah bangunan yang menutup tanah sekarang bertambah banyak. Dengan debit air hujan saat ini, dapat dipastikan jumlah air yang diserap tanah sangatlah berkurang. Untuk itu, sekarang aku menerapkan metode baru.  Di rumah kami di depok, setiap minggunya ada banyak sekali sampah daun, rumput dan batang-batang pohon. Biasanya semua sampah itu aku buang begitu saja ke tong sampah. Kini, aku belajar bahwa aku sudah membuang cikal bakal tanah yang seharusnya bisa digunakan untuk menambah tanah di halaman rumahku. Sampah organik itu bisa didaur ulang menjadi kompos dan bisa ditaburkan di tanah-tanah di halaman rumahku. aku bukan saja menyelamatkan tanah dari kikisan air, tapi juga membantu membuat daerah resapan air, paling tidak dirumahku sendiri. 

Beberapa tahun lalu, WWF pernah membagikan bibit pohon untuk ditanam. Bibit dalam kantong kertas daur ulang dibagikan ke sekolah-sekolah, pusat perbelanjaan, dan komunitas-komunitas anak muda lainnya. Aku termasuk salah satu diantara penerimanya. Ide membagikan bibit adalah ide yang bagus. Jika setiap rumah menanam satu pohon, pasti akar-akar pohonnya bisa digunakan untuk menahan tanah dari erosi.  Jika hujan tiba, tanah di permukaan tidak banyak yang tergerus dan terbawa oleh air hujan.  Di halaman rumahku yang tidak terlalu luas, aku menanam pohon jambu air, belimbing wuluh, belimbing bangkok, salam, dan yang baru saja kucangkok dari tanaman di halaman adik ipar ibuku, adalah tanaman delima.

Ayo selamatkan Jakartaku. caranya sangat sederhana. Ide ini bisa diterapkan oleh siapa saja dimana saja. Mari mulai dari diri kita sendiri sebelum mulai menyalahkan orang lain. [RN, 130207].

Foto diambil dari sini

 

Posted by rini1557 in 03:08:12 | Permalink | Comments (1) »