Monday, May 28, 2007

Bahan Nabati Dibuang Sayang

Pada tahun 1985, kota Jakarta menghasilkan sampah sebanyak 18.500 m3 per hari. Volume ini meningkat pada tahun 2000 menjadi sebanyak 25.700 m3 per hari.  Pada sebuah kantong kertas yang diproduksi oleh The Body Shop, tertulis, ’dalam satu hari, sampah rumah tangga yang diproduksi oleh penduduk Jakarta, sama luasnya dengan 10 lapangan bola’. Berapa volume sampah rumah tangga penduduk Jakarta dalam satu minggu, satu bulan, atau satu tahun? Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah warga Jakarta pada tahun 2000 telah mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3) [Bapedalda, 2000]. Bayangkan berapa volume sampah di Jakarta tahun 2007 ini? Tentunya semakin bertambah,  seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Jakarta. Saat ini Pemerintah bahkan kewalahan mengatasi sampah rumah tangga tersebut. Lalu, solusi apa yang bisa kita tawarkan kepada kota kita tercinta ini?


Partisipasi setiap keluarga untuk mengolah sampah rumah tangga masing-masing secara mandiri dapat menjadi salah satu solusi.  Selain menguntungkan bagi keluarga tersebut, partisipasi keluarga ini juga merupakan upaya besar dalam membantu Pemerintah dalam menangani sampah rumah tangga. Mengolah sampah rumah tangga tidak berarti harus menggunakan metode ilmiah, teknologi tinggi atau berbiaya mahal. Di rumah, kami telah mulai menggunakan sampah rumah tangga untuk membuat pupuk organik dengan cara yang sangat sederhana dan tidak memerlukan modal yang besar.


Bagaimana memulainya?  Mari kita menyediakan bahan-bahan dan peralatan berikut ini:  


Bahan-Bahan


Bahan Dasar
. Bahan dasar pembuatan pupuk organik dapat berasal dari bermacam-macam sumber seperti kotoran ternak, sampah rumah tangga non sistetis, limbah-limbah pabrik makanan/minuman, daun-daun kering, potongan rumput, dan lain-lain. Sebagai contoh, bahan yang biasa kami pakai dalam percobaan awal di rumah adalah daun-daun kering, potongan ranting-ranting pohon kecil, dan potongan rumput. Itulah bahan dasarnya.


Ragi
. Pupuk organik pada dasarnya adalah tape yang berasal dari dari bahan-bahan organik dan sudah berbentuk tanah. Nah, seperti pembuatan tape pada umumnya, kita memerlukan ragi. Ragi pada pembuatan pupuk organik bisa berasal dari inokulum bakteri untuk membantu mempercepat proses pendegradasian (dekomposisi). Sebetulnya tanpa dibantupun, alam dengan sendirinya akan mendekomposisi bahan-bahan organik tersebut dengan bakteri yang ada di alam beserta bantuan organisme renik lainnya. Namun dengan menggunakan bakteri, maka proses peragian akan menjadi lebih cepat.


Kami menggunakan mikrobiologi cair yang sudah jadi seperti Effective Microorganisme 4 atau sering disingkat EM4.  Botolnya berwarna kuning, harganya sekitar Rp 20-ribuan, dan dapat dibeli di kios-kios pertanian terdekat.

Nutrisi. Untuk mempercepat proses degradasi dari sampah rumah tangga, sebaiknya    ditambahkan nutrisi dari bahan karbohidrat. Kami menggunakan beberapa pilihan; yaitu gula merah yang disisir halus, gula merah bubuk, gula merah (glukosa) cair, nasi yang sudah tidak dimakan/basi, tepung beras, atau tepung terigu. Selain nutrisi dari bahan karbohidrat, kita juga bisa menambahkan nutrisi lain, misalnya pupuk kandang, atau pupuk urea. Penambahan nutrisi diperlukan terutama apabila daun-daun yang akan diolah menjadi pupuk organik terdiri dari bahan-bahan kering semua. Kami sering menggunakan larutan gula, tetapi juga kadang-kadang menggunakan nasi.


Kebutuhan Alat


Ide dasar akan kebutuhan alat pada pembuatan pupuk organik adalah dengan menggunakan wadah tertutup agar kondisi temperatur selama proses pembuatan pupuk organik  bisa terjaga. Macam-macam pilihan wadah yang bisa digunakan, mulai dari tong plastik/seng, atau ember plastik. Dapat juga membuat wadah dari con block berukuran 1 X 1 m, atau membuat lubang berukuran 1 X 1 m di tanah. 


Pada dasarnya, kita tidak perlu membeli gentong atau tempat khusus untuk penyimpanan pupuk organik. Karena selain kurang praktis, bagi rumah tangga yang tidak memiliki uang yang berlebih untuk pengadaan wadah, tentu akan sangat menyulitkan. Kami selalu memilih yang paling sederhana dan mudah disediakan, yaitu Trash Bag atau kantong sampah plastik biasa.


Cara pembuatan


Cara pembuatan pupuk organik ini sangat praktis dan sederhana. Kumpulkan rumput-rumput, daun-daun dan sampah rumah tangga non sistetis. Pertama-tama, cacah dulu daun-daun yang ukurannya lebih besar dengan menggunakan gunting. Pencacahan ini dilakukan agar pupuk organik yang dihasilkan berukuran lebih kecil dan proses pembuatan pupuk organik tidak terlalu lama. Jika jumlah dedaunan cukup banyak dan kita tidak terlalu ingin menghasilkan pupuk organik yang lebih kecil ukurannya, biarkanlah ukuran dedaunan tetap seperti yang ada. Tentunya lama proses pembuatan pupuk organik akan berbeda.


Jika kita memiliki daun yang berwarna hijau dan coklat, maka keduanya bisa di campurkan agar mereka saling berbagi nutrisi.
Takaran idealnya adalah 2 bagian daun-daun kering ditambah dengan 1 bagian daun-daun hijau. Setelah itu, taburi pupuk kandang diantara daun-daun, lalu aduk-aduk.


Buat campuran mikroba seperti bioaktivator atau EM4. Jika menggunakan EM4, pakai dengan menggunakan  ukuran pada tutup botolnya.  Jika bahan yang tersedia sebanyak 50 kg berarti memerlukan 5 kali tutup botol. Tambahkan dua sendok makan urea ke dalam ember.
Siramkan ke campuran daun sampai merata. Jika daun diperas tak keluar air berarti sudah cukup. Bila di dalam tumpukan ada dedaunan hijau atau misalnya tersedia tanaman kacang-kacangan, maka nutrisi tidak perlu ditambahkan lagi.


Jika memilih menggunakan plastik trash bag sebagai wadah, masukkan campuran daun yang sudah ditiriskan ke dalam plastik trash bag, lalu ikat dengan erat. Lubangi sedikit trash bag ini, untuk memudahkan pertukaran udara.


Setelah kita simpan dalam tempat penyimpanan, biarkan adonan pupuk organik ini selama kira-kira 3-4 minggu.
Pada dua minggu pertama, kita bisa membuka plastik trash bag. Bila sudah agak membusuk, biasanya ditandai dengan selesainya proses pembuatan pupuk organik dan plastik trash bag dingin, kita bisa mencampurkan 1-3 plastik menjadi satu wadah agar lebih memudahkan dalam penyimpanan.  Simpan kembali campuran dalam plastik ini dan biarkan selama 2 minggu ke depan agar kompos siap untuk digunakan. Demikianlah cara pembuatan pupuk organik yang sangat praktis dan sederhana.


Manfaat


Ada dua manfaat pembuatan pupuk organik. Pertama, pupuk organik digunakan sebagai penggembur tanah.  Pupuk organik digunakan sebagai media tempat hidup sejumlah besar bakteri.  Pupuk inilah yang akan membantu penyerapan makanan oleh tanaman. Sebagai contoh, tanah yang telah ditaburi pupuk organik biasanya menarik bakteri dan mikroorganisme tanah yang dapat membantu proses penggemburan tanah. Dengan demikian tanah yang mengandung pupuk organik menjadi lebih subur.
Manfaat yang kedua dari pembuatan pupuk organik adalah kita bisa membantu penyelamatan bumi karena secara tidak langsung membantu pengembalian bahan nabati ke bumi dalam bentuk pupuk organik sehingga dapat mencegah percepatan kerusakan bumi.  Itulah dua buah manfaat dari pembuatan pupuk organik. 

Penutup


Pembuatan pupuk organik sama sekali tidak sulit melakukannya. Kita tidak perlu membuat pupuk organik dengan terlalu ilmiah, karena hasil pupuk organik ini akan kita nikmati sendiri untuk kebutuhan  pekarangan rumah kita.
Lain halnya jika kita memang berencana untuk memasarkan pupuk organik yang sudah jadi, tentunya kita perlu memastikan bahwa pupuk organik buatan kita tersebut mempunyai standar yang sama dengan pupuk organik produksi pesaing atau bahkan memiliki kadar nutrisi yang lebih baik.  


Jika setiap rumah tangga melakukan pembuatan pupuk organik secara mandiri, dapat dibayangkan banyaknya sampah organik yang bisa hilang dari Tempat Pembuangan Akhir, banyaknya pupuk organik yang bisa digunakan untuk menyuburkan pekarangan rumah kita, dan banyaknya tanah yang akhirnya bisa kita selamatkan karena ia akan menjadi lebih gembur dan sehat.


Semoga tulisan ini dapat memotivasi kita semua.


Selamat hari lingkungan hidup, 5 Juni 2007.

Ayo selamatkan bumi, jangan buang sampah nabati anda! [RN, 28 0507]

Posted by rini1557 at 08:47:27 | Permalink | No Comments »

Friday, July 22, 2005

Balada Sebuah Voucher

Beberapa waktu lalu ketika aku dan dua orang temanku menghadiri sebuah event yang diadakan oleh satu media di Jakarta, kami mendapatkan masing-masing sebuah voucher makan di sebuah restoran baru di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Alhamdulillah……….  Sebagai seorang petualang kuliner, tentu saja ini adalah sebuah petualangan baru yang mungkin bisa kurekomendasikan kepada teman-teman clubberku. Resto-cafe ini masih baru dibuka bulan Mei 2005, dua bulan yang lalu dan saat ini sedang dalam taraf promosi.  Lebih dari seratus voucher dengan nilai yang sama disebarkan untuk kebutuhan promosi.

Bergaya comforting dan lifestyle, resto-cafe yang bergaya garden atmosphere ini sepi dari pengunjung. Hanya aku dan dua orang sahabat baikku yang berkunjung ke sana. Padahal hari itu hari Kamis, sudah hampir jam 21.00. Bukankah waktu yang tepat untuk memulai hari, kata para clubbers di Jakarta? Lantas, mengapa resto-cafe yang satu ini begitu sepi pengunjung?

Meja-meja yang mengkilat, kertas makan teratur rapi, buku menu berbaris menghadap ke depan, seakan menanti pengunjung untuk melepas lapar dan dahaganya di meja-meja disana. Masuk ke dalam resto ini, aku disuguhi oleh keramahtamahan pelayannya. Sungguh luar biasa dan terlalu ramah malahan untuk taraf sebuah resto standard.  Senyumnya mengembang tatkala kami bertatapan. Hmmm… namanya Leo, pasti lahir di bulan Agustus dan bintangnya Leo, gumamku. 

“Masing-masing dari kami punya voucher senilai Rp.50,000, apa masih bisa digunakan disini,” kata sahabatku sambil menunjukkan voucher yang ia bawa.  Leo menganggukkan kepalanya, lantas memandu kami ke sebuah meja di pinggir tengah ruangan. Paduan warna merah-oranye-hitam di dinding sebelah kami duduk begitu bersih. “Ini memang resto-cafe baru”, pikirku.

Seorang Mierna tiba-tiba muncul di hadapan kami. Entah apa posisi pekerjaannya malam itu, tapi ia terlihat cantik dan menarik. “Maaf mbak, vouchernya bisa digunakan tapi hanya satu saja, tidak bisa bertiga dalam satu meja”, katanya menjelaskan. Aneh. Sudah berkali-kali aku menggunakan voucher sebagai satu kesempatan untuk mencoba hidangan di sebuah resto baru, tidak pernah sekalipun ada aturan yang seperti ini, bahkan dalam tulisan di undanganku hanya tertera sebagai berikut :

Inviting voucher to taste some of our specialties which include Champion US Short Rib that was awarded as Best Barbeque Rib in 1999.We are also have many more specialties that guarantee to satisfy your taste bud.This voucher is valued at Rp.50,000 and can be used as payment to your bill only when you come with us on <ditulis tempatnya deh> It would be an honor to us if you could spare your time to dine with us.

“Mbak, kita nggak masalah kok duduk di meja yang berlainan, atau kita pesan saja satu orang satu bill,” kataku, karena tidak menemukan informasi aneh seperti yang disampaikan Mierna sebelumnya. Mierna masuk kembali dan berdiskusi dengan temannya, kasir malam itu. “Oke deh mbak nggak pa-pa tapi kalau bisa nilai makannya dilebihkan dari Rp.50,000″ tambah Mierna setelah kembali.  Aku sedikit berdebat dengannya, karena informasi itupun tidak ada di voucher yang aku terima. Aku bisa saja makan lebih dari Rp.50,000 toh dengan voucher yang hanya Rp.50,000 ini aku hanya tinggal menambah sedikit saja. Tapi pikirku, untuk apa harus menghabiskan voucher sebegitu besar nilainya kalau aku tidak sanggup menghabiskannya. “Mbak Mierna, kayaknya di voucher ini nggak ditulis deh, coba tanya lagi ke bosnya, bisa nggak makan kurang dari Rp.50,000“, kataku. Susah sekali makan disini ternyata, gumamku.

Mierna lalu sibuk menelepon seseorang dan kembali dengan senyumnya yang indah, mengijinkan kami memesan makanan yang kami pilih sesuka hati dan tidak memberi batasan nilai. Leo dengan senyumnya yang khas lalu membantu kami memilihkan dan mencatat menu.

Makanlah kami sampai kenyang. Bertiga kami saling mencoba makanan yang tersedia. Untung saja kami jadi duduk satu meja. Bayangkan jika ada tiga orang duduk di tiga meja dan setiap orang saling berkunjung ke meja lainnya, saling mencoba masakan yang ada di meja lainnya, seperti apa kiranya? Tak apalah, memang hanya kami bertiga pengunjung resto-cafe ini dan memang terlihat berlebihan karena kami merepotkan satu team tukang masak di tempat itu hanya untuk memasakkan makanan yang berlainan untuk kami bertiga. Aku percaya mereka memasak dengan riang gembira karena diberi kesempatan untuk unjuk kerja hari itu, daripada tidak memasak sama sekali. Aku lihat mereka memasakdan menyiapkannya dengan senyum.

Penyajian makanannya sangat luar biasa. Rasanya aku seperti para juri di lomba masak Allez Cuisine di Indosiar. Makanan yang disajikan benar-benar perfect!  Ujung sedotan menghadapku, garpu-pisau pada tempatnya, piring diputar sampai bagian terindah menghadapku. Manner dan grooming Leo juga luar biasa. WOW!!! Cuma itu kata yang ada di kepalaku.

Usai makan dan dessert yang mengenyangkan perut, tibalah bill-bill itu di hadapan kami. Kembali Mierna membawa pengumuman, seperti seorang ibu guru yang memanggil muridnya di depan kelas. “Rini, yang mana ya?” katanya dan menanyakan pula nama kedua sabahatku. Untung kami tidak sedang bermain peran dan menukar identitas kami bertiga. Dengan jujur, aku menjawabnya. “Bisa nggak ditambah lagi makannya, bisa take away atau makan lagi disini. Ini billnya cuma lebih sedikit,” kata Mierna menjelaskan dan begitu juga yang dialami kedua temanku.

Ini jebakan, pikirku, karena kami sudah menyelesaikan makanan yang begitu enak di mulut dan perut, tapi sekarang dihadapkan dengan masalah yang aneh seperti ini. dalam voucher jelas-jelas tertulis dine in, seharusnya siapapun yang bekerja di resto itu mengerti bahwa dine-in artinya makan ditempat, tidak boleh dibawa pulang.

Lalu datang lagi sang kasir ke hadapan kami. Ini sungguh memalukan, pikirku, karena benar-benar rasanya seperti orang kampung yang baru saja makan di resto keren dan modern.  Rasanya seperti tertangkap basah tidak punya uang untuk membayar bill yang diberikan. Tapi aku tidak mau kalah dengan sang ego yang ingin merasa benar.  Aku jelaskan pada sang kasir bahwa aku sudah makan lebih dari Rp.50,000 sesuai dengan permintaan mereka semula.  Memang hanya lebih sedikit dari Rp.50,000 tapi itu memang sudah lebih dan diawal pun tidak ada keharusan bahwa kami harus menambah minimal Rp.20,000. Tidak seharusnya mereka memintaku untuk belanja/makan lebih banyak lagi. For what reasons? Tidak ada.

Akal-akalan kah? Apakah mereka tidak tahu aturan / kebijakan restorannya bila pengujungnya menggunakan voucher? Dalam berbagai kesempatan menggunakan voucher, seringkali justru sang pelayan dari restoran itu yang mengajari kami menggunakan voucher, harus jeli melihat jam dan tanggal yang tertera di voucher, misalnya atau hal-hal kecil lainnya. Berbeda dengan lainnya, resto-cafe yang satu ini benar-benar memusingkan dan mengajakku banyak berpikir.

Sungguh sayang, disaat nilai tinggi sudah kuberikan atas pelayanan dan atmosphere yang luar biasa, harus dinodai dengan intrik-intrik penyelesaian bill yang serba tak jelas ini.

Mungkin mereka menganggap remeh urusan voucher - voucheran dan merasa benar mengakali pelanggannya. Mungkin saja pelanggannya kali ini memang baru sekali itu berkunjung ke sebuah resto-cafe modern. Mungkin saja pelanggannya kali lain adalah orang yang lebih kaya yang sanggup membayar sendiri dan melupakan voucher yang pernah mereka terima. Tapi bukankah setiap orang adalah sama dan berhak mendapatkan pelayanan yang sama?

Aku jadi teringat pengalaman temanku tatkala mengikuti sebuah training pengembangan diri. Beliau seorang Direktur di kantornya, selalu arogan dan merasa lebih tinggi kedudukannya dibandingkan orang lain di kelas training itu. Suatu ketika sang Guru mengajak muridnya bermain peran yang kebalikan dari apa adanya mereka saat itu. Temanku itu memilih sebagai pengemis. Beliau merobeki kaos dalamnya, dibedakinya dengan tanah dan debu, dicoreng-morenginya mukanya dan aktingnya memang benar seperti pengemis sungguhan.

Lalu Beliau mampir ke sebuah restoran tempatnya biasa mangkal. Belum sempat menginjakkan kaki ke dalam restoran itu, sang doorman mengusirnya. Tapi ia tetap keukeuh sumeukeuh untuk masuk ke dalamnya dan berkata bahwa ia punya uang untuk membayar makanan yang akan dimakannya. Namun siapa yang akan percaya?

Ada banyak hal dalam dunia ini yang bisa diterima dengan begitu sederhana, tetapi manusia membuatnya menjadi complicated

Banyak hal yang aku pelajari malam itu. [RN 220705]

Posted by rini1557 at 07:26:13 | Permalink | Comments (4)

Thursday, April 21, 2005

Arti Kartini Bagiku

Dari kegelapan menuju cahaya. siapapun yang membaca tulisan Kartini dibukunya pasti mengerti bahwa bukan Emansipasi yang dicari Kartini. Ia mencari cahaya. Jika dulu kaum perempuan ingin dimajukannya, mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki, tapi tujuan Kartini adalah supaya perempuan dapat menjadi seorang ibu yang pintar dan mampu mendidik anak-anaknya. ”Bagaimana seorang ibu dapat mendidik anaknya jika membaca saja ia tidak bisa?” keluh Kartini suatu hari.

Raden Ajeng Kartini

Keinginan Ibu Kartini sesungguhnya adalah sesuatu yang mulia. Pendidikan pertama dan pembentukan akhlaq seorang anak adalah dari keluarga, terutama dari sang ibu. Bayangkan jika membaca saja sang ibu tidak dapat, bagaimana ia akan memberikan bekal pengetahuan kepada sang anak?  Keinginan Ibu Kartini untuk mendatangkan cahaya bagi kaum perempuan sungguhlah sangat mulia. Apapun cara telah ia tempuh agar kaum perempuan mendapatkan cahaya untuk menerangi keluarga.

Tapi tengoklah apa yang terjadi hari ini. Banyak perempuan bersekolah, tapi bersekolah asal-asalan.  Sudah itu tetap saja masih banyak saja perempuan yang melecehkan dirinya sendiri alias tidak menghargai keberadaan dirinya. Sudah bagus bekerja di kantor, tetapi banyak yang bekerja tidak dengan hatinya.  Tengok lagi bagaimana Indonesia merayakan hari Kartini. Di TK-TK dekat rumahku, semua anak TK diwajibkan mengenakan pakaian tradisional.  Entah siapa pelopornya, tapi menurutku Ibu Kartini akan sangat bersedih hati karena hari lahirnya diperingati  dengan sebatas penggunaan pakaian adat setiap kali peringatan hari Kartini datang. Tapi tidak seorangpun (seingatku) yang merefleksikan keinginan Ibu Kartini dalam kehidupan sehari-hari.

Yang terparah menurutku adalah mengaku mengerti mengenai Emansipasi, kesetaraan gender, dan menganggap bahwa perempuan layak setara dengan laki-laki dalam banyak hal. Mengaku penganut faham feminisme dan pengagum Ibu Kartini, tetapi pada saat ada pekerjaan fisik, selalu meminta kaum laki-laki untuk melakukannya hanya dengan alasan ia seorang perempuan. 

Ibu Kartini pada jamannya tidak menghendaki perempuan bekerja di kantor. Ia pun tidak mengungkapkan mengenai Emansipasi. (itu siapa ya pencetusnya pertama kali?). Dengan semua keterbatasan yang dimilikinya, beliau hanya menginginkan dibukakannya cahaya bagi perempuan, agar perempuan dapat menjadi panutan, agar perempuan mendapatkan bekal untuk mendidik anak-anaknya dengan baik.

Sebuah niat luhur,  janganlah dikotori.  

Dari kegelapan menuju cahaya.

Ibu kita Kartini, putri sejati

Putri Indonesia, harum namanya

Ibu kita Kartini, pendekar bangsa

Pendekar kaumnya untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya, bagi
Indonesia

 

Ibu kita Kartini, Putri jauhari

Putri yang berjasa, se-Indonesia

Ibu kita Kartini, Putri yang suci

Putri Yang merdeka, cita-citanya

Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia

 

Ibu kita Kartini, pendekar putri.

Pendekar kaum ibu, se-indonesia.

Ibu kita Kartini, penyuluh budi,

Penyuluh Bangsanya, kar ‘na cintanya.

Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia

 

Ibu Kita Kartini Ciptaan: W.R. Supratman  (RN, 210405)

Posted by rini1557 at 12:38:49 | Permalink | No Comments »

Thursday, April 7, 2005

Menjadi Orang Baik di Jakarta

Tidak mudah ternyata menjadi orang baik.  Begitulah baris pertama kata pengantar buku Oase Jiwa : Truly, Deeply, Sincerely (Eramuslim Global Media, Maret 2005).  Saya tergelitik dengan kalimat pembuka tersebut karena saya percaya, sebuah buku yang baik, dimulai dengan kalimat pertama dalam kata pengantarnya yang cukup menggoda sang pembaca ke lembar-lembar berikutnya.

Menjadi orang baik di Jakarta ini mungkin memang BENAR tidak mudah. Bahkan terkadang lebih banyak orang yang mencelanya daripada menghargai usaha seseorang untuk menjadi orang baik.  Taruhlah di perempatan jalan ketika kita berniat memberikan sedekah kepada pengamen atau pengemis, seorang teman mencelanya dengan mengatakan bahwa percuma memberi mereka uang karena akan membuat mereka menjadi pemalas. Tapi lantas ia sendiri tidak punya cukup tindakan untuk membantu mencegah si pengamen atau pengemis untuk menjadi tidak malas. Contoh sederhana lain misalnya, ketika kita memberikan senyum terindah kepada seseorang yang kita temui di halte bis.  Tidak salah lagi, pasti semua orang di halte tersebut akan mengira kita gila. Padahal, seulas senyum mungkin tidak berarti apa-apa dan tidak berdampak apa-apa, tetapi bagi seseorang itu adalah satu cara untuk meningkatkan semangat dalam dirinya dan memberikan aura positif bagi orang-orang disekitarnya.

Curiga dan Su’udzon. Dua hal ini yang lebih parah lagi.  Kira-kira tiga tahun lalu saya membeli sebuah rumah di Selatan Jakarta. Rumah kecil tapi inlah rumah pertama yang saya beli dari upah bayaran saya bekerja di kantor. Saya suka dengan lingkungan rumahnya dan bangga dengan komunitas sekitar rumah saya yang luar biasa hebatnya.  Mereka membuat mailing list dan berkomunikasi melalui e-mail.  Saat itu, ada banyak sekali rumah yang tertunda penyelesaiannya karena masih bermasalah dengan sang Developer.  Pada suatu hari saya menyempatkan membaca sebuah e-mail yang dikirim melalui mailing list, sebuah e-mail tentang keluhan pelanggan kepada Developernya.  Saat itu, karena saya kebetulan kenal dengan Direktur Developer tersebut, saya berpikir bahwa tidak ada salahnya mengirimkan e-mail tersebut, toh bukan rahasia dan dan tidak ada ketentuan dari administrator mailing list tersebut yang menyatakan bahwa semua anggota mailing list tidak diperbolehkan meneruskan email sembarangan atau tanpa ijin. Saat itu saya benar-benar tidak punya tujuan lain, selain membantu orang yang rumahnya masih belum selesai itu, apalagi saya kenal baik dengan sang Direkturnya.  Siapa tahu, kawan baik saya itu mau membantu menyelesaikan masalah dan mereka semua mendapatkan solusinya. Tapi tidak disangka, para administrator mailing list itu marah, menghakimi saya, bahkan tidak mau terima apapun penjelasan saya.  Memang benar saya meneruskan email, tapi saya yakin, saya tidak sembarangan mengirimkan email dan ada tujuannya.  Mereka menuduh saya mata-mata sang Developer dan tidak ada yang berniat menyelesaikan masalah itu dengan saya.  Saat itu saya benar-benar kecewa dan tidak ingin berbuat baik lagi untuk mereka. Bahkan sampai saat ini status e-mail saya di ban dan saya sama sekali tidak bisa masuk ke komunitas tetangga saya itu.

Dimanfaatkan. Ya, terkadang, jika kita melakukan kebaikan di Jakarta ini, banyak sekali orang yang memanfaatkan peluang tersebut.  Alih-alih berbuat baik, yang ada kita terjebak dan tidak bisa keluar sama sekali.

Lantas, apa kita akan berhenti melakukan kebaikan?

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa berbuat kebaikan itu laksana menggarami lautan. Sangat sedikit dampak yang terasa meskipun peluh bercucuran dari kening kita.  Tapi saya percaya ada manfaatnya kita ikut menggarami lautan. Paling tidak rasa laut menjadi asin dan sebagian kecil adalah jerih payah kita.  Ada sebuah cerita tentang seorang anak yang selalu bermain di sebuah pantai.  Setiap hari ia melemparkan kerangnya ke lautan. Setiap hari. tanpa putus asa. Padahal setiap kali ia melemparkan kembali sebuah kerang ke laut, setiap kali pula, laut membawa ratusan kerang ke pantai itu. Tapi sang anak kecil tidak juga putus asa, katanya, “Aku bayangkan kerang yang aku lempar kali ini mendarat di sebuah pantai yang lain. Ia mempercantik pantai itu. Aku tahu hanya sedikit yang aku lakukan, tapi paling tidak aku punya bagian mempercantiknya.”

Biarlah kebaikan tetap saya lakukan, meskipun sedikit sekali artinya.

Biarlah hanya Allah SWT yang menilai usaha yang kita lakukan.

Rini [18/4/05]

 

Posted by rini1557 at 03:07:56 | Permalink | No Comments »

Monday, February 28, 2005

Introvert = Munafik ?

Dalam suatu kesempatan, aku menonton secara live sebuah Reality Show “Penghuni Terakhir 2″ yang digelar ANTV setiap hari Minggu malam. bersama 12 orang kawan-kawan KKS Melati, kami berbondong-bondong datang ke salah satu studio ANTV.  Letaknya di Pengadegan, Jaksel, tidak jauh dari LIA.

Pertunjukan kali ini dimulai dengan menampilkan para penghuni satu per satu ke depan podium, seperti biasanya.  Pertanyaan demi pertanyaan digelar Juri dan para penghuni diminta menjawab.  Entah karena desain pertunjukan ini mengutamakan konflik atau entah karena para penghuni tidak sadar dengan cara penyutradaraan pertunjukkan ini, aku melihatnya sebagai suatu pertunjukkan sirkus yang menarik untuk dipelajari. Terutama karakter masing-masing tokoh dalam acara tersebut. Yang menarik malam ini adalah pernyataan Ivan, salah satu penghuni.

Ivan, misalnya, yang dengan lantang menyebutkan “Saya tidak suka orang yang introvert. Mereka itu munafik”.  Apa yang otomatis ada dalam pikiran anda dengan pernyataan ini?  Apalagi setelah anda mendengar Ivan mengatakan “Orang baik itu munafik”.  Apa yang anda pikirkan?

Peryataan Ivan bisa jadi mewakili pernyataan puluhan, mungkin ratusan orang yang tinggal di Jakarta, atau bahkan di Indonesia sekalipun. Mengapa kita sebagai manusia bisa dengan mudah men-judge seseorang dengan label yang kita berikan kepada orang itu? Yang aku tahu, setiap orang dapat dengan mudah mencari kekurangan orang lain dan membandingkan orang lain dengan dirinya sendiri.  Semua eksplorasi tentang diri orang lain akan dengan mudah dibandingkan dengan keberadaan dirinya.  Banyak orang pula yang menyatakan rasa tidak sukanya terhadap orang lain, yang sebenarnya adalah ungkapan hatinya akan hal-hal yang tidak bisa diterimanya tentang dirinya sendiri. Contoh gamblangnya seperti ini  : misalnya, aku tidak suka dengan orang yang tidak mandiri, mereka itu cenderung mengandalkan orang lain, manja, tidak mau mencoba sendiri, takut gagal dan seterusnya.  Ketidaksukaanku itu bisa jadi adalah cerminan dari hal-hal atau pandangan yang tidak aku sukai tentang diriku sendiri.  Aku seperti bercermin dengan orang lain. Mungkin aku ingin orang lain juga mandiri sama seperti diriku, dan ingin sekali mereka bisa menjadi mandiri seperti diriku. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa mengubah semua orang menjadi sama seperti aku. Dan mungkin saja, hal yang sama, juga yang dialami Ivan.

Ekstrovert ataupun introvert, keduanya adalah pilihan seseorang.  Seseorang bisa saja menjadi ekstrovert dan introvert sekaligus, tetapi ada juga mereka yang memilih hanya salah satu diantaranya.  Biasanya jika berbenturan dengan hal yang paling pribadi, seseorang akan menjadi seorang yang introvert. begitu pula sebaliknya. Menjadi Ekstrovert ataupun introvert, bukankah pilihan yang diambil adalah keberagaman yang menjadikan dunia ini sebagai suatu keindahan?  Bayangkan jika seluruh dunia ini terdiri dari orang yang ekstrovert. Mereka terbuka tanpa tedeng aling-aling, mudah bergaul, mudah menerima kehadiran orang lain, dan seterusnya. Kamus di internet menyatakan bahwa orang yang ekstrovert adalah talkative, open
show emotions, act before thinking, like to be with people.  Bagaimana dengan introvert? Introvert adalah kebalikannya.  Mereka quiet, thoughtful, keep emotions private, think before acting, like to spend time alone.

  Lantas, mengapa Ivan menyatakan bahwa Introvert = munafik?

Orang munafik di dalam Al-qur’an adalah orang yang “mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak ada di dalam hati mereka” (3:167).  Mereka adalah pendusta. “Mereka mengambil sumpah-sumpah mereka sebagai selimut, kemudian mereka menghalangi daripada jalan Allah. Sesungguhnya mereka, adalah jahat apa yang mereka buat” (63:2)

Introvert = munafik?  Aku tidak mengerti korelasinya.  Menurutku, baik orang ekstrovert maupun introvert keduanya bisa saja menjadi orang yang munafik, jika mereka mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani mereka sendiri. Tidak ada satu orangpun yang dapat mengukur dan mengetahui apakah seseorang itu munafik ataukah tidak, kecuali ia telah masuk ke dalam jantung hati orang itu untuk melihat apakah apa yang dikatakannya sama dengan apa yang ada dalam hatinya. Tentu Allah SWT jauh lebih tahu tentang hal ini.

Ayo kita bahas pernyataan Ivan yang kedua. “Orang baik itu munafik”.  Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan yang disampaikannya, tetapi ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Sudah seberapa sedikitnyakah orang yang benar-benar baik di Jakarta ini? Benar-benar baik, maksudku adalah orang yang berbuat kebaikan hanya karena mereka ingin berbuat baik, tanpa tendensi apapun. Sudah seberapa banyak orang yang melakukan kebaikan tanpa tendensi maksud apa-apa? Mengapa ada orang yang mempertanyakan kebaikan hati seseorang?  Apakah jujur dan tulus? Rasanya capek sekali kepala ini jika terus mempertanyakan hal tersebut kepada setiap orang. Meragukan kebaikan hati seseorang dan mempertanyakan apakah ini tulus ataukah tidak.  Seseorang yang memberikan seulas senyum dikatakan orang gila, karena tanpa maksud apa-apa kok ia memberikan senyum? HAHA… Bagaimana Jakarta akan menjadi lebih baik jika penghuninya sibuk mempertanyakan kenapa seseorang yang tadi aku temui di halte bis memberikanku seulas senyum? Apakah sulit menerima fakta sebagai fakta? Fakta bahwa senyum itu mungkin saja hadiah terindahnya hari itu untuk orang lain, tanpa sebab apa-apa.

Wahai… hati-hatilah jika berbicara.  Bisa jadi anda sedang meremehkan diri anda sendiri.

RN, 28/02/05

Posted by rini1557 at 04:53:29 | Permalink | Comments (4)

Monday, December 20, 2004

Miskin?

Siapakah yang pertama kali mendefinisikan kata miskin atau kemiskinan? Sejak kecil, aku mengkonotasikan kata miskin dengan kondisi seseorang yang sama sekali tidak punya uang atau hanya memiliki sedikit uang untuk membiayai hidupnya. Setelah aku dewasa, di koran-koran atau televisi, banyak pihak yang menggandengkan kemiskinan dengan pendapatan dibawah UMP - Upah Minimum Propinsi, atau bahkan mengatakan bahwa seseorang itu miskin jika tidak bisa memenuhi konsumsi dasar dan tidak mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Orang lain tentu punya pendapat lain tentang kemiskinan. Mungkin ada memberikan pengertian yang lebih luas dengan memasukkan dimensi-dimensi sosial dan moral, misalnya bahwa kemiskinan terkait dengan sikap, budaya hidup, dan lingkungan tertentu dalam suatu masyarakat. Tetapi umumnya ketika seseorang berbicara mengenai kemiskinan maka yang dimaksud adalah kemiskinan dari segi material. Dengan pengertian ini seseorang dikategorikan miskin apabila tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan pokoknya agar dapat hidup secara layak.

Tahun lalu, pada sebuah kesempatan, aku ikut dalam rombongan Komunitas Independen mengunjungi 16 keluarga yang tinggal di pinggir kali Ciliwung, di kolong jembatan Jl. MT Haryono Jakarta Selatan.  Ada yang memilih tinggal disana karena keluarganya menolak menerima mereka, ada yang merasa tidak punya pilihan lain selain tinggal disana, dan tidak jarang alasan mereka adalah karena mereka merasa nyaman tinggal disana?

Nyaman?

Tinggal di kolong jembatan?

Kenyamanan macam apa yang mereka rasakan?

Pastilah mereka jauh dari kebersihan, kesehatan, atau bahkan hidup sehat. mungkin dalam kamus kehidupan, mereka bahkan tidak memilikinya, atau tidak berani berharap untuk mengerti mengenai hal tersebut.

Minggu lalu, masih bersama Komunitas Independen, saya mengunjungi kolong jembatan lain tidak jauh dari Pemakaman Karet, Jakarta Barat.  Kira-kira 20 keluarga tinggal di kolong jembatan itu. Seorang ibu bernama Rasmi, menikah pada usia 12 tahun dan sudah 14 kali melahirkan dikolong jembatan itu. Salah satu dari 14 anaknya kini sedang hamil 8 bulan, juga tinggal bersamanya di kolong jembatan itu.  Sempat terlintas dalam pikiranku, mengapa ia beranak pinak disana? Apakah yang membuatnya nyaman dan betah tinggal di kolong jembatan? Tidak adakah kesempatan baginya untuk menata hidup lebih baik lagi? Tidak ada? atau ….. Tidak mau?

Dalam kesempatan berdialog bersama mereka, diperoleh informasi bahwa dalam satu keluarga bisa jadi berpenghasilan sehari Rp.80,000. Cukup besar pendapatan yang diperolehnya, meskipun bukan sang Ayah saja yang mengusahakan uang tersebut.  Sang Ayah bekerja ala kadarnya sebagai pemulung atau kadang sebagai buruh kasar, memperoleh penghasilan Rp.20,000 per hari, Sang Ibu memperoleh Rp.30,000 dari hasil menjadi pengemis jalanan… dan tidak ketinggalan Sang Anak yang juga berprofesi sebagai pengemis, kurang lebih mendapatkan Rp.30,000 setiap harinya.  Penghasilan Rp.80,000 per hari, cukupkah untuk sebuah keluarga tinggal di kolong jembatan? Menurutku iya, Jika definisi garis kemiskinan yang dipakai adalah pendapatan 2 dollar per hari, maka pendapatan mereka sudah diatas garis kemiskinan yang ditetapkan, sehingga seharusnya uang sebesar itu cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Menurutku iya, karena dibandingkan dengan penghasilan adikku yang bekerja di sebuah perusahaan asing di Bintaro atau dibandingkan dengan sekretaris di kantorku, pendapatan mereka sebulan jauh lebih besar. Menurutku iya, karena mereka toh tidak perlu membayar langganan biaya listrik, air, dan telepon, lagipula merekapun pasti tidak punya banyak kebutuhan hidup untuk pergi ke cafe, dugem dengan teman-teman, atau sekedar menonton film di bioskop21.  Pasti mereka hidup sederhana, makan seadanya, dan yang pasti menunya bukan menu restoran atau menu 4 sehat 5 sempurna seperti yang alhamdulillah selalu ada di meja makan rumahku.  Lantas bagaimana mereka bisa menghabiskan uang sebanyak itu tetapi tetap tidak memiliki apa-apa dirumahnya?

   

Ibu Supriyanti mengutarakan bahwa ia memiliki 5 orang anak, 4 diantaranya tinggal di kampung di Tegal, Jawa Tengah dan hanya 1 orang anaknya yang terkecil yang diajaknya tinggal di kolong jembatan. Bersama suaminya, ia memilih tinggal disana, mencukupi kebutuhannya dengan seadanya. Rumah atau bisa dibilang petak kecil di kolong jembatan itu hanya diisi seadanya. Tidak banyak barang-barang yang dimilikinya, hanya satu buah kompor minyak tanah dengan perabotan seadanya dan baju yang jumlahnyapun tidak banyak.  Ibu Supri tampak cerdas mengobrol bersama kami, ia mengumpulkan uang setiap hari untuk biaya sekolah anak-anaknya di kampung. Ketika ditanya pengunaan uang yang diterimanya untuk apa saja, ia mengatakan bahwa ia bekerja di Jakarta sekedar untuk mengumpulkan uang untuk pulang kampung, bertemu dengan anak-anaknya dan mengumpulka biaya untuk sekolah anak-anaknya. Jawaban yang nyaris sama juga dilontarkan oleh nenek Rami, seorang pengemis asal Semarang yang baru saja kembali dari perjalanan pulang kampungnya.  Nenek Rami tinggal sendirian di Jakarta, tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya fasih berbicara kromo inggil (bahasa Jawa paling halus).  Dengan suara lirih ia mengatakan bahwa ia mengumpulkan uang untuk bisa sekedar pulang kampung mengunjungi sanak saudara, kemudian kembali lagi ke Jakarta, tinggal di kolong jembatan dan mengemis.

Keluarga lain yang tinggal di tempat yang sama, tampaknya hanya senang jika mereka memiliki uang. Seorang bujangan yang sempat ngobrol dengan seorang temanku, mengatakan bahwa orang kaya itu punya banyak uang dan ia ingin seperti mereka yang memiliki uang banyak. Bagi mereka, memiliki uang sama artinya dengan memiliki harga diri. Bagiku, mungkin ini adalah dampak dari apa yang terjadi di masyarakat di kota dimana aku tinggal.  Seringkali, kami memandang rendah kepada mereka yang memiliki sedikit uang, lantas timbul kecurigaan bahwa mereka akan melakukan kejahatan karena faktor iri dan dengki.  Jadi uang ternyata bisa danggap pula sebagai pengganti harga diri.  Bukankah ini sebuah fenomena yang cukup aneh? Bukankah mereka bisa bekerja yang lain dan mendapatkan penghasilan, kemudian bercita-cita memiliki rumah yang lebih nyaman, atau paling tidak kontrakan dengan ventilasi udara yang lebih baik, atau sekedar punya keinginan mengumpulkan uang untuk kursus sehingga kehidupannya jauh lebih baik? Atau itu hanya pikiranku saja, karena dengan definisi kehidupan yang aku punya dan aku jalani, aku selalu mengira bahwa kehidupan ini selalu berjalan seperti itu, selesai sekolah kemudian mencari pekerjaan, kemudian menikah, kemudian memiliki rumah, punya anak, membesarkan anak, menyekolahkan anak…. dst…dst… Jadi, apakah jika seseorang tidak menjalani kehidupan seperti dalam kamus kehidupanku, lantas aku menganggapnya keluar dari pakem?

Dalam kesempatan lain dimana aku bergabung menjadi relawan di KKS Melati, kami pergi mengunjungi sebuah sekolah anak jalanan (SAJA) di bawah jembatan tol Gedong Panjang, Jakarta Utara. Sekolah ini terletak ditengah-tengah pemukiman sekitar 200 rumah keluarga yang tinggal di kolong jembatan yang sama. Dengan KKS Melati, aku mengajak anak-anak jalanan itu bermain, menggambar, dan mengenalkan mereka dengan buku cerita dan dongeng. Anak-anak jalanan itu tinggal dengan keluarga mereka di lokasi yang sama.  Saat aku berkeliling mengunjungi rumah-rumah yang mereka tinggali, ternyata keluarga mereka menyewa tempat tinggal mereka Rp.60,000 - Rp.150,000 tergantung luasan rumah yang mereka tinggali.  Di dalam rumah mereka, penuh dengan barang-barang yang cukup mewah dibandingkan dengan kondisi kehidupan mereka. Tak jarang aku melihat pesawat televisi, VCD player, dispenser air mineral, tempat tidur spring bed, dan bahkan lantai dari keramik.  Anehnya, banyak diantara mereka yang makan hanya 1 kali dalam sehari dan banyak diantara anak-anak mereka yang tidak bersekolah.

Fenomena apa lagi ini? Mengapa mereka lebih memilih memiliki televisi dibandingkan makan 3 kali sehari? Mengapa mereka lebih memilih membeli dispenser dibandingkan menyekolahkan anak-anaknya? Apakah mereka juga mengira bahwa memiliki televisi artinya mereka dapat dianggap sebagai keluarga bahagia? Atau … seperti apakah hidup dimana yang diinginkan adalah sama atau menyerupai keluarga lain yang hidup mewah di rumah gedongan, memiliki pesawat televisi, dan minum dari dispenser?

Kemiskinan ternyata tidak hanya terkait dengan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan material dasar, tetapi kemiskinan juga terkait erat dengan berbagai dimensi lain kehidupan manusia, misalnya kesehatan, pendidikan, jaminan masa depan, dan peranan sosial. Oleh sebab itu, kemiskinan hanya dapat dipahami secara utuh apabila dimensi-dimensi lain dari kehidupan manusia juga diperhitungkan. Kita mungkin tidak bisa begitu saja mengatakan mereka miskin, tapi apakah mereka sendiri punya keinginan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik?  Kita bisa saja membuatkan mereka berbagai program untuk mengentaskan kemiskinan dengan berbagai latar belakang alasan kemiskinan yang telah mereka jalani, tetapi bila mereka yang menjadi target program ini tidak ingin melakukan sesuatu untuk berubah, perlukah kita bersusah payah untuk mereka? Mungkin memang diperlukan banyak pihak  yang terpanggil untuk berpartisipasi membantu mereka, bukan sekedar membantu memberikan uang, tetapi bersama-sama dengan si target, yaitu masyarakat yang tinggal di kolong jembatan, bersama-sama menyadari dan mengevaluasi kehidupan mereka dan bersama-sama mengentaskan kemiskinan yang mereka alami dengan suatu program pemberdayaan diri, bagi diri mereka sendiri.

World Bank, Japan Social Development Fund, Komnas Perempuan dan PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) kalau tidak salah di pertengahan tahun 2004 ini sudah memulai program yang kurang lebih sama, yaitu sebuah program pemberdayaan diri, khususnya memberdayakan kaum perempuan yang tidak punya suami atau ditinggal suami.  Mereka bekerja sendiri menjadi ayah sekaligus ibu untuk anak-anak mereka. Kalau sebelumnya mereka terpuruk dalam kemiskinan, maka sekarang dengan mengikuti program yang diberikan, mereka bisa memberdayakan diri mereka sendiri, bekerja untuk kehidupan yang lebih baik.  Semoga ada pula pihak-pihak yang mau melakukan hal yang sama untuk masyarakat yang tinggal di kolong jembatan ini supaya mereka dapat memberdayakan diri mereka sendiri dan dapat mengembangkan diri menuju kehidupan yang jauh lebih baik.

[RN, 20/12/04]

 

Posted by rini1557 at 03:24:58 | Permalink | Comments (2)