Wednesday, January 21, 2009

Jambu… oh… Jambu

Sebatang pohon jambu hari ini kupanjat lagi setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah lagi kusinggahi. Pohon jambu kaget, begitu nama yang keluarga kami berikan, satu-satunya yang sabar bertumbuh di halaman belakang rumah kami. Bersama pohon ini, aku dan adik-adikku memiliki kenangan yang tidak pernah kami lupakan.

Setiap sore ketika aku masih duduk di kelas empat SD, aku dan adik-adikku berebutan memanjatnya sambil memilih cabang terbaik untuk sekedar tidur-tiduran atau membaca. Kali lain, kami membuat tenda dengan meminjam beberapa helai kain milik ibunda atau main masak-masakan di bawah kerindangan dahannya atau sekedar bermalas-malasan diatas sehelai tikar sambil dibelai lembutnya angin dan gemerisiknya helai-helai dedaunan. 

Ketika aku beranjak remaja, rasa gamang saat memanjat batang pohon jambu kaget selalu menghampiri. Kadang kala aku berhasil naik ke cabang favoritku tetapi begitu akan turun dari cabang pohon itu rasa gamang kembali datang. Alih-alih turun dari cabang pohon yang kusinggahi, aku malahan loncat ke tangki air yang terletak di sebelah pohon jambu, lalu naik lagi ke atas genteng rumah tetanggaku dan turun dari atap rumah sebelah.

”Mbak, ini adalah pohon jambu legacy”, kata adikku suatu hari, tatkala dia mampir ke rumah dan menyempatkan diri memanjat batangnya lagi. Benar ucapannya, karena pohon jambu kaget yang kami tanam di halaman belakang rumah kami ini kami cangkok dari halaman rumah kami di Tebet, dulu. Sebelumnya, pohon jambu ini dicangkok dari rumah ayahanda di Jalan Jawa. Kini akupun telah menanam cangkokan pohon yang sama di rumahku di Depok.

”Aku juga akan mencangkoknya dan menanamnya di rumah Sidoarjo,” kata adikku, ”Dan aku akan mencangkoknya dan menanamnya juga di rumah Axel suatu hari nanti”, katanya lagi.  Axel adalah keponakanku yang saat ini masih berusia lima tahun. Beberapa kali pertemuanku dengannya selalu berakhir dengan acara memanjat pohon. Mengajarkannya memanjat pohon telah menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan.  

Pohon jambu kaget kami masih hidup sampai saat ini. Tiga puluh tahun kira-kira usianya dan ia masih terus saja memberikan buah-buahnya yang ranum dan menyegarkan untuk kami santap. Kami berharap ada lebih banyak teman-teman seperti kami yang mau melestarikan pohon buah-buahan untuk sekedar dijadikan legacy, paling tidak kepada anak dan cucu kami kelak. [RN, 220109]

Posted by rini1557 at 09:08:44
Comments

Leave a Reply