Tuesday, October 18, 2005

Berbagi Kasih di Bulan Ramadhan

Jakarta, kota yang tidak pernah tidur, dengan segala kesibukan dan rutinitas gemerlapnya, ternyata ketika malam tiba masih banyak orang-orang yang tinggal dijalan menggantungkan seluruh hidupnya pada jalanan dan kerasnya ibukota. Orang-orang yang tidur beratapkan bintang-bintang dipinggir jalan, membesarkan anak-anak dijalanan tanpa pendidikan yang baik, menyimpan apa yang dimiliki dalam sebuah gerobak yang menemani sepanjang hari, mencari rezeki  dari sampah orang lain, dan semua ini dilakukan hanya untuk sekedar bertahan hidup.

 

Disadari ataupun tidak, kesibukan kerja yang kita miliki setiap hari kadang membuat kita tidak menyadari bahwa orang-orang yang berada dalam taraf kemiskinan ada disekitar kita, saudara-saudara yang tidak kita kenal, keluarga yang tidak pernah kita jumpa dan teman-teman yang tidak pernah kita tahu. Kita semua dihadang oleh sebuah kenyataan, disadari atau tidak kita juga bagian dari mereka, dan belum banyak yang kita lakukan buat mereka.

 

Kepada merekalah, sejak lima tahun lalu, aku selalu melibatkan diri dalam kegiatan “Berbagi Kasih di Bulan Ramadhan”, suatu kegiatan yang dilakukan bersama berbagai kelompok sosial seperti KKS Melati [www.kks-melati.org] dan Komunitas Independen.

 

 

Dengan format kegiatan yang selalu berbeda setiap tahunnya, aku dan teman-teman menyempatkan diri menyapa, berkenalan, berbagi dengan orang-orang yang tertinggal ini.  Kami hadir, mengasah batin dan kepekaan untuk peduli kepada mereka. Aku teringat tiga tahun lalu, menyapa seorang ibu penyapu jalan, yang masih giat menyapu jalan raya pada pukul 2 pagi, sementara orang-orang lain seperti aku, justru sibuk bergelung selimut tebal di kamar berAC.  Aku ingat pula bertemu dengan seorang ibu yang tidur di pelataran sebuah restoran dan ketika aku memegang keningnya, terasa panas karena ia sedang sakit dan tidak punya biaya untuk berobat. Pengalaman-pengalaman berbeda selalu aku temui setiap tahun, begitu menagihnya bagaikan morfin untuk terus memacu diri bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan padaku.

 

Tahun ini, tidak seperti kebiasaan, kami tidak lagi berbagi di jalan raya. Kami mengubah format acara dengan tidak mengurangi kadar kebersamaan.  Mengapa demikian?

 

Sejak dua tahun ini, Jakarta selalu kebanjiran para keluarga yang merasa dapat menangguk rejeki dari warga kota Jakarta yang selalu berlomba-lomba berbagi di bulan Ramadhan ini. Jalan-jalan yang biasanya sepi dan bersih dari kaum gelandangan, pengemis, dan pemulung, dalam bulan ini biasanya berubah menjadi ramai.  Bagi warga Jakarta yang memang setiap hari jalan-jalan malam di seputaran Jakarta, pasti mengetahui dimana saja kantong-kantong kemiskinan di Jakarta. Taruhlah misalnya, lingkungan seputaran Pedongkelan, Kramat Tunggak, Penjaringan, dan lain-lainnya.  Hampir tidak mungkin di sepanjang jalan Gatot Subroto ada keluarga pemulung yang tinggal atau tidur di jalanan. Memang ada komunitas keluarga pemulung di Jakarta, tetapi mereka jarang ada yang tidur di pinggir jalan. Pun kalau mereka tidur didalam gerobaknya di tepi jalan, pasti mereka memilih untuk tidak tidur di jalan utama kota Jakarta, seperti Thamrin, Sudirman, atau Gatot Subroto. Carilah di seputaran Senen di belakang gedung Era atau di kolong jembatan sebelah Indomobil jalan MT Haryono, atau di perempatan TPU Karet Bivak, masih banyak keluarga pemulung disana.

 

Mendadak Jakarta menampakan wajah kemiskinan warganya. Begitu banyak keluarga yang tega mengolongkan keluarganya sebagai keluarga miskin, bahkan sengaja datang ke Jakarta dari luar kota berbondong-bondong dengan truk, untuk sekedar meminta belas kasihan warga Jakarta?  Mengapa di bulan Ramadhan ini semakin banyak orang-orang atau keluarga yang tega menunggu berjam-jam hanya untuk menerima paket-paket lebaran dari warga Jakarta yang ingin berbagi amal? Kesempatan?

 

Mendadak berbagi menjadi tidak terlalu nikmat dan memabukkan lagi. Istilah bahasa jawanya ‘mbelenger’ melihat ulah tingkah saudaraku yang memanfaatkan momen bulan baik ini untuk sekedar mendapatkan sesuatu.  Seorang teman yang kebetulan menyempatkan diri berdiskusi dengan salah satu keluarga yang membawa gerobaknya ke pinggir jalan selama bulan Ramadhan ini, mengaku bahwa gerobak yang dipakainya disewa dari keluarga pemulung [betulan] seharga lima puluh ribu. Harapannya memang menangguk rejeki yang datang dari warga Jakarta yang rela berkonvoi-konvoi memberikan jatah sahur atau paket-paket hadiah untuk mereka. Kemarin aku lihat seluruh pemilik gerobak yang parkir di pinggir jalan Gatot Subroto itu duduk diatas tikar yang mereka siapkan dari rumah, atau duduk beralaskan kain karena (mungkin) merasa takut kotor untuk duduk langsung di trotoar. Aku bayangkan, gelandangan yang sesungguhnya bahkan tidak punya alas untuk duduk. Mereka duduk seadanya, dan memanfaatkan apa saja di sekitarnya untuk menghangatkan badan.

 

Jika anda kebetulan salah satu dari warga Jakarta yang juga ingin berbagi di bulan Ramadhan, silahkan teliti betul-betul target kegiatan anda, apakah mereka memang orang miskin atau dhuafa yang berkekurangan ataukah hanya oknum yang sengaja memanfaatkan bulan ramadhan untuk kepentingan mereka pribadi?

 

Semuanya pilihan anda.

 

[RN, 281005]

 

 

 

 

Posted by rini1557 at 08:44:21 | Permalink | Comments (2)

Monday, June 6, 2005

Bukan Kebetulan

Jika anda penggemar James Redfield, pasti sudah membaca buku legendarisnya yang berjudul “Celestine Prophecy”.  yang paling aku ingat dari buku ini di halaman-halaman depan adalah pernyataan Charlene, teman sang tokoh utama yang mengatakan, “apabila suatu peristiwa terjadi, semuanya bukan karena kebetulan, tetapi sudah ditentukan sebelumnya dan bahwa hidup kita ini dibimbing oleh suatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan. Suatu pengalaman yang menumbuhkan perasaan akan misteri dan kegembiraan dan dengan cara demikian kita merasa lebih hidup”.

Kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam hidup kita sesungguhnya sudah diatur oleh sang Maha Pemilik Alam Semesta. Kita sebagai manusia sudah selayaknya belajar memahami tanda-tanda yang diberikan Allah untuk membantu kita.  Tapi terkadang, segala hal yang telah kita lalui, seringkali kebetulan dikatakan hanya sebagai ”kebetulan”. Begitu juga tatkala kami menyiapkan acara Cari Tahu Yuk!, sebuah kegiatan outing untuk anak jalanan tanggal 26 Juni 2005 lalu. 

Kebetulan yang pertama adalah sewaktu Virgina, salah seorang relawan KKS Melati menunjukkan sebuah majalah berjudul “Tamasya”.  Didalamnya terdapat sebuah artikel tentang sebuah lokasi menarik di Selatan Jakarta, namanya Hutan Kali Pesanggrahan.

Disana aku bertemu Pak Haji Chaerudin, salah satu petani dari Kelompok Tani Sangga Buana. Ia ingin anak dan cucunya masih merasakan keasrian dan ketenangan kota Jakarta. How come? Bagaimana bisa, padahal hawa Jakarta seperti yang kita lihat sendiri saat ini sudah tidak begitu bersahabat. Pagi hari sudah penuh dengan asap timbal. Coba lihat pepohonan yang ditanam sepanjang jalan, batangnya hitam legam dan sepertinya mereka berteriak-teriak dan megap-megap karena pori-porinya tertutup timbal.

Merasakan hawa segar pepohonan, suara burung bernyanyi dan bercanda diatas pepohonan, gesekan rumpun bambu, atau suara gemericik air kali, memang hanya ada di Kali Pesanggrahan.  Malu juga rasanya melihat seorang petani punya pikiran seperti itu. Lebih malu lagi karena ia bukan hanya berkata-kata tetapi ia mengambil tindakan. Ia melakukan penanaman pohon dan mengubah areal bekas tumpukan sampah menjadi hijau dengan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan.  Sedangkan aku? yah.. masih begini-begini saja, tidak ada tindakan nyata yang aku lakukan untuk membantu mewujudkan keasrian kota Jakarta. Tapi andaikan aku tidak secara kebetulan pergi ke Hutan Kali Pesanggrahan, aku tidak pernah belajar tentang alam atau memahami alam ini.

  

Di hutan ini pula aku bertemu dengan seorang sahabat lama. Ia dulu adalah relawan Kebun Binatang Ragunan, sama sepertiku. Sudah lima tahunan kami tidak bertemu dan ternyata Hutan Kali Pesangrahan yang mempertemukan kami. Mungkin karena minat kami yang kebetulan sama, atau memang hanya kebetulan saja kami bertemu disana, aku tidak tahu.

Kebetulan lainnya adalah pada saat kami melakukan pengumpulan dana untuk kegiatan outing tersebut.  Selagi sibuk dan repotnya mencari jaringan yang memungkinkan untuk membantu kami, tiba-tiba Koen, salah satu relawan Melati, memberikan kontak kami pada seseorang yang ternyata punya jaringan yang lebih luas lagi.  Karena kebetulan yang kebanyakan ini, rasanya kami semakin semangat saja menyiapkan acara outing ini. Mungkin juga karena kami begitu merindukan kebetulan-kebetulan lainnya yang mungkin akan kami temui.

Kebetulan-kebetulan dalam hidup ini sesungguhnya bukan hanya kebetulan. Sesungguhnya Allah-lah pemilik segala rencana.  Allah pula yang telah mengatur adanya pertemuan dan perpisahan dengan maknanya masing-masing. Setiap pertemuan kita dengan orang lain, sesungguhnya ada makna besar dibaliknya. Mungkin kita diminta untuk berbagi dengan orang lain itu, atau mungkin seseorang itu adalah media belajar empati, atau malahan orang lain itu adalah mirror, orang yang sama sifat dengan kita dan pertemuan dengannya adalah pelajaran refleksi yang diberikan Allah kepada kita. Pertemuan dengan seseorang diyakini selalu membawa pesan yang mungkin akan memudahkan kita dalam menempuh perjalanan hidup ini.  Sayangnya tidak setiap orang mau berbagi dan mencari pesan terselubung yang dibawa seseorang itu. Jadilah ia hanya pemanis pemandangan saja. Dilihat, tetapi tidak disapa. Dilihat tetapi sesungguhnya ia tidak ada.

Ada saat dimana terkadang aku tidak ingin bertemu dengan seseorang, hanya karena aku terlalu melindungi egoku. Aku bertemu dengan seseorang tetapi aku tidak menegurnya, bahkan menghindarinya untuk suatu alasan yang aku yakin aku karang sendiri. Aku benar-benar tidak melihat kehadirannya meskipun ia sesungguhnya ada. Jika apa yang ada di dalam “Celestine Prophecy” itu benar, maka mungkin saja sesungguhnya ia membawa pesan yang akan memudahkan hidupku.

Bukankah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukan kebetulan?

Lantas mengapa aku tidak juga membuka diriku untuk menerima dan memaafkannya?

Tiada sempurna cinta manusia
Hingga dia mampu mencinta
Sesamanya tanpa ada perbedaan

Tiada sempurna cinta manusia
Tanpa berbagi rasa
Kasih suci anugerah yang indah

(Anugerah Yang Terindah. Album : Anugerah Yang Terindah. Munsyid : Gradasi http://liriknasyid.com)

Semoga tulisan ini menyadarkanku untuk dapat membuka mata hati untuk melihat kebetulan-kebetulan yang diberikan Allah dan mengubahnya menjadi rasa syukur.

[RN , 050705]

 

Posted by rini1557 at 11:25:01 | Permalink | No Comments »