Wednesday, October 15, 2008

Kemiskinan, diinginkan atau disengaja?

Hari ini, 15 Oktober 2008, adalah Blog Action Day 2008 dengan tema Kemiskinan. Dalam rangka berpartisipasi, inilah sedikit pendapat saya tentang kemiskinan di Indonesia, dari sebuah sudut yang sangat kecil.

Mencermati kemiskinan di Indonesia adalah hal yang sangat menarik. Mengapa tidak? Meskipun tingkat
kemiskinan di Indonesia menurut Bapak Presiden telah mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir dari 17.7 % pada tahun 2006 menjadi 15.4 % pada bulan Maret 2008, berdasarkan standar kemiskinan yang ditetapkan oleh World Bank, namun program yang telah dicanangkan oleh Pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan masih terasa sangat kurang, jika tidak boleh disebut tidak berhasil.

Mari kita tengok program pertama yang disebut Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin). Bagaimana teknis pembagian beras ini, siapa yang menerima, kriteria apa yang telah ditetapkan untuk penerima raskin dan masih banyak pertanyaan lain yang memerlukan bukan saja penjelasan tetapi juga sebuah studi untuk pembuktiannya. Dalam banyak kasus di beberapa daerah seperti yang disinyalir di surat kabar, pembagian raskin ini tidak merata dan terkesan diberikan asal-asalan, bahkan terindikasi adanya penyelewengan.

Di Papua dan Maluku dimana masyarakat mempunyai kebiasaan untuk makan ubi, sagu dan jagung karena bahan makanan ini mudah ditanam dan sesuai dengan kondisi tanah yang ada disana. Program Raskin masuk ke wilayah ini sekitar enam tahun yang lalu dan secara tidak langsung memperkenalkan beras sebagai bahan makanan utama pengganti ubi, sagu dan jagung yang telah biasa mereka makan. Salahkah mengkonsumsi karbohidrat seperti ubi, sagu dan jagung? Aku rasa tidak. Bahan makanan itu mudah didapat dan sangat murah, dibandingkan dengan beras. Lantas apakah dengan pembagian Raskin lantas kemiskinan yang ada di Papua dan Maluku dapat terobati? Wallahu’alam. Program  Raskin telah menciptakan ketergantungan jangka panjang dan merusak perilaku makan serta kebudayaan orang Papua dan Maluku baik yang tinggal di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Perlahan namun pasti, masyarakat Papua dan Maluku semakin lebih banyak mengonsumsi nasi dari pada sagu atau ubi. Menurut data Badan Ketahanan Pangan Provinsi Papua, hingga tahun 2004, masyarakat Papua mengonsumsi nasi 55%, ubi-ubian 30% serta sagu 15%. Tentu saja persentase pemakan nasi semakin tinggi sekarang karena gencarnya program RASKIN dan berbagai kebijakan lain seperti pencetakan sawah besar-besaran di seluruh tanah Papua dan Maluku. Apakah pengentasan kemiskinan berarti mewajibkan masyarakat untuk mengkonsumsi beras dan menanam padi?

Menurutku, pembagian Raskin demi pengentasan kemiskinan sungguh tidak tepat. Bagaimana bisa pembagian beras untuk orang miskin menjadi salah satu upaya untuk pengentasan kemiskinan? Program ini mendidik masyarakat untuk selalu menengadahkan tangannya dan menunggu pemberian Raskin dan tidak ada upaya untuk bisa mandiri. Program ini juga membuat masyarakat yang tidak miskin menjadi merasa miskin karena iri tidak mendapatkan jatah sebagaimana yang diperoleh tetangganya, meskipun jumlah dan kualitas beras yang dibagikan terkadang tidak layak untuk dimakan. Alangkah baiknya jika Pemerintah membuat program berkelanjutan untuk masyarakat sehingga mereka bisa terbebas dari kemiskinan, bukan sekedar membagikan gula-gula dan membuat masyarakat ketagihan untuk meminta-minta. Mari kita sama-sama pikirkan sebuah program saja untuk memulai, tetapi tepat sasaran dalam mengentaskan kemiskinan.

For Blog Action Day 2008 tulisan ini dibuat, semoga bisa menginspirasi kita semua. [RN,151008]

Posted by rini1557 at 09:28:17
Comments

Leave a Reply