Januari 19, 2007

Dilarang memelihara unggas!

Sewaktu aku kecil, kerap kali kulihat para tetanggaku memelihara ayam kampung. Kurasa hampir disetiap rumah memiliki ayam kampung. Ayam-ayam itu dibiarkan bebas berkeliaran dan pemiliknya sibuk menggiring ayam ketika maghrib menjelang.

Pernah suatu hari tatkala masih SD, aku membeli anak ayam warna-warni dari seorang pedagang keliling. Aku memilih sendiri anak ayam itu dan membayarnya dengan uang saku yang kukumpulkan dari hari ke hari. Harga seekor anak ayam waktu itu Rp.100, dan aku membelinya dengan bangga. Setiap hari aku memberinya makan dan membiarkan anak-anak ayam itu berkeliaran di pekarangan depan rumahku, mencari makanannya sendiri. Bahkan aku pernah melihat anak ayamku yang terbesar mematuki cacing tanah dengan lahapnya.

Sewaktu masih SD pula, seorang adik ayahku yang bekerja di Kalimantan, datang ke rumah membawa ayam-ayam kate. Bentuknya lucu karena mereka kerdil dan tidak dapat tumbuh besar. Setiap hari, bergantian dengan adik-adikku, kami memberi makan ayam kate itu di pekarangan. Cukup dedak dan jagung pipilan yang kami beli dari warung tak jauh dari rumah kami. Aku pun masih ingat ketika ibuku membeli seekor ayam kampung untuk menemani ayam-ayam kate itu. Ayam kampung yang dibeli ibuku cukup besar. Tak lama kemudian, aku dan adik-adikku seringkali berburu telur-telur ayam yang berceceran di pekarangan. Sebagian kami goreng dengan rasa ingin tahu, dan sebagian lagi ditetaskan. Betapa lucunya saat itu ketika aku dan adik-adikku menonton sebuah telur yang sedang pecah. sebuah kepala kecil menyembul dari balik telur. Lucu, sekali. Ayahku melarang kami memegang anak ayam yang baru saja menetas. Nanti mati, ujar ayahku, ketika kami menanyainya. Sewaktu anak-anak ayam itu tumbuh membesar, aku baru menyadari keanehan tubuhnya. Yap! mereka adalah perpaduan ayam kampung dan ayam kate kami. Meski begitu, setiap hari tidak bosan-bosannya kami mengejar ayam-ayam itu di pekarangan sebagai sarana olahraga.

Bicara soal kejar mengejar, aku teringat sebuah pengalaman yang kurang menarik. Sewaktu aku melewati rumah tetanggaku, rupanya ayam yang dipelihara tetanggaku itu baru saja menetas. induk ayamnya galak bukan kepalang. Aku dipelototinya dan lalu dikejarnya. Saat itu karena takut aku berlari menuju ke rumah. Sang ayam tak kalah sigap, terus berlari mengejariku, hingga akhirnya aku menyerah dan sang ayam mematuki kakiku. Aduh. Sakit rasanya. Dan masih banyak lagi pengalamanku tentang ayam peliharaan.

Saat ini memang aku sudah tak punya lagi ayam-ayam di pekarangan rumahku. Aku juga sudah dewasa sekarang. Namun, pengalaman bersama ayam telah menjadi pengalaman yang menyenangkan. Aku percaya di Jakarta masih banyak anak-anak yang tumbuh dengan pengalaman bersama ayam-ayamnya. Tapi kini, Pemda DKI telah mengeluarkan Peraturan Gubernur no. 05/2007 tanggal 17 Januari 2007 lalu. Ada delapan materi pokok di dalamnya mengenai aturan pemeliharaan unggas. Masyarakat diminta untuk meniadakan unggas peliharaan dengan cara dikonsumsi, dijual atau dimusnahkan. Unggas yang dilarang adalah itik, entog, angsa, burung dara, burung puyuh, dan..... ayam. Menurut Guberbur KDKI Jakarta Sutiyoso, aturan ini dikeluarkan untuk mengatasi ancaman kesehatan penduduk Jakarta dari virus flu burung dan masyarakat diminta untuk mematuhi peraturan dengan penuh tanggung jawab.

Aku membayangkan suatu hari nanti, anakku akan belajar tentang ayam hanya dari buku atau di Taman Margasatwa Ragunan. Ia tak boleh lagi menyentuh, memegang ataupun memelihara ayam. Hilanglah sudah pengalamannya tentang memelihara ayam, tepat pada saat ia belum tahu seperti apa rupa ayam itu. Mungkin nanti, sebutan ayam bahkan sudah tak ada lagi, karena ayam sudah lenyap dari muka bumi Jakarta. [RN,190107]

Posted by rini1557 at 03:50:22 | Permanent Link | Comments (4) |