Monday, August 1, 2005

Wiken di Kota Tua Jakarta

Wiken lalu aku ikutan sama temen-temen yang hunting foto ke Kawasan Kota Tua Jakarta yang dulu disebut “Jewel of the East”, Permata dari Timur seperti julukan para pelaut Eropa yang lego jangkar pada abad ke-17 dan 18. Nggak ada target tertentu untuk foto-foto kali ini, aku juga yang gak punya kamera, tapi tetep ikutan aja buat jalan-jalan. Itung-itung Fat Burning. Ada 9 orang semuanya yang ikutan jalan-jalan hari itu. Perjalanan dimulai dari halte TransJakarta di sebrang stasiun Kota.  Tema foto-fotonya kali ini adalah tentang Fosil. Makanya nggak heran kalo Kota Tua Jakarta yang jadi pilihannya.

Dari depan halte kami menyebrang ke arah samping Museum Bank Mandiri. Gedung Museum ini dulunya adalah gedung pusat Bank Indonesia. Gaya arsitekturnya khas seperti umumnya bangunan BI di kota-kota di Indonesia, yaitu Neo-Classic, terlihat indah dengan ornamennya dan berwarna putih. Bangunan BI ini dibangun pada awal tahun 1990-an. Sayangnya nggak terawat dan kotor sekali.

Bau menyengat langsung tercium begitu sampai di pinggir Kali Besar (The Groote Kanaal) yang merupakan bagian hilir Kali Ciliwung. Dulu sekitar tahun 1800 air kali ini bisa diminum, untuk mandi dan mencuci. Kali ini sekarang begitu hitam dan banyak sekali sampah.”Ketauan kan betapa joroknya orang Jakarta sampe kali aja jadi item begini”, kata Liz ketika sampai disana. 

Di jalan Kali Besar Timur ada sebuah rumah tua yang sudah tidak terurus. Dulu rumah itu adalah rumah C.Bahre dan G.Kinder, yang dijadikan perusahaan trading, shipping dan insurance agents.  

Disisi jembatan kali yang dulu juga menjadi saksi bisu kekejaman Pemerintah Belanda dalam peristiwa Chineezenmoord atau pembantaian orang-orang Cina ini ada tulisan yang cukup menyolok, mengumumkan bahwa kali ini tengah “digarap” lewat program Kali Besar Bersih sebagai bagian dari Revitalisasi Kota Tua oleh Jakarta Old Town-Kotaku, yang dimotori Miranda Goeltom, Deputi Senior Bank Indonesia yang juga Ketua Dewan Pengurus Jakarta Old Town-Kotaku, bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Suku Dinas PU Tata Air Jakarta Barat, Bank HSBC, dan Bank Indonesia.

[wah nggak terlalu keliatan ya... ini foto Kali Besar jaman dulu, masih ada perahu layar dimana-mana dan kali itu masih digunakan untuk transportasi dari luar negeri ke Batavia]

 

Di tepi Kali Besar saat ini ditanami pohon-pohon palem raja dan diberi bangku-bangku dengan jarak tertentu. Tempatnya sesungguhnya jadi lebih lega, luas dan nyaman untuk wisata jalan kaki disana. Di Jalan Kali Besar Barat dan Kali Besar Timur, berjajar bangunan-bangunan dari abad 18, beberapa dari awal abad 20. Kawasan ini merupakan pusat dari benteng Kota Batavia, yang mengalami masa jayanya pada abad 17 dan 18. yang dibangun antara 1634 hingga 1645. Batavia adalah hasil rancangan Gubernur Jenderal Coen, yang berniat membangun Amsterdam versi Timur dan menjadi pusat administrasi dan militer Hindia Belanda. Beberapa bangunan unik khas Eropa di kawasan ini adalah bangunan Asuransi Lloyd (ada tulisannya Assurantie Kantoor), Standard Chartered Bank, PT Samudra Indonesia, PT. Bhanda, Graha Raksa, dan Toko Merah.

Toko Merah adalah sebuah rumah yang dibangun tahun 1730. Gedung yang dibuat dari batu bata warna merah sehingga disebut Toko Merah itu didesain bergaya Tiongkok itu adalah kediaman Gubernur Jenderal VOC Baton Van Imhoff.  Dulu pemisahan wilayah Jogja dan Solo lewat Perjanjian Giyanti konon dilakukan di Toko Merah ini.  Tiga belas tahun kemudian, bangunan ini menjadi Akademi Angkatan Laut hingga 1755. Setelah itu pemiliknya berganti-ganti, lalu sempat ditempati sebagai kantor PT Dharmaniaga. Ternyata bangunan ini baru saja di segel polisi karena digunakan untuk tempat berjudi.

   

Setelah foto-foto di depan Toko Merah, kami menuju Jembatan Kota Intan. Jembatan tua peninggalan Belanda ini dibangun tahun 1628, menghubungkan sisi Timur dan Barat Kota Intan di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Utara. Jembatan ini dilengkapi dengan semacam pengungkit untuk menaikkan sisi bawah jembatan. Penjaga dengan sigap akan menarik tali pengungkit jika ada kapal yang akan melewati jembatan menuju Kota. Namun, jembatan yang hampir semuanya terbuat dari kayu itu makin lama makin lapuk dan kini tidak lagi difungsikan alias ditutup.

Jembatan ini pernah 5 kali berganti nama. Seusai dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda, jembatan dinamai Jembatan Inggris (Engeise Brug), karena tidak jauh dari lokasi itu yaitu di dekat Kafe Galangan, dahulu dibangun benteng pertahanan milik Inggris. Nama itu lalu diubah menjadi Jembatan Pusat, disinyalir karena pengelolaannya dipegang pemerintah pusat Hindia Belanda. Pada tahun 1900-an di sisi jembatan ada pasar ayam yang ramai sekali, nama jembatan berganti lagi menjadi Jembatan Pasar Ayam. Pada tahun 1938 di masa pemerintahan Ratu Juliana, jembatan direnovasi dan namanya diubah menjadi Jembatan Ratu Juliana (Ophaalsburg Juliana). Nama akhirnya berubah menjadi Jembatan Kota Intan karena di kawasan tersebut terdapat kastil Batavia bernama “Diamond“. (IVV) Nama itu yang sampai sekarang akhirnya dipakai. Sayangnya di masa Orde Baru jembatan ini dipugar dan dibuat permanen dan tidak bisa lagi dijungkitkan. Alasannya bisa jadi karena sekarang tak ada lagi kapal besar yang bisa berlabuh.         

Dari jembatan kota intan, kami singgah sebentar di mesjid untuk sholat, lalu perjalanan dilanjutkan melewati jalan tongkol, dekat SAJA, menuju ke restoran sari kuring dan Galangan VOC.

Kamipun tiba di lokasi bekas bengkel kapal VOC atau dikenal juga dengan VOC Shipyard. Di sini, pada masa lalu, kapal-kapal yang rusak diperbaiki. Saat ini, bangunan memanjang dengan jendela-jendela segi tiga di atapnya tersebut direvitalisasi sebagai restoran dengan tetap mempertahankan arsitektur aslinya.

Dari Galangan VOC, kami menyebrang ke Menara Syahbandar.  Pada tahun 1839 di lokasi ini didirikan Menara Syahbandar yang berfungsi sebagai kantor pabean, atau pengumpulan pajak dari barang-barang yang diturunkan di pelabuhan. Lokasi menara ini menempati salah satu bastion (sudut benteng) yang tersisa. Sayangnya bentuk bentengnya sudah tidak bisa dikenali lagi.

Dari Menara Syahbandar, kami langsung menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Pelabuhan Sunda Kelapa kini merupakan pelabuhan bongkar muat barang, utamanya kayu dari Pulau Kalimantan. Di sepanjang pelabuhan berjajar kapal-kapal phinisi atau Bugis Schooner dengan bentuk khas, meruncing pada salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal. Setiap hari tampak pemandangan para pekerja yang sibuk naik turun kapal untuk bongkar muat.

Selain sebagai wujud muka
Batavia yang berhubungan langsung dengan dunia luar, Sunda Kelapa juga adalah pelabuhan tertua di Indonesia. Pelabuhan ini sudah beroperasi sejak Abad XV. Dan pelabuhan ini menjadi pintu gerbang yang sangat penting bagi Kerajaan Padjajaran yang berkuasa di Tanah Pasundan (sekarang Jawa Barat).

Pelabuhan Sunda Kelapa sebetulnya telah terdengar sejak abad ke-12. Kala itu pelabuhan ini sudah dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk milik kerajaan Hindu terakhir di Jawa Barat, Pajajaran, terletak dekat Kota Bogor sekarang. Kapal-kapal asing yang berasal dari Cina, Jepang, India Selatan, dan Arab sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi kekayaan tanah air saat itu.

Bangsa Eropa pertama asal Portugis tiba pertama kali di Sunda Kelapa tahun 1512 untuk mencari peluang perdagangan rempah-rempah dengan dunia barat. Keberadaan mereka ternyata tidak berlangsung lama, setelah gabungan kekuatan Muslim Banten dan Demak, dipimpin Sunan Gunungjati (Fatahillah), menguasai Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta (“kemenangan yang nyata”) tanggal 22 Juni 1527.

Seiring pergeseran zaman, Pelabuhan Sunda Kelapa tidak seramai pada 1522 yang mengukuhkan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan terbesar dan paling ramai di Asia Tenggara. Fungsi Sunda Kelapa sebagai pelabuhan mulai terkikis setelah Belanda membangun Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara pada 1885. Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa sekadar tempat berlabuh kapal tradisional antarpulau yang mengangkut kayu seperti dari Sumatra dan Kalimantan.

      

Di Pelabuhan Sunda Kelapa kami naik perahu (Kata Dessy yang saat itu sedang belanja di mangga dua, kalau kecil, namanya perahu, kalau besar, baru namanya kapal).  Satu perahu 5 orang. Bau solar yang mencemari laut begitu kental. “Mikir-mikir deh snorkling disini, ” kata Liz sambil terus foto-foto. Beberapa kapal-kapal yang sedang sandar itu sedang dibersihkan dan tampak beberapa pekerja dengan peralatan snorkel ala kadarnya membersihkan badan kapalnya.

Hampir sunset di Pelabuhan Sunda Kelapa, tapi perjalanan masih panjang. Kami memutuskan untuk kembali ke Museum Sejarah, untuk ketemu Dessy.

Museum Sejarah (Stadhuis) dibangun tahun 1620 hingga 1707 atas inisiatif Gubernur Jenderal Coen dan awalnya digunakan sebagai bangunan balai kota semasa VOC berkuasa. Taman Fatahillah yang terletak di depannya menyimpan banyak sejarah, salah satunya pembantaian 5.000 keturunan etnis Cina pada tahun 1740.  Tambah sore, ternyata cahaya di Museum Sejarah tambah eksotis saja.

Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein”. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC ”’Johannes Rach”‘ yang berasal dari ”’Denmark”‘, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungakan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah.  Sayangnya sekarang air mancurnya sudah tidak berfungsi lagi dan bau pipis yang sangat menyengat.

Di Taman Fatahillah kami berpisah, untuk ketemu lagi lain waktu.

Artikel diatas banyak copy and paste dari internet, bukan tulisanku semua lho… terus foto batavia lama bisa dibaca di buku Batavia in Nineteenth Century Photographs by Scott Merrillees. Kalo mau minta ijin ditaruh di blogku kemana ya?  Terima kasih buat Aya dan Vie yang udah bikin foto-foto perjalanan. Foto Aya lainnya dapat dinikmati secara lengkap di http://ceritaaya.multiply.com/photos

[RN 010805]

Posted by rini1557 at 04:21:50 | Permalink | Comments (41)

Friday, June 24, 2005

A Nite with Nina

A Nite with Nina
 
Sudah tahunan rasanya tidak menonton sebuah pertunjukan musik lengkap dengan penyanyi yang lagi in. Dulu aku sering menonton Friday Jazz Nite di Pasar Seni, Ancol, hanya saja sekarang tidak pernah lagi. Pertunjukan musik yang terakhir aku tonton malahan hanya pertunjukan musik dari india dengan tabla-nya, atau aku masih ingat menonton pertunjukan musik acapela INSPI dari Jepang dengan penyanyi tamunya jamaica Cafe atau pertunjukan aneh lainnya. Makanya ketika seorang teman mengajakku menonton Nina, langsung saja ku-iya-kan, padahal sebenarnya aku tidak mengenal Nina dan lagu-lagunya secara khusus. Maksudnya bukan fans, gitu lho… 
 
Nina dengan suara altonya yang khas, bernyanyi tentang cinta malam itu di zoom resto and lounge dalam rangka peluncuran album terbarunya yang judulnya “ya..ya..ya”.  Sebuah pertunjukan yang menyenangkan dan atraktif. Menyenangkan melihatnya menjadi sebuah entertainer yang bernyanyi dengan hati. Aku yang duduk di pojok malam itu melihatnya benar-benar menikmati lagu yang dibawakan dengan enerjik.  Meskipun banyak tidak tahu lagu yang dibawakannya, tapi aku cukup terhibur dengan penampilannya.
 
 

 
 
Hampir di akhir pertunjukkannya yang hanya satu jam itu, Nina membawakan sebuah lagu yang aku ingat sewaktu di AW_AWe tahun lalu, dibawakan oleh Lukman. Judulnya You, penyanyi aslinya namanya Basil Valdez, liriknya begini…
 
 

You give me hope 

the strength and will to keep on 

No one else can make me feel this way 

And only you can bring out all the best I can do 

I believe you turn the tide 

and make me feel real good inside  

 

**

You push me up 

When I’m about to give up 

You’re on my side 

When no one seems to listen 

And if you go,

you know the tears can’t help but show 

You break this heart and tear it apart 

and suddenly the madness starts   

 

Chorus: 

It’s your smile, your face, your lips that I miss 

Your sweet little eyes that stare at me  

And make me say, I’m with you through all the way

Coz it’s you who fills the emptiness in me 

It changes everything you see 

When I know I’ve got you with me   

 

**, chorus

 
 
Tapi gaya Nina menyanyikan lagu ini berbeda dengan Lukman. Entah karena Lukman laki-laki atau Nina yang perempuan, atau karena aku sudah terlanjur suka dengan cara Lukman bernyanyi.  Aku yakin bukan karena genderism. Cara bernyanyi Lukman lebih terlihat dari hati dan lebih romantis, ketimbang Nina. Yang aku gak akan pernah lupa, karena Lukman bernyanyi beneran seperti orang yang lagi jatuh cinta (atau patah hati?) sehingga benar-benar menjiwai lagu itu. Dia membuat lagunya bernyanyi.  Sedang Nina yang notabene justru penyanyi, kelihatan (semoga bukan judgement) hanya sekedar menyanyi, jadi lagunya nggak “bunyi”.  sayang ya…
 
It’s your smile, your face, your lips that I miss
Your sweet little eyes that stare at me
And make me say, I’m with you through all the way
Coz it’s you who fills the emptiness in me
It changes everything you see
When I know I’ve got you with me

 
Anyway, aku menikmati pertunjukan malam itu dan lagu You menutup pertemuanku dengan Nina sekaligus membuatku tambah kangen pada seseorang yang saat ini jauh sekali dari Jakarta.
(RN,210605)
 
 
Posted by rini1557 at 08:02:40 | Permalink | No Comments »

Friday, February 11, 2005

Oleh-oleh nonton Konser Acappella - INSPi

Tadi malam, disaat beberapa relawan Melati sibuk membantu pementasan teater anak-anak jalanan Dilts Foundation yang pada hari yang sama mengadakan pentas teater berjudul “Ande-Ande Lumutan” di Graha Bakti Budaya Tim, aku menyempatkan diri menghadiri undangan Mbak Diana dari Japan Foundation, menonton Konser acapela – INSPi di Teater kecil TIM.  O ya, bintang tamunya grup acapela dari Indonesia – Jamaica Cafe – yang juga sangat menghibur.
 

Kelompok musik mulut (acappella) yang awalnya bernama “INSPiritual Voices” dibentuk tahun 1997 dengan album pertama “INSPiritual Voices”. Konser live pertama tahun 1998, menjadi sejarah perubahan nama baru kelompok “INSPi”. INSPi meraih sukses dalam konser tur keliling Jepang yang menjadi momen terbaik untuk dikenal masyarakat luas. Setelah album “Va Li Ha Li Ha” mereka merilis album “INSPi Roman” September 2004. 

Kali ini mereka pentas di Makassar, Jakarta dan Jogja.  Teater kecil yang memang kecil itu tadi malam penuh sesak.  Begitu datang, di dalam ruangan sudah disediakan teh, kopi dan kue-kue yang menggitu menggoda.  Wah… pertunjukan musik dengan kue-kue seperti ini pasti menarik sekali ya? Benar saja, pertunjukkannya pun tak kalah menarik.  Meskipun hampir seluruh lagu acapela dibawakan dalam bahasa Jepang, tapi bentuk kesenian yang ditampilkan benar-benar bagus.  Malam itu aku sedikit tahu tentang lagu-lagu permainan anak-anak jepang, yang dibawakan dengan sangat fun.  Takafumi WATANABE  sang Vokalis  yang membawakan Perkusi dengan mulutnya, tampak paling sibuk dan repot sekali menjaga ritme dan suara yang dihasilkannya. Maklum, dia ini penentu seluruh alat musik yang dimainkan, berdua dengan Akira TSUKATA sang Vokalis Bass.  Akira suaranya beraaaat sekali… padahal badannya kerempeng dan sangat tidak cocok dengan suaranya.  Aku jadi ingat sebuah pembicaraan dengan teman-temanku dulu, bahwa tidak ada korelasi antara suara seseorang dengan bentuk tubuhnya. Bisa saja seseorang itu bertubuh besar, tetapi suaranya kecil.  Dulupun aku pernah tertarik dengan suara seseorang yang sangat sexy, tapi ternyata setelah bertemu, ia tampak biasa-biasa saja. 

Balik ke INSPi. Lagu-lagu yang dibawakannya beragam, dengan gaya yang lucu-lucu. Yang paling menakjubkan adalah pada saat grup ini bertemu dan berkolaborasi dengan Jamaica Cafe.  Jamaica cafe malam itu membawakan lagu-lagunya dengan nakal, kalau tidak bisa dibilang urakan, dan jelas sangat berbeda dengan gaya grup INSPi. Ditengah kesibukan masing-masing, mereka sempat menciptakan sebuah lagu untuk dinyanyikan bersama.  Bayangkan dua buah kelompok acapela dengan teknik dan gaya musik yang berbeda dipadu padankan menjadi satu. Jamaica cafe dengan 2 orang Vocalis dan 4 orang pesuara alat musik dan INSPi dengan 4 orang vocalis dan 2 orang pesuara alat musik membuat teater kcil begitu riuh rendah.  Sungguh sebuah pertemuan seni yang indah.  Jadilah lagu Kokorono nekko (Akar Hati) didendangkan. Penyanyi Indonesia menyanyikannya dengan bahasa Jepang, penyanyi jepangnya menyanyikan dengan bahasa indonesia.  Karuan semua penonton bertepuk tangan dan memberikan semangat yang luar biasa.  INSPi terlihat sangat senang dengan sambutan yang diberikan. Sumringah tampak diwajah mereka yang berkeringat.  Akar hati, kira-kira isinya, meskipun kita berbeda, namun tetap sama, tetap memiliki akar hati yang sama. Seperti itulah.   

Lagu penutup dari serangkaian lagu-lagu yang didendangkan juga sangat menarik.  Lagu inipun didendangkan bersama antara INSPi dengan Jamaica Cafe.  Uniknya lagu ini diperkenalkan oleh pembawa acara sebagai lagu lama yang sangat terkenal di negeri Jepang.  Judulnya semula tak dapat kutebak, tapi begitu kata pertama dinyanyikan entah oleh Takehiko KITA (Vokalis),  atau Shinji OKUMURA (Vokalis), atau Tomoyuki OKURA (Vokalis), atau Atsushi SUGITA (Vokalis), pokoknya salah satu diantara mereka deh.  Dan mulailah lagu Bengawan Solo terdengar aneh ditelinga orang Indonesia karena dinyanyikan dengan cara Jepang (tidak ada huruf ‘el’-nya) lalu jamaica Cafe menyambung lagu Bengawan Solo dengan musik keroncong, lalu disambung lagi oleh INSPi menyanyikan lagu Bengawan Solo dengan bahasa Jepang. Kebayang kan? Pasti asyik sekali.  Rasanya 2 jam waktu yang sangat pendek untuk menikmati musik seperti ini. 

Anda anda semua ada disana tadi malam. 

Yang menarik dari itu semua adalah bahwa setiap perbedaan adalah rahmat dan saling mewarnai dunia ini 

Bagi anda yang masih ingin nonton, jadualnya hari ini :

JADWAL PERTUNJUKAN INSPi:
Di JAKARTA
bintang tamu JAMAICA CAFE’

Jumat, 11 Februari 2005 (Umum)
Pukul 20.00 WIB
Tempat pertunjukan di Teater Kescil TIM (Teater Studio)
Jl. Cikini Raya 73
Telp. 021-314 4191

Semoga masih kebagian tiket. 

Selamat menonton.

Posted by rini1557 at 07:04:55 | Permalink | Comments (1) »