Monday, July 10, 2006

Kebetulan, atau sudah ditentukan?

Seorang perempuan muda membuang kulit pisangnya sembarangan. Tidak jauh dari tempat ia membuang kulit pisangnya, ia terpeleset oleh sebuah kulit pisang, tasnya terlempar darinya dan hinggap di sebuah skate board yang begitu saja muncul. Ia lantas mengejarnya dan akhirnya bertemu dengan seorang laki-laki yang disukainya.
 
***
 
Betul. Cerita diatas adalah sebuah klip iklan deodorant di televisi. Bukan iklannya yang akan saya bahas kali ini, tetapi, dari cerita ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nasib kita memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Nasib, takdir, dan kata-kata sejenisnya yang artinya kurang lebih sama, adalah suratan garis yang telah ada dari sejak kita dilahirkan di dunia ini. Suratan yang sama yang kita pilih sepanjang hidup kita. Pilihan yang sudah ditentukan.
 
Berlawanan dengan hal itu, kita tentu mendengar sebuah kata lain yang bisa jadi adalah kebalikan dari kata nasib, suratan, atau takdir itu. Nama katanya adalah “Kebetulan”. Kebetulan dipercaya oleh banyak orang sebagai hal yang tidak ada kaitannya dengan nasib. Tidak untukku, kebetulan tetap saja bagiku merupakan bagian dari nasib,  meskipun terkadang kata ini menjadi sebuah bonus yang menyenangkan.
 
Berkaitan dengan kata kebetulan, banyak sekali hal kebetulan yang pernah aku alami.
 
Di suatu hari yang panas terik, aku bepergian dengan beberapa orang teman untuk mengunjungi seorang kawan dalam rangka bersilaturahmi usai hari raya Idul Fitri. Di terminal Depok yang penuh sesak dengan manusia, aku harus berjuang untuk dapat keluar dari terminal tersebut. Pada saat berdesakan itulah, aku berkata kepada teman di depanku, “wah, kalo desek-desekan gini paling enak dengerin kasetnya Opick yang judulnya astagfirullah, biar orang-orang nggak saling dorong mendorong”, kataku. Tiba-tiba saja, toko kaset di depanku memutar lagu Opick dan “kebetulan” lagu yang diputarnya adalah lagu Opick dengan judul yang kuinginkan. “Nah, lo”, kata temanku sambil tertawa,”Makanya hati-hati ngomong, Bu!” ujarnya. Aku lantas terdiam sambil berpikir apa makna dari keanehan ini.
 
Pada episode lain di kehidupanku, lagi-lagi sang “Kebetulan” berbenturan lagi denganku. Ceritanya, aku sedang fotokopi beberapa lembar dokumen di sebuah tempat fotokopi di depan kantorku. Ketika akan membayar, aku bingung akan mengeluarkan uang pas atau uang pecahan besar agar mendapat kembalian. Aku memilih yang kedua. Aku keluarkan uangku Rp.50,000, dan lantas mendapatkan kembalian sebesar Rp. 22,000. Uang itu aku pegang dan entah kenapa aku tidak mengembalikannya ke dalam dompetku. Dari tempat fotokopi, aku melewati tukang martabak yang sedang menggoreng dengan bau yang sungguh menggoda lidah dan air liurku. Segera saja aku mampir dan membeli satu buah martabak spesial dengan telur bebek 4 buah. Tatkala aku melihat daftar harganya, aku tertawa. Betapa tidak, harga martabak itu sama persis dengan jumlah uang yang sejak tadi aku genggam. Rp. 22,000!
 
Terkadang, sepulangnya aku dari kantor, tukang bakso dan tukang bubur yang mangkal di depan kantorku seringkali menyapaku. Mereka memintaku mampir dan membeli dagangannya. Suatu kali,  entah mengapa aku ingin sekali membeli bubur sukabumi. Aku ingin saja membelinya tanpa tahu kenapa aku ingin membelinya. Lantas aku beli satu porsi untuk aku bawa pulang. Sesampainya di rumah, aku serahkan bungkusan bubur itu kepada ibuku. Beliau segera saja membukanya dan tertawa, “Aku tadi hampir telepon kamu, mau minta dibelikan bubur ini.” katanya. Kebetulankah?
 
Kebetulan-kebetulan yang aku alami, aku percayai sebagai suatu hal yang bukan hanya kebetulan, tetapi memang sudah ditentukan. Kadangkala, ditengah kepenatan kita menjalani aktivitas sehari-hari, kita terlupa untuk mendengarkan diri kita, mendengarkan hati kita sendiri. Karena sesungguhnya segala kebetulan yang kita alami itu adalah suatu cara untuk membangunkan diri kita untuk terus mendengarkan kata hati kita. [RN,100706].
Posted by rini1557 at 10:17:12 | Permalink | Comments (2)

Thursday, January 27, 2005

Axel, Inspirasiku

“Daun…Daun…” celotehnya suatu pagi.  Sempat aku bertanya-tanya mengapa sepagi ini ia sudah mengucapkan kata “Daun”, padahal kami tak juga berada di kebun belakang rumahku.  Rupanya Axel, Sang keponakanku, tengah menghafalkan kata baru yang semalam didengarnya dari pembicaraanku dengan Adik Iparku. 

Bukan hanya kata daun, tapi ia juga menyebutkan “dadung” untuk Jagung, “obat” salah satu kata yang diingatnya karena ia tidak suka minum obat, “papa-mama” dengan sangat jelas, “De” yang ini panggilan untukku, “kua” untuk keluar.  Kata yang terakhir itu adalah kata favoritnya, karena ia seringkali menarik telunjuk siapapun untuk mengantarnya pergi keluar rumah. 

Usianya baru 14 bulan, tapi tingginya sudah lebih dari lututku.  Kegemarannya lari, bukan berjalan, mengingatkanku pada Forest Gump, Sang Pelari.  Cerdasnya luar biasa, aku tidak punya banyak pengetahuan tentang perkembangan otak seorang anak balita, tapi menurut logic thinkingku, nalarnya berjalan cukup cepat.  Kalau ia ingin keluar, ditariknya tangan telunjukku dan ia mengarahkan kami ke pintu sambil berkata “kua…kua…” lalu biasanya aku tipu ia dengan mengatakan “De nggak punya sendal”.  Ajaib juga rasanya ketika ia lantas menunjuk sendalku yang ada di bawah kursi, bahkan mengambilkannya untukku dan meletakkannya tepat satu pasang kiri dan kanan.  Lalu diambilnya jilbabku dan diberikan kepadaku. Ditungguinya aku mengenakan jilbab, lalu ia tarik telunjukku dan mengajakku keluar.  Belum puas mengerjainya, aku katakan padanya kalau pintu ruang tamuku dikunci dan kuncinya dibawa oleh Ida, pembantu rumahku.  Lalu, tebak apa yang dilakukannya? Didatanginya Ida di dapur, ditariknya telunjuk tangannya, diajaknya pergi ke arah pintu. Tentu maksudnya ia meminta Ida untuk membukakan kunci pintu ruang tamu, karena ia ingin pergi keluar. Luar biasa.

Mengamati perkembangan seorang anak balita rasanya begitu menakjubkan. Memperhatikannya belajar dari waktu ke waktu sungguh merupakan kesenangan tersendiri.  Membuatku bersyukur terhadap hidupku saat ini.  Betapa besar yang sudah diberikan Allah kepadaku, yang tidak bisa kuhitung banyaknya.  Sebagian besar malahan aku sudah lupa rasanya. Aku lupa rasanya menghirup udara pertama kalinya di dunia ini, lupa rasanya mendengar yang pertama kali.  Apakah saat itu aku takut? atau aku bahagia? Akupun lupa bagaimana dulu aku belajar berjalan, bagaimana pertama kali kakiku menopang tubuhku dan bagaimana pertama kali kuayunkan langkahku.  Aku lupa bagaimana rasanya belajar membaca, belajar naik sepeda, belajar berenang, atau belajar yang lainnya.  Saat ini pun aku lupa apa yang sudah aku alami beberapa detik yang lalu.  Apa rasanya dan bagaimana efeknya terhadap diriku. Banyak hal yang berlalu begitu cepat dan tidak aku nikmati barang sesaatpun.  Padahal entah dikeseluruhan detik itu Allah selalu menjagaku, melindungiku, menyayangiku, membimbingku, dan entah mengapa aku tidak selalu bisa merasakannya.

Wahai jiwa,

Engkau ada di dalam diri ini,

Engkaulah kaca,

Engkaulah tempatku kembali bertanya

Ajari aku mengenalmu,

Ajari aku kembali.

[Rini, 27/1/05]

Posted by rini1557 at 07:44:08 | Permalink | Comments (1) »

Friday, December 24, 2004

Berkaca pada diriku sendiri

Ku ketuk pintu batinmu                           

Tapi kau tak menjawab

Ku ketuk lagi

Ku ketuk lagi

Berharap

Engkau sendiri yang akan membukakan pintumu untukku

Ini AKU

Aku yang datang

Aku yang mengetuk pintumu

Ijinkan aku masuk

Ijinkan aku membuatmu bahagia

Ku ketuk pintu batinmu

Tapi kau tak menjawab

(RN, 11 okt 2004)

***

Mendengarkan suara batin jika tidak terbiasa, pasti sulit dilakukan. Itu juga yang aku rasakan. Pada satu kesempatan, aku sampai di sebuah supermarket kota ini, dan tak tahu apa alasannya saat itu juga aku ingin sekali membeli roti tawar.  Aneh sekali, keinginan untuk membeli roti tawar begitu besarnya padahal aku tak tahu mengapa aku harus membelinya.  Sesampainya dirumah, ibuku berkata, “Kamu kapan ke supermarket, belikan Ibu sebungkus roti tawar!” Ya Allah… itu rupanya intuisi yang tadi aku rasakan, tapi tidak aku dengarkan.  Dan kejadian seperti itu bukan hanya sekali saja terjadi.

Mendengarkan suara batin entah kapan terakhir kali aku melakukannya.  selalu saja pikiranku yang aku utamakan, bukan suara batinku.  Mungkin jika aku menjadi suara batin, pastilah aku sudah menderita sekali dan putus asa karena ratusan kali tidak digubris.  Tapi suara batinku tidak pantang menyerah. Setiap hari ia terus saja menghujaniku dengan suara-suaranya sambil berharap suatu saat aku akan mendengarkannya lagi.

Suara batin, atau suara kalbu, aku percayai sebagai suara diri.  Suara yang murni, putih dan jujur.  Semoga aku bisa mendengarmu lagi. Karena tanpamu, aku tidaklah menjadi lengkap. Tanpamu, aku tidak bisa menemukan diriku.

RN, 24/12/04

Posted by rini1557 at 04:44:15 | Permalink | Comments (1) »

Monday, November 22, 2004

Belajar dari anak-anak

Aku punya seorang keponakan. Namanya Axel. Nama Axel diambil dari seorang gitaris bernama Axel Rose. Entah kenapa nama itu dipilih. Mungkin, ayahnya memang gandrung dengan sang gitaris itu.

Axel saat ini umurnya setahun. Mungkin karena dia keponakanku dan aku jarang ketemu dia, jadilah pada setiap kesempatan aku berusaha lebih banyak memperhatikan dia.  Bagaimana caranya belajar berjalan, betapa ia berjuang untuk bisa melangkah, caranya tertawa dan caranya menikmati hidup ini, wahai… sungguh suatu keindahan dan ketakjuban sendiri untukku. 

 Suatu hari ayahnya Axel, yang juga adikku itu, menginap di sebuah Hotel di Jakarta Barat. Seperti layaknya hotel berbintang empat lainnya, kamar hotel itu dilengkapi dengan karpet tebal, kamar mandi dan bath tub.   Axel sangat menikmati pengalaman pertamanya menginap di hotel.  jika dia menginap dirumahku, ia selalu ragu-ragu melangkahkan kakinya di lantai. Mungkin pikirnya, jika ia jatuh, pasti sakit rasanya.  Di Hotel, Ia justru berani melangkah lebih dari 3 langkah. bukan hanya sekedar melangkah, tetapi sudah setengah lari. Bahkah lebih lucu lagi, jika ia melangkah sampai ke kamar mandi, lalu ia belok ke arah kamar mandi. entah kenapa, pasti lantas ia berjongkok, lalu berjalan mundur, mendahulukan kaki ketimbang badannya.  Untuk orang desawa seperti aku, pasti aneh sekali mengamatinya.  Mengapa ia tidak langsung saja melangkahkan kaki ke sana? Mengapa harus mundur? Mungkin cara begitu lebih aman untuknya, ia bisa tahu kondisi lantai disebelah sana.  Jika lantainya lebih rendah, pasti ia lebih aman. Di kamar mandi, ia bereksplorasi. Dijelajahinya setiap sudut kamar mandi seperti layaknya seorang detektif.  Gulungan tissue ditariknya hingga habis, sekedar ingin tahu ada apa di ujung sebelah sana.  Bath tub pun dijelajahinya.  Jika sang ibu mengisinya dengan penuh, hati-hati sekali dimasukkannya tangannya ke bath tub itu, lalu bermain air dengan asyiknya. 

Axel bagiku adalah keajaiban tersendiri. Bagaimana tidak ajaib? Ia tidak pernah melemparkan badannya ke lantai, tapi jika aku meletakkannya di atas kasur, pasti ia langsung jungkir balik tidak karuan dan melemparkan badannya ke atas kasur, seolah tahu bahwa kasur itu tidak akan melukainya dan ia menikmati sensasi terpental-pental diatas kasurnya yang lembut itu. Kok bisa, gitu lho…. Entah apa yang ada dipikirkannya saat itu.

Anak-anak dimanapun juga selalu penuh dengan kejutan-kejutan yang mungkin saja membingungkan bagi orang dewasa. Tapi begitu banyak yang bisa dipelajari dari mereka. Kepolosannya, keingintahuannya untuk belajar hal-hal yang baru. aku sendiri tidak ingat, kapan aku belajar sesuatu yang baru? Setahun lalu kah? Tadi pagikah? Atau aku kini tidak sadar waktu melakukannya? Anak-anak biasanya tidak banyak berpikir, mereka merasakan sesuatu, mengambil tindakan dari hati, bukan dengan pikirannya. Berbeda dengan orang dewasa (aku juga tentunya) terbiasa melakukan segala sesuatu dengan pikiran. Bahkan mengambil keputusan tidak dari hati, tapi dengan pikiran.  Pikiran yang lalu mengotori jiwa dengan segala pikiran-pikiran yang tidak baik, negatif dan bahkan begitu meracuni hingga jiwa ini ikut terkontaminasi. Sudah lama rasanya aku tidak membersihkan jiwaku, berpikir sesuai dengan apa yang kurasa, bukan dengan apa yang aku pikirkan.

(RN, 15/12/04)

 

Posted by rini1557 at 03:45:44 | Permalink | No Comments »

Tuesday, October 26, 2004

Syukurku panjatkan

Rumahnya sederhana. Sebuah kontrakan sederhana tanpa perabotan yang luasnya dua kali empat meter. Tidak luas, bahkan sangat sempit. Setiap sore didepan rumahnya aku sedikit mengintip isinya. Disanalah, didalam ruangan yang sempit itu ia memarkir gerobak kue ranginya. Ruangan sempit itu tinggal sepertiga lagi setelah habis spacenya untuk menyimpan gerobaknya. Dengan jongkok di tempat yang tinggal sedikit lagi itu, masih saja ia sibuk memarut kelapa sekaligus menjaga panci berisi rebusan gula merah untuk kue rangi baru  yang akan dijualnya esok hari. Malam sudah beranjak larut ketika akhirnya ia selesai mempersiapkan bahan-bahan untuk berjualan esok pagi.  Lelap ia malam itu sambil berharap peruntungan yang lebih baik esok hari.

Namanya Pak Agus. ia tinggal sendiri saja di Jakarta, membanting tulang untuk keluarganya yang tinggal di kampung. Pagi-pagi benar ia meninggalkan rumah kontrakannya berjualan kue rangi keluar masuk kampung.

Aku cukup beruntung. Kerja di kantoran berlantai 15, dingin, dan jarang sekali terkena terpaan panasnya sinar matahari terik di siang hari.  Dibandingkan dirinya, aku sungguh malu. Aku yang jika pulang kantor lalu sibuk menyalakan tivi atau sibuk mengintip menu makan malam buatan ibuku yang diletakkan di atas meja makan. Saat yang sama Pak Agus masih bekerja keras, bahkan sepulangnya ia dari perjalanannya hari itu. Berjualan kue rangi keluar masuk kampung pasti juga membutuhkan tenaga. Dibandingkan denganku, pastilah aku masih punya banyak tenaga ekstra untuk melakukan hal yang lain selain menonton TV.

Banyak lagi kehidupan yang lain yang kutahu lebih berat dijalani.  Tetanggaku yang lain adalah para pedagang kaki lima di Pasar Jatinegara.  Mereka tinggal bersama dalam satu kamar kontrakan dengan sewa Rp. 150,000 sebulan yang dibayar dengan berpatungan 3-5 orang.  Kamar sempir berukuran 3 X 3 m itu mereka isi dengan 3-5 orang. Semakin banyak penghuninya, maka semakin murah mereka harus sharing untuk membayar biaya sewa.  Tidur hanya beralaskan alas lantai seadanya.  Jika malam tiba, dinginnya lantai juga merayapi tubuhnya.  Mungkin mereka tidur hanya dengan bertemankan sarung. Itupun jika ada. Mereka menghabiskan hari-hari dan malam-malam panjang bersama-sama.  Rindu dengan keluarga di kampung halaman pasti sesekali membeludak.  Tak tahu aku bagaimana mereka mengatasinya.  Jarang kulihat anak dan istri mereka datang dari kampung untuk sekedar menjenguk.  Mungkin terlalu mahal biayanya untuk sekali kunjungan. Seingatku, hanya dua kali setahun mereka pulang kampung : pada Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.  Dibandingkan mereka, kehidupanku jauh-jauh lebih beruntung.

Terkadang sulit mengukur Nikmat yang Allah SWT berikan untuk kita manusia. Bukannya mensyukuri Nikmat, malahan mencari-cari sesuatu yang tidak ada dalam kehidupan kita. Padahal bayangkan betapa besarnya Nikmat Allah SWT itu.  Mulai pagi hari aku bangun, kureguk kesegaran pagi hari. Embun pagi membasahi dedaunan membawa kesejukan di hati. Angin sepoi pagi hari semilirnya ringan, menyemangatiku setiap pagi.  Baru saja kubuka mataku, ibu sudah menyediakan segelas teh hangat untuk kuminum. 

Ya Allah,

Aku percaya aku tidak banyak bisa mensyukuri kelezatan hidup yang Engkau pilihkan untukku.

Ajari aku untuk bersyukur.

Ajari aku bisa merasakan Nikmatmu setiap detik dalam hidupku.

Berterima kasih atas hidup yang maha indah yang Engkau berikan untukku.

Buatlah aku selalu mensyukuri Nikmatmu.

[RN, 22/11/04}

 

 

Posted by rini1557 at 08:19:31 | Permalink | No Comments »

Friday, October 8, 2004

Cantik

Cantik. Apakah itu cantik? Sebenarnya siapa sih yang pertama kali mendefinisikan ”cantik” itu? Aku …. atau kamu…. atau siapa….? Lalu dari sudut pandang apa? Cantik itu seperti apa sih? Kenapa sesuatu itu disebut cantik dan sesuatu yang lain disebut tidak cantik atau kurang cantik.  Bagiku sejujurnya, hal itu adalah bagaimana orang menamakannya, bukan arti yang sesungguhnya. Tidak ada seseorangpun yang tahu wujud kecantikan yang sesungguhnya.  Mungkin karena seseorang menyebut orang yang lain sebagai “cantik”, maka begitulah ia. Jadilah ia sosok yang cantik.  Orang yang lain juga mungkin akan menyebut sesuatu yang lain itu cantik, dan orang yang lainnya lagi mungkin tidak menyebutnya demikian. 
 
   
 
Bagaimana kalau cantik itu sesungguhnya nggak ada? Sehingga setiap manusia itu sama.  Seperti juga Allah memandang setiap manusia itu sama. Lantas jika tidak ada kata cantik, pastilah tidak ada lagi seseorang yang menjadi cemburu dengan perempuan lain, atau tidak ada lagi laki-laki yang bermain mata dengan wanita lain, atau tidak ada lagi seseorang yang merasa minder karena ia kurang cantik dibandingkan temannya. Semuanya hanya karena ia tidak mengenal kata cantik.
 
Bagaimana jika setiap manusia ini memang cantik? Karena Allah SWT membuatnya dengan sempurna.  Sempurna dengan kecantikannya.  Unik. Spesial. Bagaimana kamu akan memandang setiap orang yang kamu temui? Mereka semua cantik dengan caranya masing-masing, tanpa perlu ada definisi terhadap segala sesuatu… 

Aku cantik. Sama cantiknya aku dengan hidupku.  Hidup ini hanya ada karena Allah SWT. Dia yang menghidupkanku, Dia yang menyediakan kehidupanku, Dia yang Maha Besar. Dia yang mengadakanku.

Dulu aku selalu membandingkan diriku dengan orang lain, merasa diri tidak menarik, merasa diri tidak cantik.  aku belajar, aku belajar, aku belajar. Dan dari segala sisi kehidupan ini aku belajar. Dan aku percaya bahwa Allah sudah menciptakanku dengan sedemikian sempurnanya. Mestikah aku tidak percaya kepada Nya? Jika Allah telah menjadikanku cantik, bagaimana mungkin aku tidak mau mempercayainya.

Seperti lyric lagunya B.Preston/Fisher berikut ini :

YOU ARE SO BEAUTIFUL TO ME
YOU ARE SO BEAUTIFUL TO ME
CAN’T YOU SEE
YOU’RE EVERYTHING I HOPED FOR
YOU’RE EVERYTHING I NEED
YOU ARE SO BEAUTIFUL TO ME

SUCH JOY AND HAPPINESS YOU BRING
SUCH JOY AND HAPPINESS YOU BRING
LIKE A DREAM
A GUIDING LIGHT THAT SHINES IN THE NIGHT
HEAVENS GIFT TO ME
YOU ARE SO BEAUTIFUL TO ME

Aku menemukan diriku.

Akhirnya.

Alhamdulillah.

 

Posted by rini1557 at 11:18:10 | Permalink | Comments (6)