Thursday, June 8, 2006

Teras Nyaman di Kota Jakarta

Kali ini aku mendapat kesempatan untuk makan siang di sebuah restoran di Selatan Jakarta. Nama restorannya adalah Courtyard Terrace : Simply Chinese. Letaknya di Plaza Senayan, tidak jauh dari kantor klienku. Hari itu, beberapa klienku mengajak aku dan rekan kerjaku untuk sebuah lunch meeting, sebuah pertemuan sambil makan siang.

Dari tampak luar, restoran ini tidak terlalu menarik pengunjung untuk datang, tetapi ketika pertama kali aku melangkahkan kakiku didalamnya, suasana nyaman dan menyenangkan segera terasa. Restoran berkonsep resto masakan Cina modern minimalis dengan dominasi warna hitam, emas dan marun, yang menciptakan atmosfer yang elegan namun santai. Pelayan-pelayan restoran ini dengan sigap dan penuh senyum mengembang mencarikan kami tempat duduk.

 

Sambil mengobrol, aku begitu menikmati suasana di restoran ini. Hey, di pelataran Plaza Senayan ada musical fountain! Aku pasti sudah lama sekali tidak berkunjung ke Plaza Senayan ini bahkan mungkin terakhir kali sewaktu aku dan teman-teman berpartisipasi di acara futsal yang digelar oleh CWS beberapa waktu lalu. Waktu itu 
 musical fountainnya belum ada. Pintar sekali desainer air mancur menari ini, pikirku, karena tidak diperlukan kolam besar dan desainnya begitu sederhana dan minimalis. Cocok sekali keberadaan restoran yang minimalis ini dengan pemandangan seperti ini melalui kaca-kacanya yang lebar.

“Bapak pasti sering makan disini, ya?” ujarku membuka pembicaraan. “Apa menu favorit Bapak disini?”

“Wah disini banyak sekali makanan yang enak dan pasti halalnya, karena mereka tidak menyediakan daging babi. Kalau makan siang disini pasti penuh sekali,” jawabnya. “Cobalah tumis buncis muda tabur daging, itu kesukaan istri saya, lalu udang goreng tabur wijen saus mayonaise yang ini lezat sekali,” katanya lagi seraya menunjuk beberapa gambar di buku menu.

Jadilah kami memesan tumis buncis muda tabur daging, udang goreng tabur wijen saus mayonaise, ikan malas saus sze zuan, ayam goreng hainan, dan ifu mie. Untuk minumannya aku pilih jus strawberry yang kelihatannya begitu menggoda air liurku. Belum lama kami berbincang-bincang, pesananpun datang.

“Ifu mienya boleh minta tolong dibagi lima langsung, Mbak,” kata seorang klienku. Wow, pikirku. Aku belum pernah punya pikiran seperti itu tatkala makan di sebuah restoran. Alih-alih menolak, sang pelayan malahan dengan sigap menyiapkan sebuah meja untuk membagi ifu mie kami menjadi lima porsi lalu dituangnya ke dalam lima buah mangkok kecil. Bukan hanya itu saja, karena kami akhirnya juga meminta ikan malas pesanan kami untuk juga dibagi lima, demi kesopanan menyantap hidangan dan juga (mungkin) demi mencegah kami saling berebut makanan. Kadangkala, makan bersama klien memang tidak sespontan cara makanku bersama teman-teman ataupun bersama keluarga. Setiap kelompok makan pasti punya aturannya tersendiri.

Tidak lama kemudian nasipun datang. Kebetulan aku sedang tidak makan nasi di siang hari, sehingga tiga mangkuk nasi yang sudah dipesan lalu dibagikan bukan untukku. Dua orang klienku lantas membagi nasi di sebuah mangkok menjadi dua bagian. Kata mereka, makan siang tidak boleh terlalu banyak karbohidrat, dan itu berarti tidak boleh terlalu banyak makan nasi. Tetapi pada saat menyendok nasinya, seorang klienku menemukan selembar rambut diantara nasinya.

“Minta tukar saja,” kataku.

Semangkok nasi baru segera datang disertai ucapan maaf dari sang pelayan. Kami tidak terlalu mempermasalahkan sang nasi dan rambutnya lagi, karena terlalu lapar dan toh kami sudah mendapatkan semangkok nasi yang baru.

Makanan di restoran ini benar-benar lezat dan diramu dengan begitu professional. Chefnya didatangkan khusus dari Kuangtung, Cina.  Master Chef Yim Ying Tat, namanya, menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang Chinese culinary di Hongkong.  No wonder kalau rasa masakannya begitu berbeda.

Begitu kami selesai makan, seorang pelayan datang. “Mbak, karena tadi nasinya ada rambutnya, kami akan memberikan hidangan penutup sebagai complimentary.” ujarnya.  Aku pun bertambah bingung karena segera setelah itu beberapa pelayan membersihkan meja kami dan meletakkan lima piring kecil lengkap dengan garpu untuk menyantap hidangan penutup, yaitu sebuah pancake isi kacang merah tabur wijen hangat berukuran sedang yang baru saja matang. Hidangan ini terlihat yummy sekali dan benar saja, rasanya begitu lezat. Kalau aku tidak sedang diet dan bukan sedang makan siang bersama klienku, mungkin saja aku sudah kalap dan menyantap sebanyak-banyaknya. 

Tidak biasanya sebuah restoran di Jakarta atau juga di Indonesia memberikan pelayanan yang begitu prima. Restoran ini tidak begitu mahal dan sungguh sangat terjangkau, tetapi pelayanan di restoran ini patut diacungi jempol. Bos PT Panen Boga Lestari yang juga pengelola jaringan restoran Courtyard, Chatter Box,
Spice Garden, dan Sogo Bakery, Anthony Cottan patut tersenyum bangga kepada para pelayannya. [RN,080606] 

Posted by rini1557 at 02:50:02 | Permalink | No Comments »

Wednesday, March 8, 2006

Jenguki Sahabat dari Rusia

Hari Selasa lalu (070306) aku menjenguk Aya, salah seorang relawan KKS Melati, di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan. Ia baru saja selesai menjalani operasi usus buntunya pada pagi hari sebelumnya. Ia masih tampak pucat namun sudah banyak tersenyum.

Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan adalah Rumah Sakit Kelas B berada di Wilayah Jakarta Timur. Sesampainya di rumah sakit itu, aku merasakan suasana rumah sakit yang berbeda dengan suasana rumah sakit pada umumnya. “Tempat ini seperti sel tahanan”, komentarku pada Liz dan Dessy yang turut menjenguk Aya, segera setelah memasuki gedung rumah sakit. Persis seperti gedung tua pada umumnya, bangunan rumah sakit ini dilengkapi dengan elevator yang sudah pasti sangat keren pada jamannya yang membuatku teringat pada film-film James Bond di negeri Rusia sana. Dinding tinggi dengan ventilasi udara, sedangkan jendelanya sederhana saja.

Tidak jauh dari pintu masuk, aku melihat sebuah prasasti tertempel di dinding rumah sakit itu. ternyata RSUP Persahabatan adalah rumah sakit perwujudan persahabatan Indonesia dan Uni Sovyet.  Rumah sakit ini merupakan sumbangan dari Pemerintah Uni Soviet (Rusia) kepada Pemerintah Republik Indonesia.  Gedungnya mulai dibangun tahun 1961 dengan luas tanah sekitar 15 ha, saat ini konon luasnya tinggal 13,5 ha.  Rumah sakit ini diserahkan resmi kepada Pemerintah Indonesia pada tanggal 7 November 1963.  Sejak itu, secara Administratif RSUP Persahabatan merupakan Rumah Sakit Vertikal dibawah Depkes RI Cq. Dit. Jend. Pelayanan Medik, Operasionalnya merupakan satelit RSUPN CM berlangsung sampai tahun 1975. Dari tahun 1975 RSUP Persahabatan berubah menjadi RS Mandiri langsung dibawah Depkes RI menjadi RS Rujukan Nasional untuk Penyakit Paru.

Tidak banyak sisa persahabatan Indonesia dan Uni Sovyet yang tertinggal di kota Jakarta ini. Salah satu bangunan lainnya adalah Patung Pahlawan.

Patung Pahlawan atau yang biasa kita kenal dengan Tugu Tani, letaknya di segitiga Menteng, Jakarta Pusat. Patung ini dibuat oleh dua orang bangsa Rusia, yaitu Matvei Manizer dan Otto Manizer, yang diberikan sebagai hadiah kepada Pemerintah Republik Indonesia.  Baik Matvei maupun Otto belum pernah ke Indonesia sebelumnya dan mereka mengadakan survey ke beberapa daerah di Indonesia sekedar untuk mencari inspirasi tentang bentuk patung yang memiliki sentuhan Indonesia. Pada sebuah desa di Jawa Barat, keduanya menemukan sebuah dongeng rakyat mengenai seorang ibu yang mengantarkan anak laki-lakinya berangkat ke medan perang. Untuk mendorong keberanian sang anak serta tekad memenangkan perjuangan, maka sang ibu memberikan bekal nasi kepada anaknya. Ide inilah yang kemudian diambil oleh Manizer bersaudara.

Patung Pahlawan yang terbuat dari bahan perunggu ini dibuat untuk menggambarkan perjuangan Bangsa Indonesia. Pada saat itu Bung Karno ingin merayakan perjuangan Bangsa Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari belenggu penjajahan Belanda.  Patung ini digambarkan dalam dua bentuk orang, yakni pria dan wanita. Sang Pria digambarkan sebagai tipe seorang petani menyandang bedil, sedangkan sang wanitanya digambarkan berupa tipe seorang ibu yang sedang memberikan bekal kepada sang pria. Bung Karno meresmikannya pada tahun 1963 dengan menempelkan plakat yang berbunyi, “Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah Bangsa yang besar”.

Sayangnya tidak banyak orang yang peduli dengan kehadiran bukti-bukti peninggalan sejarah semacam ini. Tidak banyak pula penduduk Jakarta yang tahu siapa pembuat patung-patung yang bertebaran di Jakarta ini. Mungkin pula karena letak patungnya di tengah-tengah taman sehingga tidak memungkinkan siapapun mendekati patung tersebut, sekedar untuk melihat tulisan pada tugu patung tersebut. Apalagi untuk menemukan apakah nama sang pematung memang ada tertulis di kaki patung itu? Aku pernah menemani seorang tamu asing berkeliling Indonesia. Ia mengagumi patung-patung di Jakarta dan begitu antusiasnya ia membandingkan patung-patung di negaranya dengan yang ada di Jakarta. Tapi ia kecewa karena aku tidak banyak tahu soal para pematungnya. Di negaranya, pada setiap kaki patung ditulisi nama pematungnya, karena mereka begitu menghargai karya seni para pematung. Berbeda dengan di Indonesia, apalagi di Jakarta. Siapa yang mau peduli? [RN,080306].

Sumber data tentang Patung Pahlawan : Anonim. Monumen dan Patung di Jakarta. Dinas Museum dan Pemugaran Propinsi DKI Jakarta. 1999/2000.

 

Posted by rini1557 at 12:12:43 | Permalink | No Comments »

Wednesday, November 23, 2005

Terminal Idaman

Entah mengapa hari itu aku tiba lebih dulu. Biasanya, setiap kali janjian dengan temanku yang satu ini, pasti aku terlambat 10 menit dari jadual yang dijanjikan. Karena tiba 30 menit lebih awal, aku putuskan untuk berjalan-jalan disekeliling terminal Blok M Mall.

Sudah tahunan rasanya sejak terakhir kali aku berjalan-jalan disini. Ketika kutelusuri alley  demi alley, barulah aku ingat mengapa aku tidak suka tempat itu. Aku merasa tingkat pengamanan dua lantai di bawah permukaan tanah itu selalu tidak nyaman dan tidak aman. salah satunya, aku melihat springkler di sana yang sudah berdebu, bersarang laba-labanya dan aku yakin springkler itu tidak pernah diujicobakan atau dibersihkan. Aku tidak ingin berada disana pada saat ada kebakaran, karena aku tahu, selain pengap, disana juga tidak tersedia cukup alat pengaman (safety device) untuk keadaan darurat.  Aku juga tidak menemukan letak hose selang pemadam kebakaran. Mungkin tertutup para pedagang disana atau menang tidak ada. Aku tidak mau terlalu memikirkannya pada saat aku secara fisik berada disana.

Pagi itu, aku merasa takjub karena outlet-outlet di sepanjang alley  Terminal Blok M Mall berpendingin ruangan. Hawanya cukup sejuk , meskipun udara yang dihembuskan dari mesin pendingin ruangan itu sudah pasti tidak pernah diperiksa kebersihannya.  Seorang teman kantorku dari negeri kangguru pernah masuk ke rumah sakit selama dua minggu dan dokter di RS itu tidak dapat menemukan penyakitnya. Setelah sekian lama, barulah diketahui bahwa mesin pendingin ruangan di apartemen tempatnya tinggal tidak menghembuskan udara bersih, alias sudah kotor penyaringnya. Itu penyebab ia sakit. Aku tidak tahu apakah pernah ada korban dengan penyakit yang sama akibat adanya pendingin ruangan di lokasi itu.

Meskipun tidak terlalu ramai, Terminal Blok M Mall ini cukup membingungkan dan makin membuatku tidak nyaman karena terlalu banyak tangga naik dan turun. Dengan kondisi back injury , terkadang agak merepotkan juga berjalan melalui begitu banyak tangga. Berhubung khawatir tersesat dan tidak tiba di tempat yang dijanjikan pada waktu yang ditentukan, aku langsung saja mencari akses keluar dari lokasi itu. 

Aku janjian dengan seorang teman di sekitar area pembelian tiket masuk TransJakarta. Alih-alih menemukan alley yang langsung menuju kesana, seperti biasa, aku tersesat dan tahu-tahu aku menemukan diriku keluar di pintu Barat sebelah pasar Blok M. Aku langsung saja kembali ke pintu masuk Terminal Blok M yang aku tahu, supaya tidak tersesat lagi.

………..Sesampainya disana tepat pada jam yang dijanjikan, temanku ternyata belum tiba juga………….

Karena bosan dan tidak tahu harus melakukan apa, ditambah tidak terlalu suka berjalan-jalan tanpa tujuan, akhirnya kuputuskan untuk mencari tempat duduk untuk menunggu.

Ternyata sulit sekali mencari tempat untuk duduk. Terminal Blok M Mall tampaknya memang tidak tersedia tempat menunggu yang nyaman. Tidak pula ada semacam public area untuk menunggu. Karena tidak kuat lagi berdiri terlalu lama, akhirnya kuputuskan untuk duduk disebuah warung kue tak jauh dari situ. Kebetulan warung kue itu memiliki banyak tempat duduk.

Sambil makan kue, aku melayangkan pandanganku ke sekitar terminal itu. Memang tidak terlalu banyak orang lalu lalang disana karena masih pagi. Kalaupun ada orang yang sedang menunggu temannya seperti aku, mereka rela menghabiskan waktunya untuk sekedar berjalan-jalan diseputar tempat itu.  No wonder ada banyak ruang untuk berjualan dan cukup padat pula rasanya, sehingga menambah sesak lokasi itu. Aku lihat, tidak banyak orang yang menunggu temannya di tempat itu. Ada beberapa orang yang aku lihat sedang menunggu, mereka juga duduk-duduk, makan kue dan minum, tetapi tidak terlalu lama. Biasanya setelah itu, mereka berdiri menunggu di tempat dimana mereka janjian.  Ada pula yang terlihat memaksakan diri untuk terus berdiri sampai kaki-kakinya pegal linu. Aku pikir, ini sebabnya mengapa pemerintah atau pengelola tempat itu tidak memandang perlu menyediakan lokasi untuk menunggu. Alasan lain, mungkin, jika disediakan tempat menunggu akan digunakan dengan tidak sepatutnya. Aku tak tahu. 

…...Temanku SMS, ternyata ia mengalami gangguan pada perutnya dan baru saja berangkat dari rumahnya. Paling cepat ia sampai ditempat aku berada sekitar 30 menit……

Sambil makan kue sosis soloku yang pertama, aku membayangkan sedikit space ditempat ini, lengkap dengan sofa yang nyaman dan bersih untuk menunggu, lalu ada setumpuk buku-buku ringan,  dan  majalah, pasti waktu menunggu yang aku habiskan paling tidak dapat terobati.  Tapi mungkinkah di Terminal Blok M Mall ini ada tempat semacam ini? Tanpa bermaksud su’udzon, aku merasa semuanya akan sia-sia, karena di Jakarta ini tidak banyak orang-orang yang menghargai buku sebagai sumber informasi dan sumber ilmu. Alih-alih tempat itu digunakan untuk menunggu, jangan-jangan malahan digunakan untuk pertemuan bandar narkoba. Hiiiiiiiiiii……

…...Temanku ternyata membutuhkan waktu 90 menit untuk sampai di tempat yang dijanjikan. Aku yang terlalu lama menunggu akhirnya menghabiskan waktu menontoni para pengguna TransJakarta yang sibuk mengantri membeli karcis. Sebuah tontonan tersendiri……..

[RN,231105]

Posted by rini1557 at 09:49:17 | Permalink | No Comments »

Tuesday, October 18, 2005

Berbagi Kasih di Bulan Ramadhan

Jakarta, kota yang tidak pernah tidur, dengan segala kesibukan dan rutinitas gemerlapnya, ternyata ketika malam tiba masih banyak orang-orang yang tinggal dijalan menggantungkan seluruh hidupnya pada jalanan dan kerasnya ibukota. Orang-orang yang tidur beratapkan bintang-bintang dipinggir jalan, membesarkan anak-anak dijalanan tanpa pendidikan yang baik, menyimpan apa yang dimiliki dalam sebuah gerobak yang menemani sepanjang hari, mencari rezeki  dari sampah orang lain, dan semua ini dilakukan hanya untuk sekedar bertahan hidup.

 

Disadari ataupun tidak, kesibukan kerja yang kita miliki setiap hari kadang membuat kita tidak menyadari bahwa orang-orang yang berada dalam taraf kemiskinan ada disekitar kita, saudara-saudara yang tidak kita kenal, keluarga yang tidak pernah kita jumpa dan teman-teman yang tidak pernah kita tahu. Kita semua dihadang oleh sebuah kenyataan, disadari atau tidak kita juga bagian dari mereka, dan belum banyak yang kita lakukan buat mereka.

 

Kepada merekalah, sejak lima tahun lalu, aku selalu melibatkan diri dalam kegiatan “Berbagi Kasih di Bulan Ramadhan”, suatu kegiatan yang dilakukan bersama berbagai kelompok sosial seperti KKS Melati [www.kks-melati.org] dan Komunitas Independen.

 

 

Dengan format kegiatan yang selalu berbeda setiap tahunnya, aku dan teman-teman menyempatkan diri menyapa, berkenalan, berbagi dengan orang-orang yang tertinggal ini.  Kami hadir, mengasah batin dan kepekaan untuk peduli kepada mereka. Aku teringat tiga tahun lalu, menyapa seorang ibu penyapu jalan, yang masih giat menyapu jalan raya pada pukul 2 pagi, sementara orang-orang lain seperti aku, justru sibuk bergelung selimut tebal di kamar berAC.  Aku ingat pula bertemu dengan seorang ibu yang tidur di pelataran sebuah restoran dan ketika aku memegang keningnya, terasa panas karena ia sedang sakit dan tidak punya biaya untuk berobat. Pengalaman-pengalaman berbeda selalu aku temui setiap tahun, begitu menagihnya bagaikan morfin untuk terus memacu diri bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan padaku.

 

Tahun ini, tidak seperti kebiasaan, kami tidak lagi berbagi di jalan raya. Kami mengubah format acara dengan tidak mengurangi kadar kebersamaan.  Mengapa demikian?

 

Sejak dua tahun ini, Jakarta selalu kebanjiran para keluarga yang merasa dapat menangguk rejeki dari warga kota Jakarta yang selalu berlomba-lomba berbagi di bulan Ramadhan ini. Jalan-jalan yang biasanya sepi dan bersih dari kaum gelandangan, pengemis, dan pemulung, dalam bulan ini biasanya berubah menjadi ramai.  Bagi warga Jakarta yang memang setiap hari jalan-jalan malam di seputaran Jakarta, pasti mengetahui dimana saja kantong-kantong kemiskinan di Jakarta. Taruhlah misalnya, lingkungan seputaran Pedongkelan, Kramat Tunggak, Penjaringan, dan lain-lainnya.  Hampir tidak mungkin di sepanjang jalan Gatot Subroto ada keluarga pemulung yang tinggal atau tidur di jalanan. Memang ada komunitas keluarga pemulung di Jakarta, tetapi mereka jarang ada yang tidur di pinggir jalan. Pun kalau mereka tidur didalam gerobaknya di tepi jalan, pasti mereka memilih untuk tidak tidur di jalan utama kota Jakarta, seperti Thamrin, Sudirman, atau Gatot Subroto. Carilah di seputaran Senen di belakang gedung Era atau di kolong jembatan sebelah Indomobil jalan MT Haryono, atau di perempatan TPU Karet Bivak, masih banyak keluarga pemulung disana.

 

Mendadak Jakarta menampakan wajah kemiskinan warganya. Begitu banyak keluarga yang tega mengolongkan keluarganya sebagai keluarga miskin, bahkan sengaja datang ke Jakarta dari luar kota berbondong-bondong dengan truk, untuk sekedar meminta belas kasihan warga Jakarta?  Mengapa di bulan Ramadhan ini semakin banyak orang-orang atau keluarga yang tega menunggu berjam-jam hanya untuk menerima paket-paket lebaran dari warga Jakarta yang ingin berbagi amal? Kesempatan?

 

Mendadak berbagi menjadi tidak terlalu nikmat dan memabukkan lagi. Istilah bahasa jawanya ‘mbelenger’ melihat ulah tingkah saudaraku yang memanfaatkan momen bulan baik ini untuk sekedar mendapatkan sesuatu.  Seorang teman yang kebetulan menyempatkan diri berdiskusi dengan salah satu keluarga yang membawa gerobaknya ke pinggir jalan selama bulan Ramadhan ini, mengaku bahwa gerobak yang dipakainya disewa dari keluarga pemulung [betulan] seharga lima puluh ribu. Harapannya memang menangguk rejeki yang datang dari warga Jakarta yang rela berkonvoi-konvoi memberikan jatah sahur atau paket-paket hadiah untuk mereka. Kemarin aku lihat seluruh pemilik gerobak yang parkir di pinggir jalan Gatot Subroto itu duduk diatas tikar yang mereka siapkan dari rumah, atau duduk beralaskan kain karena (mungkin) merasa takut kotor untuk duduk langsung di trotoar. Aku bayangkan, gelandangan yang sesungguhnya bahkan tidak punya alas untuk duduk. Mereka duduk seadanya, dan memanfaatkan apa saja di sekitarnya untuk menghangatkan badan.

 

Jika anda kebetulan salah satu dari warga Jakarta yang juga ingin berbagi di bulan Ramadhan, silahkan teliti betul-betul target kegiatan anda, apakah mereka memang orang miskin atau dhuafa yang berkekurangan ataukah hanya oknum yang sengaja memanfaatkan bulan ramadhan untuk kepentingan mereka pribadi?

 

Semuanya pilihan anda.

 

[RN, 281005]

 

 

 

 

Posted by rini1557 at 08:44:21 | Permalink | Comments (2)

Monday, August 15, 2005

Memaknai Kemerdekaan

Setiap menjelang tanggal 17 Agustus di kampungku di Pancoran, selalu ada keramaian dimana-mana.  Mulai dari pemasangan bendera merah-putih di sepanjang gang di kampung itu dan gapura ala kadarnya di ujung gang, atau pembentukan panitia yang biasanya terdiri dari remaja tanggung, dan persiapan berbagai pertandingan-pertandingan seru a la kampung.  Ternyata kegiatan yang sama tidak hanya berlangsung di kampungku. Di banyak kampung tempat para relawan KKS Melati tinggal, kegiatan serupa juga ada dan tak kalah meriahnya.  Ada satu kampung yang membuat umbul-umbul warna-warni dari kain bekas yang mungkin diambil dari tukang jahit sudut kampung, ada yang sibuk menggergaji papan tripleks untuk dijadikan gapura dan masih banyak lagi kegiatan lainnya.

Menyambut 17 Agustus mendadak kampung-kampung menjadi hidup.  Bapak-bapak yang biasanya sibuk bekerja, kini meluangkan waktu sorenya untuk mengukur bambu, menggergaji tripleks, mengecat gelas bekas air mineral yang dibeli dari pemulung yang sering keluar masuk kampung dengan warna merah putid, demi sekedar meramaikan hari yang bersejarah ini. Di bulan Agustus ini bisa dibilang sikap gotong-royong dan kebersamaan meningkat dengan tajam.

Satu hal yang selalu mengelitik pikiranku setiap tahunnya : Mengapa hari kemerdekaan negara kita diperingati dengan pemasangan bendera dan gapura yang cukup memboroskan dana masyarakat, seolah-olah dengan bendera yang banyak berkibar di sepanjang gang-gang menandakan peningkatan rasa kebangsaan. Benarkah hanya diukur dengan jumlah bendera?

Untuk merayakan 17 Agustus, dikampungku juga mengadakan berbagai macam perlombaan. Meskipun sederhana, namun meriah adanya.  Mulai dari balita hingga ibu-ibu dan bapak-bapak tumpah ruah untuk bersama-sama bermain.  Ini mungkin yang disebut sebagai keriaan kampung atau pesta kampung.  Lihatlah bagaimana mereka seadanya mengumpulkan uang untuk sekedar membeli hadiah-hadiah. Lihatlah betapa mereka bisa bergotong-royong dan kerukunanpun tercipta. Sungguh luar biasa. Namun terkadang akupun miris, karena pemborosan yang dilakukan atas nama Peringatan 17 Agustus atau atas nama Peringatan hari Kemerdekaan. lantas segi arti kemerdekaan yang mana yang bisa diperingati dari, misalnya, lomba memakai sepatu yang diikuti balita di kampungku?

Lain di kampung, lain lagi perayaan di kantor.  Di kantorku selalu ada upacara bendera untuk memperingati 17 Agustus. Letak lapangannya di halaman parkir belakang gedungku. Biasanya kami mulai upacara pukul 8.00 dan berakhir sekitar pukul 9.00 lalu dilanjutkan dengan berbagai perlombaan. Sampai saat ini aku tetap tidak mengerti, bagaimana bisa sebuah upacara bendera memaknai arti kemerdekaan bangsa ini? Bagaimana bisa ratusan orang berdiri selama 45 menit lalu bisa dikatakan bahwa mereka sudah memaknai arti kemerdekaan? 

Padahal dulu ketika Bung Karno dan Bung Hatta akan membacakan teks Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, 60 tahun yang lalu, Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada  pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari tiga ratus tahun!

Kemerdekaan negara ini dulu diartikan sebagai kebebasan dari penjajahan. Inilah salah satu cara untuk berdiri diatas kaki kita sendiri, Bangsa Indonesia, dan lepas dari belenggu penjajahan. Agak sulit rasanya untuk dapat menempatkan diri dan berempathy kepada perjuangan yang dilakukan para veteran bangsa ini demi mendapatkan kemerdekaan, namun memaknai kemerdekaan di jaman ini bisa dilakukan dengan banyak hal. Mungkin (misalnya) kita mengundang para pejuang kemerdekaan untuk duduk dan ngobrol bersama, atau mungkin mengadakan renungan untuk menyadarkan kita akan arti kemerdekaan, lalu berkomitmen tentang bagaimana cara mengisi kemerdekaan ini, dibandingkan sekedar mengikuti upacara atau berpesta dikampung sendiri.

Hari merdeka,

Nusa dan bangsa.

Hari lahirnya Bangsa Indonesia,

MERDEKA!! 

Sekali merdeka tetap merdeka,

Selama hayat masih dikandung badan

[RN, 140805]

 

 

Posted by rini1557 at 07:32:42 | Permalink | Comments (1) »

Thursday, August 4, 2005

Trotoar oh Trotoar

Trotoar berasal dari kata Perancis, trottoir [dibaca : trotoar].  Di Indonesia kata ini diartikan sebagai jalur pejalan di sisi jalan raya yang ditujukan terutama bagi pejalan (kaki).  Trotoar biasanya dibangun lebih tinggi dari permukaan jalur lalulintas kendaraan/jalan aspal untuk kendaraan. Tidak mudah saat ini mencari trotoar di Jakarta yang nyaman untuk pejalan kaki.  Meskipun kata orang, trotoar adalah hak pejalan kaki, rasanya hak itu tidak mudah pula direalisasikan, karena mungkin para investor menganggap bahwa bisnis perbaikan pedestrianisasi secara investasi tidak menguntungkan.

Jika anda kebetulan berjalan kaki di jalan Duren Tiga, tidak ada lagi kenyamanan berjalan kaki diatas trotoar. Bahkan hak anda sebagai pejalan kaki hilang begitu saja. Begitu anda memasuki jalan Duren Tiga, didepan SD Duren Tiga 01 Pagi itu ada banyak sekali orang berjualan berderet-deret diatas trotoar itu, mulai pedagang ayam goreng, martabak telor, martabak manis, lalu tukang jual kripik singkong, lalu warung nasi bertengger dengan manisnya. Agak ke arah Barat sedikit bertenggerlah tukang es campur, tukang sate padang, tukang nasi uduk, ayam goreng, lalu tukang buah. Semuanya berjualan di atas trotoar. Siapapun yang lewat di trotoar jalan itu, pasti tidak akan pernah berhasil berjalan dengan baik diatas trotoar, meskipun Pemda mengatakan bahwa seluruh pejalan kaki diwajibkan berjalan diatas trotoar demi keselamatan masing-masing. Saat ini meskipun DLLAJR giat mengkampanyekan gerakan jalan kaki di atas trotoar dengan memasang puluhan spanduk sepanjang Jakarta, tetap saja sulit bagi pejalan kaki untuk mengikuti anjuran tersebut.  

Persis di depan Hotel Kaisar, ada tukang jual rokok.  Tukang ini sebelumnya tidak ada, dan ia membuka kiosnya tepat ketika Hotel Kaisar beroperasi. Hanya dengan satu kotak kaca alumunium ber-rak 3, ia berjualan, tepat menutupi badan jalan trotoar. Aku harus permisi-permisi dulu sebelum berhasil melewatinya. Tidak jauh dari situ, tepat di depan Rumah Sakit Bersalin Duren Tiga, ada tukang bakpao yang setiap hari memang nongkrong disitu. Ia duduk di kursi plastik dengan bahagianya, sementara aku harus untuk kesekian kalinya terpaksa turun dari badan jalan trotoar ke jalan raya. Akibatnya? Bukan sekali dua kali aku hampir keserempet motor.

Pengendara motor di Jakarta kini memang semakin liar. Aku yang baru turun dari trotoar langsung saja di klakson dengan kencangnya. Belum lagi mereka berlomba-lomba adu cepat, sehingga selain harus sigap, aku juga harus konsentrasi beradu cepat dengan para pengendara sepeda motor itu. Tempo hari bahkan mereka melintas di atas badan trotoar dan salah satu dari pengendara motor itu mendelikkan mata dibalik helmnya hanya untuk menegurku karena aku menghalangi jalannya. Hey? Jalan siapa?

Pernah pula suatu ketika pada saat aku ingin sekali menikmati trotoar di Duren Tiga, aku tidak peduli pada tukang ayam goreng yang baru saja mendirikan tendanya. Aku lewat persis di samping bangku panjang mereka, dibawah tenda, di atas trotoar, tapi tukang ayam goreng langsung ngomel panjang kali lebar, “Mbak, lewatnya dibawah aja, wong ada yang jualan gini kok lewat sini,” katanya, tanpa peduli bahwa ia baru saja menghilangkan hak ku sebagai pejalan kaki yang baik.

Penggunaan trotoar untuk tempat usaha merupakan tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum. Tapi kemana Dinas Pekerjaan Umum saat ini? Mengapa mereka membiarkan hak pejalan kaki terampas? atau kemana Pemda DKI selama ini? bukankah kenyamanan berjalan kaki termasuk ke dalam ruang lingkup kerjanya?

Mungkin di Jakarta ini selain ada trotoar, sebaiknya juga ada walkway, atau jalur pejalan kaki. Kalo ada Busway, mungkin saja walkway bisa menjadi alternatif. Jalur pejalan kaki bisa diartikan sebagai setiap/ segala bentuk jalur/ lajur yang terutama ditujukan bagi pejalan, dapat dibuat sejajar dengan jalan raya, seperti trotoar dan arkade, atau menyilang dengan jalan raya, seperti jembatan dan terowongan penyeberangan, atau memotong jalan raya, seperti zebra cross, atau di luar bagian jalan raya, seperti jalan pintas lewat taman kota dan gang.

Masalahnya sekarang, apakah walkway bisa jadi alternatif pemecahan? Apa sudah pasti terhindar dari serbuan para pedagang kaki lima atau penjual makanan itu?

Ternyata bukan aku saja yang bermasalah dengan trotoar, coba intip di : http://www.jakarta.go.id/forum/display_topic_threads.asp?ForumID=1&TopicID=346&PagePosition=1 banyak sekali warga Jakarta yang punya masalah yang sama denganku. Aku benar-benar merindukan trotoar yang nyaman dan aman di kota ini. Kalau mau usul ke Bang Yos untuk membuat trotoar di seluruh Jakarta ini seperti trotoar yang ada di jalan protokol, bagaimana caranya ya?

 [RN, 040805]

Posted by rini1557 at 09:10:24 | Permalink | Comments (7)

Monday, August 1, 2005

Wiken di Kota Tua Jakarta

Wiken lalu aku ikutan sama temen-temen yang hunting foto ke Kawasan Kota Tua Jakarta yang dulu disebut “Jewel of the East”, Permata dari Timur seperti julukan para pelaut Eropa yang lego jangkar pada abad ke-17 dan 18. Nggak ada target tertentu untuk foto-foto kali ini, aku juga yang gak punya kamera, tapi tetep ikutan aja buat jalan-jalan. Itung-itung Fat Burning. Ada 9 orang semuanya yang ikutan jalan-jalan hari itu. Perjalanan dimulai dari halte TransJakarta di sebrang stasiun Kota.  Tema foto-fotonya kali ini adalah tentang Fosil. Makanya nggak heran kalo Kota Tua Jakarta yang jadi pilihannya.

Dari depan halte kami menyebrang ke arah samping Museum Bank Mandiri. Gedung Museum ini dulunya adalah gedung pusat Bank Indonesia. Gaya arsitekturnya khas seperti umumnya bangunan BI di kota-kota di Indonesia, yaitu Neo-Classic, terlihat indah dengan ornamennya dan berwarna putih. Bangunan BI ini dibangun pada awal tahun 1990-an. Sayangnya nggak terawat dan kotor sekali.

Bau menyengat langsung tercium begitu sampai di pinggir Kali Besar (The Groote Kanaal) yang merupakan bagian hilir Kali Ciliwung. Dulu sekitar tahun 1800 air kali ini bisa diminum, untuk mandi dan mencuci. Kali ini sekarang begitu hitam dan banyak sekali sampah.”Ketauan kan betapa joroknya orang Jakarta sampe kali aja jadi item begini”, kata Liz ketika sampai disana. 

Di jalan Kali Besar Timur ada sebuah rumah tua yang sudah tidak terurus. Dulu rumah itu adalah rumah C.Bahre dan G.Kinder, yang dijadikan perusahaan trading, shipping dan insurance agents.  

Disisi jembatan kali yang dulu juga menjadi saksi bisu kekejaman Pemerintah Belanda dalam peristiwa Chineezenmoord atau pembantaian orang-orang Cina ini ada tulisan yang cukup menyolok, mengumumkan bahwa kali ini tengah “digarap” lewat program Kali Besar Bersih sebagai bagian dari Revitalisasi Kota Tua oleh Jakarta Old Town-Kotaku, yang dimotori Miranda Goeltom, Deputi Senior Bank Indonesia yang juga Ketua Dewan Pengurus Jakarta Old Town-Kotaku, bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Suku Dinas PU Tata Air Jakarta Barat, Bank HSBC, dan Bank Indonesia.

[wah nggak terlalu keliatan ya... ini foto Kali Besar jaman dulu, masih ada perahu layar dimana-mana dan kali itu masih digunakan untuk transportasi dari luar negeri ke Batavia]

 

Di tepi Kali Besar saat ini ditanami pohon-pohon palem raja dan diberi bangku-bangku dengan jarak tertentu. Tempatnya sesungguhnya jadi lebih lega, luas dan nyaman untuk wisata jalan kaki disana. Di Jalan Kali Besar Barat dan Kali Besar Timur, berjajar bangunan-bangunan dari abad 18, beberapa dari awal abad 20. Kawasan ini merupakan pusat dari benteng Kota Batavia, yang mengalami masa jayanya pada abad 17 dan 18. yang dibangun antara 1634 hingga 1645. Batavia adalah hasil rancangan Gubernur Jenderal Coen, yang berniat membangun Amsterdam versi Timur dan menjadi pusat administrasi dan militer Hindia Belanda. Beberapa bangunan unik khas Eropa di kawasan ini adalah bangunan Asuransi Lloyd (ada tulisannya Assurantie Kantoor), Standard Chartered Bank, PT Samudra Indonesia, PT. Bhanda, Graha Raksa, dan Toko Merah.

Toko Merah adalah sebuah rumah yang dibangun tahun 1730. Gedung yang dibuat dari batu bata warna merah sehingga disebut Toko Merah itu didesain bergaya Tiongkok itu adalah kediaman Gubernur Jenderal VOC Baton Van Imhoff.  Dulu pemisahan wilayah Jogja dan Solo lewat Perjanjian Giyanti konon dilakukan di Toko Merah ini.  Tiga belas tahun kemudian, bangunan ini menjadi Akademi Angkatan Laut hingga 1755. Setelah itu pemiliknya berganti-ganti, lalu sempat ditempati sebagai kantor PT Dharmaniaga. Ternyata bangunan ini baru saja di segel polisi karena digunakan untuk tempat berjudi.

   

Setelah foto-foto di depan Toko Merah, kami menuju Jembatan Kota Intan. Jembatan tua peninggalan Belanda ini dibangun tahun 1628, menghubungkan sisi Timur dan Barat Kota Intan di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Utara. Jembatan ini dilengkapi dengan semacam pengungkit untuk menaikkan sisi bawah jembatan. Penjaga dengan sigap akan menarik tali pengungkit jika ada kapal yang akan melewati jembatan menuju Kota. Namun, jembatan yang hampir semuanya terbuat dari kayu itu makin lama makin lapuk dan kini tidak lagi difungsikan alias ditutup.

Jembatan ini pernah 5 kali berganti nama. Seusai dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda, jembatan dinamai Jembatan Inggris (Engeise Brug), karena tidak jauh dari lokasi itu yaitu di dekat Kafe Galangan, dahulu dibangun benteng pertahanan milik Inggris. Nama itu lalu diubah menjadi Jembatan Pusat, disinyalir karena pengelolaannya dipegang pemerintah pusat Hindia Belanda. Pada tahun 1900-an di sisi jembatan ada pasar ayam yang ramai sekali, nama jembatan berganti lagi menjadi Jembatan Pasar Ayam. Pada tahun 1938 di masa pemerintahan Ratu Juliana, jembatan direnovasi dan namanya diubah menjadi Jembatan Ratu Juliana (Ophaalsburg Juliana). Nama akhirnya berubah menjadi Jembatan Kota Intan karena di kawasan tersebut terdapat kastil Batavia bernama “Diamond“. (IVV) Nama itu yang sampai sekarang akhirnya dipakai. Sayangnya di masa Orde Baru jembatan ini dipugar dan dibuat permanen dan tidak bisa lagi dijungkitkan. Alasannya bisa jadi karena sekarang tak ada lagi kapal besar yang bisa berlabuh.         

Dari jembatan kota intan, kami singgah sebentar di mesjid untuk sholat, lalu perjalanan dilanjutkan melewati jalan tongkol, dekat SAJA, menuju ke restoran sari kuring dan Galangan VOC.

Kamipun tiba di lokasi bekas bengkel kapal VOC atau dikenal juga dengan VOC Shipyard. Di sini, pada masa lalu, kapal-kapal yang rusak diperbaiki. Saat ini, bangunan memanjang dengan jendela-jendela segi tiga di atapnya tersebut direvitalisasi sebagai restoran dengan tetap mempertahankan arsitektur aslinya.

Dari Galangan VOC, kami menyebrang ke Menara Syahbandar.  Pada tahun 1839 di lokasi ini didirikan Menara Syahbandar yang berfungsi sebagai kantor pabean, atau pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan. Lokasi menara ini menempati salah satu bastion (sudut benteng) yang tersisa. Sayangnya bentuk bentengnya sudah tidak bisa dikenali lagi.

Dari Menara Syahbandar, kami langsung menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Pelabuhan Sunda Kelapa kini merupakan pelabuhan bongkar muat barang, utamanya kayu dari Pulau Kalimantan. Di sepanjang pelabuhan berjajar kapal-kapal phinisi atau Bugis Schooner dengan bentuk khas, meruncing pada salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal. Setiap hari tampak pemandangan para pekerja yang sibuk naik turun kapal untuk bongkar muat.

Selain sebagai wujud muka
Batavia yang berhubungan langsung dengan dunia luar, Sunda Kelapa juga adalah pelabuhan tertua di Indonesia. Pelabuhan ini sudah beroperasi sejak Abad XV. Dan pelabuhan ini menjadi pintu gerbang yang sangat penting bagi Kerajaan Padjajaran yang berkuasa di Tanah Pasundan (sekarang Jawa Barat).

Pelabuhan Sunda Kelapa sebetulnya telah terdengar sejak abad ke-12. Kala itu pelabuhan ini sudah dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk milik kerajaan Hindu terakhir di Jawa Barat, Pajajaran, terletak dekat Kota Bogor sekarang. Kapal-kapal asing yang berasal dari Cina, Jepang, India Selatan, dan Arab sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi kekayaan tanah air saat itu.

Bangsa Eropa pertama asal Portugis tiba pertama kali di Sunda Kelapa tahun 1512 untuk mencari peluang perdagangan rempah-rempah dengan dunia barat. Keberadaan mereka ternyata tidak berlangsung lama, setelah gabungan kekuatan Muslim Banten dan Demak, dipimpin Sunan Gunungjati (Fatahillah), menguasai Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta (“kemenangan yang nyata”) tanggal 22 Juni 1527.

Seiring pergeseran zaman, Pelabuhan Sunda Kelapa tidak seramai pada 1522 yang mengukuhkan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan terbesar dan paling ramai di Asia Tenggara. Fungsi Sunda Kelapa sebagai pelabuhan mulai terkikis setelah Belanda membangun Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara pada 1885. Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa sekadar tempat berlabuh kapal tradisional antarpulau yang mengangkut kayu seperti dari Sumatra dan Kalimantan.

      

Di Pelabuhan Sunda Kelapa kami naik perahu (Kata Dessy yang saat itu sedang belanja di mangga dua, kalau kecil, namanya perahu, kalau besar, baru namanya kapal).  Satu perahu 5 orang. Bau solar yang mencemari laut begitu kental. “Mikir-mikir deh snorkling disini, ” kata Liz sambil terus foto-foto. Beberapa kapal-kapal yang sedang sandar itu sedang dibersihkan dan tampak beberapa pekerja dengan peralatan snorkel ala kadarnya membersihkan badan kapalnya.

Hampir sunset di Pelabuhan Sunda Kelapa, tapi perjalanan masih panjang. Kami memutuskan untuk kembali ke Museum Sejarah, untuk ketemu Dessy.

Museum Sejarah (Stadhuis) dibangun tahun 1620 hingga 1707 atas inisiatif Gubernur Jenderal Coen dan awalnya digunakan sebagai bangunan balai kota semasa VOC berkuasa. Taman Fatahillah yang terletak di depannya menyimpan banyak sejarah, salah satunya pembantaian 5.000 keturunan etnis Cina pada tahun 1740.  Tambah sore, ternyata cahaya di Museum Sejarah tambah eksotis saja.

Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein”. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC ”’Johannes Rach”‘ yang berasal dari ”’Denmark”‘, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungakan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah.  Sayangnya sekarang air mancurnya sudah tidak berfungsi lagi dan bau pipis yang sangat menyengat.

Di Taman Fatahillah kami berpisah, untuk ketemu lagi lain waktu.

Artikel diatas banyak copy and paste dari internet, bukan tulisanku semua lho… terus foto batavia lama bisa dibaca di buku Batavia in Nineteenth Century Photographs by Scott Merrillees. Kalo mau minta ijin ditaruh di blogku kemana ya?  Terima kasih buat Aya dan Vie yang udah bikin foto-foto perjalanan. Foto Aya lainnya dapat dinikmati secara lengkap di http://ceritaaya.multiply.com/photos

[RN 010805]

Posted by rini1557 at 04:21:50 | Permalink | Comments (41)

Friday, July 22, 2005

Balada Sebuah Voucher

Beberapa waktu lalu ketika aku dan dua orang temanku menghadiri sebuah event yang diadakan oleh satu media di Jakarta, kami mendapatkan masing-masing sebuah voucher makan di sebuah restoran baru di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Alhamdulillah……….  Sebagai seorang petualang kuliner, tentu saja ini adalah sebuah petualangan baru yang mungkin bisa kurekomendasikan kepada teman-teman clubberku. Resto-cafe ini masih baru dibuka bulan Mei 2005, dua bulan yang lalu dan saat ini sedang dalam taraf promosi.  Lebih dari seratus voucher dengan nilai yang sama disebarkan untuk kebutuhan promosi.

Bergaya comforting dan lifestyle, resto-cafe yang bergaya garden atmosphere ini sepi dari pengunjung. Hanya aku dan dua orang sahabat baikku yang berkunjung ke sana. Padahal hari itu hari Kamis, sudah hampir jam 21.00. Bukankah waktu yang tepat untuk memulai hari, kata para clubbers di Jakarta? Lantas, mengapa resto-cafe yang satu ini begitu sepi pengunjung?

Meja-meja yang mengkilat, kertas makan teratur rapi, buku menu berbaris menghadap ke depan, seakan menanti pengunjung untuk melepas lapar dan dahaganya di meja-meja disana. Masuk ke dalam resto ini, aku disuguhi oleh keramahtamahan pelayannya. Sungguh luar biasa dan terlalu ramah malahan untuk taraf sebuah resto standard.  Senyumnya mengembang tatkala kami bertatapan. Hmmm… namanya Leo, pasti lahir di bulan Agustus dan bintangnya Leo, gumamku. 

“Masing-masing dari kami punya voucher senilai Rp.50,000, apa masih bisa digunakan disini,” kata sahabatku sambil menunjukkan voucher yang ia bawa.  Leo menganggukkan kepalanya, lantas memandu kami ke sebuah meja di pinggir tengah ruangan. Paduan warna merah-oranye-hitam di dinding sebelah kami duduk begitu bersih. “Ini memang resto-cafe baru”, pikirku.

Seorang Mierna tiba-tiba muncul di hadapan kami. Entah apa posisi pekerjaannya malam itu, tapi ia terlihat cantik dan menarik. “Maaf mbak, vouchernya bisa digunakan tapi hanya satu saja, tidak bisa bertiga dalam satu meja”, katanya menjelaskan. Aneh. Sudah berkali-kali aku menggunakan voucher sebagai satu kesempatan untuk mencoba hidangan di sebuah resto baru, tidak pernah sekalipun ada aturan yang seperti ini, bahkan dalam tulisan di undanganku hanya tertera sebagai berikut :

Inviting voucher to taste some of our specialties which include Champion US Short Rib that was awarded as Best Barbeque Rib in 1999.We are also have many more specialties that guarantee to satisfy your taste bud.This voucher is valued at Rp.50,000 and can be used as payment to your bill only when you come with us on <ditulis tempatnya deh> It would be an honor to us if you could spare your time to dine with us.

“Mbak, kita nggak masalah kok duduk di meja yang berlainan, atau kita pesan saja satu orang satu bill,” kataku, karena tidak menemukan informasi aneh seperti yang disampaikan Mierna sebelumnya. Mierna masuk kembali dan berdiskusi dengan temannya, kasir malam itu. “Oke deh mbak nggak pa-pa tapi kalau bisa nilai makannya dilebihkan dari Rp.50,000″ tambah Mierna setelah kembali.  Aku sedikit berdebat dengannya, karena informasi itupun tidak ada di voucher yang aku terima. Aku bisa saja makan lebih dari Rp.50,000 toh dengan voucher yang hanya Rp.50,000 ini aku hanya tinggal menambah sedikit saja. Tapi pikirku, untuk apa harus menghabiskan voucher sebegitu besar nilainya kalau aku tidak sanggup menghabiskannya. “Mbak Mierna, kayaknya di voucher ini nggak ditulis deh, coba tanya lagi ke bosnya, bisa nggak makan kurang dari Rp.50,000“, kataku. Susah sekali makan disini ternyata, gumamku.

Mierna lalu sibuk menelepon seseorang dan kembali dengan senyumnya yang indah, mengijinkan kami memesan makanan yang kami pilih sesuka hati dan tidak memberi batasan nilai. Leo dengan senyumnya yang khas lalu membantu kami memilihkan dan mencatat menu.

Makanlah kami sampai kenyang. Bertiga kami saling mencoba makanan yang tersedia. Untung saja kami jadi duduk satu meja. Bayangkan jika ada tiga orang duduk di tiga meja dan setiap orang saling berkunjung ke meja lainnya, saling mencoba masakan yang ada di meja lainnya, seperti apa kiranya? Tak apalah, memang hanya kami bertiga pengunjung resto-cafe ini dan memang terlihat berlebihan karena kami merepotkan satu team tukang masak di tempat itu hanya untuk memasakkan makanan yang berlainan untuk kami bertiga. Aku percaya mereka memasak dengan riang gembira karena diberi kesempatan untuk unjuk kerja hari itu, daripada tidak memasak sama sekali. Aku lihat mereka memasakdan menyiapkannya dengan senyum.

Penyajian makanannya sangat luar biasa. Rasanya aku seperti para juri di lomba masak Allez Cuisine di Indosiar. Makanan yang disajikan benar-benar perfect!  Ujung sedotan menghadapku, garpu-pisau pada tempatnya, piring diputar sampai bagian terindah menghadapku. Manner dan grooming Leo juga luar biasa. WOW!!! Cuma itu kata yang ada di kepalaku.

Usai makan dan dessert yang mengenyangkan perut, tibalah bill-bill itu di hadapan kami. Kembali Mierna membawa pengumuman, seperti seorang ibu guru yang memanggil muridnya di depan kelas. “Rini, yang mana ya?” katanya dan menanyakan pula nama kedua sabahatku. Untung kami tidak sedang bermain peran dan menukar identitas kami bertiga. Dengan jujur, aku menjawabnya. “Bisa nggak ditambah lagi makannya, bisa take away atau makan lagi disini. Ini billnya cuma lebih sedikit,” kata Mierna menjelaskan dan begitu juga yang dialami kedua temanku.

Ini jebakan, pikirku, karena kami sudah menyelesaikan makanan yang begitu enak di mulut dan perut, tapi sekarang dihadapkan dengan masalah yang aneh seperti ini. dalam voucher jelas-jelas tertulis dine in, seharusnya siapapun yang bekerja di resto itu mengerti bahwa dine-in artinya makan ditempat, tidak boleh dibawa pulang.

Lalu datang lagi sang kasir ke hadapan kami. Ini sungguh memalukan, pikirku, karena benar-benar rasanya seperti orang kampung yang baru saja makan di resto keren dan modern.  Rasanya seperti tertangkap basah tidak punya uang untuk membayar bill yang diberikan. Tapi aku tidak mau kalah dengan sang ego yang ingin merasa benar.  Aku jelaskan pada sang kasir bahwa aku sudah makan lebih dari Rp.50,000 sesuai dengan permintaan mereka semula.  Memang hanya lebih sedikit dari Rp.50,000 tapi itu memang sudah lebih dan diawal pun tidak ada keharusan bahwa kami harus menambah minimal Rp.20,000. Tidak seharusnya mereka memintaku untuk belanja/makan lebih banyak lagi. For what reasons? Tidak ada.

Akal-akalan kah? Apakah mereka tidak tahu aturan / kebijakan restorannya bila pengujungnya menggunakan voucher? Dalam berbagai kesempatan menggunakan voucher, seringkali justru sang pelayan dari restoran itu yang mengajari kami menggunakan voucher, harus jeli melihat jam dan tanggal yang tertera di voucher, misalnya atau hal-hal kecil lainnya. Berbeda dengan lainnya, resto-cafe yang satu ini benar-benar memusingkan dan mengajakku banyak berpikir.

Sungguh sayang, disaat nilai tinggi sudah kuberikan atas pelayanan dan atmosphere yang luar biasa, harus dinodai dengan intrik-intrik penyelesaian bill yang serba tak jelas ini.

Mungkin mereka menganggap remeh urusan voucher - voucheran dan merasa benar mengakali pelanggannya. Mungkin saja pelanggannya kali ini memang baru sekali itu berkunjung ke sebuah resto-cafe modern. Mungkin saja pelanggannya kali lain adalah orang yang lebih kaya yang sanggup membayar sendiri dan melupakan voucher yang pernah mereka terima. Tapi bukankah setiap orang adalah sama dan berhak mendapatkan pelayanan yang sama?

Aku jadi teringat pengalaman temanku tatkala mengikuti sebuah training pengembangan diri. Beliau seorang Direktur di kantornya, selalu arogan dan merasa lebih tinggi kedudukannya dibandingkan orang lain di kelas training itu. Suatu ketika sang Guru mengajak muridnya bermain peran yang kebalikan dari apa adanya mereka saat itu. Temanku itu memilih sebagai pengemis. Beliau merobeki kaos dalamnya, dibedakinya dengan tanah dan debu, dicoreng-morenginya mukanya dan aktingnya memang benar seperti pengemis sungguhan.

Lalu Beliau mampir ke sebuah restoran tempatnya biasa mangkal. Belum sempat menginjakkan kaki ke dalam restoran itu, sang doorman mengusirnya. Tapi ia tetap keukeuh sumeukeuh untuk masuk ke dalamnya dan berkata bahwa ia punya uang untuk membayar makanan yang akan dimakannya. Namun siapa yang akan percaya?

Ada banyak hal dalam dunia ini yang bisa diterima dengan begitu sederhana, tetapi manusia membuatnya menjadi complicated

Banyak hal yang aku pelajari malam itu. [RN 220705]

Posted by rini1557 at 07:26:13 | Permalink | Comments (4)

Friday, June 24, 2005

A Nite with Nina

A Nite with Nina
 
Sudah tahunan rasanya tidak menonton sebuah pertunjukan musik lengkap dengan penyanyi yang lagi in. Dulu aku sering menonton Friday Jazz Nite di Pasar Seni, Ancol, hanya saja sekarang tidak pernah lagi. Pertunjukan musik yang terakhir aku tonton malahan hanya pertunjukan musik dari india dengan tabla-nya, atau aku masih ingat menonton pertunjukan musik acapela INSPI dari Jepang dengan penyanyi tamunya jamaica Cafe atau pertunjukan aneh lainnya. Makanya ketika seorang teman mengajakku menonton Nina, langsung saja ku-iya-kan, padahal sebenarnya aku tidak mengenal Nina dan lagu-lagunya secara khusus. Maksudnya bukan fans, gitu lho… 
 
Nina dengan suara altonya yang khas, bernyanyi tentang cinta malam itu di zoom resto and lounge dalam rangka peluncuran album terbarunya yang judulnya “ya..ya..ya”.  Sebuah pertunjukan yang menyenangkan dan atraktif. Menyenangkan melihatnya menjadi sebuah entertainer yang bernyanyi dengan hati. Aku yang duduk di pojok malam itu melihatnya benar-benar menikmati lagu yang dibawakan dengan enerjik.  Meskipun banyak tidak tahu lagu yang dibawakannya, tapi aku cukup terhibur dengan penampilannya.
 
 

 
 
Hampir di akhir pertunjukkannya yang hanya satu jam itu, Nina membawakan sebuah lagu yang aku ingat sewaktu di AW_AWe tahun lalu, dibawakan oleh Lukman. Judulnya You, penyanyi aslinya namanya Basil Valdez, liriknya begini…
 
 

You give me hope 

the strength and will to keep on 

No one else can make me feel this way 

And only you can bring out all the best I can do 

I believe you turn the tide 

and make me feel real good inside  

 

**

You push me up 

When I’m about to give up 

You’re on my side 

When no one seems to listen 

And if you go,

you know the tears can’t help but show 

You break this heart and tear it apart 

and suddenly the madness starts   

 

Chorus: 

It’s your smile, your face, your lips that I miss 

Your sweet little eyes that stare at me  

And make me say, I’m with you through all the way

Coz it’s you who fills the emptiness in me 

It changes everything you see 

When I know I’ve got you with me   

 

**, chorus

 
 
Tapi gaya Nina menyanyikan lagu ini berbeda dengan Lukman. Entah karena Lukman laki-laki atau Nina yang perempuan, atau karena aku sudah terlanjur suka dengan cara Lukman bernyanyi.  Aku yakin bukan karena genderism. Cara bernyanyi Lukman lebih terlihat dari hati dan lebih romantis, ketimbang Nina. Yang aku gak akan pernah lupa, karena Lukman bernyanyi beneran seperti orang yang lagi jatuh cinta (atau patah hati?) sehingga benar-benar menjiwai lagu itu. Dia membuat lagunya bernyanyi.  Sedang Nina yang notabene justru penyanyi, kelihatan (semoga bukan judgement) hanya sekedar menyanyi, jadi lagunya nggak “bunyi”.  sayang ya…
 
It’s your smile, your face, your lips that I miss
Your sweet little eyes that stare at me
And make me say, I’m with you through all the way
Coz it’s you who fills the emptiness in me
It changes everything you see
When I know I’ve got you with me

 
Anyway, aku menikmati pertunjukan malam itu dan lagu You menutup pertemuanku dengan Nina sekaligus membuatku tambah kangen pada seseorang yang saat ini jauh sekali dari Jakarta.
(RN,210605)
 
 
Posted by rini1557 at 08:02:40 | Permalink | No Comments »

Monday, June 6, 2005

Bukan Kebetulan

Jika anda penggemar James Redfield, pasti sudah membaca buku legendarisnya yang berjudul “Celestine Prophecy”.  yang paling aku ingat dari buku ini di halaman-halaman depan adalah pernyataan Charlene, teman sang tokoh utama yang mengatakan, “apabila suatu peristiwa terjadi, semuanya bukan karena kebetulan, tetapi sudah ditentukan sebelumnya dan bahwa hidup kita ini dibimbing oleh suatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan. Suatu pengalaman yang menumbuhkan perasaan akan misteri dan kegembiraan dan dengan cara demikian kita merasa lebih hidup”.

Kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam hidup kita sesungguhnya sudah diatur oleh sang Maha Pemilik Alam Semesta. Kita sebagai manusia sudah selayaknya belajar memahami tanda-tanda yang diberikan Allah untuk membantu kita.  Tapi terkadang, segala hal yang telah kita lalui, seringkali kebetulan dikatakan hanya sebagai ”kebetulan”. Begitu juga tatkala kami menyiapkan acara Cari Tahu Yuk!, sebuah kegiatan outing untuk anak jalanan tanggal 26 Juni 2005 lalu. 

Kebetulan yang pertama adalah sewaktu Virgina, salah seorang relawan KKS Melati menunjukkan sebuah majalah berjudul “Tamasya”.  Didalamnya terdapat sebuah artikel tentang sebuah lokasi menarik di Selatan Jakarta, namanya Hutan Kali Pesanggrahan.

Disana aku bertemu Pak Haji Chaerudin, salah satu petani dari Kelompok Tani Sangga Buana. Ia ingin anak dan cucunya masih merasakan keasrian dan ketenangan kota Jakarta. How come? Bagaimana bisa, padahal hawa Jakarta seperti yang kita lihat sendiri saat ini sudah tidak begitu bersahabat. Pagi hari sudah penuh dengan asap timbal. Coba lihat pepohonan yang ditanam sepanjang jalan, batangnya hitam legam dan sepertinya mereka berteriak-teriak dan megap-megap karena pori-porinya tertutup timbal.

Merasakan hawa segar pepohonan, suara burung bernyanyi dan bercanda diatas pepohonan, gesekan rumpun bambu, atau suara gemericik air kali, memang hanya ada di Kali Pesanggrahan.  Malu juga rasanya melihat seorang petani punya pikiran seperti itu. Lebih malu lagi karena ia bukan hanya berkata-kata tetapi ia mengambil tindakan. Ia melakukan penanaman pohon dan mengubah areal bekas tumpukan sampah menjadi hijau dengan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan.  Sedangkan aku? yah.. masih begini-begini saja, tidak ada tindakan nyata yang aku lakukan untuk membantu mewujudkan keasrian kota Jakarta. Tapi andaikan aku tidak secara kebetulan pergi ke Hutan Kali Pesanggrahan, aku tidak pernah belajar tentang alam atau memahami alam ini.

  

Di hutan ini pula aku bertemu dengan seorang sahabat lama. Ia dulu adalah relawan Kebun Binatang Ragunan, sama sepertiku. Sudah lima tahunan kami tidak bertemu dan ternyata Hutan Kali Pesangrahan yang mempertemukan kami. Mungkin karena minat kami yang kebetulan sama, atau memang hanya kebetulan saja kami bertemu disana, aku tidak tahu.

Kebetulan lainnya adalah pada saat kami melakukan pengumpulan dana untuk kegiatan outing tersebut.  Selagi sibuk dan repotnya mencari jaringan yang memungkinkan untuk membantu kami, tiba-tiba Koen, salah satu relawan Melati, memberikan kontak kami pada seseorang yang ternyata punya jaringan yang lebih luas lagi.  Karena kebetulan yang kebanyakan ini, rasanya kami semakin semangat saja menyiapkan acara outing ini. Mungkin juga karena kami begitu merindukan kebetulan-kebetulan lainnya yang mungkin akan kami temui.

Kebetulan-kebetulan dalam hidup ini sesungguhnya bukan hanya kebetulan. Sesungguhnya Allah-lah pemilik segala rencana.  Allah pula yang telah mengatur adanya pertemuan dan perpisahan dengan maknanya masing-masing. Setiap pertemuan kita dengan orang lain, sesungguhnya ada makna besar dibaliknya. Mungkin kita diminta untuk berbagi dengan orang lain itu, atau mungkin seseorang itu adalah media belajar empati, atau malahan orang lain itu adalah mirror, orang yang sama sifat dengan kita dan pertemuan dengannya adalah pelajaran refleksi yang diberikan Allah kepada kita. Pertemuan dengan seseorang diyakini selalu membawa pesan yang mungkin akan memudahkan kita dalam menempuh perjalanan hidup ini.  Sayangnya tidak setiap orang mau berbagi dan mencari pesan terselubung yang dibawa seseorang itu. Jadilah ia hanya pemanis pemandangan saja. Dilihat, tetapi tidak disapa. Dilihat tetapi sesungguhnya ia tidak ada.

Ada saat dimana terkadang aku tidak ingin bertemu dengan seseorang, hanya karena aku terlalu melindungi egoku. Aku bertemu dengan seseorang tetapi aku tidak menegurnya, bahkan menghindarinya untuk suatu alasan yang aku yakin aku karang sendiri. Aku benar-benar tidak melihat kehadirannya meskipun ia sesungguhnya ada. Jika apa yang ada di dalam “Celestine Prophecy” itu benar, maka mungkin saja sesungguhnya ia membawa pesan yang akan memudahkan hidupku.

Bukankah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukan kebetulan?

Lantas mengapa aku tidak juga membuka diriku untuk menerima dan memaafkannya?

Tiada sempurna cinta manusia
Hingga dia mampu mencinta
Sesamanya tanpa ada perbedaan

Tiada sempurna cinta manusia
Tanpa berbagi rasa
Kasih suci anugerah yang indah

(Anugerah Yang Terindah. Album : Anugerah Yang Terindah. Munsyid : Gradasi http://liriknasyid.com)

Semoga tulisan ini menyadarkanku untuk dapat membuka mata hati untuk melihat kebetulan-kebetulan yang diberikan Allah dan mengubahnya menjadi rasa syukur.

[RN , 050705]

 

Posted by rini1557 at 11:25:01 | Permalink | No Comments »