<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Jakarta : Beautiful city for learning</title>
	<atom:link href="http://jakarta.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jakarta.blog.com</link>
	<description>I live in Jakarta and I want to create a better Jakarta with what I can do with all my heart with the courage that I have with love as much as I have</description>
	<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 09:08:44 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jambu… oh… Jambu</title>
		<link>http://jakarta.blog.com/2009/01/21/jambu%e2%80%a6-oh%e2%80%a6-jambu/</link>
		<comments>http://jakarta.blog.com/2009/01/21/jambu%e2%80%a6-oh%e2%80%a6-jambu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 09:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rini1557</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[jambu]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Batang;">Sebatang pohon jambu hari ini kupanjat lagi setelah bertahun-tahun laman</span><span style="font-family: Batang;">y</span><span style="font-family: Batang;">a</span><span style="font-family: Batang;"><a href="http://amadeo.blog.com/repository/12969/3846844.jpg"><img src="http://amadeo.blog.com/repository/12969/3846844.105.105.c.tn.jpg" align="right" /></a></span> <span style="font-family: Batang;">tid</span><span style="font-family: Batang;">ak pernah lagi kusinggahi. Pohon jambu kaget, begitu nama yang keluarga kami</span> <span style="font-family: Batang;">b</span><span style="font-family: Batang;">erikan, satu-satunya yang sabar bertumbuh di halaman belakang rumah kami.</span> <span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">Bersama pohon ini, aku dan adik-adikku memiliki kenangan yang tidak pernah kami lupakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">Setiap sore ketika aku masih duduk di kelas empat SD, aku dan adik-adikku berebutan memanjatnya sambil memilih cabang terbaik untuk sekedar tidur-tiduran atau membaca. Kali lain, kami membuat tenda dengan meminjam beberapa helai kain milik ibunda atau main masak-masakan di bawah kerindangan dahannya atau sekedar bermalas-malasan diatas sehelai tikar sambil dibelai lembutnya angin dan gemerisiknya helai-helai dedaunan.&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">Ketika aku beranjak remaja, rasa gamang saat memanjat batang pohon jambu kaget selalu menghampiri. Kadang kala aku berhasil naik ke cabang favoritku tetapi begitu akan turun dari cabang pohon itu rasa gamang kembali datang. Alih-alih turun dari cabang pohon yang kusinggahi, aku malahan loncat ke tangki air yang terletak di sebelah pohon jambu, lalu naik lagi ke atas genteng rumah tetanggaku dan turun dari atap rumah sebelah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">”Mbak, ini adalah pohon jambu legacy”,</span></em> <span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">kata adikku suatu hari, tatkala dia mampir ke rumah dan menyempatkan diri memanjat batangnya lagi. Benar ucapannya, karena pohon jambu kaget yang kami tanam di halaman belakang rumah kami ini kami cangkok dari halaman rumah kami di Tebet, dulu. Sebelumnya, pohon jambu in</span><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">i dicangkok dari rumah ayahanda di Jalan Jawa. Kini akupun telah menanam cangkokan pohon yang sama di rumahku di Depok.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">”Aku juga akan mencangkoknya dan menanamnya di rumah Sidoarjo,”</span></em> <span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">kata</span> <span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">adikku, <em>”Dan aku akan mencangkoknya dan menanamnya juga di rumah Axel suatu hari nanti”,</em> katanya lagi.<span>&#160;</span> Axel adalah keponakanku yang saat ini masih berusia lima tahun. Beberapa kali pertemuanku dengannya selalu berakhir dengan acara memanjat pohon. Mengajarkannya memanjat pohon telah menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan. <span>&#160;</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">Pohon jambu kaget kami masih hidup sampai saat ini. Tiga puluh tahun kira-kira usianya dan ia masih terus saja memberikan buah-buahnya yang ranum dan menyegarkan untuk kami santap. Kami berharap ada lebih banyak teman-teman seperti kami yang mau melestarikan pohon buah-buahan untuk sekedar dijadikan <em>legacy</em>, paling tidak kepada anak dan cucu kami kelak. [RN, 220109]</span></p>
<p class="MsoNormal"></p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Batang;">Sebatang pohon jambu hari ini kupanjat lagi setelah bertahun-tahun laman</span><span style="font-family: Batang;">y</span><span style="font-family: Batang;">a</span><span style="font-family: Batang;"><a href="http://amadeo.blog.com/repository/12969/3846844.jpg"><img src="http://amadeo.blog.com/repository/12969/3846844.105.105.c.tn.jpg" align="right" /></a></span> <span style="font-family: Batang;">tid</span><span style="font-family: Batang;">ak pernah lagi kusinggahi. Pohon jambu kaget, begitu nama yang keluarga kami</span> <span style="font-family: Batang;">b</span><span style="font-family: Batang;">erikan, satu-satunya yang sabar bertumbuh di halaman belakang rumah kami.</span> <span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">Bersama pohon ini, aku dan adik-adikku memiliki kenangan yang tidak pernah kami lupakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">Setiap sore ketika aku masih duduk di kelas empat SD, aku dan adik-adikku berebutan memanjatnya sambil memilih cabang terbaik untuk sekedar tidur-tiduran atau membaca. Kali lain, kami membuat tenda dengan meminjam beberapa helai kain milik ibunda atau main masak-masakan di bawah kerindangan dahannya atau sekedar bermalas-malasan diatas sehelai tikar sambil dibelai lembutnya angin dan gemerisiknya helai-helai dedaunan.&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">Ketika aku beranjak remaja, rasa gamang saat memanjat batang pohon jambu kaget selalu menghampiri. Kadang kala aku berhasil naik ke cabang favoritku tetapi begitu akan turun dari cabang pohon itu rasa gamang kembali datang. Alih-alih turun dari cabang pohon yang kusinggahi, aku malahan loncat ke tangki air yang terletak di sebelah pohon jambu, lalu naik lagi ke atas genteng rumah tetanggaku dan turun dari atap rumah sebelah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">”Mbak, ini adalah pohon jambu legacy”,</span></em> <span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">kata adikku suatu hari, tatkala dia mampir ke rumah dan menyempatkan diri memanjat batangnya lagi. Benar ucapannya, karena pohon jambu kaget yang kami tanam di halaman belakang rumah kami ini kami cangkok dari halaman rumah kami di Tebet, dulu. Sebelumnya, pohon jambu in</span><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">i dicangkok dari rumah ayahanda di Jalan Jawa. Kini akupun telah menanam cangkokan pohon yang sama di rumahku di Depok.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">”Aku juga akan mencangkoknya dan menanamnya di rumah Sidoarjo,”</span></em> <span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">kata</span> <span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">adikku, <em>”Dan aku akan mencangkoknya dan menanamnya juga di rumah Axel suatu hari nanti”,</em> katanya lagi.<span>&#160;</span> Axel adalah keponakanku yang saat ini masih berusia lima tahun. Beberapa kali pertemuanku dengannya selalu berakhir dengan acara memanjat pohon. Mengajarkannya memanjat pohon telah menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan. <span>&#160;</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Batang;" lang="SV" xml:lang="SV">Pohon jambu kaget kami masih hidup sampai saat ini. Tiga puluh tahun kira-kira usianya dan ia masih terus saja memberikan buah-buahnya yang ranum dan menyegarkan untuk kami santap. Kami berharap ada lebih banyak teman-teman seperti kami yang mau melestarikan pohon buah-buahan untuk sekedar dijadikan <em>legacy</em>, paling tidak kepada anak dan cucu kami kelak. [RN, 220109]</span></p>
<p class="MsoNormal">
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakarta.blog.com/2009/01/21/jambu%e2%80%a6-oh%e2%80%a6-jambu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kemiskinan, diinginkan atau disengaja?</title>
		<link>http://jakarta.blog.com/2008/10/15/kemiskinan-diinginkan-atau-disengaja/</link>
		<comments>http://jakarta.blog.com/2008/10/15/kemiskinan-diinginkan-atau-disengaja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 09:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rini1557</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 15 Oktober 2008, adalah <a target="_blank" href="http://blogactionday.org">Blog Action Day 2008</a> dengan tema Kemiskinan. Dalam rangka berpartisipasi, inilah sedikit pendapat saya tentang kemiskinan di Indonesia, dari sebuah sudut yang sangat kecil.<br />
<br />
Mencermati kemiskinan di Indonesia adalah hal yang sangat menarik. Mengapa tidak? Meskipun tingkat<br />
kemiskinan di Indonesia menurut Bapak Presiden telah mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir dari 17.7 % pada tahun 2006 menjadi 15.4 % pada bulan Maret 2008, berdasarkan standar kemiskinan yang ditetapkan oleh World Bank, namun program yang telah dicanangkan oleh Pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan masih terasa sangat kurang, jika tidak boleh disebut tidak berhasil.<br />
<br />
Mari kita tengok program pertama yang disebut Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin). Bagaimana teknis pembagian beras ini, siapa yang menerima, kriteria apa yang telah ditetapkan untuk penerima raskin dan masih banyak pertanyaan lain yang memerlukan bukan saja penjelasan tetapi juga sebuah studi untuk pembuktiannya. Dalam banyak kasus di beberapa daerah seperti yang disinyalir di surat kabar, pembagian raskin ini tidak merata dan terkesan diberikan asal-asalan, bahkan terindikasi adanya penyelewengan.<br />
<br />
Di Papua dan Maluku dimana masyarakat mempunyai kebiasaan untuk makan ubi, sagu dan jagung karena bahan makanan ini mudah ditanam dan sesuai dengan kondisi tanah yang ada disana. Program Raskin masuk ke wilayah ini sekitar enam tahun yang lalu dan secara tidak langsung memperkenalkan beras sebagai bahan makanan utama pengganti ubi, sagu dan jagung yang telah biasa mereka makan. Salahkah mengkonsumsi karbohidrat seperti ubi, sagu dan jagung? Aku rasa tidak. Bahan makanan itu mudah didapat dan sangat murah, dibandingkan dengan beras. Lantas apakah dengan pembagian Raskin lantas kemiskinan yang ada di Papua dan Maluku dapat terobati? Wallahu'alam. Program&#160; Raskin telah menciptakan ketergantungan jangka panjang dan merusak perilaku makan serta kebudayaan orang Papua dan Maluku baik yang tinggal di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Perlahan namun pasti, masyarakat Papua dan Maluku semakin lebih banyak mengonsumsi nasi dari pada sagu atau ubi. Menurut data Badan Ketahanan Pangan Provinsi Papua, hingga tahun 2004, masyarakat Papua mengonsumsi nasi 55%, ubi-ubian 30% serta sagu 15%. Tentu saja persentase pemakan nasi semakin tinggi sekarang karena gencarnya program RASKIN dan berbagai kebijakan lain seperti pencetakan sawah besar-besaran di seluruh tanah Papua dan Maluku. Apakah pengentasan kemiskinan berarti mewajibkan masyarakat untuk mengkonsumsi beras dan menanam padi?<br />
<br />
Menurutku, pembagian Raskin demi pengentasan kemiskinan sungguh tidak tepat. Bagaimana bisa pembagian beras untuk orang miskin menjadi salah satu upaya untuk pengentasan kemiskinan? Program ini mendidik masyarakat untuk selalu menengadahkan tangannya dan menunggu pemberian Raskin dan tidak ada upaya untuk bisa mandiri. Program ini juga membuat masyarakat yang tidak miskin menjadi merasa miskin karena iri tidak mendapatkan jatah sebagaimana yang diperoleh tetangganya, meskipun jumlah dan kualitas beras yang dibagikan terkadang tidak layak untuk dimakan. Alangkah baiknya jika Pemerintah membuat program berkelanjutan untuk masyarakat sehingga mereka bisa terbebas dari kemiskinan, bukan sekedar membagikan gula-gula dan membuat masyarakat ketagihan untuk meminta-minta. Mari kita sama-sama pikirkan sebuah program saja untuk memulai, tetapi tepat sasaran dalam mengentaskan kemiskinan.<br />
<br />
For <a target="_blank" href="http://blogactionday.org">Blog Action Day 2008</a> tulisan ini dibuat, semoga bisa menginspirasi kita semua. [RN,151008]<br />
<br />
<code><a href="http://blogactionday.org"><img src="http://blogactionday.s3.amazonaws.com/banners/Badge_300x160.jpg" /></a></code><br />
<br />
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Hari ini, 15 Oktober 2008, adalah <a target="_blank" href="http://blogactionday.org">Blog Action Day 2008</a> dengan tema Kemiskinan. Dalam rangka berpartisipasi, inilah sedikit pendapat saya tentang kemiskinan di Indonesia, dari sebuah sudut yang sangat kecil.</p>
<p>Mencermati kemiskinan di Indonesia adalah hal yang sangat menarik. Mengapa tidak? Meskipun tingkat<br />
kemiskinan di Indonesia menurut Bapak Presiden telah mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir dari 17.7 % pada tahun 2006 menjadi 15.4 % pada bulan Maret 2008, berdasarkan standar kemiskinan yang ditetapkan oleh World Bank, namun program yang telah dicanangkan oleh Pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan masih terasa sangat kurang, jika tidak boleh disebut tidak berhasil.</p>
<p>Mari kita tengok program pertama yang disebut Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin). Bagaimana teknis pembagian beras ini, siapa yang menerima, kriteria apa yang telah ditetapkan untuk penerima raskin dan masih banyak pertanyaan lain yang memerlukan bukan saja penjelasan tetapi juga sebuah studi untuk pembuktiannya. Dalam banyak kasus di beberapa daerah seperti yang disinyalir di surat kabar, pembagian raskin ini tidak merata dan terkesan diberikan asal-asalan, bahkan terindikasi adanya penyelewengan.</p>
<p>Di Papua dan Maluku dimana masyarakat mempunyai kebiasaan untuk makan ubi, sagu dan jagung karena bahan makanan ini mudah ditanam dan sesuai dengan kondisi tanah yang ada disana. Program Raskin masuk ke wilayah ini sekitar enam tahun yang lalu dan secara tidak langsung memperkenalkan beras sebagai bahan makanan utama pengganti ubi, sagu dan jagung yang telah biasa mereka makan. Salahkah mengkonsumsi karbohidrat seperti ubi, sagu dan jagung? Aku rasa tidak. Bahan makanan itu mudah didapat dan sangat murah, dibandingkan dengan beras. Lantas apakah dengan pembagian Raskin lantas kemiskinan yang ada di Papua dan Maluku dapat terobati? Wallahu&#8217;alam. Program&#160; Raskin telah menciptakan ketergantungan jangka panjang dan merusak perilaku makan serta kebudayaan orang Papua dan Maluku baik yang tinggal di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Perlahan namun pasti, masyarakat Papua dan Maluku semakin lebih banyak mengonsumsi nasi dari pada sagu atau ubi. Menurut data Badan Ketahanan Pangan Provinsi Papua, hingga tahun 2004, masyarakat Papua mengonsumsi nasi 55%, ubi-ubian 30% serta sagu 15%. Tentu saja persentase pemakan nasi semakin tinggi sekarang karena gencarnya program RASKIN dan berbagai kebijakan lain seperti pencetakan sawah besar-besaran di seluruh tanah Papua dan Maluku. Apakah pengentasan kemiskinan berarti mewajibkan masyarakat untuk mengkonsumsi beras dan menanam padi?</p>
<p>Menurutku, pembagian Raskin demi pengentasan kemiskinan sungguh tidak tepat. Bagaimana bisa pembagian beras untuk orang miskin menjadi salah satu upaya untuk pengentasan kemiskinan? Program ini mendidik masyarakat untuk selalu menengadahkan tangannya dan menunggu pemberian Raskin dan tidak ada upaya untuk bisa mandiri. Program ini juga membuat masyarakat yang tidak miskin menjadi merasa miskin karena iri tidak mendapatkan jatah sebagaimana yang diperoleh tetangganya, meskipun jumlah dan kualitas beras yang dibagikan terkadang tidak layak untuk dimakan. Alangkah baiknya jika Pemerintah membuat program berkelanjutan untuk masyarakat sehingga mereka bisa terbebas dari kemiskinan, bukan sekedar membagikan gula-gula dan membuat masyarakat ketagihan untuk meminta-minta. Mari kita sama-sama pikirkan sebuah program saja untuk memulai, tetapi tepat sasaran dalam mengentaskan kemiskinan.</p>
<p>For <a target="_blank" href="http://blogactionday.org">Blog Action Day 2008</a> tulisan ini dibuat, semoga bisa menginspirasi kita semua. [RN,151008]</p>
<p><code><a href="http://blogactionday.org"><img src="http://blogactionday.s3.amazonaws.com/banners/Badge_300x160.jpg" /></a></code></p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakarta.blog.com/2008/10/15/kemiskinan-diinginkan-atau-disengaja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Community Development dari Barito</title>
		<link>http://jakarta.blog.com/2008/01/17/community-development-dari-barito/</link>
		<comments>http://jakarta.blog.com/2008/01/17/community-development-dari-barito/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 09:39:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rini1557</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[JAKARTA]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<span style="font-family: Garamond"><font size="3">Pagi ini (17/1) pada acara Jakarta Pagi Bincang Pagi JakTV ada diskusi menarik dengan Koordinator Pedagang Barito, Bapak Cahyo Suparno dan salah seorang perwakilan pedagang bunga, Ibu Naniek.<br />
<br /></font></span> <font size="3"><span style="font-family: Garamond">Perbincangan pagi ini adalah seputar rencana penggusuran para pedagang bunga dan ikan di Barito ke lokasi baru, yaitu di area Pasar Inpres tidak jauh dari situ, berdasarkan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 2006.<span>&#160;</span></span> <span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI">Hari Kamis ini (17/1), menurut petikan berita di Warta Kota, mereka akan direlokasi. <span>&#160;</span>Menurut Ibu Naniek yang sudah berjualan di Barito sejak tahun 1970-an, rencana penggusuran ini terkesan main-main.</span> <span style="font-family: Garamond">Bagaimana tidak, sejak tahun 2007 lalu, surat ijin berdagang di lokasi tersebut sudah tidak dikeluarkan oleh PemDa, tetapi pungutan per bulan kepada para pedagang tetap dilakukan oleh PemDa. Cahyo yang pagi itu mengenakan kaos bertuliskan <em><font size="4">“Gubernurku yang baik, jangan gusur kami</font></em>”, mengatakan bahwa sejak kebakaran di gardu travo beberapa waktu lalu yang ditengarai dilakukan oleh preman, Cahyo dan teman-teman sudah menerima Surat Perintah Bongkar. Mereka semakin terancam diusir ke lokasi baru.<br />
<br /></span></font> <span style="font-family: Garamond"><font size="3">Menurut Ibu Sarwo Handayani Kepala Dinas Pertamanan DKI melalui telepon ke redaksi JakTV, PemDa berencana merefungsi lokasi tersebut menjadi lokasi SPBU. Para pedagang bunga dan ikan akan dipindahkan ke lokasi baru <span>&#160;</span>di Pasar Inpres dan setiap pedagang akan diberikan ruang usaha sebesar 2 X 2 m, lebih kecil dibandingkan kios mereka saat ini yang rata-rata berluas 2 X 5 m dan 2 X 6 m. PemDa mengatakan bahwa di Pasar Inpres tersebut, mereka akan diberikan kios gratis. Menurut Cahyo yang sudah berdagang sejak tahun 1985-an, hal tersebut tidak mungkin terjadi karena dengan masuknya mereka ke Pasar Inpres, otomatis mereka akan mendapat tekanan dari pedagang lain di lokasi baru tersebut karena mereka harus membayar sedangkan pedagang Barito yang pindah ke lokasi tersebut, gratis. Lagi pula yang akan melakukan pungutan sewa lokasi adalah PD Pasar Jaya, bukan PemDa.<br />
<br /></font></span> <font size="3"><span style="font-family: Garamond">Menurut Ibu Naniek, lokasi Barito tidak perlu dilakukan refungsi, karena fungsinya saat ini sudah cukup baik.</span> <span style="font-family: Garamond">Taman</span> <span style="font-family: Garamond">di belakang kompleks pedagang bunga dan ikan ini sudah menjadi daerah resapan air dan taman</span> <span style="font-family: Garamond">kota</span> <span style="font-family: Garamond">. “Jika terlihat kurang rapih tamannya, silahkan dirapihkan”, katanya. Hal ini diamini oleh Cahyo. “Jika lokasi kami dipandang sudah kumuh, saya dan para pedagang bunga menawarkan untuk bekerja bersama mendesain ulang lokasi ini. Kami sudah membuat sketsa untuk lokasi ini dan PemDa tidak perlu mengeluarkan biaya”, katanya lagi seraya menunjukkan sebuah sketsa kompleks pertokoan minimalis di tengah indahnya taman bunga dan pepohonan.<br />
<br /></span></font> <font size="3"><span style="font-family: Garamond">Konsep Community Development saat ini memang hanya menjadi jargon saja. Menurutku, apa yang sudah diupayakan oleh Cahyo dan teman-teman sangat baik. Mereka menawarkan sebuah desain indah untuk merenovasi toko mereka dan mengupayakan pelaksanaannya dan juga pendanaannya bersama-sama dengan para pedagang lainnya. <span>&#160;</span>Sayangnya, konsep yang ditawarkan para pedagang tidak sejalan dengan konsep PemProv DKI Jakarta. Seringkali PemProv DKI membuat kebijakan tanpa berdiskusi tentang keinginan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat selalu menjadi tumbal ataupun mendapatkan hak yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Pembangunan masyarakat tidak diupayakan agar masyarakat ikut menjadi bagian didalamnya melainkan hanya sebagai obyek saja. “Yang penting kami sudah menyiapkan lokasi baru untuk mereka”, alasannya tanpa melihat apakah lokasi baru itu memudahkan mereka untuk berjualan, apakah lokasi baru tersebut sama strategisnya dengan lokasi yang lama, dan apakah lokasi tersebut adalah lokasi yang sesuai untuk masyarakat. Pendekatan pembangunan masyarakat hanya terlihat indah pada forum-forum diskusi saja, tetapi tidak jelas implementasinya sampai kapanpun, jika upaya yang dilakukan pemerintah tetap sama seperti apa yang baru saja mereka lakukan dengan para pedagang di Barito. Jika ada upaya berdiskusi dengan mereka, saya merasa dengan adanya sebuah ruang terbuka hijau dengan konsep perpaduan antara pertokoan dan taman bunga serta pepohonan, akan menambah hijaunya ibukota, daripada sekedar membuka SPBU di lokasi yang saat ini sudah hijau itu. Pembangunan dari segi pemerintah yang sering kali terlihat, bukan lagi pembangunan berwawasan kemasyarakatan yang dilakukan. Akan seperti apa jadinya</span> <span style="font-family: Garamond">kota</span> <span style="font-family: Garamond">ini? [RN, 170108]<br />
<br /></span></font><span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3">Bacaan lain :<br /></font></span><span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI"><a href="http://kompas.com/ver1/Metropolitan/0801/16/045411.htm"><font size="3">http://kompas.com/ver1/Metropolitan/0801/16/045411.htm</font></a><br /></span><span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI"><a href="http://www.vhrmedia.net/home/index.php?id=view&#38;aid=4908&#38;lang"><font size="3">http://www.vhrmedia.net/home/index.php?id=view&#38;aid=4908&#38;lang</font></a><font size="3">=<br /></font></span> <span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI"><a href="http://dicky.wahyupurnomo.com/detik/?id=10792"><font size="3">http://dicky.wahyupurnomo.com/detik/?id=10792</font></a> <font size="3"><br /></font></span><span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI"><a href="http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/01/04/1/72909/kios-di-pasar-bunga-barito-terbakar"><font size="3">http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/01/04/1/72909/kios-di-pasar-bunga-barito-terbakar</font></a> <font size="3"><br /></font></span>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-family: Garamond"><font size="3">Pagi ini (17/1) pada acara Jakarta Pagi Bincang Pagi JakTV ada diskusi menarik dengan Koordinator Pedagang Barito, Bapak Cahyo Suparno dan salah seorang perwakilan pedagang bunga, Ibu Naniek.</p>
<p></font></span> <font size="3"><span style="font-family: Garamond">Perbincangan pagi ini adalah seputar rencana penggusuran para pedagang bunga dan ikan di Barito ke lokasi baru, yaitu di area Pasar Inpres tidak jauh dari situ, berdasarkan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 2006.<span>&#160;</span></span> <span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI">Hari Kamis ini (17/1), menurut petikan berita di Warta Kota, mereka akan direlokasi. <span>&#160;</span>Menurut Ibu Naniek yang sudah berjualan di Barito sejak tahun 1970-an, rencana penggusuran ini terkesan main-main.</span> <span style="font-family: Garamond">Bagaimana tidak, sejak tahun 2007 lalu, surat ijin berdagang di lokasi tersebut sudah tidak dikeluarkan oleh PemDa, tetapi pungutan per bulan kepada para pedagang tetap dilakukan oleh PemDa. Cahyo yang pagi itu mengenakan kaos bertuliskan <em><font size="4">“Gubernurku yang baik, jangan gusur kami</font></em>”, mengatakan bahwa sejak kebakaran di gardu travo beberapa waktu lalu yang ditengarai dilakukan oleh preman, Cahyo dan teman-teman sudah menerima Surat Perintah Bongkar. Mereka semakin terancam diusir ke lokasi baru.</p>
<p></span></font> <span style="font-family: Garamond"><font size="3">Menurut Ibu Sarwo Handayani Kepala Dinas Pertamanan DKI melalui telepon ke redaksi JakTV, PemDa berencana merefungsi lokasi tersebut menjadi lokasi SPBU. Para pedagang bunga dan ikan akan dipindahkan ke lokasi baru <span>&#160;</span>di Pasar Inpres dan setiap pedagang akan diberikan ruang usaha sebesar 2 X 2 m, lebih kecil dibandingkan kios mereka saat ini yang rata-rata berluas 2 X 5 m dan 2 X 6 m. PemDa mengatakan bahwa di Pasar Inpres tersebut, mereka akan diberikan kios gratis. Menurut Cahyo yang sudah berdagang sejak tahun 1985-an, hal tersebut tidak mungkin terjadi karena dengan masuknya mereka ke Pasar Inpres, otomatis mereka akan mendapat tekanan dari pedagang lain di lokasi baru tersebut karena mereka harus membayar sedangkan pedagang Barito yang pindah ke lokasi tersebut, gratis. Lagi pula yang akan melakukan pungutan sewa lokasi adalah PD Pasar Jaya, bukan PemDa.</p>
<p></font></span> <font size="3"><span style="font-family: Garamond">Menurut Ibu Naniek, lokasi Barito tidak perlu dilakukan refungsi, karena fungsinya saat ini sudah cukup baik.</span> <span style="font-family: Garamond">Taman</span> <span style="font-family: Garamond">di belakang kompleks pedagang bunga dan ikan ini sudah menjadi daerah resapan air dan taman</span> <span style="font-family: Garamond">kota</span> <span style="font-family: Garamond">. “Jika terlihat kurang rapih tamannya, silahkan dirapihkan”, katanya. Hal ini diamini oleh Cahyo. “Jika lokasi kami dipandang sudah kumuh, saya dan para pedagang bunga menawarkan untuk bekerja bersama mendesain ulang lokasi ini. Kami sudah membuat sketsa untuk lokasi ini dan PemDa tidak perlu mengeluarkan biaya”, katanya lagi seraya menunjukkan sebuah sketsa kompleks pertokoan minimalis di tengah indahnya taman bunga dan pepohonan.</p>
<p></span></font> <font size="3"><span style="font-family: Garamond">Konsep Community Development saat ini memang hanya menjadi jargon saja. Menurutku, apa yang sudah diupayakan oleh Cahyo dan teman-teman sangat baik. Mereka menawarkan sebuah desain indah untuk merenovasi toko mereka dan mengupayakan pelaksanaannya dan juga pendanaannya bersama-sama dengan para pedagang lainnya. <span>&#160;</span>Sayangnya, konsep yang ditawarkan para pedagang tidak sejalan dengan konsep PemProv DKI Jakarta. Seringkali PemProv DKI membuat kebijakan tanpa berdiskusi tentang keinginan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat selalu menjadi tumbal ataupun mendapatkan hak yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Pembangunan masyarakat tidak diupayakan agar masyarakat ikut menjadi bagian didalamnya melainkan hanya sebagai obyek saja. “Yang penting kami sudah menyiapkan lokasi baru untuk mereka”, alasannya tanpa melihat apakah lokasi baru itu memudahkan mereka untuk berjualan, apakah lokasi baru tersebut sama strategisnya dengan lokasi yang lama, dan apakah lokasi tersebut adalah lokasi yang sesuai untuk masyarakat. Pendekatan pembangunan masyarakat hanya terlihat indah pada forum-forum diskusi saja, tetapi tidak jelas implementasinya sampai kapanpun, jika upaya yang dilakukan pemerintah tetap sama seperti apa yang baru saja mereka lakukan dengan para pedagang di Barito. Jika ada upaya berdiskusi dengan mereka, saya merasa dengan adanya sebuah ruang terbuka hijau dengan konsep perpaduan antara pertokoan dan taman bunga serta pepohonan, akan menambah hijaunya ibukota, daripada sekedar membuka SPBU di lokasi yang saat ini sudah hijau itu. Pembangunan dari segi pemerintah yang sering kali terlihat, bukan lagi pembangunan berwawasan kemasyarakatan yang dilakukan. Akan seperti apa jadinya</span> <span style="font-family: Garamond">kota</span> <span style="font-family: Garamond">ini? [RN, 170108]</p>
<p></span></font><span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3">Bacaan lain :<br /></font></span><span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI"><a href="http://kompas.com/ver1/Metropolitan/0801/16/045411.htm"><font size="3">http://kompas.com/ver1/Metropolitan/0801/16/045411.htm</font></a><br /></span><span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI"><a href="http://www.vhrmedia.net/home/index.php?id=view&amp;aid=4908&amp;lang"><font size="3">http://www.vhrmedia.net/home/index.php?id=view&amp;aid=4908&amp;lang</font></a><font size="3">=<br /></font></span> <span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI"><a href="http://dicky.wahyupurnomo.com/detik/?id=10792"><font size="3">http://dicky.wahyupurnomo.com/detik/?id=10792</font></a> <font size="3"><br /></font></span><span style="font-family: Garamond" lang="FI" xml:lang="FI"><a href="http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/01/04/1/72909/kios-di-pasar-bunga-barito-terbakar"><font size="3">http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/01/04/1/72909/kios-di-pasar-bunga-barito-terbakar</font></a> <font size="3"><br /></font></span>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakarta.blog.com/2008/01/17/community-development-dari-barito/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bahan Nabati Dibuang Sayang</title>
		<link>http://jakarta.blog.com/2007/05/28/bahan-nabati-dibuang-sayang/</link>
		<comments>http://jakarta.blog.com/2007/05/28/bahan-nabati-dibuang-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 May 2007 08:47:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rini1557</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 14.4pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; color: black; font-family: Georgia"><font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="IT" xml:lang="IT">Pada tahun 1985, kota <span class="yshortcuts">Jakarta</span> menghasilkan sampah sebanyak 18.500 m<sup>3</sup> per hari. Volume ini meningkat pada tahun 2000 menjadi sebanyak 25.700 m<sup>3</sup> per hari.&#160; Pada sebuah kantong kertas yang diproduksi oleh The Body Shop, tertulis, ’<i>dalam satu hari, sampah rumah tangga yang diproduksi oleh penduduk <span class="yshortcuts">Jakarta</span>, sama luasnya dengan 10 lapangan bola</i>’. Berapa volume sampah rumah tangga penduduk <span class="yshortcuts">Jakarta</span> dalam satu minggu, satu bulan, atau satu tahun? Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah warga Jakarta pada tahun 2000 telah mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3) [Bapedalda, 2000]. Bayangkan berapa volume sampah di <span class="yshortcuts">Jakarta</span> tahun 2007 ini? Tentunya semakin bertambah, <span>&#160;</span>seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk <span class="yshortcuts">Jakarta</span>. Saat ini Pemerintah bahkan kewalahan mengatasi sampah rumah tangga tersebut.</span> <span lang="FI" xml:lang="FI">Lalu, solusi apa yang bisa kita tawarkan kepada kota kita tercinta ini?<br />
<br /></span></font></font><span lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Partisipasi setiap keluarga untuk mengolah sampah rumah tangga masing-masing secara mandiri dapat menjadi salah satu solusi.<span>&#160;</span> Selain menguntungkan bagi keluarga tersebut, partisipasi keluarga ini juga merupakan upaya besar dalam membantu Pemerintah dalam menangani sampah rumah tangga. Mengolah sampah rumah tangga tidak berarti harus menggunakan metode ilmiah, teknologi tinggi atau berbiaya mahal. Di rumah, kami telah mulai menggunakan sampah rumah tangga untuk membuat pupuk organik dengan cara yang sangat sederhana dan tidak memerlukan modal yang besar.<br />
<br /></font></font></span><span lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Bagaimana memulainya?<span>&#160;</span> Mari kita menyediakan bahan-bahan dan peralatan berikut ini:&#160;<span>&#160;<br /></span><br /></font></font></span><font size="3"><font face="Times New Roman"><b><span lang="FI" xml:lang="FI"><br />
Bahan-Bahan<br /></span></b><span lang="FI" xml:lang="FI"><br /></span></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"><b><i><span lang="FI" xml:lang="FI"><br />
Bahan Dasar</span></i></b><span lang="FI" xml:lang="FI">. Bahan dasar pembuatan pupuk organik dapat berasal dari bermacam-macam sumber seperti kotoran ternak, sampah rumah tangga non sistetis, limbah-limbah pabrik makanan/minuman, daun-daun kering, potongan rumput, dan lain-lain. Sebagai contoh, bahan yang biasa kami pakai dalam percobaan awal di rumah adalah daun-daun kering, potongan ranting-ranting pohon kecil, dan potongan rumput. Itulah bahan dasarnya.<br />
<br /></span></font></font> <font size="3"><font face="Times New Roman"><b><i><span lang="FI" xml:lang="FI"><br />
Ragi</span></i></b><span lang="FI" xml:lang="FI">. </span><span lang="FI" xml:lang="FI">Pupuk organik pada dasarnya adalah tape yang berasal dari dari bahan-bahan organik dan sudah berbentuk tanah. Nah, seperti pembuatan tape pada umumnya, kita memerlukan ragi. Ragi pada pembuatan pupuk organik bisa berasal dari inokulum bakteri untuk membantu mempercepat proses pendegradasian (dekomposisi). Sebetulnya tanpa dibantupun, alam dengan sendirinya akan mendekomposisi bahan-bahan organik tersebut dengan bakteri yang ada di alam beserta bantuan organisme renik lainnya.</span> <span lang="SV" xml:lang="SV">Namun dengan menggunakan bakteri, maka proses peragian akan menjadi lebih cepat.<br />
<br /></span></font></font> <span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Kami menggunakan mikrobiologi cair yang sudah jadi seperti Effective Microorganisme 4 atau sering disingkat EM4. &#160;Botolnya berwarna kuning, harganya sekitar Rp 20-ribuan, dan dapat dibeli di kios-kios pertanian terdekat.<br />
<br />
<br /></font></font></span><font size="3"><font face="Times New Roman"><b><i><span lang="SV" xml:lang="SV">Nutrisi</span></i></b><span lang="SV" xml:lang="SV">. </span><span lang="SV" xml:lang="SV">Untuk mempercepat proses degradasi dari sampah rumah tangga, sebaiknya <span>&#160;&#160;&#160;</span>ditambahkan nutrisi dari bahan karbohidrat. Kami menggunakan beberapa pilihan; yaitu gula merah yang disisir halus, gula merah bubuk, gula merah (glukosa) cair, nasi yang sudah tidak dimakan/basi, tepung beras, atau tepung terigu. Selain nutrisi dari bahan karbohidrat, kita juga bisa menambahkan nutrisi lain, misalnya pupuk kandang, atau pupuk urea. Penambahan nutrisi diperlukan terutama apabila daun-daun yang akan diolah menjadi pupuk organik terdiri dari bahan-bahan kering semua. Kami sering menggunakan larutan gula, tetapi juga kadang-kadang menggunakan nasi.<br />
<br /></span></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"><b><span lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Kebutuhan Alat<br /></span></b><span lang="SV" xml:lang="SV"><br /></span></font></font><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Ide dasar akan kebutuhan alat pada pembuatan pupuk organik adalah dengan menggunakan wadah tertutup agar kondisi temperatur selama proses pembuatan pupuk organik <span>&#160;</span>bisa terjaga. Macam-macam pilihan wadah yang bisa digunakan, mulai dari tong plastik/seng, atau ember plastik. Dapat juga membuat wadah dari con block berukuran 1 X 1 m, atau membuat lubang berukuran 1 X 1 m di tanah.&#160;<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Pada dasarnya, kita tidak perlu membeli gentong atau tempat khusus untuk penyimpanan pupuk organik. Karena selain kurang praktis, bagi rumah tangga yang tidak memiliki uang yang berlebih untuk pengadaan wadah, tentu akan sangat menyulitkan. Kami selalu memilih yang paling sederhana dan mudah disediakan, yaitu Trash Bag atau kantong sampah plastik biasa.<br />
<br /></font></font></span> <b><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Cara pembuatan<br />
<br /></font></font></span></b><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Cara pembuatan pupuk organik ini sangat praktis dan sederhana. Kumpulkan rumput-rumput, daun-daun dan sampah rumah tangga non sistetis. Pertama-tama, cacah dulu daun-daun yang ukurannya lebih besar dengan menggunakan gunting. Pencacahan ini dilakukan agar pupuk organik yang dihasilkan berukuran lebih kecil dan proses pembuatan pupuk organik tidak terlalu lama. Jika jumlah dedaunan cukup banyak dan kita tidak terlalu ingin menghasilkan pupuk organik yang lebih kecil ukurannya, biarkanlah ukuran dedaunan tetap seperti yang ada. Tentunya lama proses pembuatan pupuk organik akan berbeda.<br />
<br /></font></font></span> <font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Jika kita memiliki daun yang berwarna hijau dan coklat, maka keduanya bisa di campurkan agar mereka saling berbagi nutrisi.</span> <span lang="FI" xml:lang="FI">Takaran idealnya adalah 2 bagian daun-daun kering ditambah dengan 1 bagian daun-daun hijau. Setelah itu, taburi pupuk kandang diantara daun-daun, lalu aduk-aduk.<br />
<br /></span></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="FI" xml:lang="FI"><br />
Buat campuran mikroba seperti bioaktivator atau EM4. Jika menggunakan EM4, pakai dengan menggunakan <span>&#160;</span>ukuran pada tutup botolnya. <span>&#160;</span>Jika bahan yang tersedia sebanyak 50 kg berarti memerlukan 5 kali tutup botol. Tambahkan dua sendok makan urea ke dalam ember.</span> <span lang="SV" xml:lang="SV">Siramkan ke campuran daun sampai merata. Jika daun diperas tak keluar air berarti sudah cukup. Bila di dalam tumpukan ada dedaunan hijau atau misalnya tersedia tanaman kacang-kacangan, maka nutrisi tidak perlu ditambahkan lagi.<br />
<br /></span></font></font> <span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Jika memilih menggunakan plastik <i>trash bag</i> sebagai wadah, masukkan campuran daun yang sudah ditiriskan ke dalam plastik <i>trash bag,</i> lalu ikat dengan erat. Lubangi sedikit <i>trash bag</i> ini, untuk memudahkan pertukaran udara.<br />
<br /></font></font></span> <font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="FI" xml:lang="FI"><br />
Setelah kita simpan dalam tempat penyimpanan, biarkan adonan pupuk organik ini selama kira-kira 3-4 minggu.</span> <span lang="IT" xml:lang="IT">Pada dua minggu pertama, kita bisa membuka plastik <i>trash bag.</i> <span>B</span>ila sudah agak membusuk, biasanya ditandai dengan selesainya proses pembuatan pupuk organik dan plastik <i>trash bag</i> dingin, kita bisa mencampurkan 1-3 plastik menjadi satu wadah agar lebih memudahkan dalam penyimpanan.<span>&#160;</span> Simpan kembali campuran dalam plastik ini dan biarkan selama 2 minggu ke depan agar kompos siap untuk digunakan. Demikianlah c</span><span lang="SV" xml:lang="SV">ara pembuatan pupuk organik yang sangat praktis dan sederhana.<br /></span><span lang="IT" xml:lang="IT"><br /></span></font></font><b><span lang="IT" xml:lang="IT"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Manfaat<br />
<br /></font></font></span></b> <span lang="IT" xml:lang="IT"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Ada dua manfaat pembuatan pupuk organik. Pertama, pupuk organik digunakan sebagai penggembur tanah.<span>&#160;</span> Pupuk organik digunakan sebagai media tempat hidup sejumlah besar bakteri. &#160;Pupuk inilah yang akan membantu penyerapan makanan oleh tanaman. Sebagai contoh, tanah yang telah ditaburi pupuk organik biasanya menarik bakteri dan mikroorganisme tanah yang dapat membantu proses penggemburan tanah. Dengan demikian tanah yang mengandung pupuk organik menjadi lebih subur.<br /></font></font></span><span lang="IT" xml:lang="IT"><font size="3"><font face="Times New Roman">Manfaat yang kedua dari pembuatan pupuk organik adalah kita bisa membantu penyelamatan bumi karena secara tidak langsung membantu pengembalian bahan nabati ke bumi dalam bentuk pupuk organik sehingga dapat mencegah percepatan kerusakan bumi.<span>&#160;</span> Itulah dua buah manfaat dari pembuatan pupuk organik.<span>&#160;</span><br /></font></font></span></span></p>
<b><span lang="IT" xml:lang="IT"><font size="3"><font face="Times New Roman">Penutup<br />
<br /></font></font></span></b><font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Pembuatan pupuk organik sama sekali tidak sulit melakukannya. Kita tidak perlu membuat pupuk organik dengan terlalu ilmiah, karena hasil pupuk organik ini akan kita nikmati sendiri untuk kebutuhan <span>&#160;</span>pekarangan rumah kita.</span> <span lang="FI" xml:lang="FI">Lain halnya jika kita memang berencana untuk memasarkan pupuk organik yang sudah jadi, tentunya kita perlu memastikan bahwa pupuk organik buatan kita tersebut mempunyai standar yang sama dengan pupuk organik produksi pesaing atau bahkan memiliki kadar nutrisi yang lebih baik.&#160;<span>&#160;<br /></span><br /></span></font></font><span lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Jika setiap rumah tangga melakukan pembuatan pupuk organik secara mandiri, dapat dibayangkan banyaknya sampah organik yang bisa hilang dari Tempat Pembuangan Akhir, banyaknya pupuk organik yang bisa digunakan untuk menyuburkan pekarangan rumah kita, dan banyaknya tanah yang akhirnya bisa kita selamatkan karena ia akan menjadi lebih gembur dan sehat.<br />
<br /></font></font></span><span lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Semoga tulisan ini dapat memotivasi kita semua.<br />
<br /></font></font></span>
<p style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 14.4pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font size="3"><font face="Times New Roman"><b><i><span lang="SV" xml:lang="SV"><br /></span></i></b></font></font></p>
<p style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 14.4pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><b><i><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Selamat hari lingkungan hidup, 5 Juni 2007.</span></i></b></span></p>
<p><b><i><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Ayo selamatkan bumi, jangan buang sampah nabati anda!</span></i></b> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">[RN,</span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">28</span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">0507]</span></p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 14.4pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; color: black; font-family: Georgia"><font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="IT" xml:lang="IT">Pada tahun 1985, kota <span class="yshortcuts">Jakarta</span> menghasilkan sampah sebanyak 18.500 m<sup>3</sup> per hari. Volume ini meningkat pada tahun 2000 menjadi sebanyak 25.700 m<sup>3</sup> per hari.&#160; Pada sebuah kantong kertas yang diproduksi oleh The Body Shop, tertulis, ’<i>dalam satu hari, sampah rumah tangga yang diproduksi oleh penduduk <span class="yshortcuts">Jakarta</span>, sama luasnya dengan 10 lapangan bola</i>’. Berapa volume sampah rumah tangga penduduk <span class="yshortcuts">Jakarta</span> dalam satu minggu, satu bulan, atau satu tahun? Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah warga Jakarta pada tahun 2000 telah mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3) [Bapedalda, 2000]. Bayangkan berapa volume sampah di <span class="yshortcuts">Jakarta</span> tahun 2007 ini? Tentunya semakin bertambah, <span>&#160;</span>seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk <span class="yshortcuts">Jakarta</span>. Saat ini Pemerintah bahkan kewalahan mengatasi sampah rumah tangga tersebut.</span> <span lang="FI" xml:lang="FI">Lalu, solusi apa yang bisa kita tawarkan kepada kota kita tercinta ini?</p>
<p></span></font></font><span lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Partisipasi setiap keluarga untuk mengolah sampah rumah tangga masing-masing secara mandiri dapat menjadi salah satu solusi.<span>&#160;</span> Selain menguntungkan bagi keluarga tersebut, partisipasi keluarga ini juga merupakan upaya besar dalam membantu Pemerintah dalam menangani sampah rumah tangga. Mengolah sampah rumah tangga tidak berarti harus menggunakan metode ilmiah, teknologi tinggi atau berbiaya mahal. Di rumah, kami telah mulai menggunakan sampah rumah tangga untuk membuat pupuk organik dengan cara yang sangat sederhana dan tidak memerlukan modal yang besar.</p>
<p></font></font></span><span lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Bagaimana memulainya?<span>&#160;</span> Mari kita menyediakan bahan-bahan dan peralatan berikut ini:&#160;<span>&#160;<br /></span><br /></font></font></span><font size="3"><font face="Times New Roman"><b><span lang="FI" xml:lang="FI"><br />
Bahan-Bahan<br /></span></b><span lang="FI" xml:lang="FI"><br /></span></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"><b><i><span lang="FI" xml:lang="FI"><br />
Bahan Dasar</span></i></b><span lang="FI" xml:lang="FI">. Bahan dasar pembuatan pupuk organik dapat berasal dari bermacam-macam sumber seperti kotoran ternak, sampah rumah tangga non sistetis, limbah-limbah pabrik makanan/minuman, daun-daun kering, potongan rumput, dan lain-lain. Sebagai contoh, bahan yang biasa kami pakai dalam percobaan awal di rumah adalah daun-daun kering, potongan ranting-ranting pohon kecil, dan potongan rumput. Itulah bahan dasarnya.</p>
<p></span></font></font> <font size="3"><font face="Times New Roman"><b><i><span lang="FI" xml:lang="FI"><br />
Ragi</span></i></b><span lang="FI" xml:lang="FI">. </span><span lang="FI" xml:lang="FI">Pupuk organik pada dasarnya adalah tape yang berasal dari dari bahan-bahan organik dan sudah berbentuk tanah. Nah, seperti pembuatan tape pada umumnya, kita memerlukan ragi. Ragi pada pembuatan pupuk organik bisa berasal dari inokulum bakteri untuk membantu mempercepat proses pendegradasian (dekomposisi). Sebetulnya tanpa dibantupun, alam dengan sendirinya akan mendekomposisi bahan-bahan organik tersebut dengan bakteri yang ada di alam beserta bantuan organisme renik lainnya.</span> <span lang="SV" xml:lang="SV">Namun dengan menggunakan bakteri, maka proses peragian akan menjadi lebih cepat.</p>
<p></span></font></font> <span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Kami menggunakan mikrobiologi cair yang sudah jadi seperti Effective Microorganisme 4 atau sering disingkat EM4. &#160;Botolnya berwarna kuning, harganya sekitar Rp 20-ribuan, dan dapat dibeli di kios-kios pertanian terdekat.</p>
<p></font></font></span><font size="3"><font face="Times New Roman"><b><i><span lang="SV" xml:lang="SV">Nutrisi</span></i></b><span lang="SV" xml:lang="SV">. </span><span lang="SV" xml:lang="SV">Untuk mempercepat proses degradasi dari sampah rumah tangga, sebaiknya <span>&#160;&#160;&#160;</span>ditambahkan nutrisi dari bahan karbohidrat. Kami menggunakan beberapa pilihan; yaitu gula merah yang disisir halus, gula merah bubuk, gula merah (glukosa) cair, nasi yang sudah tidak dimakan/basi, tepung beras, atau tepung terigu. Selain nutrisi dari bahan karbohidrat, kita juga bisa menambahkan nutrisi lain, misalnya pupuk kandang, atau pupuk urea. Penambahan nutrisi diperlukan terutama apabila daun-daun yang akan diolah menjadi pupuk organik terdiri dari bahan-bahan kering semua. Kami sering menggunakan larutan gula, tetapi juga kadang-kadang menggunakan nasi.</p>
<p></span></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"><b><span lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Kebutuhan Alat<br /></span></b><span lang="SV" xml:lang="SV"><br /></span></font></font><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Ide dasar akan kebutuhan alat pada pembuatan pupuk organik adalah dengan menggunakan wadah tertutup agar kondisi temperatur selama proses pembuatan pupuk organik <span>&#160;</span>bisa terjaga. Macam-macam pilihan wadah yang bisa digunakan, mulai dari tong plastik/seng, atau ember plastik. Dapat juga membuat wadah dari con block berukuran 1 X 1 m, atau membuat lubang berukuran 1 X 1 m di tanah.&#160;</p>
<p></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Pada dasarnya, kita tidak perlu membeli gentong atau tempat khusus untuk penyimpanan pupuk organik. Karena selain kurang praktis, bagi rumah tangga yang tidak memiliki uang yang berlebih untuk pengadaan wadah, tentu akan sangat menyulitkan. Kami selalu memilih yang paling sederhana dan mudah disediakan, yaitu Trash Bag atau kantong sampah plastik biasa.</p>
<p></font></font></span> <b><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Cara pembuatan</p>
<p></font></font></span></b><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Cara pembuatan pupuk organik ini sangat praktis dan sederhana. Kumpulkan rumput-rumput, daun-daun dan sampah rumah tangga non sistetis. Pertama-tama, cacah dulu daun-daun yang ukurannya lebih besar dengan menggunakan gunting. Pencacahan ini dilakukan agar pupuk organik yang dihasilkan berukuran lebih kecil dan proses pembuatan pupuk organik tidak terlalu lama. Jika jumlah dedaunan cukup banyak dan kita tidak terlalu ingin menghasilkan pupuk organik yang lebih kecil ukurannya, biarkanlah ukuran dedaunan tetap seperti yang ada. Tentunya lama proses pembuatan pupuk organik akan berbeda.</p>
<p></font></font></span> <font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Jika kita memiliki daun yang berwarna hijau dan coklat, maka keduanya bisa di campurkan agar mereka saling berbagi nutrisi.</span> <span lang="FI" xml:lang="FI">Takaran idealnya adalah 2 bagian daun-daun kering ditambah dengan 1 bagian daun-daun hijau. Setelah itu, taburi pupuk kandang diantara daun-daun, lalu aduk-aduk.</p>
<p></span></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="FI" xml:lang="FI"><br />
Buat campuran mikroba seperti bioaktivator atau EM4. Jika menggunakan EM4, pakai dengan menggunakan <span>&#160;</span>ukuran pada tutup botolnya. <span>&#160;</span>Jika bahan yang tersedia sebanyak 50 kg berarti memerlukan 5 kali tutup botol. Tambahkan dua sendok makan urea ke dalam ember.</span> <span lang="SV" xml:lang="SV">Siramkan ke campuran daun sampai merata. Jika daun diperas tak keluar air berarti sudah cukup. Bila di dalam tumpukan ada dedaunan hijau atau misalnya tersedia tanaman kacang-kacangan, maka nutrisi tidak perlu ditambahkan lagi.</p>
<p></span></font></font> <span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Jika memilih menggunakan plastik <i>trash bag</i> sebagai wadah, masukkan campuran daun yang sudah ditiriskan ke dalam plastik <i>trash bag,</i> lalu ikat dengan erat. Lubangi sedikit <i>trash bag</i> ini, untuk memudahkan pertukaran udara.</p>
<p></font></font></span> <font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="FI" xml:lang="FI"><br />
Setelah kita simpan dalam tempat penyimpanan, biarkan adonan pupuk organik ini selama kira-kira 3-4 minggu.</span> <span lang="IT" xml:lang="IT">Pada dua minggu pertama, kita bisa membuka plastik <i>trash bag.</i> <span>B</span>ila sudah agak membusuk, biasanya ditandai dengan selesainya proses pembuatan pupuk organik dan plastik <i>trash bag</i> dingin, kita bisa mencampurkan 1-3 plastik menjadi satu wadah agar lebih memudahkan dalam penyimpanan.<span>&#160;</span> Simpan kembali campuran dalam plastik ini dan biarkan selama 2 minggu ke depan agar kompos siap untuk digunakan. Demikianlah c</span><span lang="SV" xml:lang="SV">ara pembuatan pupuk organik yang sangat praktis dan sederhana.<br /></span><span lang="IT" xml:lang="IT"><br /></span></font></font><b><span lang="IT" xml:lang="IT"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Manfaat</p>
<p></font></font></span></b> <span lang="IT" xml:lang="IT"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Ada dua manfaat pembuatan pupuk organik. Pertama, pupuk organik digunakan sebagai penggembur tanah.<span>&#160;</span> Pupuk organik digunakan sebagai media tempat hidup sejumlah besar bakteri. &#160;Pupuk inilah yang akan membantu penyerapan makanan oleh tanaman. Sebagai contoh, tanah yang telah ditaburi pupuk organik biasanya menarik bakteri dan mikroorganisme tanah yang dapat membantu proses penggemburan tanah. Dengan demikian tanah yang mengandung pupuk organik menjadi lebih subur.<br /></font></font></span><span lang="IT" xml:lang="IT"><font size="3"><font face="Times New Roman">Manfaat yang kedua dari pembuatan pupuk organik adalah kita bisa membantu penyelamatan bumi karena secara tidak langsung membantu pengembalian bahan nabati ke bumi dalam bentuk pupuk organik sehingga dapat mencegah percepatan kerusakan bumi.<span>&#160;</span> Itulah dua buah manfaat dari pembuatan pupuk organik.<span>&#160;</span><br /></font></font></span></span></p>
<p><b><span lang="IT" xml:lang="IT"><font size="3"><font face="Times New Roman">Penutup</p>
<p></font></font></span></b><font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="IT" xml:lang="IT"><br />
Pembuatan pupuk organik sama sekali tidak sulit melakukannya. Kita tidak perlu membuat pupuk organik dengan terlalu ilmiah, karena hasil pupuk organik ini akan kita nikmati sendiri untuk kebutuhan <span>&#160;</span>pekarangan rumah kita.</span> <span lang="FI" xml:lang="FI">Lain halnya jika kita memang berencana untuk memasarkan pupuk organik yang sudah jadi, tentunya kita perlu memastikan bahwa pupuk organik buatan kita tersebut mempunyai standar yang sama dengan pupuk organik produksi pesaing atau bahkan memiliki kadar nutrisi yang lebih baik.&#160;<span>&#160;<br /></span><br /></span></font></font><span lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Jika setiap rumah tangga melakukan pembuatan pupuk organik secara mandiri, dapat dibayangkan banyaknya sampah organik yang bisa hilang dari Tempat Pembuangan Akhir, banyaknya pupuk organik yang bisa digunakan untuk menyuburkan pekarangan rumah kita, dan banyaknya tanah yang akhirnya bisa kita selamatkan karena ia akan menjadi lebih gembur dan sehat.</p>
<p></font></font></span><span lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Semoga tulisan ini dapat memotivasi kita semua.</p>
<p></font></font></span></p>
<p style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 14.4pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><font size="3"><font face="Times New Roman"><b><i><span lang="SV" xml:lang="SV"><br /></span></i></b></font></font></p>
<p style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 14.4pt; text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia"><b><i><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Selamat hari lingkungan hidup, 5 Juni 2007.</span></i></b></span></p>
<p><b><i><span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">Ayo selamatkan bumi, jangan buang sampah nabati anda!</span></i></b> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">[RN,</span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">28</span> <span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia">0507]</span></p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakarta.blog.com/2007/05/28/bahan-nabati-dibuang-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Awas Korupsi di Dekat Anda!</title>
		<link>http://jakarta.blog.com/2007/04/10/awas-korupsi-di-dekat-anda/</link>
		<comments>http://jakarta.blog.com/2007/04/10/awas-korupsi-di-dekat-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 11:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rini1557</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<font size="2">Selama beberapa tahun belakangan&#160;ini kita banyak sekali mendengar tentang betapa seringnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beraksi di negara ini memberantas korupsi.&#160; Media pun tak kalah ketinggalan mengupas maraknya pejabat yang&#160; diduga melakukan korupsi dan bahkan mungkin ada lebih banyak lagi pejabat di Indonesia yang memang melakukannya. Saat ini siapa diantara kita yang berani mengatakan bahwa korupsi memang sudah benar-benar diberantas? Mungkin memang tidak bisa diberantas begitu saja. Mengapa demikian? Coba kita tengok definisi dan istilah mengenai korupsi di bawah ini.</font>
<p><font size="2">Korupsi berasal dari istilah dalam bahasa Latin <i>corruptio</i> dari kata kerja <i>corrumpere</i> yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, dan menyogok. Menurut Transparency International, korupsi diartikan sebagai perilaku pejabat publik, baik politikus atau politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dari sudut pandang hukum, perbuatan korupsi mencakup unsur-unsur: melanggar hukum yang berlaku, penyalahgunaan wewenang, merugikan negara, dan memperkaya pribadi atau diri sendiri (</font><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi"><font size="2">Wikipedia</font></a><font size="2">).</font></p>
<p><font size="2">Memang tidak salah jika kemudian yang dianggap melakukan tindak pidana korupsi adalah para pejabat saja. Definisi diatas sama sekali tidak melibatkan semua orang yang melakukan korupsi dan oleh karenanya tidak ikut disadarkan bahwa mereka juga turut menyuburkan praktek korupsi.</font></p>
<p><font size="2">Coba kita perhatikan dengan seksama apa yang sering terjadi di sekitar kita. Banyak sekali peluang-peluang untuk ikut serta berkorupsi. Mulai dari pembelian tiket pesawat, kacamata, obat-obatan, sampai alat tulis kantor. Mulai dari pendaftaran akte perusahaan, pengurusan notaris sampai dengan pengurusan KTP di kelurahan.</font></p>
<p><font size="2">Beberapa bulan yang lalu, saya membeli obat di sebuah apotik di depan kantor. Saya kemudian meminta sang apoteker untuk membuatkan kuitansi atas obat-obatan yang dibeli. Rencananya keesokan harinya, saya akan meminta ganti biaya pembelian obat-obatan yang baru saya beli dari kantor tempat saya bekerja.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Berapa jumlah yang harus saya tulis?"</i> kata sang apoteker.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Berapa jumlah yang harus saya bayar?"</i> kata saya balas bertanya.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Biasanya orang meminta saya menulis jumlah yang lebih besar dari seharusnya,"</i> kata sang apoteker tadi tanpa bermaksud menjawab pertanyaan saya.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Tulis saja berapa yang seharusnya saya bayar",</i> tukas saya, <i>"Jangan dibiasakan berlaku seperti ini, Bu, karena anda ikut menyuburkan korupsi di Indonesia",</i> tegas saya lagi.</font></p>
<p><font size="2">Sejak itu, setiap kali saya membeli obat di apotik tersebut, sang apoteker itu tidak lagi menanyakan jumlah yang harus ia tulis dalam kuitansinya. Entah apakah ia juga melakukan hal yang sama kepada orang lain, ataukah ini hanya <i>spesial request</i> saya saja.</font></p>
<p><font size="2">Begitu juga halnya ketika saya membeli kacamata di sebuah toko kacamata di Pasar Baru. Selesai memilih kacamata, saya lantas meminta dibuatkan kuitansi atas kacamata yang baru saya beli. Lagi-lagi karena urusan administrasi di kantor tempat saya bekerja dan juga karena saya membutuhkan kuitansi tersebut untuk penggantian biaya kacamata ini.</font></p>
<p><font size="2">Kembali saya dikejutkan dengan pertanyaan yang sama.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Berapa jumlah yang harus saya tulis?"</i> kata sang pemilik toko kacamata.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Lho berapa jumlah yang harus saya bayar,"</i> tanyaku kemudian.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Biasanya orang yang berbelanja disini dan meminta penggantian dari kantor, mereka meminta saya menulis dengan jumlah yang lebih besar dari pada yang mereka beli."</i> jelasnya.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Jangan lakukan itu kepada saya,"</i> tukas saya, <i>"anda baru saja mengajari saya untuk korupsi dan berpartisipasi untuk sebuah proses kolusi".</i></font></p>
<p><font size="2">Pemilik toko kacamata itu hanya tertawa. Memang tidak ada yang ia rugikan, pikirnya, karena itu adalah keputusanku sendiri. Mungkin ia tidak menyadari bahwa ia sudah berpartisipasi dan berniat untuk merugikan kantorku dengan uang yang tidak seberapa jumlahnya.</font></p>
<p><font size="2">Pagi tadi ayah saya bercerita bahwa kemarin ia baru saja selesai mengurus akte perusahaan tempatnya bekerja. Pengurusan aktenya juga mengalami faktor-faktor korupsi. Bagaimana tidak?</font></p>
<p><font size="2">Ketika notaris yang didatangi ayah saya selesai mencetak akte perusahaan, sang notaris bertanya kepada ayah saya, <i>"Bapak, biaya pengurusan aktenya Rp. 120,000. Berapa yang harus saya tulis di kuitansinya, Rp.120,000 atau Rp.150,000?"</i></font></p>
<p><font size="2"><i>"Kenapa harus lain-lain?"</i> tanya ayahku tak paham.</font></p>
<p><i><font size="2">"Biasanya yang mengurus akte semacam ini mendapatkan komisi Rp. 30,000, Pak"</font></i></p>
<p><font size="2"><i>"Tulis saja yang seharusnya. Saya tidak membiasakan diri saya untuk korupsi",</i> kata ayah saya.</font></p>
<p><font size="2">Belum lengkap keheranannya, ayahku membawa akte tersebut untuk didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Disana, proses pengurusannya begitu mudah. Ayah saya bahkan mendapatkan tanda terima lengkap dengan cap.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Berapa biaya yang harus saya bayar?",</i> tanya ayah saya.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Rp.200,000."</i> kata sang petugas.</font></p>
<p><font size="2">Ayah saya lalu melihat-lihat papan pengumuman biaya pendaftaran akte dan menemukan tulisan yang mengatakan bahwa biayanya hanya Rp.10,000.</font></p>
<p><i><font size="2">"Lho kok mahal sekali, Pak, bukannya disini tertulis Rp.10,000?"</font></i></p>
<p><i><font size="2">"Ya Bapak mau atau tidak, kalau tidak mau juga tidak apa-apa"</font></i></p>
<p><i><font size="2">"Tapi kalau saya bayar, saya akan mendapat kuitansi kan, Pak?"</font></i></p>
<p><i><font size="2">"Kami disini tidak mengeluarkan kuitansi, Pak"</font></i></p>
<p><i><font size="2">"Lalu bagaimana pertanggung jawaban saya ke kantor?"</font></i></p>
<p><font size="2"><i>"Ya itu urusan Bapak"</i> kata sang petugas itu, tidak bermaksud membantu menyelesaikan permasalahan.</font></p>
<p><font size="2">Korupsi memang mudah sekali bersinggungan jalan dengan kita. Titik awalnya pun bisa ada di sekitar kita. Bahkan mungkin dimulai dari rumah kita sendiri. Beberapa waktu lalu ketika saya berkunjung ke sebuah perpustakaan vihara di sebuah dusun Genilangit di Jawa Timur, teman-teman pengelola perpustakaan sedang berbagi kisah korupsi dengan penduduk desa.&#160; Awalnya mereka mendiskusikan kisah-kisah korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara, tetapi akhirnya mereka berdiskusi tentang proses korupsi yang ada di rumah mereka sendiri.</font></p>
<p><font size="2"><i>"Hayo, Ibu pernah tidak mengutip uang belanja yang diberi Bapak</i>?" kata seorang temanku.</font></p>
<p><i><font size="2">"Mengutip itu, apa tho Mas?"</font></i></p>
<p><i><font size="2">"Maksudnya, pernah ndak Ibu diberi uang belanja Bapak. Ibu bilang akan dibelikan ikan yang harganya Rp.3,000 tapi uang kembaliannya ndak ibu kembalikan dan ibu bilang ke Bapak kalau harga ikannya Rp.5,000?"</font></i></p>
<p><i><font size="2">"ooo... ya pernah sekali-sekali, Mas. Tapi mosok ya begitu itu disebut korupsi?"</font></i></p>
<p><font size="2">Pengenalan mengenai korupsi sudah saatnya dimulai dari lingkungan terdekat. Mulailah dari rumah kita sendiri, baru beranjak ke lingkungan sekitar. Memang tidak mudah memulainya, apalagi melakukan tindakan yang dianggap "tidak umum", hanya karena saat ini tindakan seperti contoh-contoh diatas sudah banyak dilakukan dan jamak dilakukan orang. Jika kita ingin negara ini benar-benar bebas korupsi, maka kita harus memulainya dari diri kita sendiri, meskipun mungkin tidak nyaman untuk memulainya. [RN, 100407].</font></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><font size="2">Selama beberapa tahun belakangan&#160;ini kita banyak sekali mendengar tentang betapa seringnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beraksi di negara ini memberantas korupsi.&#160; Media pun tak kalah ketinggalan mengupas maraknya pejabat yang&#160; diduga melakukan korupsi dan bahkan mungkin ada lebih banyak lagi pejabat di Indonesia yang memang melakukannya. Saat ini siapa diantara kita yang berani mengatakan bahwa korupsi memang sudah benar-benar diberantas? Mungkin memang tidak bisa diberantas begitu saja. Mengapa demikian? Coba kita tengok definisi dan istilah mengenai korupsi di bawah ini.</font></p>
<p><font size="2">Korupsi berasal dari istilah dalam bahasa Latin <i>corruptio</i> dari kata kerja <i>corrumpere</i> yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, dan menyogok. Menurut Transparency International, korupsi diartikan sebagai perilaku pejabat publik, baik politikus atau politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dari sudut pandang hukum, perbuatan korupsi mencakup unsur-unsur: melanggar hukum yang berlaku, penyalahgunaan wewenang, merugikan negara, dan memperkaya pribadi atau diri sendiri (</font><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi"><font size="2">Wikipedia</font></a><font size="2">).</font></p>
<p><font size="2">Memang tidak salah jika kemudian yang dianggap melakukan tindak pidana korupsi adalah para pejabat saja. Definisi diatas sama sekali tidak melibatkan semua orang yang melakukan korupsi dan oleh karenanya tidak ikut disadarkan bahwa mereka juga turut menyuburkan praktek korupsi.</font></p>
<p><font size="2">Coba kita perhatikan dengan seksama apa yang sering terjadi di sekitar kita. Banyak sekali peluang-peluang untuk ikut serta berkorupsi. Mulai dari pembelian tiket pesawat, kacamata, obat-obatan, sampai alat tulis kantor. Mulai dari pendaftaran akte perusahaan, pengurusan notaris sampai dengan pengurusan KTP di kelurahan.</font></p>
<p><font size="2">Beberapa bulan yang lalu, saya membeli obat di sebuah apotik di depan kantor. Saya kemudian meminta sang apoteker untuk membuatkan kuitansi atas obat-obatan yang dibeli. Rencananya keesokan harinya, saya akan meminta ganti biaya pembelian obat-obatan yang baru saya beli dari kantor tempat saya bekerja.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Berapa jumlah yang harus saya tulis?&#8221;</i> kata sang apoteker.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Berapa jumlah yang harus saya bayar?&#8221;</i> kata saya balas bertanya.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Biasanya orang meminta saya menulis jumlah yang lebih besar dari seharusnya,&#8221;</i> kata sang apoteker tadi tanpa bermaksud menjawab pertanyaan saya.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Tulis saja berapa yang seharusnya saya bayar&#8221;,</i> tukas saya, <i>&#8220;Jangan dibiasakan berlaku seperti ini, Bu, karena anda ikut menyuburkan korupsi di Indonesia&#8221;,</i> tegas saya lagi.</font></p>
<p><font size="2">Sejak itu, setiap kali saya membeli obat di apotik tersebut, sang apoteker itu tidak lagi menanyakan jumlah yang harus ia tulis dalam kuitansinya. Entah apakah ia juga melakukan hal yang sama kepada orang lain, ataukah ini hanya <i>spesial request</i> saya saja.</font></p>
<p><font size="2">Begitu juga halnya ketika saya membeli kacamata di sebuah toko kacamata di Pasar Baru. Selesai memilih kacamata, saya lantas meminta dibuatkan kuitansi atas kacamata yang baru saya beli. Lagi-lagi karena urusan administrasi di kantor tempat saya bekerja dan juga karena saya membutuhkan kuitansi tersebut untuk penggantian biaya kacamata ini.</font></p>
<p><font size="2">Kembali saya dikejutkan dengan pertanyaan yang sama.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Berapa jumlah yang harus saya tulis?&#8221;</i> kata sang pemilik toko kacamata.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Lho berapa jumlah yang harus saya bayar,&#8221;</i> tanyaku kemudian.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Biasanya orang yang berbelanja disini dan meminta penggantian dari kantor, mereka meminta saya menulis dengan jumlah yang lebih besar dari pada yang mereka beli.&#8221;</i> jelasnya.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Jangan lakukan itu kepada saya,&#8221;</i> tukas saya, <i>&#8220;anda baru saja mengajari saya untuk korupsi dan berpartisipasi untuk sebuah proses kolusi&#8221;.</i></font></p>
<p><font size="2">Pemilik toko kacamata itu hanya tertawa. Memang tidak ada yang ia rugikan, pikirnya, karena itu adalah keputusanku sendiri. Mungkin ia tidak menyadari bahwa ia sudah berpartisipasi dan berniat untuk merugikan kantorku dengan uang yang tidak seberapa jumlahnya.</font></p>
<p><font size="2">Pagi tadi ayah saya bercerita bahwa kemarin ia baru saja selesai mengurus akte perusahaan tempatnya bekerja. Pengurusan aktenya juga mengalami faktor-faktor korupsi. Bagaimana tidak?</font></p>
<p><font size="2">Ketika notaris yang didatangi ayah saya selesai mencetak akte perusahaan, sang notaris bertanya kepada ayah saya, <i>&#8220;Bapak, biaya pengurusan aktenya Rp. 120,000. Berapa yang harus saya tulis di kuitansinya, Rp.120,000 atau Rp.150,000?&#8221;</i></font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Kenapa harus lain-lain?&#8221;</i> tanya ayahku tak paham.</font></p>
<p><i><font size="2">&#8220;Biasanya yang mengurus akte semacam ini mendapatkan komisi Rp. 30,000, Pak&#8221;</font></i></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Tulis saja yang seharusnya. Saya tidak membiasakan diri saya untuk korupsi&#8221;,</i> kata ayah saya.</font></p>
<p><font size="2">Belum lengkap keheranannya, ayahku membawa akte tersebut untuk didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Disana, proses pengurusannya begitu mudah. Ayah saya bahkan mendapatkan tanda terima lengkap dengan cap.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Berapa biaya yang harus saya bayar?&#8221;,</i> tanya ayah saya.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Rp.200,000.&#8221;</i> kata sang petugas.</font></p>
<p><font size="2">Ayah saya lalu melihat-lihat papan pengumuman biaya pendaftaran akte dan menemukan tulisan yang mengatakan bahwa biayanya hanya Rp.10,000.</font></p>
<p><i><font size="2">&#8220;Lho kok mahal sekali, Pak, bukannya disini tertulis Rp.10,000?&#8221;</font></i></p>
<p><i><font size="2">&#8220;Ya Bapak mau atau tidak, kalau tidak mau juga tidak apa-apa&#8221;</font></i></p>
<p><i><font size="2">&#8220;Tapi kalau saya bayar, saya akan mendapat kuitansi kan, Pak?&#8221;</font></i></p>
<p><i><font size="2">&#8220;Kami disini tidak mengeluarkan kuitansi, Pak&#8221;</font></i></p>
<p><i><font size="2">&#8220;Lalu bagaimana pertanggung jawaban saya ke kantor?&#8221;</font></i></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Ya itu urusan Bapak&#8221;</i> kata sang petugas itu, tidak bermaksud membantu menyelesaikan permasalahan.</font></p>
<p><font size="2">Korupsi memang mudah sekali bersinggungan jalan dengan kita. Titik awalnya pun bisa ada di sekitar kita. Bahkan mungkin dimulai dari rumah kita sendiri. Beberapa waktu lalu ketika saya berkunjung ke sebuah perpustakaan vihara di sebuah dusun Genilangit di Jawa Timur, teman-teman pengelola perpustakaan sedang berbagi kisah korupsi dengan penduduk desa.&#160; Awalnya mereka mendiskusikan kisah-kisah korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara, tetapi akhirnya mereka berdiskusi tentang proses korupsi yang ada di rumah mereka sendiri.</font></p>
<p><font size="2"><i>&#8220;Hayo, Ibu pernah tidak mengutip uang belanja yang diberi Bapak</i>?&#8221; kata seorang temanku.</font></p>
<p><i><font size="2">&#8220;Mengutip itu, apa tho Mas?&#8221;</font></i></p>
<p><i><font size="2">&#8220;Maksudnya, pernah ndak Ibu diberi uang belanja Bapak. Ibu bilang akan dibelikan ikan yang harganya Rp.3,000 tapi uang kembaliannya ndak ibu kembalikan dan ibu bilang ke Bapak kalau harga ikannya Rp.5,000?&#8221;</font></i></p>
<p><i><font size="2">&#8220;ooo&#8230; ya pernah sekali-sekali, Mas. Tapi mosok ya begitu itu disebut korupsi?&#8221;</font></i></p>
<p><font size="2">Pengenalan mengenai korupsi sudah saatnya dimulai dari lingkungan terdekat. Mulailah dari rumah kita sendiri, baru beranjak ke lingkungan sekitar. Memang tidak mudah memulainya, apalagi melakukan tindakan yang dianggap &#8220;tidak umum&#8221;, hanya karena saat ini tindakan seperti contoh-contoh diatas sudah banyak dilakukan dan jamak dilakukan orang. Jika kita ingin negara ini benar-benar bebas korupsi, maka kita harus memulainya dari diri kita sendiri, meskipun mungkin tidak nyaman untuk memulainya. [RN, 100407].</font></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakarta.blog.com/2007/04/10/awas-korupsi-di-dekat-anda/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Selamatkan Jakartaku!</title>
		<link>http://jakarta.blog.com/2007/02/13/ayo-selamatkan-jakartaku/</link>
		<comments>http://jakarta.blog.com/2007/02/13/ayo-selamatkan-jakartaku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Feb 2007 03:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rini1557</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini Jakarta tak sudah dibalut kesedihan dan persoalan. Belum tuntas masalah pembuatan jalur&#160;<em>bus way</em> dan&#160;pemotongan pohon di sepanjang jalurnya, masalah penanganan pembuangan sampah, masalah banjir yang sudah mencapai 50% wilayah Ibukota dan telah merendam 1499 sekolah, 15 stasiun kereta api, memutus aliran listrik bagi 750,000 pelanggan, dan mengganggu 83,302 satuan sambungan telepon (BI,110207), belum adanya penanganan bencana secara makro, atau masih banyak yang lainnya lagi.&#160; Media massa pun tak kalah sigap menjadi mediator sekaligus membumbui&#160;mereka yang menuding ketidakbecusan Pemerintah menangani persoalan dan juga sekaligus mediator bagi Pemerintah yang kerap menuding masyarakat yang tidak ingin membantu kerja Pemerintah. Berkali-kali daerah resapan air yang mulai berkurang di Jakarta kini dituding sebagai salah satu penyebab bencana banjir. Masyarakat dan DPR menuding bahwa Pemerintah tak punya tata ruang yang jelas dan seringkali mengubah kawasan tempat serapan air menjadi daerah residential atau komersial.</p>
<p>Kita yang berada di tengah perang tulisan tersebut, lebih baik langsung mengambil sikap. Daripada hanya membaca atau menonton berita, lalu&#160;mengomel tak jelas juntrungannya dan tidak ada dampak apapun untuk membantu kota ini, lebih baik kita bercermin pada diri sendiri dan melakukan beberapa hal sederhana bersama-sama. Lantas apa yang bisa kita lakukan?&#160;</p>
<p><a href="http://gawtama.multiply.com/photos/hi-res/76/1?xurl=%2Fphotos%2Fphoto%2F76%2F1"><img align="right" width="247" src="http://images.gawtama.multiply.com/image/16/photos/76/500x500/1/DSC02033.JPG?et=B834HxFdJeq%2C5QwrwS5bsg" alt="Mana yang lebih tepat &#34;Bersihkan sampah di got &#38; pinggir kali&#34; atau di tulisan itu?" height="181" style="width: 247px; height: 181px" title="Mana yang lebih tepat &#34;Bersihkan sampah di got &#38; pinggir kali&#34; atau di tulisan itu?" class="photoimg" /></a></p>
<p>Mari kita mulai dari hal yang paling sederhana.&#160; Mungkin kita lupa bahwa pameo <em><strong>"buanglah sampah pada tempatnya"</strong></em> kini bukan lagi jargon yang ampuh.&#160; Dimana-mana masih banyak masyarakat yang dengan ringan tangan membuang sampahnya ke jalan. Sebutlah pengendara mobil, angkutan dan bis kota, belum lagi masyarakat pejalan kaki yang turut berkontribusi terhadap persoalan sampah ini.&#160; Semakin jarang aku mendapati orang-orang yang membuang sampah pada tempatnya. Seorang ibu yang aku temui pagi ini, mengajari anaknya untuk membuang sampahnya ke selokan. Ia memelototiku karena menegurnya. Tetangga sebelah rumahku kerapkali kulihat membuang beberapa sampahnya ke halaman rumahku.&#160; Mulai dari kulit telor, bungkus permen atau biskuit, kaleng minuman soda&#160;atau kapas penyeka wajahnya.&#160; <em>"Ah ini kan hanya sebatang puntung rokok"...</em> kata seorang teman kantorku yang kulihat mematikan puntung rokoknya di pot tanaman di ruang tunggu kantorku.&#160; Sampah kecil, memang. Tetapi yang menjadi perhatianku adalah hilangnya kesadaran anak muda di Jakarta untuk membuang sampah pada tempatnya. Ada apa?&#160;</p>
<p>Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa&#160;kebiasaan membuang sampah sembarangan itu bisa menjadi berakar dan bisa jadi bergulir ke sampah yang lebih besar kubikasinya.</p>
<p>Jika demikian,&#160;penanganannya sudah pasti sangat sederhana. Mari biasakan membuang sampah&#160;pada tempatnya. Biasakan membawa kantong sampah di tas dan membuang sampah kita di dalam kantong tersebut sampai kita menemukan tong sampah terdekat. Sangat sederhana.</p>
<p>Minggu lalu, aku belajar lagi tentang resapan air. Menurut Emil Salim dalam tulisannya di KOMPAS, pada tahun 1970-an sekitar 60% air hujan diserap tanah. Kini, yang terserap hanya 10% saja. Jumlah bangunan yang menutup tanah sekarang bertambah banyak. Dengan debit air hujan saat ini, dapat dipastikan jumlah air yang diserap tanah sangatlah berkurang. Untuk itu, sekarang aku menerapkan metode baru.&#160; Di rumah kami di depok, setiap minggunya ada banyak sekali sampah daun, rumput dan batang-batang pohon. Biasanya semua sampah itu aku buang begitu saja ke tong sampah. Kini, aku belajar bahwa aku sudah membuang cikal bakal tanah yang seharusnya bisa digunakan untuk menambah tanah di halaman rumahku. Sampah organik itu bisa didaur ulang menjadi kompos dan bisa ditaburkan di tanah-tanah di halaman rumahku. aku bukan saja menyelamatkan tanah dari kikisan air, tapi juga membantu membuat daerah resapan air, paling tidak dirumahku sendiri.&#160;</p>
<p>Beberapa tahun lalu, WWF pernah membagikan bibit pohon untuk ditanam. Bibit dalam kantong kertas daur ulang dibagikan ke sekolah-sekolah, pusat perbelanjaan, dan komunitas-komunitas anak muda lainnya. Aku termasuk salah satu diantara penerimanya. Ide membagikan bibit adalah ide yang bagus. Jika setiap rumah menanam satu pohon, pasti akar-akar pohonnya bisa digunakan untuk menahan tanah dari erosi.&#160; Jika hujan tiba, tanah di permukaan tidak banyak yang tergerus dan terbawa oleh air hujan.&#160; Di halaman rumahku yang tidak terlalu luas, aku menanam pohon jambu air, belimbing wuluh, belimbing bangkok, salam, dan yang baru saja kucangkok dari tanaman di halaman adik ipar ibuku, adalah tanaman delima.</p>
<p>Ayo selamatkan Jakartaku. caranya sangat sederhana. Ide ini bisa diterapkan oleh siapa saja dimana saja. Mari mulai dari diri kita sendiri sebelum mulai menyalahkan orang lain. [RN, 130207].<br />
<br />
Foto diambil dari <a target="_blank" href="http://gawtama.multiply.com/photos/photo/76/1">sini</a></p>
<p>&#160;</p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Akhir-akhir ini Jakarta tak sudah dibalut kesedihan dan persoalan. Belum tuntas masalah pembuatan jalur&#160;<em>bus way</em> dan&#160;pemotongan pohon di sepanjang jalurnya, masalah penanganan pembuangan sampah, masalah banjir yang sudah mencapai 50% wilayah Ibukota dan telah merendam 1499 sekolah, 15 stasiun kereta api, memutus aliran listrik bagi 750,000 pelanggan, dan mengganggu 83,302 satuan sambungan telepon (BI,110207), belum adanya penanganan bencana secara makro, atau masih banyak yang lainnya lagi.&#160; Media massa pun tak kalah sigap menjadi mediator sekaligus membumbui&#160;mereka yang menuding ketidakbecusan Pemerintah menangani persoalan dan juga sekaligus mediator bagi Pemerintah yang kerap menuding masyarakat yang tidak ingin membantu kerja Pemerintah. Berkali-kali daerah resapan air yang mulai berkurang di Jakarta kini dituding sebagai salah satu penyebab bencana banjir. Masyarakat dan DPR menuding bahwa Pemerintah tak punya tata ruang yang jelas dan seringkali mengubah kawasan tempat serapan air menjadi daerah residential atau komersial.</p>
<p>Kita yang berada di tengah perang tulisan tersebut, lebih baik langsung mengambil sikap. Daripada hanya membaca atau menonton berita, lalu&#160;mengomel tak jelas juntrungannya dan tidak ada dampak apapun untuk membantu kota ini, lebih baik kita bercermin pada diri sendiri dan melakukan beberapa hal sederhana bersama-sama. Lantas apa yang bisa kita lakukan?&#160;</p>
<p><a href="http://gawtama.multiply.com/photos/hi-res/76/1?xurl=%2Fphotos%2Fphoto%2F76%2F1"><img align="right" width="247" src="http://images.gawtama.multiply.com/image/16/photos/76/500x500/1/DSC02033.JPG?et=B834HxFdJeq%2C5QwrwS5bsg" alt="Mana yang lebih tepat &quot;Bersihkan sampah di got &amp; pinggir kali&quot; atau di tulisan itu?" height="181" style="width: 247px; height: 181px" title="Mana yang lebih tepat &quot;Bersihkan sampah di got &amp; pinggir kali&quot; atau di tulisan itu?" class="photoimg" /></a></p>
<p>Mari kita mulai dari hal yang paling sederhana.&#160; Mungkin kita lupa bahwa pameo <em><strong>&#8220;buanglah sampah pada tempatnya&#8221;</strong></em> kini bukan lagi jargon yang ampuh.&#160; Dimana-mana masih banyak masyarakat yang dengan ringan tangan membuang sampahnya ke jalan. Sebutlah pengendara mobil, angkutan dan bis kota, belum lagi masyarakat pejalan kaki yang turut berkontribusi terhadap persoalan sampah ini.&#160; Semakin jarang aku mendapati orang-orang yang membuang sampah pada tempatnya. Seorang ibu yang aku temui pagi ini, mengajari anaknya untuk membuang sampahnya ke selokan. Ia memelototiku karena menegurnya. Tetangga sebelah rumahku kerapkali kulihat membuang beberapa sampahnya ke halaman rumahku.&#160; Mulai dari kulit telor, bungkus permen atau biskuit, kaleng minuman soda&#160;atau kapas penyeka wajahnya.&#160; <em>&#8220;Ah ini kan hanya sebatang puntung rokok&#8221;&#8230;</em> kata seorang teman kantorku yang kulihat mematikan puntung rokoknya di pot tanaman di ruang tunggu kantorku.&#160; Sampah kecil, memang. Tetapi yang menjadi perhatianku adalah hilangnya kesadaran anak muda di Jakarta untuk membuang sampah pada tempatnya. Ada apa?&#160;</p>
<p>Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa&#160;kebiasaan membuang sampah sembarangan itu bisa menjadi berakar dan bisa jadi bergulir ke sampah yang lebih besar kubikasinya.</p>
<p>Jika demikian,&#160;penanganannya sudah pasti sangat sederhana. Mari biasakan membuang sampah&#160;pada tempatnya. Biasakan membawa kantong sampah di tas dan membuang sampah kita di dalam kantong tersebut sampai kita menemukan tong sampah terdekat. Sangat sederhana.</p>
<p>Minggu lalu, aku belajar lagi tentang resapan air. Menurut Emil Salim dalam tulisannya di KOMPAS, pada tahun 1970-an sekitar 60% air hujan diserap tanah. Kini, yang terserap hanya 10% saja. Jumlah bangunan yang menutup tanah sekarang bertambah banyak. Dengan debit air hujan saat ini, dapat dipastikan jumlah air yang diserap tanah sangatlah berkurang. Untuk itu, sekarang aku menerapkan metode baru.&#160; Di rumah kami di depok, setiap minggunya ada banyak sekali sampah daun, rumput dan batang-batang pohon. Biasanya semua sampah itu aku buang begitu saja ke tong sampah. Kini, aku belajar bahwa aku sudah membuang cikal bakal tanah yang seharusnya bisa digunakan untuk menambah tanah di halaman rumahku. Sampah organik itu bisa didaur ulang menjadi kompos dan bisa ditaburkan di tanah-tanah di halaman rumahku. aku bukan saja menyelamatkan tanah dari kikisan air, tapi juga membantu membuat daerah resapan air, paling tidak dirumahku sendiri.&#160;</p>
<p>Beberapa tahun lalu, WWF pernah membagikan bibit pohon untuk ditanam. Bibit dalam kantong kertas daur ulang dibagikan ke sekolah-sekolah, pusat perbelanjaan, dan komunitas-komunitas anak muda lainnya. Aku termasuk salah satu diantara penerimanya. Ide membagikan bibit adalah ide yang bagus. Jika setiap rumah menanam satu pohon, pasti akar-akar pohonnya bisa digunakan untuk menahan tanah dari erosi.&#160; Jika hujan tiba, tanah di permukaan tidak banyak yang tergerus dan terbawa oleh air hujan.&#160; Di halaman rumahku yang tidak terlalu luas, aku menanam pohon jambu air, belimbing wuluh, belimbing bangkok, salam, dan yang baru saja kucangkok dari tanaman di halaman adik ipar ibuku, adalah tanaman delima.</p>
<p>Ayo selamatkan Jakartaku. caranya sangat sederhana. Ide ini bisa diterapkan oleh siapa saja dimana saja. Mari mulai dari diri kita sendiri sebelum mulai menyalahkan orang lain. [RN, 130207].</p>
<p>Foto diambil dari <a target="_blank" href="http://gawtama.multiply.com/photos/photo/76/1">sini</a></p>
<p>&#160;</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakarta.blog.com/2007/02/13/ayo-selamatkan-jakartaku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dilarang memelihara unggas!</title>
		<link>http://jakarta.blog.com/2007/01/19/dilarang-memelihara-unggas/</link>
		<comments>http://jakarta.blog.com/2007/01/19/dilarang-memelihara-unggas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 03:50:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rini1557</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p>Sewaktu aku kecil, kerap kali kulihat para tetanggaku memelihara ayam kampung. Kurasa hampir disetiap rumah memiliki ayam kampung. Ayam-ayam itu dibiarkan bebas berkeliaran dan pemiliknya sibuk menggiring ayam ketika maghrib menjelang.</p>
<p>Pernah suatu hari tatkala masih SD, aku membeli anak ayam warna-warni dari seorang pedagang keliling. Aku memilih sendiri anak ayam itu dan membayarnya dengan uang saku yang kukumpulkan dari hari ke hari. Harga seekor anak ayam waktu itu Rp.100, dan aku membelinya dengan bangga. Setiap hari aku memberinya makan dan membiarkan anak-anak ayam itu berkeliaran di pekarangan depan rumahku, mencari makanannya sendiri. Bahkan aku pernah melihat anak ayamku yang terbesar mematuki cacing tanah dengan lahapnya.</p>
<p>Sewaktu masih SD pula, seorang adik ayahku yang bekerja di Kalimantan, datang ke rumah membawa ayam-ayam kate. Bentuknya lucu karena mereka kerdil dan tidak dapat tumbuh besar. Setiap hari, bergantian dengan adik-adikku, kami memberi makan ayam kate itu di pekarangan. Cukup dedak dan jagung pipilan yang kami beli dari warung tak jauh dari rumah kami. Aku pun masih ingat ketika ibuku membeli seekor ayam kampung untuk menemani ayam-ayam kate itu. Ayam kampung yang dibeli ibuku cukup besar. Tak lama kemudian, aku dan adik-adikku seringkali berburu telur-telur ayam yang berceceran di pekarangan. Sebagian kami goreng dengan rasa ingin tahu, dan sebagian lagi ditetaskan. Betapa lucunya saat itu ketika aku dan adik-adikku menonton sebuah telur yang sedang pecah. sebuah kepala kecil menyembul dari balik telur. Lucu, sekali. Ayahku melarang kami memegang anak ayam yang baru saja menetas. Nanti mati, ujar ayahku, ketika kami menanyainya. Sewaktu anak-anak ayam itu tumbuh membesar, aku baru menyadari keanehan tubuhnya. Yap! mereka adalah perpaduan ayam kampung dan ayam kate kami. Meski begitu, setiap hari tidak bosan-bosannya kami mengejar ayam-ayam itu di pekarangan sebagai sarana olahraga.</p>
<p>Bicara soal kejar mengejar, aku teringat sebuah pengalaman yang kurang menarik. Sewaktu aku melewati rumah tetanggaku, rupanya ayam yang dipelihara tetanggaku itu baru saja menetas. induk ayamnya galak bukan kepalang. Aku dipelototinya dan lalu dikejarnya. Saat itu karena takut aku berlari menuju ke rumah. Sang ayam tak kalah sigap, terus berlari mengejariku, hingga akhirnya aku menyerah dan sang ayam mematuki kakiku. Aduh. Sakit rasanya. Dan masih banyak lagi pengalamanku tentang ayam peliharaan.</p>
<p>Saat ini memang aku sudah tak punya lagi ayam-ayam di pekarangan rumahku. Aku juga sudah dewasa sekarang. Namun, pengalaman bersama ayam telah menjadi pengalaman yang menyenangkan. Aku percaya di Jakarta masih banyak anak-anak yang tumbuh dengan pengalaman bersama ayam-ayamnya. Tapi kini, Pemda DKI telah mengeluarkan Peraturan Gubernur no. 05/2007 tanggal 17 Januari 2007 lalu. Ada delapan materi pokok di dalamnya mengenai aturan pemeliharaan unggas. Masyarakat diminta untuk meniadakan unggas peliharaan dengan cara dikonsumsi, dijual atau dimusnahkan. Unggas yang dilarang adalah itik, entog, angsa, burung dara, burung puyuh, dan..... ayam. Menurut Guberbur KDKI Jakarta Sutiyoso, aturan ini dikeluarkan untuk mengatasi ancaman kesehatan penduduk Jakarta dari virus flu burung dan masyarakat diminta untuk mematuhi peraturan dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p>Aku membayangkan suatu hari nanti, anakku akan belajar tentang ayam hanya dari buku atau di Taman Margasatwa Ragunan. Ia tak boleh lagi menyentuh, memegang ataupun memelihara ayam. Hilanglah sudah pengalamannya tentang memelihara ayam, tepat pada saat ia belum tahu seperti apa rupa ayam itu. Mungkin nanti, sebutan ayam bahkan sudah tak ada lagi, karena ayam sudah lenyap dari muka bumi Jakarta. [RN,190107]</p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Sewaktu aku kecil, kerap kali kulihat para tetanggaku memelihara ayam kampung. Kurasa hampir disetiap rumah memiliki ayam kampung. Ayam-ayam itu dibiarkan bebas berkeliaran dan pemiliknya sibuk menggiring ayam ketika maghrib menjelang.</p>
<p>Pernah suatu hari tatkala masih SD, aku membeli anak ayam warna-warni dari seorang pedagang keliling. Aku memilih sendiri anak ayam itu dan membayarnya dengan uang saku yang kukumpulkan dari hari ke hari. Harga seekor anak ayam waktu itu Rp.100, dan aku membelinya dengan bangga. Setiap hari aku memberinya makan dan membiarkan anak-anak ayam itu berkeliaran di pekarangan depan rumahku, mencari makanannya sendiri. Bahkan aku pernah melihat anak ayamku yang terbesar mematuki cacing tanah dengan lahapnya.</p>
<p>Sewaktu masih SD pula, seorang adik ayahku yang bekerja di Kalimantan, datang ke rumah membawa ayam-ayam kate. Bentuknya lucu karena mereka kerdil dan tidak dapat tumbuh besar. Setiap hari, bergantian dengan adik-adikku, kami memberi makan ayam kate itu di pekarangan. Cukup dedak dan jagung pipilan yang kami beli dari warung tak jauh dari rumah kami. Aku pun masih ingat ketika ibuku membeli seekor ayam kampung untuk menemani ayam-ayam kate itu. Ayam kampung yang dibeli ibuku cukup besar. Tak lama kemudian, aku dan adik-adikku seringkali berburu telur-telur ayam yang berceceran di pekarangan. Sebagian kami goreng dengan rasa ingin tahu, dan sebagian lagi ditetaskan. Betapa lucunya saat itu ketika aku dan adik-adikku menonton sebuah telur yang sedang pecah. sebuah kepala kecil menyembul dari balik telur. Lucu, sekali. Ayahku melarang kami memegang anak ayam yang baru saja menetas. Nanti mati, ujar ayahku, ketika kami menanyainya. Sewaktu anak-anak ayam itu tumbuh membesar, aku baru menyadari keanehan tubuhnya. Yap! mereka adalah perpaduan ayam kampung dan ayam kate kami. Meski begitu, setiap hari tidak bosan-bosannya kami mengejar ayam-ayam itu di pekarangan sebagai sarana olahraga.</p>
<p>Bicara soal kejar mengejar, aku teringat sebuah pengalaman yang kurang menarik. Sewaktu aku melewati rumah tetanggaku, rupanya ayam yang dipelihara tetanggaku itu baru saja menetas. induk ayamnya galak bukan kepalang. Aku dipelototinya dan lalu dikejarnya. Saat itu karena takut aku berlari menuju ke rumah. Sang ayam tak kalah sigap, terus berlari mengejariku, hingga akhirnya aku menyerah dan sang ayam mematuki kakiku. Aduh. Sakit rasanya. Dan masih banyak lagi pengalamanku tentang ayam peliharaan.</p>
<p>Saat ini memang aku sudah tak punya lagi ayam-ayam di pekarangan rumahku. Aku juga sudah dewasa sekarang. Namun, pengalaman bersama ayam telah menjadi pengalaman yang menyenangkan. Aku percaya di Jakarta masih banyak anak-anak yang tumbuh dengan pengalaman bersama ayam-ayamnya. Tapi kini, Pemda DKI telah mengeluarkan Peraturan Gubernur no. 05/2007 tanggal 17 Januari 2007 lalu. Ada delapan materi pokok di dalamnya mengenai aturan pemeliharaan unggas. Masyarakat diminta untuk meniadakan unggas peliharaan dengan cara dikonsumsi, dijual atau dimusnahkan. Unggas yang dilarang adalah itik, entog, angsa, burung dara, burung puyuh, dan&#8230;.. ayam. Menurut Guberbur KDKI Jakarta Sutiyoso, aturan ini dikeluarkan untuk mengatasi ancaman kesehatan penduduk Jakarta dari virus flu burung dan masyarakat diminta untuk mematuhi peraturan dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p>Aku membayangkan suatu hari nanti, anakku akan belajar tentang ayam hanya dari buku atau di Taman Margasatwa Ragunan. Ia tak boleh lagi menyentuh, memegang ataupun memelihara ayam. Hilanglah sudah pengalamannya tentang memelihara ayam, tepat pada saat ia belum tahu seperti apa rupa ayam itu. Mungkin nanti, sebutan ayam bahkan sudah tak ada lagi, karena ayam sudah lenyap dari muka bumi Jakarta. [RN,190107]</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakarta.blog.com/2007/01/19/dilarang-memelihara-unggas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8230;..Dan Pahlawanpun Menangis</title>
		<link>http://jakarta.blog.com/2006/11/10/dan-pahlawanpun-menangis/</link>
		<comments>http://jakarta.blog.com/2006/11/10/dan-pahlawanpun-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Nov 2006 01:09:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rini1557</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p><font face="Tahoma" size="2"><img style="WIDTH: 155px; HEIGHT: 232px" height="232" src="http://amadeo.blog.com/repository/12969/1388948.jpg" width="155" align="left" />&#160;Tanggal 28 Oktober 1945 di Surabaya berlangsung pertempuran yang sangat hebat, dan peristiwa ini dapat dikatakan adalah penyebab terjadinya&#160;pemboman atas kota Surabaya oleh Inggris pada 10 November 1945. Karena pemboman dan pertempuran ini,&#160;pada hari itu&#160;Inggris sebagai&#160;salah satu pemenang Perang Dunia II dipaksa mengibarkan Bendera Putih.&#160;Hal ini&#160;merupakan suatu kebanggaan bagi pejuang-pejuang di Surabaya,&#160;karena&#160;mengangkat perasaan bahwa rakyat Indonesia&#160;juga bisa menang&#160;atas kulit putih. Pemuda-pemuda yang berasal dari hampir&#160;seluruh suku-bangsa yang ada di Indonesia ikut dalam pertempuran 28&#160;Oktober 1945, kemudian juga setelah pemboman 10 Nopember. Pada waktu&#160;itu tidak dirasakan adanya perbedaan suku, agama, ras ataupun&#160;asal-usul seseorang. Seluruh rakyat berjuang mempertahankan&#160;kemerdekaan yang baru dua bulan diproklamirkan.</font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2">Apa artinya? Tanggal 10 November adalah hari dimana rakyat merasakan kebanggaannya berjuang mempertahankan kemerdekaan. Artinya, 10 November ini bukan saja milik suatu kaum tetapi milik rakyat Indonesia yang sejatinya juga dirasakan semangatnya oleh seluruh rakyat Indonesia. Jika kemudian tanggal 10 November dituduh sebagai hari pahlawan, tentunya bukan saja digunakan untuk memperingati perjuangan para pahlawan yang telah gugur tetapi juga memperingati semangat perjuangan rakyatnya saat itu. Setelah 61 tahun berlalu, semangat rakyat tersebut lantas berubah menjadi upacara bendera yang kurang makna. Saya tidak melihat adanya peringatan perjuangan rakyat tahun 1945 dulu. Yang ada saat ini hanyalah kamuflase bahwa kita mengingat jasa para pahlawan, tidak lebih dan tidak kurang.</font></p>
<font lang="SV" style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: ; mso-ansi-language: SV" face="Tahoma" xml:lang="SV">Hari ini tanggal 10 November. Dua hari lalu, kantorku menerima surat edaran dari Sekretaris Kementerian Negara BUMN No. S.649/S.MBU/2006 tanggal 8 Nopember 2006 atas <?xml:namespace prefix = u1 /?>
surat dari Menteri Sekretaris Negara No. B-569/M.Sesneg/10/2006 yang mewajibkan setiap Perusahaan untuk menyelenggarakan upacara peringatan Hari Pahlawan ke-61.&#160;Sehari sebelumnya, banyak teman-temanku mempertanyakan surat edaran tersebut. Tidak biasanya kantor kami menyelenggarakan upacara peringatan Hari Pahlawan dan sudah cukup lama juga kantor kami hanya menyelenggarakan upacara 17 Agustus setiap tahunnya. Itupun dengan partisipasi jumlah karyawan yang tidak terlalu banyak. <?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /?>
</font>
<p><font face="Tahoma" size="2">Di sepanjang jalan menuju kantor, suasana terlihat padat dan ramai. Jalan-jalan penuh dengan kendaraan bermotor yang terkena imbas para karyawan yang ingin bergegas sampai di kantor untuk mengikuti upacara. Pagi ini aku sedikit terburu-buru menuju ke kantor. Kebetulan kantorku letaknya persis di jalur utama arah orang-orang menuju ke lapangan parkir Barat tempat kegiatan upacara berlangsung. Jadi siapapun yang melewati jalur tersebut dan kebetulan terlambat hadir, pasti akan terlihat dari lokasi tempat upacara.</font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2">Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, pikiranku tidak bisa tenang. Esensi mengadakan upacara peringatan Hari Pahlawan ini benar-benar tidak dapat diterima oleh logika berpikirku.</font> <font face="Tahoma" size="2">Apakah kami melakukan upacara ini hanya sekedar karena kewajiban saja?</font> <font face="Tahoma" size="2">Beberapa temanku mengatakan bahwa kita harus memperingati jasa para pahlawan. Tetapi apakah benar begitu? Lima tahun lalu masih saja ada para pejuang yang belum mendapatkan hak-hak mereka sebagai veteran. Saya mengira, sampai tahun ini pun masih ada para pejuang yang belum diangkat sebagai veteran. Ironisnya, pagi tadi di televisi aku menyaksikan para veteran Siliwangi yang sedang berduka&#160; karena ada puluhan orang yang tidak jelas identitasnya masih melakukan pengosongan paksa&#160;rumah mereka. Seperti itukah cara kita menghargai para pahlawan?</font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2">Lebih lucu lagi jika kita memperingati tanggal 10 November sebagai hari untuk menghargai para pahlawan, lantas mengapa&#160;dulu Plaza Semanggi di kompleks Gedung Veteran RI diijinkan untuk dibangun? Sedang kita sama-sama mahfum bahwa&#160;Graha Purna Yudha adalah warisan sejati sebagai penghargaan bangsa Indonesia kepada Veteran RI. Sehingga tidak dapat diperjualbelikan dengan mengabaikan jasa-jasa veteran RI di seluruh Indonesia. Apakah karena mendapat restu dari Yayasan Legiun Veteran RI? Anehnya dalam prasasti tanda peresmian rehabilitasi gedung monumental Balai Sarbini di kawasan bisnis Graha Purna Yudha (Granadha), yang ditandatangani oleh Presiden RI tertulis bahwa "Bangunan bersejarah (?) ini merupakan simbol untuk menghargai jasa para Pejuang Kemerdekaan RI dan mewariskan semangat juang 1945".&#160; Saya tambah tidak mengerti.</font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2">Di koran KOMPAS pagi ini (10/11),&#160;beberapa komentar tentang upacara mengheningkan cipta satu menit dari para pengendara lalu lintas cukup menonjok pula. "Mengapa diadakan upacara mengheningkan cipta? Untuk siapa? Esensinya apa" dan komentar lainnya yang pada intinya mengolok-olok kegiatan tersebut. Beberapa dari mereka mengusulkan untuk mengadakan kegiatan lain karena mengganggap kegiatan mengheningkan cipta di jalan&#160;bukanlah suatu cara yang baik untuk menghargai para pahlawan. Bagi mereka lebih baik diadakan di tempat khusus, melakukan kegiatan jalan sehat, atau yang lainnya. Bagiku, lebih baik berkunjugn ke Panti Jompo, berkunjung ke rumah para veteran, atau melakukan renungan khusus. Tapi beginilah Jakarta. Sungguh suatu keanehan yang nyata terjadi dan para pahlawanpun menangis.&#160;[RN,101106].<br /></font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2"><br />
&#160;</font></p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><font face="Tahoma" size="2"><img style="WIDTH: 155px; HEIGHT: 232px" height="232" src="http://amadeo.blog.com/repository/12969/1388948.jpg" width="155" align="left" />&#160;Tanggal 28 Oktober 1945 di Surabaya berlangsung pertempuran yang sangat hebat, dan peristiwa ini dapat dikatakan adalah penyebab terjadinya&#160;pemboman atas kota Surabaya oleh Inggris pada 10 November 1945. Karena pemboman dan pertempuran ini,&#160;pada hari itu&#160;Inggris sebagai&#160;salah satu pemenang Perang Dunia II dipaksa mengibarkan Bendera Putih.&#160;Hal ini&#160;merupakan suatu kebanggaan bagi pejuang-pejuang di Surabaya,&#160;karena&#160;mengangkat perasaan bahwa rakyat Indonesia&#160;juga bisa menang&#160;atas kulit putih. Pemuda-pemuda yang berasal dari hampir&#160;seluruh suku-bangsa yang ada di Indonesia ikut dalam pertempuran 28&#160;Oktober 1945, kemudian juga setelah pemboman 10 Nopember. Pada waktu&#160;itu tidak dirasakan adanya perbedaan suku, agama, ras ataupun&#160;asal-usul seseorang. Seluruh rakyat berjuang mempertahankan&#160;kemerdekaan yang baru dua bulan diproklamirkan.</font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2">Apa artinya? Tanggal 10 November adalah hari dimana rakyat merasakan kebanggaannya berjuang mempertahankan kemerdekaan. Artinya, 10 November ini bukan saja milik suatu kaum tetapi milik rakyat Indonesia yang sejatinya juga dirasakan semangatnya oleh seluruh rakyat Indonesia. Jika kemudian tanggal 10 November dituduh sebagai hari pahlawan, tentunya bukan saja digunakan untuk memperingati perjuangan para pahlawan yang telah gugur tetapi juga memperingati semangat perjuangan rakyatnya saat itu. Setelah 61 tahun berlalu, semangat rakyat tersebut lantas berubah menjadi upacara bendera yang kurang makna. Saya tidak melihat adanya peringatan perjuangan rakyat tahun 1945 dulu. Yang ada saat ini hanyalah kamuflase bahwa kita mengingat jasa para pahlawan, tidak lebih dan tidak kurang.</font></p>
<p><font lang="SV" style="FONT-SIZE: 10pt; FONT-FAMILY: ; mso-ansi-language: SV" face="Tahoma" xml:lang="SV">Hari ini tanggal 10 November. Dua hari lalu, kantorku menerima surat edaran dari Sekretaris Kementerian Negara BUMN No. S.649/S.MBU/2006 tanggal 8 Nopember 2006 atas <?xml:namespace prefix = u1 /?><br />
surat dari Menteri Sekretaris Negara No. B-569/M.Sesneg/10/2006 yang mewajibkan setiap Perusahaan untuk menyelenggarakan upacara peringatan Hari Pahlawan ke-61.&#160;Sehari sebelumnya, banyak teman-temanku mempertanyakan surat edaran tersebut. Tidak biasanya kantor kami menyelenggarakan upacara peringatan Hari Pahlawan dan sudah cukup lama juga kantor kami hanya menyelenggarakan upacara 17 Agustus setiap tahunnya. Itupun dengan partisipasi jumlah karyawan yang tidak terlalu banyak. <?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /?><br />
</font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2">Di sepanjang jalan menuju kantor, suasana terlihat padat dan ramai. Jalan-jalan penuh dengan kendaraan bermotor yang terkena imbas para karyawan yang ingin bergegas sampai di kantor untuk mengikuti upacara. Pagi ini aku sedikit terburu-buru menuju ke kantor. Kebetulan kantorku letaknya persis di jalur utama arah orang-orang menuju ke lapangan parkir Barat tempat kegiatan upacara berlangsung. Jadi siapapun yang melewati jalur tersebut dan kebetulan terlambat hadir, pasti akan terlihat dari lokasi tempat upacara.</font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2">Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, pikiranku tidak bisa tenang. Esensi mengadakan upacara peringatan Hari Pahlawan ini benar-benar tidak dapat diterima oleh logika berpikirku.</font> <font face="Tahoma" size="2">Apakah kami melakukan upacara ini hanya sekedar karena kewajiban saja?</font> <font face="Tahoma" size="2">Beberapa temanku mengatakan bahwa kita harus memperingati jasa para pahlawan. Tetapi apakah benar begitu? Lima tahun lalu masih saja ada para pejuang yang belum mendapatkan hak-hak mereka sebagai veteran. Saya mengira, sampai tahun ini pun masih ada para pejuang yang belum diangkat sebagai veteran. Ironisnya, pagi tadi di televisi aku menyaksikan para veteran Siliwangi yang sedang berduka&#160; karena ada puluhan orang yang tidak jelas identitasnya masih melakukan pengosongan paksa&#160;rumah mereka. Seperti itukah cara kita menghargai para pahlawan?</font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2">Lebih lucu lagi jika kita memperingati tanggal 10 November sebagai hari untuk menghargai para pahlawan, lantas mengapa&#160;dulu Plaza Semanggi di kompleks Gedung Veteran RI diijinkan untuk dibangun? Sedang kita sama-sama mahfum bahwa&#160;Graha Purna Yudha adalah warisan sejati sebagai penghargaan bangsa Indonesia kepada Veteran RI. Sehingga tidak dapat diperjualbelikan dengan mengabaikan jasa-jasa veteran RI di seluruh Indonesia. Apakah karena mendapat restu dari Yayasan Legiun Veteran RI? Anehnya dalam prasasti tanda peresmian rehabilitasi gedung monumental Balai Sarbini di kawasan bisnis Graha Purna Yudha (Granadha), yang ditandatangani oleh Presiden RI tertulis bahwa &#8220;Bangunan bersejarah (?) ini merupakan simbol untuk menghargai jasa para Pejuang Kemerdekaan RI dan mewariskan semangat juang 1945&#8243;.&#160; Saya tambah tidak mengerti.</font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2">Di koran KOMPAS pagi ini (10/11),&#160;beberapa komentar tentang upacara mengheningkan cipta satu menit dari para pengendara lalu lintas cukup menonjok pula. &#8220;Mengapa diadakan upacara mengheningkan cipta? Untuk siapa? Esensinya apa&#8221; dan komentar lainnya yang pada intinya mengolok-olok kegiatan tersebut. Beberapa dari mereka mengusulkan untuk mengadakan kegiatan lain karena mengganggap kegiatan mengheningkan cipta di jalan&#160;bukanlah suatu cara yang baik untuk menghargai para pahlawan. Bagi mereka lebih baik diadakan di tempat khusus, melakukan kegiatan jalan sehat, atau yang lainnya. Bagiku, lebih baik berkunjugn ke Panti Jompo, berkunjung ke rumah para veteran, atau melakukan renungan khusus. Tapi beginilah Jakarta. Sungguh suatu keanehan yang nyata terjadi dan para pahlawanpun menangis.&#160;[RN,101106].<br /></font></p>
<p><font face="Tahoma" size="2"><br />
&#160;</font></p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakarta.blog.com/2006/11/10/dan-pahlawanpun-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bercocok Tanam, Mengenal Tanaman</title>
		<link>http://jakarta.blog.com/2006/10/06/bercocok-tanam-mengenal-tanaman/</link>
		<comments>http://jakarta.blog.com/2006/10/06/bercocok-tanam-mengenal-tanaman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Oct 2006 05:07:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rini1557</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[JAKARTA]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p>"Eh, ini namanya apa?" kata seorang ibu dua anak yang tinggal di Jakarta, tatkala kami sedang mengikuti acara Tour de Kampong yang diselenggarakan oleh sebuah hotel di kawasan Anyer.</p>
<p>"Itu namanya jantung pisang," kataku, sambil menunjukkan bagian-bagian jantung pisang tersebut. "Jantung pisang biasanya dipotong-potong dan dijadikan sayur.&#160;Disetiap helainya terdapat calon pisang satu sisir. Secara keseluruhan, jantung pisang ini bisa berkembang dan menjadi satu tandan pisang," jelasku.</p>
<p>"Wah, bagus sekali yaaa.... boleh nggak saya bawa pulang?&#160;Kebetulan anak-anakku belum pernah melihat jantung pisang seperti ini", katanya.</p>
<p>Belum pernah? Kataku dalam hati. Aku mengenal tanaman pisang (Musa indica sp) sejak aku&#160;dapat membedakan nama-nama tanaman. Beruntungnya aku karena&#160;adik ibuku&#160;mengoleksi beraneka ragam tanaman pisang di kebun samping rumahnya. Saat itu aku begitu mengagumi tanteku karena beliau sanggup membedakan spesies tanaman pisang yang satu dengan spesies tanaman pisang yang lain.</p>
<p>Aku memang cukup beruntung. Tatkala aku kecil, ayah mengajari aku dan adik-adikku cara&#160;menanam berbagai tanaman di halaman rumah.&#160; Kami sering bepergian ke kios&#160;Pertani untuk sekedar membeli bibit tanaman dan menanamnya di pot atau langsung di halaman. Ide awalnya adalah untuk memperkenalkan aku dengan berbagai bibit dan tanaman. Jadilah aku dan adik-adikku menanam aneka tanaman apotik hidup, tomat, cabe, terung, pare, dan lain-lain.&#160; Para tetangga di sekitar rumah kamipun banyak menanam tanaman, seperti singkong, ubi jalar, dan tanaman buah lainnya seperti pepaya, jambu, jeruk, sawo, mangga, dan lainnya.&#160; Aku menikmati saat-saat&#160;memetik langsung tomat, pepaya atau cabe langsung dari tanamannya.</p>
<p>Saat ini di Jakarta sudah tidak banyak anak-anak muda yang mengenal tanaman pekarangan. Mungkin karena di halaman rumah mereka tidak ada tanah tersisa untuk ditanami, atau malahan tidak memiliki pekarangan sama sekali. Halaman rumahku sendiri tidak begitu luas tetapi banyak sekali tanaman ditanam disana. Tanaman buah-buahan seperti jambu dan&#160;belimbing; tanaman obat seperti lengkuas, jahe, salam, dan kunyit; belum lagi tanaman taman seperti anthurium sp, adenia sp, lili paris, tricolor sp dan lainnya. Malah ada banyak sekali tanaman yang aku juga belum tahu namanya. Suatu hari nanti aku bertekad untuk&#160;memberi label pada semua tanaman yang ada di rumahku.</p>
<p>Sulitnya menanam tanaman pekarangan karena tidak memiliki halaman untuk menanam, saat ini dapat disiasati dengan menanam tanaman dalam pot. Beberapa&#160;tetanggaku saat ini sedang asyik menanam tanaman dalam pot. Entah mereka berburu dari mana tanamannya, tetapi aku begitu menikmati hijaunya pemandangan yang ada disana, meskipun seluruhnya terdiri dari tanaman pot.</p>
<p>Kebiasaan menanam itu ternyata juga menulari Ida, pembantuku. Setiap kali aku sibuk menternakkan Anthurium, ia melihatku dan banyak sekali bertanya tentang proses menanam, kenapa perlu dirabuki, dan berapa kali harus disiram. Aku mengajarinya menanam beberapa bibit tanaman dan mengajaknya melihat bibit yang ditebarkannya di tanah. Sampai suatu hari ...</p>
<p>"Mbak, ini bijinya bisa ditanam, nggak?" katanya suatu pagi tatkala ia sibuk menyiangi pare yang masih muda. Aku menyempatkan diri menengok keadaan biji-biji pare yang dikumpulkannya.</p>
<p>"Ini yang putih nggak bisa ditanam, Da"</p>
<p>"Kenapa?"</p>
<p>"Biji yang masih muda belum bisa dijadikan bibit untuk ditanam. Kamu harus memilih pare yang kuning dan sudah tua. Bijinya bisa diambil lalu ditanam", kataku lagi, menjelaskan, sambil mencari kalau-kalau ada bibit yang sudah coklat dan bisa dijadikan percobaan bagi Ida untuk menanam. Tapi ternyata tidak banyak biji yang cukup tua untuk ditanam. Rasanya besok aku akan pergi ke Pertani untuk mencari bibit pare, agar Ida punya pengalaman menanam pare.</p>
<p>Di Jakarta ini ada banyak sekali Ida-Ida yang lain yang juga tidak memiliki pengalaman&#160;untuk menanam. Entah karena tidak tertarik, ataukah karena ada kesulitan untuk mendapatkan tanaman, media tanam, dan tempat untuk menanamnya. Aku teringat pada seseorang&#160;yang lahir di desa. Ia begitu beruntung mengenal berbagai macam tanaman dan tahu dengan pasti bagaimana memperlakukan tanaman. Ia pula tempatku belajar tentang tanaman. Paling tidak, aku punya keinginan untuk belajar dan melestarikan tanaman semampuku. Aku tidak bisa membayangkan apabila suatu&#160;hari anakku terkesima melihat pohon pisang di sebuah buku, hanya karena saat itu ia tidak pernah melihatnya lagi&#160;&#160;tumbuh di lingkungan sekitar rumahnya. Mari kita biasakan menanam tanaman di pekarangan rumah kita sebagai media pembelajaran bagi anak-anak kita. [RN, 061006]</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>&#8220;Eh, ini namanya apa?&#8221; kata seorang ibu dua anak yang tinggal di Jakarta, tatkala kami sedang mengikuti acara Tour de Kampong yang diselenggarakan oleh sebuah hotel di kawasan Anyer.</p>
<p>&#8220;Itu namanya jantung pisang,&#8221; kataku, sambil menunjukkan bagian-bagian jantung pisang tersebut. &#8220;Jantung pisang biasanya dipotong-potong dan dijadikan sayur.&#160;Disetiap helainya terdapat calon pisang satu sisir. Secara keseluruhan, jantung pisang ini bisa berkembang dan menjadi satu tandan pisang,&#8221; jelasku.</p>
<p>&#8220;Wah, bagus sekali yaaa&#8230;. boleh nggak saya bawa pulang?&#160;Kebetulan anak-anakku belum pernah melihat jantung pisang seperti ini&#8221;, katanya.</p>
<p>Belum pernah? Kataku dalam hati. Aku mengenal tanaman pisang (Musa indica sp) sejak aku&#160;dapat membedakan nama-nama tanaman. Beruntungnya aku karena&#160;adik ibuku&#160;mengoleksi beraneka ragam tanaman pisang di kebun samping rumahnya. Saat itu aku begitu mengagumi tanteku karena beliau sanggup membedakan spesies tanaman pisang yang satu dengan spesies tanaman pisang yang lain.</p>
<p>Aku memang cukup beruntung. Tatkala aku kecil, ayah mengajari aku dan adik-adikku cara&#160;menanam berbagai tanaman di halaman rumah.&#160; Kami sering bepergian ke kios&#160;Pertani untuk sekedar membeli bibit tanaman dan menanamnya di pot atau langsung di halaman. Ide awalnya adalah untuk memperkenalkan aku dengan berbagai bibit dan tanaman. Jadilah aku dan adik-adikku menanam aneka tanaman apotik hidup, tomat, cabe, terung, pare, dan lain-lain.&#160; Para tetangga di sekitar rumah kamipun banyak menanam tanaman, seperti singkong, ubi jalar, dan tanaman buah lainnya seperti pepaya, jambu, jeruk, sawo, mangga, dan lainnya.&#160; Aku menikmati saat-saat&#160;memetik langsung tomat, pepaya atau cabe langsung dari tanamannya.</p>
<p>Saat ini di Jakarta sudah tidak banyak anak-anak muda yang mengenal tanaman pekarangan. Mungkin karena di halaman rumah mereka tidak ada tanah tersisa untuk ditanami, atau malahan tidak memiliki pekarangan sama sekali. Halaman rumahku sendiri tidak begitu luas tetapi banyak sekali tanaman ditanam disana. Tanaman buah-buahan seperti jambu dan&#160;belimbing; tanaman obat seperti lengkuas, jahe, salam, dan kunyit; belum lagi tanaman taman seperti anthurium sp, adenia sp, lili paris, tricolor sp dan lainnya. Malah ada banyak sekali tanaman yang aku juga belum tahu namanya. Suatu hari nanti aku bertekad untuk&#160;memberi label pada semua tanaman yang ada di rumahku.</p>
<p>Sulitnya menanam tanaman pekarangan karena tidak memiliki halaman untuk menanam, saat ini dapat disiasati dengan menanam tanaman dalam pot. Beberapa&#160;tetanggaku saat ini sedang asyik menanam tanaman dalam pot. Entah mereka berburu dari mana tanamannya, tetapi aku begitu menikmati hijaunya pemandangan yang ada disana, meskipun seluruhnya terdiri dari tanaman pot.</p>
<p>Kebiasaan menanam itu ternyata juga menulari Ida, pembantuku. Setiap kali aku sibuk menternakkan Anthurium, ia melihatku dan banyak sekali bertanya tentang proses menanam, kenapa perlu dirabuki, dan berapa kali harus disiram. Aku mengajarinya menanam beberapa bibit tanaman dan mengajaknya melihat bibit yang ditebarkannya di tanah. Sampai suatu hari &#8230;</p>
<p>&#8220;Mbak, ini bijinya bisa ditanam, nggak?&#8221; katanya suatu pagi tatkala ia sibuk menyiangi pare yang masih muda. Aku menyempatkan diri menengok keadaan biji-biji pare yang dikumpulkannya.</p>
<p>&#8220;Ini yang putih nggak bisa ditanam, Da&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biji yang masih muda belum bisa dijadikan bibit untuk ditanam. Kamu harus memilih pare yang kuning dan sudah tua. Bijinya bisa diambil lalu ditanam&#8221;, kataku lagi, menjelaskan, sambil mencari kalau-kalau ada bibit yang sudah coklat dan bisa dijadikan percobaan bagi Ida untuk menanam. Tapi ternyata tidak banyak biji yang cukup tua untuk ditanam. Rasanya besok aku akan pergi ke Pertani untuk mencari bibit pare, agar Ida punya pengalaman menanam pare.</p>
<p>Di Jakarta ini ada banyak sekali Ida-Ida yang lain yang juga tidak memiliki pengalaman&#160;untuk menanam. Entah karena tidak tertarik, ataukah karena ada kesulitan untuk mendapatkan tanaman, media tanam, dan tempat untuk menanamnya. Aku teringat pada seseorang&#160;yang lahir di desa. Ia begitu beruntung mengenal berbagai macam tanaman dan tahu dengan pasti bagaimana memperlakukan tanaman. Ia pula tempatku belajar tentang tanaman. Paling tidak, aku punya keinginan untuk belajar dan melestarikan tanaman semampuku. Aku tidak bisa membayangkan apabila suatu&#160;hari anakku terkesima melihat pohon pisang di sebuah buku, hanya karena saat itu ia tidak pernah melihatnya lagi&#160;&#160;tumbuh di lingkungan sekitar rumahnya. Mari kita biasakan menanam tanaman di pekarangan rumah kita sebagai media pembelajaran bagi anak-anak kita. [RN, 061006]</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakarta.blog.com/2006/10/06/bercocok-tanam-mengenal-tanaman/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kebetulan, atau sudah ditentukan?</title>
		<link>http://jakarta.blog.com/2006/07/10/kebetulan-atau-sudah-ditentukan/</link>
		<comments>http://jakarta.blog.com/2006/07/10/kebetulan-atau-sudah-ditentukan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jul 2006 10:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rini1557</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006"><em>Seorang perempuan muda membuang kulit pisangnya sembarangan. Tidak jauh dari tempat ia membuang kulit pisangnya, ia terpeleset oleh sebuah kulit pisang, tasnya terlempar darinya dan hinggap di sebuah skate board yang begitu saja muncul. Ia lantas mengejarnya dan akhirnya bertemu dengan seorang laki-laki yang disukainya.</em></font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">***</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Betul. Cerita diatas adalah sebuah klip iklan deodorant di televisi. Bukan iklannya yang akan saya bahas kali ini, tetapi, dari cerita ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nasib kita memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Nasib, takdir, dan kata-kata sejenisnya yang artinya kurang lebih sama, adalah suratan garis yang telah ada dari sejak kita dilahirkan di dunia ini. Suratan yang sama yang kita pilih sepanjang hidup kita. Pilihan yang sudah ditentukan.</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Berlawanan dengan hal itu, kita tentu mendengar sebuah kata lain yang bisa jadi adalah kebalikan dari kata nasib, suratan, atau takdir itu. Nama katanya adalah "Kebetulan". Kebetulan dipercaya oleh banyak orang sebagai hal yang tidak ada kaitannya dengan nasib. Tidak untukku, kebetulan tetap saja bagiku merupakan bagian dari nasib,&#160; meskipun terkadang kata ini menjadi sebuah bonus yang menyenangkan.</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Berkaitan dengan kata kebetulan, banyak sekali hal kebetulan yang pernah aku alami.</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Di suatu hari yang panas terik, aku bepergian dengan beberapa orang teman untuk mengunjungi seorang kawan dalam rangka bersilaturahmi usai hari raya Idul Fitri. Di terminal Depok yang penuh sesak dengan manusia, aku harus berjuang untuk dapat keluar dari terminal tersebut. Pada saat berdesakan itulah, aku berkata kepada teman di depanku, <em>"wah, kalo desek-desekan gini paling enak dengerin kasetnya Opick yang judulnya astagfirullah, biar orang-orang nggak saling dorong mendorong",</em> kataku. Tiba-tiba saja, toko kaset di depanku memutar lagu Opick dan "kebetulan" lagu yang diputarnya adalah lagu Opick dengan judul yang kuinginkan. <em>"Nah, lo",</em> kata temanku sambil tertawa<em>,"Makanya hati-hati ngomong, Bu!"</em> ujarnya. Aku lantas terdiam sambil berpikir apa makna dari keanehan ini.</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Pada episode lain di kehidupanku, lagi-lagi sang "Kebetulan" berbenturan lagi denganku. Ceritanya, aku sedang fotokopi beberapa lembar dokumen di sebuah tempat fotokopi di depan kantorku. Ketika akan membayar, aku bingung akan mengeluarkan uang pas atau uang pecahan besar agar mendapat kembalian. Aku memilih yang kedua. Aku keluarkan uangku Rp.50,000, dan lantas mendapatkan kembalian sebesar Rp. 22,000. Uang itu aku pegang dan entah kenapa aku tidak mengembalikannya ke dalam dompetku. Dari tempat fotokopi, aku melewati tukang&#160;martabak yang sedang menggoreng dengan bau yang sungguh menggoda lidah dan air liurku. Segera saja aku mampir dan membeli satu buah martabak spesial dengan telur bebek 4 buah. Tatkala aku melihat daftar harganya, aku&#160;tertawa. Betapa tidak, harga martabak itu sama persis dengan jumlah uang yang sejak tadi aku genggam. Rp. 22,000!</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Terkadang, sepulangnya aku dari kantor, tukang bakso dan tukang bubur yang mangkal di depan kantorku seringkali menyapaku. Mereka memintaku mampir dan membeli dagangannya. Suatu kali,&#160; entah mengapa aku ingin sekali membeli bubur sukabumi. Aku ingin saja membelinya tanpa tahu kenapa aku ingin membelinya. Lantas aku beli satu porsi untuk aku bawa pulang. Sesampainya di rumah, aku serahkan bungkusan bubur itu kepada ibuku. Beliau segera saja membukanya dan tertawa, <em>"Aku tadi hampir telepon kamu, mau minta dibelikan bubur ini."</em> katanya. Kebetulankah?</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Kebetulan-kebetulan yang aku alami, aku percayai sebagai suatu hal yang bukan hanya kebetulan, tetapi memang sudah ditentukan. Kadangkala, ditengah kepenatan kita menjalani aktivitas sehari-hari, kita terlupa untuk mendengarkan diri kita, mendengarkan hati kita sendiri. Karena sesungguhnya segala kebetulan yang kita alami itu adalah suatu cara untuk membangunkan diri kita untuk terus mendengarkan kata hati kita. [RN,100706].</font></font></div>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006"><em>Seorang perempuan muda membuang kulit pisangnya sembarangan. Tidak jauh dari tempat ia membuang kulit pisangnya, ia terpeleset oleh sebuah kulit pisang, tasnya terlempar darinya dan hinggap di sebuah skate board yang begitu saja muncul. Ia lantas mengejarnya dan akhirnya bertemu dengan seorang laki-laki yang disukainya.</em></font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">***</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Betul. Cerita diatas adalah sebuah klip iklan deodorant di televisi. Bukan iklannya yang akan saya bahas kali ini, tetapi, dari cerita ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nasib kita memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Nasib, takdir, dan kata-kata sejenisnya yang artinya kurang lebih sama, adalah suratan garis yang telah ada dari sejak kita dilahirkan di dunia ini. Suratan yang sama yang kita pilih sepanjang hidup kita. Pilihan yang sudah ditentukan.</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Berlawanan dengan hal itu, kita tentu mendengar sebuah kata lain yang bisa jadi adalah kebalikan dari kata nasib, suratan, atau takdir itu. Nama katanya adalah &#8220;Kebetulan&#8221;. Kebetulan dipercaya oleh banyak orang sebagai hal yang tidak ada kaitannya dengan nasib. Tidak untukku, kebetulan tetap saja bagiku merupakan bagian dari nasib,&#160; meskipun terkadang kata ini menjadi sebuah bonus yang menyenangkan.</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Berkaitan dengan kata kebetulan, banyak sekali hal kebetulan yang pernah aku alami.</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Di suatu hari yang panas terik, aku bepergian dengan beberapa orang teman untuk mengunjungi seorang kawan dalam rangka bersilaturahmi usai hari raya Idul Fitri. Di terminal Depok yang penuh sesak dengan manusia, aku harus berjuang untuk dapat keluar dari terminal tersebut. Pada saat berdesakan itulah, aku berkata kepada teman di depanku, <em>&#8220;wah, kalo desek-desekan gini paling enak dengerin kasetnya Opick yang judulnya astagfirullah, biar orang-orang nggak saling dorong mendorong&#8221;,</em> kataku. Tiba-tiba saja, toko kaset di depanku memutar lagu Opick dan &#8220;kebetulan&#8221; lagu yang diputarnya adalah lagu Opick dengan judul yang kuinginkan. <em>&#8220;Nah, lo&#8221;,</em> kata temanku sambil tertawa<em>,&#8221;Makanya hati-hati ngomong, Bu!&#8221;</em> ujarnya. Aku lantas terdiam sambil berpikir apa makna dari keanehan ini.</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Pada episode lain di kehidupanku, lagi-lagi sang &#8220;Kebetulan&#8221; berbenturan lagi denganku. Ceritanya, aku sedang fotokopi beberapa lembar dokumen di sebuah tempat fotokopi di depan kantorku. Ketika akan membayar, aku bingung akan mengeluarkan uang pas atau uang pecahan besar agar mendapat kembalian. Aku memilih yang kedua. Aku keluarkan uangku Rp.50,000, dan lantas mendapatkan kembalian sebesar Rp. 22,000. Uang itu aku pegang dan entah kenapa aku tidak mengembalikannya ke dalam dompetku. Dari tempat fotokopi, aku melewati tukang&#160;martabak yang sedang menggoreng dengan bau yang sungguh menggoda lidah dan air liurku. Segera saja aku mampir dan membeli satu buah martabak spesial dengan telur bebek 4 buah. Tatkala aku melihat daftar harganya, aku&#160;tertawa. Betapa tidak, harga martabak itu sama persis dengan jumlah uang yang sejak tadi aku genggam. Rp. 22,000!</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Terkadang, sepulangnya aku dari kantor, tukang bakso dan tukang bubur yang mangkal di depan kantorku seringkali menyapaku. Mereka memintaku mampir dan membeli dagangannya. Suatu kali,&#160; entah mengapa aku ingin sekali membeli bubur sukabumi. Aku ingin saja membelinya tanpa tahu kenapa aku ingin membelinya. Lantas aku beli satu porsi untuk aku bawa pulang. Sesampainya di rumah, aku serahkan bungkusan bubur itu kepada ibuku. Beliau segera saja membukanya dan tertawa, <em>&#8220;Aku tadi hampir telepon kamu, mau minta dibelikan bubur ini.&#8221;</em> katanya. Kebetulankah?</font></font></div>
<div>&#160;</div>
<div><font face="Arial" size="2"><font class="655571608-10072006">Kebetulan-kebetulan yang aku alami, aku percayai sebagai suatu hal yang bukan hanya kebetulan, tetapi memang sudah ditentukan. Kadangkala, ditengah kepenatan kita menjalani aktivitas sehari-hari, kita terlupa untuk mendengarkan diri kita, mendengarkan hati kita sendiri. Karena sesungguhnya segala kebetulan yang kita alami itu adalah suatu cara untuk membangunkan diri kita untuk terus mendengarkan kata hati kita. [RN,100706].</font></font></div>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakarta.blog.com/2006/07/10/kebetulan-atau-sudah-ditentukan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
