Thursday, January 17, 2008

Community Development dari Barito

Pagi ini (17/1) pada acara Jakarta Pagi Bincang Pagi JakTV ada diskusi menarik dengan Koordinator Pedagang Barito, Bapak Cahyo Suparno dan salah seorang perwakilan pedagang bunga, Ibu Naniek.

Perbincangan pagi ini adalah seputar rencana penggusuran para pedagang bunga dan ikan di Barito ke lokasi baru, yaitu di area Pasar Inpres tidak jauh dari situ, berdasarkan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 2006.  Hari Kamis ini (17/1), menurut petikan berita di Warta Kota, mereka akan direlokasi.  Menurut Ibu Naniek yang sudah berjualan di Barito sejak tahun 1970-an, rencana penggusuran ini terkesan main-main. Bagaimana tidak, sejak tahun 2007 lalu, surat ijin berdagang di lokasi tersebut sudah tidak dikeluarkan oleh PemDa, tetapi pungutan per bulan kepada para pedagang tetap dilakukan oleh PemDa. Cahyo yang pagi itu mengenakan kaos bertuliskan “Gubernurku yang baik, jangan gusur kami”, mengatakan bahwa sejak kebakaran di gardu travo beberapa waktu lalu yang ditengarai dilakukan oleh preman, Cahyo dan teman-teman sudah menerima Surat Perintah Bongkar. Mereka semakin terancam diusir ke lokasi baru.

Menurut Ibu Sarwo Handayani Kepala Dinas Pertamanan DKI melalui telepon ke redaksi JakTV, PemDa berencana merefungsi lokasi tersebut menjadi lokasi SPBU. Para pedagang bunga dan ikan akan dipindahkan ke lokasi baru  di Pasar Inpres dan setiap pedagang akan diberikan ruang usaha sebesar 2 X 2 m, lebih kecil dibandingkan kios mereka saat ini yang rata-rata berluas 2 X 5 m dan 2 X 6 m. PemDa mengatakan bahwa di Pasar Inpres tersebut, mereka akan diberikan kios gratis. Menurut Cahyo yang sudah berdagang sejak tahun 1985-an, hal tersebut tidak mungkin terjadi karena dengan masuknya mereka ke Pasar Inpres, otomatis mereka akan mendapat tekanan dari pedagang lain di lokasi baru tersebut karena mereka harus membayar sedangkan pedagang Barito yang pindah ke lokasi tersebut, gratis. Lagi pula yang akan melakukan pungutan sewa lokasi adalah PD Pasar Jaya, bukan PemDa.

Menurut Ibu Naniek, lokasi Barito tidak perlu dilakukan refungsi, karena fungsinya saat ini sudah cukup baik. Taman di belakang kompleks pedagang bunga dan ikan ini sudah menjadi daerah resapan air dan taman kota . “Jika terlihat kurang rapih tamannya, silahkan dirapihkan”, katanya. Hal ini diamini oleh Cahyo. “Jika lokasi kami dipandang sudah kumuh, saya dan para pedagang bunga menawarkan untuk bekerja bersama mendesain ulang lokasi ini. Kami sudah membuat sketsa untuk lokasi ini dan PemDa tidak perlu mengeluarkan biaya”, katanya lagi seraya menunjukkan sebuah sketsa kompleks pertokoan minimalis di tengah indahnya taman bunga dan pepohonan.

Konsep Community Development saat ini memang hanya menjadi jargon saja. Menurutku, apa yang sudah diupayakan oleh Cahyo dan teman-teman sangat baik. Mereka menawarkan sebuah desain indah untuk merenovasi toko mereka dan mengupayakan pelaksanaannya dan juga pendanaannya bersama-sama dengan para pedagang lainnya.  Sayangnya, konsep yang ditawarkan para pedagang tidak sejalan dengan konsep PemProv DKI Jakarta. Seringkali PemProv DKI membuat kebijakan tanpa berdiskusi tentang keinginan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat selalu menjadi tumbal ataupun mendapatkan hak yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Pembangunan masyarakat tidak diupayakan agar masyarakat ikut menjadi bagian didalamnya melainkan hanya sebagai obyek saja. “Yang penting kami sudah menyiapkan lokasi baru untuk mereka”, alasannya tanpa melihat apakah lokasi baru itu memudahkan mereka untuk berjualan, apakah lokasi baru tersebut sama strategisnya dengan lokasi yang lama, dan apakah lokasi tersebut adalah lokasi yang sesuai untuk masyarakat. Pendekatan pembangunan masyarakat hanya terlihat indah pada forum-forum diskusi saja, tetapi tidak jelas implementasinya sampai kapanpun, jika upaya yang dilakukan pemerintah tetap sama seperti apa yang baru saja mereka lakukan dengan para pedagang di Barito. Jika ada upaya berdiskusi dengan mereka, saya merasa dengan adanya sebuah ruang terbuka hijau dengan konsep perpaduan antara pertokoan dan taman bunga serta pepohonan, akan menambah hijaunya ibukota, daripada sekedar membuka SPBU di lokasi yang saat ini sudah hijau itu. Pembangunan dari segi pemerintah yang sering kali terlihat, bukan lagi pembangunan berwawasan kemasyarakatan yang dilakukan. Akan seperti apa jadinya kota ini? [RN, 170108]

Bacaan lain :
http://kompas.com/ver1/Metropolitan/0801/16/045411.htm
http://www.vhrmedia.net/home/index.php?id=view&aid=4908&lang=
http://dicky.wahyupurnomo.com/detik/?id=10792
http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/01/04/1/72909/kios-di-pasar-bunga-barito-terbakar

Posted by rini1557 at 09:39:25 | Permalink | Comments (1) »

Friday, October 6, 2006

Bercocok Tanam, Mengenal Tanaman

“Eh, ini namanya apa?” kata seorang ibu dua anak yang tinggal di Jakarta, tatkala kami sedang mengikuti acara Tour de Kampong yang diselenggarakan oleh sebuah hotel di kawasan Anyer.

“Itu namanya jantung pisang,” kataku, sambil menunjukkan bagian-bagian jantung pisang tersebut. “Jantung pisang biasanya dipotong-potong dan dijadikan sayur. Disetiap helainya terdapat calon pisang satu sisir. Secara keseluruhan, jantung pisang ini bisa berkembang dan menjadi satu tandan pisang,” jelasku.

“Wah, bagus sekali yaaa…. boleh nggak saya bawa pulang? Kebetulan anak-anakku belum pernah melihat jantung pisang seperti ini”, katanya.

Belum pernah? Kataku dalam hati. Aku mengenal tanaman pisang (Musa indica sp) sejak aku dapat membedakan nama-nama tanaman. Beruntungnya aku karena adik ibuku mengoleksi beraneka ragam tanaman pisang di kebun samping rumahnya. Saat itu aku begitu mengagumi tanteku karena beliau sanggup membedakan spesies tanaman pisang yang satu dengan spesies tanaman pisang yang lain.

Aku memang cukup beruntung. Tatkala aku kecil, ayah mengajari aku dan adik-adikku cara menanam berbagai tanaman di halaman rumah.  Kami sering bepergian ke kios Pertani untuk sekedar membeli bibit tanaman dan menanamnya di pot atau langsung di halaman. Ide awalnya adalah untuk memperkenalkan aku dengan berbagai bibit dan tanaman. Jadilah aku dan adik-adikku menanam aneka tanaman apotik hidup, tomat, cabe, terung, pare, dan lain-lain.  Para tetangga di sekitar rumah kamipun banyak menanam tanaman, seperti singkong, ubi jalar, dan tanaman buah lainnya seperti pepaya, jambu, jeruk, sawo, mangga, dan lainnya.  Aku menikmati saat-saat memetik langsung tomat, pepaya atau cabe langsung dari tanamannya.

Saat ini di Jakarta sudah tidak banyak anak-anak muda yang mengenal tanaman pekarangan. Mungkin karena di halaman rumah mereka tidak ada tanah tersisa untuk ditanami, atau malahan tidak memiliki pekarangan sama sekali. Halaman rumahku sendiri tidak begitu luas tetapi banyak sekali tanaman ditanam disana. Tanaman buah-buahan seperti jambu dan belimbing; tanaman obat seperti lengkuas, jahe, salam, dan kunyit; belum lagi tanaman taman seperti anthurium sp, adenia sp, lili paris, tricolor sp dan lainnya. Malah ada banyak sekali tanaman yang aku juga belum tahu namanya. Suatu hari nanti aku bertekad untuk memberi label pada semua tanaman yang ada di rumahku.

Sulitnya menanam tanaman pekarangan karena tidak memiliki halaman untuk menanam, saat ini dapat disiasati dengan menanam tanaman dalam pot. Beberapa tetanggaku saat ini sedang asyik menanam tanaman dalam pot. Entah mereka berburu dari mana tanamannya, tetapi aku begitu menikmati hijaunya pemandangan yang ada disana, meskipun seluruhnya terdiri dari tanaman pot.

Kebiasaan menanam itu ternyata juga menulari Ida, pembantuku. Setiap kali aku sibuk menternakkan Anthurium, ia melihatku dan banyak sekali bertanya tentang proses menanam, kenapa perlu dirabuki, dan berapa kali harus disiram. Aku mengajarinya menanam beberapa bibit tanaman dan mengajaknya melihat bibit yang ditebarkannya di tanah. Sampai suatu hari …

“Mbak, ini bijinya bisa ditanam, nggak?” katanya suatu pagi tatkala ia sibuk menyiangi pare yang masih muda. Aku menyempatkan diri menengok keadaan biji-biji pare yang dikumpulkannya.

“Ini yang putih nggak bisa ditanam, Da”

“Kenapa?”

“Biji yang masih muda belum bisa dijadikan bibit untuk ditanam. Kamu harus memilih pare yang kuning dan sudah tua. Bijinya bisa diambil lalu ditanam”, kataku lagi, menjelaskan, sambil mencari kalau-kalau ada bibit yang sudah coklat dan bisa dijadikan percobaan bagi Ida untuk menanam. Tapi ternyata tidak banyak biji yang cukup tua untuk ditanam. Rasanya besok aku akan pergi ke Pertani untuk mencari bibit pare, agar Ida punya pengalaman menanam pare.

Di Jakarta ini ada banyak sekali Ida-Ida yang lain yang juga tidak memiliki pengalaman untuk menanam. Entah karena tidak tertarik, ataukah karena ada kesulitan untuk mendapatkan tanaman, media tanam, dan tempat untuk menanamnya. Aku teringat pada seseorang yang lahir di desa. Ia begitu beruntung mengenal berbagai macam tanaman dan tahu dengan pasti bagaimana memperlakukan tanaman. Ia pula tempatku belajar tentang tanaman. Paling tidak, aku punya keinginan untuk belajar dan melestarikan tanaman semampuku. Aku tidak bisa membayangkan apabila suatu hari anakku terkesima melihat pohon pisang di sebuah buku, hanya karena saat itu ia tidak pernah melihatnya lagi  tumbuh di lingkungan sekitar rumahnya. Mari kita biasakan menanam tanaman di pekarangan rumah kita sebagai media pembelajaran bagi anak-anak kita. [RN, 061006]

 

 

Posted by rini1557 at 05:07:16 | Permalink | Comments (8)

Thursday, June 8, 2006

Teras Nyaman di Kota Jakarta

Kali ini aku mendapat kesempatan untuk makan siang di sebuah restoran di Selatan Jakarta. Nama restorannya adalah Courtyard Terrace : Simply Chinese. Letaknya di Plaza Senayan, tidak jauh dari kantor klienku. Hari itu, beberapa klienku mengajak aku dan rekan kerjaku untuk sebuah lunch meeting, sebuah pertemuan sambil makan siang.

Dari tampak luar, restoran ini tidak terlalu menarik pengunjung untuk datang, tetapi ketika pertama kali aku melangkahkan kakiku didalamnya, suasana nyaman dan menyenangkan segera terasa. Restoran berkonsep resto masakan Cina modern minimalis dengan dominasi warna hitam, emas dan marun, yang menciptakan atmosfer yang elegan namun santai. Pelayan-pelayan restoran ini dengan sigap dan penuh senyum mengembang mencarikan kami tempat duduk.

 

Sambil mengobrol, aku begitu menikmati suasana di restoran ini. Hey, di pelataran Plaza Senayan ada musical fountain! Aku pasti sudah lama sekali tidak berkunjung ke Plaza Senayan ini bahkan mungkin terakhir kali sewaktu aku dan teman-teman berpartisipasi di acara futsal yang digelar oleh CWS beberapa waktu lalu. Waktu itu 
 musical fountainnya belum ada. Pintar sekali desainer air mancur menari ini, pikirku, karena tidak diperlukan kolam besar dan desainnya begitu sederhana dan minimalis. Cocok sekali keberadaan restoran yang minimalis ini dengan pemandangan seperti ini melalui kaca-kacanya yang lebar.

“Bapak pasti sering makan disini, ya?” ujarku membuka pembicaraan. “Apa menu favorit Bapak disini?”

“Wah disini banyak sekali makanan yang enak dan pasti halalnya, karena mereka tidak menyediakan daging babi. Kalau makan siang disini pasti penuh sekali,” jawabnya. “Cobalah tumis buncis muda tabur daging, itu kesukaan istri saya, lalu udang goreng tabur wijen saus mayonaise yang ini lezat sekali,” katanya lagi seraya menunjuk beberapa gambar di buku menu.

Jadilah kami memesan tumis buncis muda tabur daging, udang goreng tabur wijen saus mayonaise, ikan malas saus sze zuan, ayam goreng hainan, dan ifu mie. Untuk minumannya aku pilih jus strawberry yang kelihatannya begitu menggoda air liurku. Belum lama kami berbincang-bincang, pesananpun datang.

“Ifu mienya boleh minta tolong dibagi lima langsung, Mbak,” kata seorang klienku. Wow, pikirku. Aku belum pernah punya pikiran seperti itu tatkala makan di sebuah restoran. Alih-alih menolak, sang pelayan malahan dengan sigap menyiapkan sebuah meja untuk membagi ifu mie kami menjadi lima porsi lalu dituangnya ke dalam lima buah mangkok kecil. Bukan hanya itu saja, karena kami akhirnya juga meminta ikan malas pesanan kami untuk juga dibagi lima, demi kesopanan menyantap hidangan dan juga (mungkin) demi mencegah kami saling berebut makanan. Kadangkala, makan bersama klien memang tidak sespontan cara makanku bersama teman-teman ataupun bersama keluarga. Setiap kelompok makan pasti punya aturannya tersendiri.

Tidak lama kemudian nasipun datang. Kebetulan aku sedang tidak makan nasi di siang hari, sehingga tiga mangkuk nasi yang sudah dipesan lalu dibagikan bukan untukku. Dua orang klienku lantas membagi nasi di sebuah mangkok menjadi dua bagian. Kata mereka, makan siang tidak boleh terlalu banyak karbohidrat, dan itu berarti tidak boleh terlalu banyak makan nasi. Tetapi pada saat menyendok nasinya, seorang klienku menemukan selembar rambut diantara nasinya.

“Minta tukar saja,” kataku.

Semangkok nasi baru segera datang disertai ucapan maaf dari sang pelayan. Kami tidak terlalu mempermasalahkan sang nasi dan rambutnya lagi, karena terlalu lapar dan toh kami sudah mendapatkan semangkok nasi yang baru.

Makanan di restoran ini benar-benar lezat dan diramu dengan begitu professional. Chefnya didatangkan khusus dari Kuangtung, Cina.  Master Chef Yim Ying Tat, namanya, menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang Chinese culinary di Hongkong.  No wonder kalau rasa masakannya begitu berbeda.

Begitu kami selesai makan, seorang pelayan datang. “Mbak, karena tadi nasinya ada rambutnya, kami akan memberikan hidangan penutup sebagai complimentary.” ujarnya.  Aku pun bertambah bingung karena segera setelah itu beberapa pelayan membersihkan meja kami dan meletakkan lima piring kecil lengkap dengan garpu untuk menyantap hidangan penutup, yaitu sebuah pancake isi kacang merah tabur wijen hangat berukuran sedang yang baru saja matang. Hidangan ini terlihat yummy sekali dan benar saja, rasanya begitu lezat. Kalau aku tidak sedang diet dan bukan sedang makan siang bersama klienku, mungkin saja aku sudah kalap dan menyantap sebanyak-banyaknya. 

Tidak biasanya sebuah restoran di Jakarta atau juga di Indonesia memberikan pelayanan yang begitu prima. Restoran ini tidak begitu mahal dan sungguh sangat terjangkau, tetapi pelayanan di restoran ini patut diacungi jempol. Bos PT Panen Boga Lestari yang juga pengelola jaringan restoran Courtyard, Chatter Box,
Spice Garden, dan Sogo Bakery, Anthony Cottan patut tersenyum bangga kepada para pelayannya. [RN,080606] 

Posted by rini1557 at 02:50:02 | Permalink | No Comments »

Wednesday, March 8, 2006

Jenguki Sahabat dari Rusia

Hari Selasa lalu (070306) aku menjenguk Aya, salah seorang relawan KKS Melati, di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan. Ia baru saja selesai menjalani operasi usus buntunya pada pagi hari sebelumnya. Ia masih tampak pucat namun sudah banyak tersenyum.

Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan adalah Rumah Sakit Kelas B berada di Wilayah Jakarta Timur. Sesampainya di rumah sakit itu, aku merasakan suasana rumah sakit yang berbeda dengan suasana rumah sakit pada umumnya. “Tempat ini seperti sel tahanan”, komentarku pada Liz dan Dessy yang turut menjenguk Aya, segera setelah memasuki gedung rumah sakit. Persis seperti gedung tua pada umumnya, bangunan rumah sakit ini dilengkapi dengan elevator yang sudah pasti sangat keren pada jamannya yang membuatku teringat pada film-film James Bond di negeri Rusia sana. Dinding tinggi dengan ventilasi udara, sedangkan jendelanya sederhana saja.

Tidak jauh dari pintu masuk, aku melihat sebuah prasasti tertempel di dinding rumah sakit itu. ternyata RSUP Persahabatan adalah rumah sakit perwujudan persahabatan Indonesia dan Uni Sovyet.  Rumah sakit ini merupakan sumbangan dari Pemerintah Uni Soviet (Rusia) kepada Pemerintah Republik Indonesia.  Gedungnya mulai dibangun tahun 1961 dengan luas tanah sekitar 15 ha, saat ini konon luasnya tinggal 13,5 ha.  Rumah sakit ini diserahkan resmi kepada Pemerintah Indonesia pada tanggal 7 November 1963.  Sejak itu, secara Administratif RSUP Persahabatan merupakan Rumah Sakit Vertikal dibawah Depkes RI Cq. Dit. Jend. Pelayanan Medik, Operasionalnya merupakan satelit RSUPN CM berlangsung sampai tahun 1975. Dari tahun 1975 RSUP Persahabatan berubah menjadi RS Mandiri langsung dibawah Depkes RI menjadi RS Rujukan Nasional untuk Penyakit Paru.

Tidak banyak sisa persahabatan Indonesia dan Uni Sovyet yang tertinggal di kota Jakarta ini. Salah satu bangunan lainnya adalah Patung Pahlawan.

Patung Pahlawan atau yang biasa kita kenal dengan Tugu Tani, letaknya di segitiga Menteng, Jakarta Pusat. Patung ini dibuat oleh dua orang bangsa Rusia, yaitu Matvei Manizer dan Otto Manizer, yang diberikan sebagai hadiah kepada Pemerintah Republik Indonesia.  Baik Matvei maupun Otto belum pernah ke Indonesia sebelumnya dan mereka mengadakan survey ke beberapa daerah di Indonesia sekedar untuk mencari inspirasi tentang bentuk patung yang memiliki sentuhan Indonesia. Pada sebuah desa di Jawa Barat, keduanya menemukan sebuah dongeng rakyat mengenai seorang ibu yang mengantarkan anak laki-lakinya berangkat ke medan perang. Untuk mendorong keberanian sang anak serta tekad memenangkan perjuangan, maka sang ibu memberikan bekal nasi kepada anaknya. Ide inilah yang kemudian diambil oleh Manizer bersaudara.

Patung Pahlawan yang terbuat dari bahan perunggu ini dibuat untuk menggambarkan perjuangan Bangsa Indonesia. Pada saat itu Bung Karno ingin merayakan perjuangan Bangsa Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari belenggu penjajahan Belanda.  Patung ini digambarkan dalam dua bentuk orang, yakni pria dan wanita. Sang Pria digambarkan sebagai tipe seorang petani menyandang bedil, sedangkan sang wanitanya digambarkan berupa tipe seorang ibu yang sedang memberikan bekal kepada sang pria. Bung Karno meresmikannya pada tahun 1963 dengan menempelkan plakat yang berbunyi, “Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah Bangsa yang besar”.

Sayangnya tidak banyak orang yang peduli dengan kehadiran bukti-bukti peninggalan sejarah semacam ini. Tidak banyak pula penduduk Jakarta yang tahu siapa pembuat patung-patung yang bertebaran di Jakarta ini. Mungkin pula karena letak patungnya di tengah-tengah taman sehingga tidak memungkinkan siapapun mendekati patung tersebut, sekedar untuk melihat tulisan pada tugu patung tersebut. Apalagi untuk menemukan apakah nama sang pematung memang ada tertulis di kaki patung itu? Aku pernah menemani seorang tamu asing berkeliling Indonesia. Ia mengagumi patung-patung di Jakarta dan begitu antusiasnya ia membandingkan patung-patung di negaranya dengan yang ada di Jakarta. Tapi ia kecewa karena aku tidak banyak tahu soal para pematungnya. Di negaranya, pada setiap kaki patung ditulisi nama pematungnya, karena mereka begitu menghargai karya seni para pematung. Berbeda dengan di Indonesia, apalagi di Jakarta. Siapa yang mau peduli? [RN,080306].

Sumber data tentang Patung Pahlawan : Anonim. Monumen dan Patung di Jakarta. Dinas Museum dan Pemugaran Propinsi DKI Jakarta. 1999/2000.

 

Posted by rini1557 at 12:12:43 | Permalink | No Comments »

Wednesday, November 23, 2005

Terminal Idaman

Entah mengapa hari itu aku tiba lebih dulu. Biasanya, setiap kali janjian dengan temanku yang satu ini, pasti aku terlambat 10 menit dari jadual yang dijanjikan. Karena tiba 30 menit lebih awal, aku putuskan untuk berjalan-jalan disekeliling terminal Blok M Mall.

Sudah tahunan rasanya sejak terakhir kali aku berjalan-jalan disini. Ketika kutelusuri alley  demi alley, barulah aku ingat mengapa aku tidak suka tempat itu. Aku merasa tingkat pengamanan dua lantai di bawah permukaan tanah itu selalu tidak nyaman dan tidak aman. salah satunya, aku melihat springkler di sana yang sudah berdebu, bersarang laba-labanya dan aku yakin springkler itu tidak pernah diujicobakan atau dibersihkan. Aku tidak ingin berada disana pada saat ada kebakaran, karena aku tahu, selain pengap, disana juga tidak tersedia cukup alat pengaman (safety device) untuk keadaan darurat.  Aku juga tidak menemukan letak hose selang pemadam kebakaran. Mungkin tertutup para pedagang disana atau menang tidak ada. Aku tidak mau terlalu memikirkannya pada saat aku secara fisik berada disana.

Pagi itu, aku merasa takjub karena outlet-outlet di sepanjang alley  Terminal Blok M Mall berpendingin ruangan. Hawanya cukup sejuk , meskipun udara yang dihembuskan dari mesin pendingin ruangan itu sudah pasti tidak pernah diperiksa kebersihannya.  Seorang teman kantorku dari negeri kangguru pernah masuk ke rumah sakit selama dua minggu dan dokter di RS itu tidak dapat menemukan penyakitnya. Setelah sekian lama, barulah diketahui bahwa mesin pendingin ruangan di apartemen tempatnya tinggal tidak menghembuskan udara bersih, alias sudah kotor penyaringnya. Itu penyebab ia sakit. Aku tidak tahu apakah pernah ada korban dengan penyakit yang sama akibat adanya pendingin ruangan di lokasi itu.

Meskipun tidak terlalu ramai, Terminal Blok M Mall ini cukup membingungkan dan makin membuatku tidak nyaman karena terlalu banyak tangga naik dan turun. Dengan kondisi back injury , terkadang agak merepotkan juga berjalan melalui begitu banyak tangga. Berhubung khawatir tersesat dan tidak tiba di tempat yang dijanjikan pada waktu yang ditentukan, aku langsung saja mencari akses keluar dari lokasi itu. 

Aku janjian dengan seorang teman di sekitar area pembelian tiket masuk TransJakarta. Alih-alih menemukan alley yang langsung menuju kesana, seperti biasa, aku tersesat dan tahu-tahu aku menemukan diriku keluar di pintu Barat sebelah pasar Blok M. Aku langsung saja kembali ke pintu masuk Terminal Blok M yang aku tahu, supaya tidak tersesat lagi.

………..Sesampainya disana tepat pada jam yang dijanjikan, temanku ternyata belum tiba juga………….

Karena bosan dan tidak tahu harus melakukan apa, ditambah tidak terlalu suka berjalan-jalan tanpa tujuan, akhirnya kuputuskan untuk mencari tempat duduk untuk menunggu.

Ternyata sulit sekali mencari tempat untuk duduk. Terminal Blok M Mall tampaknya memang tidak tersedia tempat menunggu yang nyaman. Tidak pula ada semacam public area untuk menunggu. Karena tidak kuat lagi berdiri terlalu lama, akhirnya kuputuskan untuk duduk disebuah warung kue tak jauh dari situ. Kebetulan warung kue itu memiliki banyak tempat duduk.

Sambil makan kue, aku melayangkan pandanganku ke sekitar terminal itu. Memang tidak terlalu banyak orang lalu lalang disana karena masih pagi. Kalaupun ada orang yang sedang menunggu temannya seperti aku, mereka rela menghabiskan waktunya untuk sekedar berjalan-jalan diseputar tempat itu.  No wonder ada banyak ruang untuk berjualan dan cukup padat pula rasanya, sehingga menambah sesak lokasi itu. Aku lihat, tidak banyak orang yang menunggu temannya di tempat itu. Ada beberapa orang yang aku lihat sedang menunggu, mereka juga duduk-duduk, makan kue dan minum, tetapi tidak terlalu lama. Biasanya setelah itu, mereka berdiri menunggu di tempat dimana mereka janjian.  Ada pula yang terlihat memaksakan diri untuk terus berdiri sampai kaki-kakinya pegal linu. Aku pikir, ini sebabnya mengapa pemerintah atau pengelola tempat itu tidak memandang perlu menyediakan lokasi untuk menunggu. Alasan lain, mungkin, jika disediakan tempat menunggu akan digunakan dengan tidak sepatutnya. Aku tak tahu. 

…...Temanku SMS, ternyata ia mengalami gangguan pada perutnya dan baru saja berangkat dari rumahnya. Paling cepat ia sampai ditempat aku berada sekitar 30 menit……

Sambil makan kue sosis soloku yang pertama, aku membayangkan sedikit space ditempat ini, lengkap dengan sofa yang nyaman dan bersih untuk menunggu, lalu ada setumpuk buku-buku ringan,  dan  majalah, pasti waktu menunggu yang aku habiskan paling tidak dapat terobati.  Tapi mungkinkah di Terminal Blok M Mall ini ada tempat semacam ini? Tanpa bermaksud su’udzon, aku merasa semuanya akan sia-sia, karena di Jakarta ini tidak banyak orang-orang yang menghargai buku sebagai sumber informasi dan sumber ilmu. Alih-alih tempat itu digunakan untuk menunggu, jangan-jangan malahan digunakan untuk pertemuan bandar narkoba. Hiiiiiiiiiii……

…...Temanku ternyata membutuhkan waktu 90 menit untuk sampai di tempat yang dijanjikan. Aku yang terlalu lama menunggu akhirnya menghabiskan waktu menontoni para pengguna TransJakarta yang sibuk mengantri membeli karcis. Sebuah tontonan tersendiri……..

[RN,231105]

Posted by rini1557 at 09:49:17 | Permalink | No Comments »

Monday, August 15, 2005

Memaknai Kemerdekaan

Setiap menjelang tanggal 17 Agustus di kampungku di Pancoran, selalu ada keramaian dimana-mana.  Mulai dari pemasangan bendera merah-putih di sepanjang gang di kampung itu dan gapura ala kadarnya di ujung gang, atau pembentukan panitia yang biasanya terdiri dari remaja tanggung, dan persiapan berbagai pertandingan-pertandingan seru a la kampung.  Ternyata kegiatan yang sama tidak hanya berlangsung di kampungku. Di banyak kampung tempat para relawan KKS Melati tinggal, kegiatan serupa juga ada dan tak kalah meriahnya.  Ada satu kampung yang membuat umbul-umbul warna-warni dari kain bekas yang mungkin diambil dari tukang jahit sudut kampung, ada yang sibuk menggergaji papan tripleks untuk dijadikan gapura dan masih banyak lagi kegiatan lainnya.

Menyambut 17 Agustus mendadak kampung-kampung menjadi hidup.  Bapak-bapak yang biasanya sibuk bekerja, kini meluangkan waktu sorenya untuk mengukur bambu, menggergaji tripleks, mengecat gelas bekas air mineral yang dibeli dari pemulung yang sering keluar masuk kampung dengan warna merah putid, demi sekedar meramaikan hari yang bersejarah ini. Di bulan Agustus ini bisa dibilang sikap gotong-royong dan kebersamaan meningkat dengan tajam.

Satu hal yang selalu mengelitik pikiranku setiap tahunnya : Mengapa hari kemerdekaan negara kita diperingati dengan pemasangan bendera dan gapura yang cukup memboroskan dana masyarakat, seolah-olah dengan bendera yang banyak berkibar di sepanjang gang-gang menandakan peningkatan rasa kebangsaan. Benarkah hanya diukur dengan jumlah bendera?

Untuk merayakan 17 Agustus, dikampungku juga mengadakan berbagai macam perlombaan. Meskipun sederhana, namun meriah adanya.  Mulai dari balita hingga ibu-ibu dan bapak-bapak tumpah ruah untuk bersama-sama bermain.  Ini mungkin yang disebut sebagai keriaan kampung atau pesta kampung.  Lihatlah bagaimana mereka seadanya mengumpulkan uang untuk sekedar membeli hadiah-hadiah. Lihatlah betapa mereka bisa bergotong-royong dan kerukunanpun tercipta. Sungguh luar biasa. Namun terkadang akupun miris, karena pemborosan yang dilakukan atas nama Peringatan 17 Agustus atau atas nama Peringatan hari Kemerdekaan. lantas segi arti kemerdekaan yang mana yang bisa diperingati dari, misalnya, lomba memakai sepatu yang diikuti balita di kampungku?

Lain di kampung, lain lagi perayaan di kantor.  Di kantorku selalu ada upacara bendera untuk memperingati 17 Agustus. Letak lapangannya di halaman parkir belakang gedungku. Biasanya kami mulai upacara pukul 8.00 dan berakhir sekitar pukul 9.00 lalu dilanjutkan dengan berbagai perlombaan. Sampai saat ini aku tetap tidak mengerti, bagaimana bisa sebuah upacara bendera memaknai arti kemerdekaan bangsa ini? Bagaimana bisa ratusan orang berdiri selama 45 menit lalu bisa dikatakan bahwa mereka sudah memaknai arti kemerdekaan? 

Padahal dulu ketika Bung Karno dan Bung Hatta akan membacakan teks Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, 60 tahun yang lalu, Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada  pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari tiga ratus tahun!

Kemerdekaan negara ini dulu diartikan sebagai kebebasan dari penjajahan. Inilah salah satu cara untuk berdiri diatas kaki kita sendiri, Bangsa Indonesia, dan lepas dari belenggu penjajahan. Agak sulit rasanya untuk dapat menempatkan diri dan berempathy kepada perjuangan yang dilakukan para veteran bangsa ini demi mendapatkan kemerdekaan, namun memaknai kemerdekaan di jaman ini bisa dilakukan dengan banyak hal. Mungkin (misalnya) kita mengundang para pejuang kemerdekaan untuk duduk dan ngobrol bersama, atau mungkin mengadakan renungan untuk menyadarkan kita akan arti kemerdekaan, lalu berkomitmen tentang bagaimana cara mengisi kemerdekaan ini, dibandingkan sekedar mengikuti upacara atau berpesta dikampung sendiri.

Hari merdeka,

Nusa dan bangsa.

Hari lahirnya Bangsa Indonesia,

MERDEKA!! 

Sekali merdeka tetap merdeka,

Selama hayat masih dikandung badan

[RN, 140805]

 

 

Posted by rini1557 at 07:32:42 | Permalink | Comments (1) »

Thursday, August 4, 2005

Trotoar oh Trotoar

Trotoar berasal dari kata Perancis, trottoir [dibaca : trotoar].  Di Indonesia kata ini diartikan sebagai jalur pejalan di sisi jalan raya yang ditujukan terutama bagi pejalan (kaki).  Trotoar biasanya dibangun lebih tinggi dari permukaan jalur lalulintas kendaraan/jalan aspal untuk kendaraan. Tidak mudah saat ini mencari trotoar di Jakarta yang nyaman untuk pejalan kaki.  Meskipun kata orang, trotoar adalah hak pejalan kaki, rasanya hak itu tidak mudah pula direalisasikan, karena mungkin para investor menganggap bahwa bisnis perbaikan pedestrianisasi secara investasi tidak menguntungkan.

Jika anda kebetulan berjalan kaki di jalan Duren Tiga, tidak ada lagi kenyamanan berjalan kaki diatas trotoar. Bahkan hak anda sebagai pejalan kaki hilang begitu saja. Begitu anda memasuki jalan Duren Tiga, didepan SD Duren Tiga 01 Pagi itu ada banyak sekali orang berjualan berderet-deret diatas trotoar itu, mulai pedagang ayam goreng, martabak telor, martabak manis, lalu tukang jual kripik singkong, lalu warung nasi bertengger dengan manisnya. Agak ke arah Barat sedikit bertenggerlah tukang es campur, tukang sate padang, tukang nasi uduk, ayam goreng, lalu tukang buah. Semuanya berjualan di atas trotoar. Siapapun yang lewat di trotoar jalan itu, pasti tidak akan pernah berhasil berjalan dengan baik diatas trotoar, meskipun Pemda mengatakan bahwa seluruh pejalan kaki diwajibkan berjalan diatas trotoar demi keselamatan masing-masing. Saat ini meskipun DLLAJR giat mengkampanyekan gerakan jalan kaki di atas trotoar dengan memasang puluhan spanduk sepanjang Jakarta, tetap saja sulit bagi pejalan kaki untuk mengikuti anjuran tersebut.  

Persis di depan Hotel Kaisar, ada tukang jual rokok.  Tukang ini sebelumnya tidak ada, dan ia membuka kiosnya tepat ketika Hotel Kaisar beroperasi. Hanya dengan satu kotak kaca alumunium ber-rak 3, ia berjualan, tepat menutupi badan jalan trotoar. Aku harus permisi-permisi dulu sebelum berhasil melewatinya. Tidak jauh dari situ, tepat di depan Rumah Sakit Bersalin Duren Tiga, ada tukang bakpao yang setiap hari memang nongkrong disitu. Ia duduk di kursi plastik dengan bahagianya, sementara aku harus untuk kesekian kalinya terpaksa turun dari badan jalan trotoar ke jalan raya. Akibatnya? Bukan sekali dua kali aku hampir keserempet motor.

Pengendara motor di Jakarta kini memang semakin liar. Aku yang baru turun dari trotoar langsung saja di klakson dengan kencangnya. Belum lagi mereka berlomba-lomba adu cepat, sehingga selain harus sigap, aku juga harus konsentrasi beradu cepat dengan para pengendara sepeda motor itu. Tempo hari bahkan mereka melintas di atas badan trotoar dan salah satu dari pengendara motor itu mendelikkan mata dibalik helmnya hanya untuk menegurku karena aku menghalangi jalannya. Hey? Jalan siapa?

Pernah pula suatu ketika pada saat aku ingin sekali menikmati trotoar di Duren Tiga, aku tidak peduli pada tukang ayam goreng yang baru saja mendirikan tendanya. Aku lewat persis di samping bangku panjang mereka, dibawah tenda, di atas trotoar, tapi tukang ayam goreng langsung ngomel panjang kali lebar, “Mbak, lewatnya dibawah aja, wong ada yang jualan gini kok lewat sini,” katanya, tanpa peduli bahwa ia baru saja menghilangkan hak ku sebagai pejalan kaki yang baik.

Penggunaan trotoar untuk tempat usaha merupakan tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum. Tapi kemana Dinas Pekerjaan Umum saat ini? Mengapa mereka membiarkan hak pejalan kaki terampas? atau kemana Pemda DKI selama ini? bukankah kenyamanan berjalan kaki termasuk ke dalam ruang lingkup kerjanya?

Mungkin di Jakarta ini selain ada trotoar, sebaiknya juga ada walkway, atau jalur pejalan kaki. Kalo ada Busway, mungkin saja walkway bisa menjadi alternatif. Jalur pejalan kaki bisa diartikan sebagai setiap/ segala bentuk jalur/ lajur yang terutama ditujukan bagi pejalan, dapat dibuat sejajar dengan jalan raya, seperti trotoar dan arkade, atau menyilang dengan jalan raya, seperti jembatan dan terowongan penyeberangan, atau memotong jalan raya, seperti zebra cross, atau di luar bagian jalan raya, seperti jalan pintas lewat taman kota dan gang.

Masalahnya sekarang, apakah walkway bisa jadi alternatif pemecahan? Apa sudah pasti terhindar dari serbuan para pedagang kaki lima atau penjual makanan itu?

Ternyata bukan aku saja yang bermasalah dengan trotoar, coba intip di : http://www.jakarta.go.id/forum/display_topic_threads.asp?ForumID=1&TopicID=346&PagePosition=1 banyak sekali warga Jakarta yang punya masalah yang sama denganku. Aku benar-benar merindukan trotoar yang nyaman dan aman di kota ini. Kalau mau usul ke Bang Yos untuk membuat trotoar di seluruh Jakarta ini seperti trotoar yang ada di jalan protokol, bagaimana caranya ya?

 [RN, 040805]

Posted by rini1557 at 09:10:24 | Permalink | Comments (7)